Pages

Minggu, 30 Januari 2011

Berdiri di Era Revolusi, Terapkan Sistem Pendidikan Modern

Keberadaan sebuah pondok pesantren di era revolusi memiliki andil yang sangat besar terhadap terbentuknya bangsa Indonesia. Melalui pendidikan pesantren, para tokoh Islam berjuang untuk mengangkat rakyat dari kebodohan. Salah satunya adalah berdirinya Pondok Pesantren Wathoniyah Islamiyah (PPWI) di Desa Karangduwur, Kecamatan Petanahan, Kebumen.

Pondok pesantren yang menerapkan sistem pendidikan modern itu didirikan oleh tokoh bernama Asifudin bin Zawawi pada tahun 1948. Saat itu, penjajah masih bercokol di Gombong sebagai basis pertahanan Belanda. Saat itu, penduduk wilayah Banyumas sebagian mengungsi ke timur hingga Yogyakarta. Asifudin bin Zawawi yang pulang dari pengungsiannya di Yogyakarta melalui jalur selatan singgah di Desa Karangduwur dan menggagas dan merancang sebuah sekolah yang berbasis keislaman.

Ternyata hal itu didukung oleh masyarakat setempat. Antara lain, H .Damanhuri yang menyerahkan sebidang tanah seluas 200 ubin dan H Abdul Hadi yang saat itu menjabat kepala Desa Karangduwur juga menyerahkan tanah kas desa. Tanah tersebut sampai saat ini dipakai sebagai pusat kegiatan pondok pesantren itu.

Pondok pesantren yang memiliki bangunan seluas 3,6 hektare itu menyelenggarakan pendidikan dengan model kelas. Yakni Madrasah Tsanawiyah Wathoniyah Islamiyah (MTs WI), dan Madrasah Aliyah Wathoniyah Islamiyah (MAWI). Adapaun siswa yang belajar di madrasah sebanyak 605 orang yang terdiri 381 siswa MTs dan 224 siswa MA.

Dari jumlah siswa tersebut sebanyak 38 santri tinggal di asrama pesantren. Santri yang mukim di pesantren rata-rata berasal dari luar daerah, seperti Pekalongan, Purwokerto, Cilacap, hingga Jakarta dan Tangerang. "Bagi santri yang mukim, selain mengikuti pelajaran di sekolah juga mendapat tambahan pelajaran pada sore dan malam hari," imbuh Jauhar yang merupakan generasi ke-4 kepemimpinan pesantren tersebut.

Pesantren ini memiliki visi membentuk generasi yang beriman, kokoh beribadah dengan istiqomah, berbudi luhur, terampil dan berprestasi itu memberikan porsi 65% untuk ilmu agama dan 35% untuk ilmu umum. Mulai tahun 1967/1968, khususnya Madrasah Aliyah mengikuti Ujian Nasional. "Meski demikian porsi pendidikan Agama Islam tetap lebih dominan dalam pengajaran di Madrasah Wathoniyah Islamiyah," tandas Jauhar.

Jauhar menambahkan, pesantren yang dipimpinnya itu bersifat independent alias tidak berafiliasi pada organisasi massa Islam tertentu seperti Muhammadiyah, Nahdatul Ulama (NU) maupun Persatuan Islam (Persis). Yang jelas, orientasi pengajaran Islam yang difahamkan kepada anak didik adalah pemahaman tentang Islam yang bersumber dari Al Quran dan sunah rosul, serta pemahaman para sahabat nabi, serta tidak para sahabat. "Sistem yang dikembangkan adalah keterpaduan pendidikan pondok pesantren dan madrasah," imbuhnya.

Sumber berita :
Supriyanto / CN14
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/ramadan/ramadan_detail/54223/Berdiri-di-Era-Revolusi-Terapkan-Sistem-Pendidikan-Modern#
Selengkapnya