Pages

Minggu, 20 Maret 2011

KRISTENISASI ---AWAS! BENTUK-BENTUK PEMURTADAN (bagian II)


Kristenisasi di Sekitar Kita.


Jumat, 19 Oktober 2007
Habib Paulus Mohamad Ali Mahkrus Ata Mimi*
Setelah heboh pelecehan al-Qur’an di Malang beberapa waktu lalu, kini muncul lagi kaset VCD pelecehan terhadap Islam. Pelakunya "Pendeta" Markus Margiyanto.

Pelecehan terhadap islam ini sangat mengejutkan masyarakat Malang, Jawa Timur.

Apalagi rentang waktu dengan heboh VCD pelecehan al-Qur’an di Hotel Asida itu, tidak terlalu lama. Kasus pelecehan baru ini yang juga melalui VCD, dilakukan seseorang yang mengklaim dirinya mantan ketua FPI** Jawa Timur. Namanya, Habib Paulus Mohamad Ali Mahkrus Ata Mimi

VCD ini pertama kali didapat oleh Abu Rantizy, anggota Tim FAKTA (Forum Anti Gerakan Kemurtadan) Malang yang diperoleh dari temannya yang berinisial EU, (25 Aug 07), seorang mekanik komputer di Kota Batu.

EU mendapatkan video tsb dari sebuah CPU (Central Processing Unit) komputer milik pegawai Kecamatan Batu yang dia servis. “Saya melihat kok ada filmnya si Mahkrus itu, lalu saya minta dan diapun mengijinkan. Kemudian saya segera melapor ke FAKTA,” tutur EU saat ditemui di bengkel komputernya.

Tim FAKTA lalu menyerahkan VCD tsb ke MUI kota Malang, yang kemudian diserahkan kepada aparat kepolisian. “Sudah kami laporkan ke Polwil dan ke Kapolda, tinggal menunggu kerja kepolisian sekarang,” ujar sekretaris MUI Kota Malang M Nizhom hidayatullah kepada Sabili.

VCD Ali Mahkrus yang tengah ceramah tersebut berdurasi 1 jam 11 menit 53 detik. Dalam ceramahnya, si pendeta menggunakan baju formal berwarna biru motif kotak-kotak. Lelaki berjenggot panjang dan rapi bak aktivis islam ini sangat fasih menyitir ayat al-Quran dan hadits Rasulullah SAW.

Dalam ceramahnya, Mahkrus membual tentang berbagai hal. Antara lain, ia mengklaim dirinya sebagai keturunan Habib (cucu Rasulullah SAW, red) dari bani Tamim dan pernah belajar di Makkah. Dia juga mengaku telah diangkat sebagai ketua FPI Jatim pada tanggal 10 Jan 2004 silam, serta mengaku sangat dekat dengan Ja’far Umar Thalib dan Laskar Jihad-nya.

Beberapa penghinaan yang diucapkan Mahkrus dalam ceramahnya itu antara lain menyebut bahwa Nabi Muhammad diracun oleh istrinya ketika akan meninggal dulu. “Pada saat usia 61 tahun, Muhammad tidak bisa mendeteksi racun yang masuk di tubuhnya, karena Muhammad diracun oleh istrinya sendiri, istri yang ke-17. Jadi, total istrinya Muhammad itu ada 22,” kata Mahkrus.

Menurut dia, istri ke-17 inilah yang meracun Muhammad selama dua tahun agar sekarat, hidup tidak matipun tidak. Kejadian ini pula yang dijadikan dasar oleh umat islam untuk membaca surah Yasin kala melihat orang sakit atau sekarat. “Jadi surat Yasin dibaca agar yang bersangkutan mau mati ya, agar cepat mati, kalau hidup agar cepat sembuh,” ujarnya enteng.

Pendeta yang telah menipu beberapa kiai ini juga menghina ibadah shalat Shubuh yang dilakukan umat islam. Kata Mahkrus, orang islam itu shalat shubuh karena mengingat Yesus bangkit dari alam kubur yang terjadi tepat pada saat shubuh. Kiamat juga akan datang pada saat Subuh. “Itu menurut keyakinan mereka. Dua masalah inilah yang membuat orang-orang islam bangun dari tidurnya dan sujud menyembah dalam shalat subuh.”

Pendeta yang pernah mondok di Pesantren ilmu al-Qur’an (PIQ) Malang ini juga menganggap orang kriten itu adalah majikan sedang orang islam adalah pembantu. Dia juga mengklaim bahwa 75 persen isi al-Qur’an bersumber dari Alkitab (Injil). Dia menganggap orang-orang yang pergi haji ke Makkah tak lebih dari sekadar wisata, bukan ibadah. Baginya, orang yang mencium Hajar Aswad adalah mencium jin. Masih banyak lagi penghinaan Makhrus yang bikin merah kuping.

Siapakah Mahkrus? Tanggal 12 Oktober 2005 silam, seorang pemuda 36 tahun bernama Markus Margiyanto datang menemui KH Abdullah Wasi’an dirumahnya, di Sidoarjo, Jawa timur. Kepada kristolog kondang itu, Markus menyatakan niatnya untuk pindah agama dari Kristen ke Islam. Alasannya setelah membaca buku KH Abdullah Wasi’an yang berjudul Benteng Islam terbitan Pustaka Dai, ia jadi tertarik dengan islam.

Dengan berbaik sangka, mendengar paparan Markus yang sangat memukau itu, KH Abdullah Wasi’an pun menuntun pensyahadatan Markus tepat pukul 11.00 WIB. Syahadat itupun ditandai dengan surat keterangan sementara yang ditandatangai oleh KH Abdullah Wasi’an dan beberapa saksi. Usai pensyahadatan, Pendeta Markus pulang dengan disangoni uang tunai. Nama Islamnya pun menjadi Makhrus.

Namun setelah majalah Modus melakukan pengecekan secara mendetail pada bulan November 2005 lalu, ditemukan sejumlah kebohongan pada Markus Margiyanto. Diantaranya, alamat KTP-nya di Jl. Pogot Lama II/91 RW 06/05 Kalikedinding, Kenjeran, Surabaya ternyata tidak benar. Karena rumah itu telah dijual lima tahun lalu kepada Sutarso. Sutarso pun mengaku tidak tahu menahu tentang seluk beluk dan aktivitas Markus.

Sementara itu, Darmo, tetangga depan rumah Sutarso yang tinggal di sana sejak tahun 1980 mengatakan bahwa yang berprofesi sebagai pendeta itu adalah ayahnya Markus. Setelah ditelusuri, ternyata markus bersama keluarganya yang terdiri dari anak, istri, ibu dan adiknya tinggal di Tanah merah II/22, Kalikedinding, Kenjeran, Surabaya. Rumah yang sempat difungsikan sebagai gereja ini asalnya adalah milik Pendeta Petrus Salindeho yang pernah bermasalah dengan umat islam hingga divonis hukuman penjara, beberapa tahun lalu.

Tak jauh dari rumah Markus di Tanah Merah itu, tinggallah Ustadz Ahmad Ghazali, salah seorang tokoh masyarakat yang menjabat sebagai Wakil Sekretaris PC NU Surabaya. Ustadz Ghazali tahu persis daftar penipuan Markus yang bermodus ingin masuk islam dihadapan tokoh Islam lalu mendapat simpati sang tokoh hingga mendapat hadiah sejumlah uang dan materi lainnya.

Beberapa kiai yang sempat didatangi Markus, antara lain KH Miftah, di Kedung Tarukan Surabaya yang akhirnya menyumbangkan uang tunai Rp. 250.000 dan sarung merek Al-Ma’ruf berharga ratusan ribu. Ada juga KH Asep mantan ketua PC NU Surabaya, KH Abdul Syakur, KH Abdurrahman Navis dan lainnya.

Masrukin adalah salah seorang korban penipuan Markus. Dia adalah pengurus Masjid Nurul Jannah Kalilom, Surabaya. Kira-kira empat tahun lalu, Markus Margiyanto datang ke Mesjid Nurul Jannah dan menyatakan niatnya untuk masuk islam. Diapun disyahadatkan oleh Ridwan, modin setempat.

Setelah masuk islam, karena tidak punya rumah, Markus pun butuh rumah tinggal. Dengan ikhlas, Masrukin memberikan salah satu rumahnya yang baru selesai dibangun untuk ditempati Markus secara Cuma-Cuma. Diapun tinggal dirumah itu bersama istrinya, Muslimah anak seorang kiai di Singosari, Malang.

Selama di rumah Masrukin, Markus sama sekali tidak bekerja untuk menafkahi anak dan istrinya. Kebutuhan sehari-harinya ditanggung oleh jamaah mesjid, terutama oleh keluarga Masrukin. “Mualaf itu bagi orang islam merupakan aset,” alasan Masrukin. Jamaah Masjid pun simpati dengan keislaman Markus, sehingga segala permintaannya dikabulkan jamaah. “Jamaah masjid sini sudah banyak berkorban materi, tenaga dan pikiran untuk Markus,” imbuh Masrukin.

Suatu saat, Masrukin merasakan ada gelagat yang lain karena setiap hari Minggu, pagi-pagi Markus pergi memakai baju yang rapi. “Ternyata Markus pergi ke Gereja,” kata Masrukin. Maka Markuspun dia usir dari rumahnya. Setelah pindah dari Kalilom, Markus melancarkan penipuan yang sama dengan modus pura-pura masuk islam untuk mendapat simpati dan uang dari jamaah masjid di Tanah Merah, Surabaya.

Jauh sebelum melancarkan aksinya di Surabaya. Pendeta Markus pura-pura masuk islam dan nyantri di PIQ Singosari Malang dibawah asuhan KH Bashori Alwi. Karena sudah dipercaya, dia dijadikan menantu oleh KH Ahmad Rifai, pengasuh sebuah pesantren di Singosari, Malang. Namun setelah mempunyai dua anak Markus memboyong anak-anak dan istrinya ke Jakarta lalu mengkristenkan semuanya.

Dalam pengakuannya kepada tim FAKTA Surabaya, Markus mengungkapkan bahwa ceramah-ceramahnya yang menghina islam itu berdasarkan pesanan gereja. Dia juga mengaku ditekan oleh bapaknya dan paman-pamannya yang pendeta. “Apa yang saya ungkapkan di VCD itu adalah rekayasa palsu pihak gereja,” kata Markus kepada Masyhud, ketua tim FAKTA Surabaya.

Selain tekanan gereja, Markus juga rela memberikan kesaksian-kesaksian palsu tentang islam, karena alasan ekonomi dan dorongan finansial. “Pihak gereja sengaja memanfaatkan saya untuk membenturkan islam dengan kristen,” beber pendeta yang memiliki 20 tempat pemuridan tersebut. Yang dimaksud tempat pemuridan adalah semacam tempat pembinaan dan pendidikan Islamologi bagi umat kristen.

Markus juga menyebutkan bahwa pihak gereja sengaja menyebarkan VCD ceramahnya itu untuk menghina umat islam. Posisinya sebagai mantan orang islam yang memberikan kesaksian palsu tentang islam, bagi gereja akan lebih mengena. Walau demikian, dia mengaku masih tetap seorang muslim, bukan murtad. Tentu saja kesaksiannya ini masih membutuhkan klarifikasi lebih lanjut.

Sudah banyak yang menjadi korban penipuan Pendeta Markus Margiyanto. Penipuan bermodus pura-pura masuk islam ini sungguh berbahaya. Jika setiap saat bersyahadat di hadapan tokoh islam untuk mendapat simpati dalam bentuk materi, maka jelas bahwa “penipuan berkedok masuk islam” adalah profesi Pendeta Markus. Dan ternyata si Mahkrus ini juga adalah seorang residivis. (Tim FAKTA Malang).

*Nama ini sesuai dengan nama yang dia tulis pada Makalah sesat Islamologi yang diajarkan pada seminar di Surabaya. Yang ternyata salah semua tulisannya.

** FPI menurut Mahkrus adalah Front Pembela Isa yang sesuai dia tulis pada makalah-makalahnya
Diposkan oleh Blog Tim Fakta


Rabu, 10 Oktober 2007
Si Kabayan Tidak Masuk Kristen
Siapa yang tak kenal Kabayan, film seri yang ngetop tahun 80-an di TVRI dan TPI awal 90-an. Anda pun ingat, siapa pemeran Kabayan yang ditayangkan TPI itu? Ia pelawak yang biasa dipanggil Kang Ibing atau Kang Maman. Panggilan Kang Ibing diterimanya sejak ia masih menjadi penyiar Radio MARA, Bandung. Sedangkan panggilan Kang Maman, disematkan penggemarnya sejak film seri Kabayan yang diperankannya nongol di TPI. Akhirnya, ia pun menerbitkan kaset berjudul “Kang Maman Mencari Gadis Jujur”.

Saat ini, perjalanan hidup sang pelawak, kian dekat dengan Islam. Ia memang terlahir dari keluarga aktivis Islam di Jawa Barat. Tak heran, jika di masa tuanya ini, ia pun mengabdikan dirinya di jalan dakwah. Bersama Prof Salumuuddin, pelawak yang punya nama asli Kusumayatna Kusumadinata ini, mengkhidmatkan dirinya di Dewan Pimpinan Pesantren Modern Baiturrahman Bandung. Selain itu, ia berperan mendirikan beberapa masjid di Bandung dan sekitarnya.

Tapi, saat Kang Ibing mengisi pengajian di Klender, Jakarta Timur, tiba-tiba salah satu jamaahnya bertanya. “Apa betul, Akang masuk Kristen?” tanyanya, sambil menunjukkan majalah yang menulis dirinya masuk Kristen. Ia hanya tertawa, seraya melanjutkan ceramahnya. Benaknya bergumam, masa ada berita begitu, kan dirinya saat ini sedang ceramah.

Sikapnya, yang menganggap berita itu bagaikan angin lalu, sontak berubah, ketika Tim FAKTA menyambangi rumahnya, Senin (19/4). Tim itu, menyodorkan dua majalah: Majalah Kristen “Genta” dan Majalah “Syir’ah.” Kedua majalah ini, dengan menulis, Kang Maman telah memeluk Kristen. Bahkan, Majalah Genta menulis, Kang Maman masuk Kristen sejak 1996.

Dalam tulisannya di Rubrik Syir’atuna, sejenis Laporan Utama di Majalah Syir’ah No 27/IV/Februari 2004, majalah yang dimiliki kelompok JIL ini, menggambarkan pengalaman rohani Kang Maman sampai akhirnya memeluk Kristen. Anehnya, tulisan ini mirip tulisan di Majalah Genta. Berikut petikannya:

Kepindahannya dari Islam bermula saat ia jadi pegawai kecamatan. Ketika itu ia melayani seorang Kristen yang mengurus surat. Kang Maman sangat benci terhadap orang Krisiten sehingga nyuekin orang itu. Anehnya, usai shalat ia merasa didatangi sosok yang mengaku Nabi Isa, yang mengatakan: Akulah yang utama di dunia dan akherat. Setelah itu, ia pun cerita pada istrinya, Siti Cholifah. Tapi jawaban istrinya, “Ah, itu mah setan atau iblis.”

Suatu ketika ia ikut kebaktian di gereja. “Masuklah nanti diberkati,” ajak si pendeta. Beberapa kali ia ikut kebaktian dan mempelajari Kristen diam-diam, hingga ia mampu mengobati orang sakit dengan doa yang ditujukan pada Kristus. Akhirnya, ia diusir mertuanya setelah mengetahui ia memeluk Kristen. Bahkan, ia sempat digebukin teman-teman seprofesinya hingga empat giginya copot. Akhirnya, ia pun dibaptis pendeta. “Saya khawatir mati dalam keadaan belum dibaptis,” ujarnya.

Terang saja, fitnah ini dibantah Kang Maman di hadapan Tim FAKTA. Menurutnya, tulisan itu salah total. Kang Maman alias Kusumayatna Kusumadinata tidak pernah masuk Kristen. Yang jelas, berita ini sangat menyudutkannya. “Yang namanya Kang Maman, Kang Ibing, yang memakai peci seperti ini, cuma saya. Jika ada yang mengatakan saya masuk Kristen, itu fitnah! Secara hukum saya berani menghadapinya,” tandasnya berang.

Fitnah ini sebenarnya bisa dicium sejak awal tulisan. Pasalnya, Majalah Syir’ah sangat terlihat tak menguasai latar belakang siapa sebenarnya Kang Maman alias Kang Ibing ini. Coba, simak tulisan di halaman 21: “…Ini pula yang terjadi pada Kang Maman, yang bernama asli Muhammad Shalat, salah seorang personel D’Bodors (kelompok lawak yang cukup terkenal pada era 80-an yang dimotori oleh Abah Us Us”

Padahal, menurut Kang Maman, ia sama sekali tidak pernah bergabung dengan Group Lawak D’Bodors. D’Bodors adalah Group Lawak milik temannya yang dipimpin oleh Us Us dengan anggota Kang Uyan dan Kang Engkus. “Silakan di cek ke D’Bodors, pasti mereka akan merujuk nama Kang Maman ke saya, sebagai anggota Group Kabayan. Dari sini saja, sudah kelihatan, orang yang nulis hanya ngaco,” tegasnya.

Untuk itu, Kang Maman sangat menyayangkan, kenapa penulisnya tak melakukan cek and ricek pada dirinya. Sebab, berita ini bisa menjerumuskan umat yang masih awam. “Apa susahnya sih telepon atau datang ke rumah. Ngobrol, biar jelas. Bila perlu penulisnya berhadapan langsung, mau di sini, di rumah, atau di TV, atau di mana, silakan! Yang penting terbuka!” tantangnya.

Menanggapi tantangan Kang Maman, Pemimpin Redaksi Majalah Syir’ah, Mujtaba Hamdi mengatakan, pihaknya akan mengecek terlebih dahulu kepada wartawan yang bersangkutan. Kang Maman yang mana yang dimaksud? Jika terdapat kekeliruan, pihaknya bersedia melakukan ralat dan memuat permohonan maaf pada Kang Maman.
Meski begitu, pihaknya merasa wartawannya telah melakukan wawancara langsung pada Kang Maman. “Kami, tak hanya mengutip dari Majalah Genta,” katanya.

Untuk itu, Hamdi mengharapkan agar Kang Maman segera melakukan klarifikasi secara langsung kepada Syir’ah. Karena, dari pengakuannya, Redaksi Syir’ah juga menerima pertanyaan serupa dari Majelis Tarjih Muhammadiyah. Soal penyelesaian melalui jalur hukum, pihaknya pun siap menghadapinya, sebatas melalui jalur UU Pers. “Nggak masalah silakan jika mau menempuh jalur hukum,” tandasnya.

Gayung pun bersambut, pertemuan kedua pihak harus terlaksana. Jika tidak, ini akan jadi preseden buruk di kemudian hari. Yang dirugikan, tak hanya Kang Maman tapi juga umat. Apalagi, bagi Kang Maman, yang sempat ngaku keselnya sudah sampai ubun-ubun. “Saya ini keselnya udah gimana .., nggak bisa bayangin, karena ini masalah akidah. Meski begitu, saya akan berkoordinasi dengan MUI Jabar untuk melakukan tindakan selanjutnya,” katanya mantap.
Diposkan oleh Blog Tim Fakta
http://wongmojokerto.net/situs/view.php?judul=blog%20tim%20fakta&url=http://timfakta.blogspot.com/



Habib Paulus Mohamad Ali Mahkrus Ata Mimi*
Saturday, October 20, 2007 11:58 AM
Setelah heboh pelecehan al-Qur’an di Malang beberapa waktu lalu, kini muncul lagi kaset VCD pelecehan terhadap Islam. Pelakunya "Pendeta" Markus Margiyanto.

Pelecehan terhadap islam ini sangat mengejutkan masyarakat Malang, Jawa Timur. Apalagi rentang waktu dengan heboh VCD pelecehan al-Qur’an di Hotel Asida itu, tidak terlalu lama. Kasus pelecehan baru ini yang juga melalui VCD, dilakukan seseorang yang mengklaim dirinya mantan ketua FPI** Jawa Timur. Namanya, Habib Paulus Mohamad Ali Mahkrus Ata Mimi

VCD ini pertama kali didapat oleh Abu Rantizy, anggota Tim FAKTA (Forum Anti Gerakan Kemurtadan) Malang yang diperoleh dari temannya yang berinisial EU, (25 Aug 07), seorang mekanik komputer di Kota Batu.

EU mendapatkan video tsb dari sebuah CPU (Central Processing Unit) komputer milik pegawai Kecamatan Batu yang dia servis. “Saya melihat kok ada filmnya si Mahkrus itu, lalu saya minta dan diapun mengijinkan. Kemudian saya segera melapor ke FAKTA,” tutur EU saat ditemui di bengkel komputernya.

Tim FAKTA lalu menyerahkan VCD tsb ke MUI kota Malang, yang kemudian diserahkan kepada aparat kepolisian. “Sudah kami laporkan ke Polwil dan ke Kapolda, tinggal menunggu kerja kepolisian sekarang,” ujar sekretaris MUI Kota Malang M Nizhom hidayatullah kepada Sabili.

VCD Ali Mahkrus yang tengah ceramah tersebut berdurasi 1 jam 11 menit 53 detik. Dalam ceramahnya, si pendeta menggunakan baju formal berwarna biru motif kotak-kotak. Lelaki berjenggot panjang dan rapi bak aktivis islam ini sangat fasih menyitir ayat al-Quran dan hadits Rasulullah SAW.

Dalam ceramahnya, Mahkrus membual tentang berbagai hal. Antara lain, ia mengklaim dirinya sebagai keturunan Habib (cucu Rasulullah SAW, red) dari bani Tamim dan pernah belajar di Makkah. Dia juga mengaku telah diangkat sebagai ketua FPI Jatim pada tanggal 10 Jan 2004 silam, serta mengaku sangat dekat dengan Ja’far Umar Thalib dan Laskar Jihad-nya.

Beberapa penghinaan yang diucapkan Mahkrus dalam ceramahnya itu antara lain menyebut bahwa Nabi Muhammad diracun oleh istrinya ketika akan meninggal dulu. “Pada saat usia 61 tahun, Muhammad tidak bisa mendeteksi racun yang masuk di tubuhnya, karena Muhammad diracun oleh istrinya sendiri, istri yang ke-17. Jadi, total istrinya Muhammad itu ada 22,” kata Mahkrus.

Menurut dia, istri ke-17 inilah yang meracun Muhammad selama dua tahun agar sekarat, hidup tidak matipun tidak. Kejadian ini pula yang dijadikan dasar oleh umat islam untuk membaca surah Yasin kala melihat orang sakit atau sekarat. “Jadi surat Yasin dibaca agar yang bersangkutan mau mati ya, agar cepat mati, kalau hidup agar cepat sembuh,” ujarnya enteng.

Pendeta yang telah menipu beberapa kiai ini juga menghina ibadah shalat Shubuh yang dilakukan umat islam. Kata Mahkrus, orang islam itu shalat shubuh karena mengingat Yesus bangkit dari alam kubur yang terjadi tepat pada saat shubuh. Kiamat juga akan datang pada saat Subuh. “Itu menurut keyakinan mereka. Dua masalah inilah yang membuat orang-orang islam bangun dari tidurnya dan sujud menyembah dalam shalat subuh.”

Pendeta yang pernah mondok di Pesantren ilmu al-Qur’an (PIQ) Malang ini juga menganggap orang kriten itu adalah majikan sedang orang islam adalah pembantu. Dia juga mengklaim bahwa 75 persen isi al-Qur’an bersumber dari Alkitab (Injil). Dia menganggap orang-orang yang pergi haji ke Makkah tak lebih dari sekadar wisata, bukan ibadah. Baginya, orang yang mencium Hajar Aswad adalah mencium jin. Masih banyak lagi penghinaan Makhrus yang bikin merah kuping.

Siapakah Mahkrus? Tanggal 12 Oktober 2005 silam, seorang pemuda 36 tahun bernama Markus Margiyanto datang menemui KH Abdullah Wasi’an dirumahnya, di Sidoarjo, Jawa timur. Kepada kristolog kondang itu, Markus menyatakan niatnya untuk pindah agama dari Kristen ke Islam. Alasannya setelah membaca buku KH Abdullah Wasi’an yang berjudul Benteng Islam terbitan Pustaka Dai, ia jadi tertarik dengan islam.

Dengan berbaik sangka, mendengar paparan Markus yang sangat memukau itu, KH Abdullah Wasi’an pun menuntun pensyahadatan Markus tepat pukul 11.00 WIB. Syahadat itupun ditandai dengan surat keterangan sementara yang ditandatangai oleh KH Abdullah Wasi’an dan beberapa saksi. Usai pensyahadatan, Pendeta Markus pulang dengan disangoni uang tunai. Nama Islamnya pun menjadi Makhrus.

Namun setelah majalah Modus melakukan pengecekan secara mendetail pada bulan November 2005 lalu, ditemukan sejumlah kebohongan pada Markus Margiyanto. Diantaranya, alamat KTP-nya di Jl. Pogot Lama II/91 RW 06/05 Kalikedinding, Kenjeran, Surabaya ternyata tidak benar. Karena rumah itu telah dijual lima tahun lalu kepada Sutarso. Sutarso pun mengaku tidak tahu menahu tentang seluk beluk dan aktivitas Markus.

Sementara itu, Darmo, tetangga depan rumah Sutarso yang tinggal di sana sejak tahun 1980 mengatakan bahwa yang berprofesi sebagai pendeta itu adalah ayahnya Markus. Setelah ditelusuri, ternyata markus bersama keluarganya yang terdiri dari anak, istri, ibu dan adiknya tinggal di Tanah merah II/22, Kalikedinding, Kenjeran, Surabaya. Rumah yang sempat difungsikan sebagai gereja ini asalnya adalah milik Pendeta Petrus Salindeho yang pernah bermasalah dengan umat islam hingga divonis hukuman penjara, beberapa tahun lalu.

Tak jauh dari rumah Markus di Tanah Merah itu, tinggallah Ustadz Ahmad Ghazali, salah seorang tokoh masyarakat yang menjabat sebagai Wakil Sekretaris PC NU Surabaya. Ustadz Ghazali tahu persis daftar penipuan Markus yang bermodus ingin masuk islam dihadapan tokoh Islam lalu mendapat simpati sang tokoh hingga mendapat hadiah sejumlah uang dan materi lainnya.

Beberapa kiai yang sempat didatangi Markus, antara lain KH Miftah, di Kedung Tarukan Surabaya yang akhirnya menyumbangkan uang tunai Rp. 250.000 dan sarung merek Al-Ma’ruf berharga ratusan ribu. Ada juga KH Asep mantan ketua PC NU Surabaya, KH Abdul Syakur, KH Abdurrahman Navis dan lainnya.

Masrukin adalah salah seorang korban penipuan Markus. Dia adalah pengurus Masjid Nurul Jannah Kalilom, Surabaya. Kira-kira empat tahun lalu, Markus Margiyanto datang ke Mesjid Nurul Jannah dan menyatakan niatnya untuk masuk islam. Diapun disyahadatkan oleh Ridwan, modin setempat.

Setelah masuk islam, karena tidak punya rumah, Markus pun butuh rumah tinggal. Dengan ikhlas, Masrukin memberikan salah satu rumahnya yang baru selesai dibangun untuk ditempati Markus secara Cuma-Cuma. Diapun tinggal dirumah itu bersama istrinya, Muslimah anak seorang kiai di Singosari, Malang.

Selama di rumah Masrukin, Markus sama sekali tidak bekerja untuk menafkahi anak dan istrinya. Kebutuhan sehari-harinya ditanggung oleh jamaah mesjid, terutama oleh keluarga Masrukin. “Mualaf itu bagi orang islam merupakan aset,” alasan Masrukin. Jamaah Masjid pun simpati dengan keislaman Markus, sehingga segala permintaannya dikabulkan jamaah. “Jamaah masjid sini sudah banyak berkorban materi, tenaga dan pikiran untuk Markus,” imbuh Masrukin.

Suatu saat, Masrukin merasakan ada gelagat yang lain karena setiap hari Minggu, pagi-pagi Markus pergi memakai baju yang rapi. “Ternyata Markus pergi ke Gereja,” kata Masrukin. Maka Markuspun dia usir dari rumahnya. Setelah pindah dari Kalilom, Markus melancarkan penipuan yang sama dengan modus pura-pura masuk islam untuk mendapat simpati dan uang dari jamaah masjid di Tanah Merah, Surabaya.

Jauh sebelum melancarkan aksinya di Surabaya. Pendeta Markus pura-pura masuk islam dan nyantri di PIQ Singosari Malang dibawah asuhan KH Bashori Alwi. Karena sudah dipercaya, dia dijadikan menantu oleh KH Ahmad Rifai, pengasuh sebuah pesantren di Singosari, Malang. Namun setelah mempunyai dua anak Markus memboyong anak-anak dan istrinya ke Jakarta lalu mengkristenkan semuanya.

Dalam pengakuannya kepada tim FAKTA Surabaya, Markus mengungkapkan bahwa ceramah-ceramahnya yang menghina islam itu berdasarkan pesanan gereja. Dia juga mengaku ditekan oleh bapaknya dan paman-pamannya yang pendeta. “Apa yang saya ungkapkan di VCD itu adalah rekayasa palsu pihak gereja,” kata Markus kepada Masyhud, ketua tim FAKTA Surabaya.

Selain tekanan gereja, Markus juga rela memberikan kesaksian-kesaksian palsu tentang islam, karena alasan ekonomi dan dorongan finansial. “Pihak gereja sengaja memanfaatkan saya untuk membenturkan islam dengan kristen,” beber pendeta yang memiliki 20 tempat pemuridan tersebut. Yang dimaksud tempat pemuridan adalah semacam tempat pembinaan dan pendidikan Islamologi bagi umat kristen.

Markus juga menyebutkan bahwa pihak gereja sengaja menyebarkan VCD ceramahnya itu untuk menghina umat islam. Posisinya sebagai mantan orang islam yang memberikan kesaksian palsu tentang islam, bagi gereja akan lebih mengena. Walau demikian, dia mengaku masih tetap seorang muslim, bukan murtad. Tentu saja kesaksiannya ini masih membutuhkan klarifikasi lebih lanjut.

Sudah banyak yang menjadi korban penipuan Pendeta Markus Margiyanto. Penipuan bermodus pura-pura masuk islam ini sungguh berbahaya. Jika setiap saat bersyahadat di hadapan tokoh islam untuk mendapat simpati dalam bentuk materi, maka jelas bahwa “penipuan berkedok masuk islam” adalah profesi Pendeta Markus. Dan ternyata si Mahkrus ini juga adalah seorang residivis. (Tim FAKTA Malang).

*Nama ini sesuai dengan nama yang dia tulis pada Makalah sesat Islamologi yang diajarkan pada seminar di Surabaya. Yang ternyata salah semua tulisannya.

** FPI menurut Mahkrus adalah Front Pembela Isa yang sesuai dia tulis pada makalah-makalahnya


Si Kabayan Tidak Masuk Kristen

Thursday, October 11, 2007 9:56 AM
Siapa yang tak kenal Kabayan, film seri yang ngetop tahun 80-an di TVRI dan TPI awal 90-an. Anda pun ingat, siapa pemeran Kabayan yang ditayangkan TPI itu? Ia pelawak yang biasa dipanggil Kang Ibing atau Kang Maman. Panggilan Kang Ibing diterimanya sejak ia masih menjadi penyiar Radio MARA, Bandung. Sedangkan panggilan Kang Maman, disematkan penggemarnya sejak film seri Kabayan yang diperankannya nongol di TPI. Akhirnya, ia pun menerbitkan kaset berjudul “Kang Maman Mencari Gadis Jujur”.

Saat ini, perjalanan hidup sang pelawak, kian dekat dengan Islam. Ia memang terlahir dari keluarga aktivis Islam di Jawa Barat. Tak heran, jika di masa tuanya ini, ia pun mengabdikan dirinya di jalan dakwah. Bersama Prof Salumuuddin, pelawak yang punya nama asli Kusumayatna Kusumadinata ini, mengkhidmatkan dirinya di Dewan Pimpinan Pesantren Modern Baiturrahman Bandung. Selain itu, ia berperan mendirikan beberapa masjid di Bandung dan sekitarnya.

Tapi, saat Kang Ibing mengisi pengajian di Klender, Jakarta Timur, tiba-tiba salah satu jamaahnya bertanya. “Apa betul, Akang masuk Kristen?” tanyanya, sambil menunjukkan majalah yang menulis dirinya masuk Kristen. Ia hanya tertawa, seraya melanjutkan ceramahnya. Benaknya bergumam, masa ada berita begitu, kan dirinya saat ini sedang ceramah.

Sikapnya, yang menganggap berita itu bagaikan angin lalu, sontak berubah, ketika Tim FAKTA menyambangi rumahnya, Senin (19/4). Tim itu, menyodorkan dua majalah: Majalah Kristen “Genta” dan Majalah “Syir’ah.” Kedua majalah ini, dengan menulis, Kang Maman telah memeluk Kristen. Bahkan, Majalah Genta menulis, Kang Maman masuk Kristen sejak 1996.

Dalam tulisannya di Rubrik Syir’atuna, sejenis Laporan Utama di Majalah Syir’ah No 27/IV/Februari 2004, majalah yang dimiliki kelompok JIL ini, menggambarkan pengalaman rohani Kang Maman sampai akhirnya memeluk Kristen. Anehnya, tulisan ini mirip tulisan di Majalah Genta. Berikut petikannya:

Kepindahannya dari Islam bermula saat ia jadi pegawai kecamatan. Ketika itu ia melayani seorang Kristen yang mengurus surat. Kang Maman sangat benci terhadap orang Krisiten sehingga nyuekin orang itu. Anehnya, usai shalat ia merasa didatangi sosok yang mengaku Nabi Isa, yang mengatakan: Akulah yang utama di dunia dan akherat. Setelah itu, ia pun cerita pada istrinya, Siti Cholifah. Tapi jawaban istrinya, “Ah, itu mah setan atau iblis.”

Suatu ketika ia ikut kebaktian di gereja. “Masuklah nanti diberkati,” ajak si pendeta. Beberapa kali ia ikut kebaktian dan mempelajari Kristen diam-diam, hingga ia mampu mengobati orang sakit dengan doa yang ditujukan pada Kristus. Akhirnya, ia diusir mertuanya setelah mengetahui ia memeluk Kristen. Bahkan, ia sempat digebukin teman-teman seprofesinya hingga empat giginya copot. Akhirnya, ia pun dibaptis pendeta. “Saya khawatir mati dalam keadaan belum dibaptis,” ujarnya.

Terang saja, fitnah ini dibantah Kang Maman di hadapan Tim FAKTA. Menurutnya, tulisan itu salah total. Kang Maman alias Kusumayatna Kusumadinata tidak pernah masuk Kristen. Yang jelas, berita ini sangat menyudutkannya. “Yang namanya Kang Maman, Kang Ibing, yang memakai peci seperti ini, cuma saya. Jika ada yang mengatakan saya masuk Kristen, itu fitnah! Secara hukum saya berani menghadapinya,” tandasnya berang.

Fitnah ini sebenarnya bisa dicium sejak awal tulisan. Pasalnya, Majalah Syir’ah sangat terlihat tak menguasai latar belakang siapa sebenarnya Kang Maman alias Kang Ibing ini. Coba, simak tulisan di halaman 21: “…Ini pula yang terjadi pada Kang Maman, yang bernama asli Muhammad Shalat, salah seorang personel D’Bodors (kelompok lawak yang cukup terkenal pada era 80-an yang dimotori oleh Abah Us Us”

Padahal, menurut Kang Maman, ia sama sekali tidak pernah bergabung dengan Group Lawak D’Bodors. D’Bodors adalah Group Lawak milik temannya yang dipimpin oleh Us Us dengan anggota Kang Uyan dan Kang Engkus. “Silakan di cek ke D’Bodors, pasti mereka akan merujuk nama Kang Maman ke saya, sebagai anggota Group Kabayan. Dari sini saja, sudah kelihatan, orang yang nulis hanya ngaco,” tegasnya.

Untuk itu, Kang Maman sangat menyayangkan, kenapa penulisnya tak melakukan cek and ricek pada dirinya. Sebab, berita ini bisa menjerumuskan umat yang masih awam. “Apa susahnya sih telepon atau datang ke rumah. Ngobrol, biar jelas. Bila perlu penulisnya berhadapan langsung, mau di sini, di rumah, atau di TV, atau di mana, silakan! Yang penting terbuka!” tantangnya.

Menanggapi tantangan Kang Maman, Pemimpin Redaksi Majalah Syir’ah, Mujtaba Hamdi mengatakan, pihaknya akan mengecek terlebih dahulu kepada wartawan yang bersangkutan. Kang Maman yang mana yang dimaksud? Jika terdapat kekeliruan, pihaknya bersedia melakukan ralat dan memuat permohonan maaf pada Kang Maman.
Meski begitu, pihaknya merasa wartawannya telah melakukan wawancara langsung pada Kang Maman. “Kami, tak hanya mengutip dari Majalah Genta,” katanya.

Untuk itu, Hamdi mengharapkan agar Kang Maman segera melakukan klarifikasi secara langsung kepada Syir’ah. Karena, dari pengakuannya, Redaksi Syir’ah juga menerima pertanyaan serupa dari Majelis Tarjih Muhammadiyah. Soal penyelesaian melalui jalur hukum, pihaknya pun siap menghadapinya, sebatas melalui jalur UU Pers. “Nggak masalah silakan jika mau menempuh jalur hukum,” tandasnya.

Gayung pun bersambut, pertemuan kedua pihak harus terlaksana. Jika tidak, ini akan jadi preseden buruk di kemudian hari. Yang dirugikan, tak hanya Kang Maman tapi juga umat. Apalagi, bagi Kang Maman, yang sempat ngaku keselnya sudah sampai ubun-ubun. “Saya ini keselnya udah gimana .., nggak bisa bayangin, karena ini masalah akidah. Meski begitu, saya akan berkoordinasi dengan MUI Jabar untuk melakukan tindakan selanjutnya,” katanya mantap.




Murtadin: Kesaksian Syarafuddin
Monday, October 08, 2007 10:55 AM
Salah satu senjata untuk menghajar aqidah Islam adalah pelunturan aqidah dengan memanfaatkan orang-orang Islam yang telah murtad menjadi Kristen. Para mantan Muslim yang sudah menjadi Kristen ini diekspos sedemikian rupa dengan kesaksian-kesaksian yang dipoles dengan wawasan islamologi, untuk merancukan ajaran Islam. Target utama kesaksian ini adalah umat Islam yang tipis imannya dan dangkal pemahamannya.

Untuk itu, para misionaris tak segan-segan mempublikasikan kesaksian palsu yang direkayasa dan dilebih-lebihkan dengan mengaku-ngaku sebagai mantan ustadz, mantan kiyai, mantan pesantren, dll. Beberapa contoh penginjil yang sudah terbongkar kepalsuannya adalah Danu Kholil Dinata yang mengaku sarjana agama dari Sekolah Tinggi Agama Islam Cirebon; Pendeta Muhammad Filemon yang mengaku sebagai mantan anggota Intifadah yang telah membabtis KH Zainuddin MZ; Hagai Ahmad Maulana yang mengaku sebagai putra kandung KH Chosim Nurzeha, dll.

Beberapa waktu yang lalu, Joni Indarto, seorang pembaca setia Sabili, mengeluhkan adanya situs Kristen (www.########-Islam.org) yang mempublikasikan kesaksian para murtadin dari berbagai negara, antara lain Indonesia, Malaysia, Iran dan Pakistan. Para murtadin yang diekspos dalam situs ini antara lain: Chariah, Jamilah, Aishah, Yahya, Sharifah, Hamran Ambrie, Hisham, Tarmizi, Rabiyah, Faisal, Hamzah, Rogayyah, Kartini, Dadang M, Siti Zainab, Anuar, Sharafuddin, Baharom, Syahid Mehdi Dibaj, Syahid Tahir Iqbal, Abu Bakar, Muhammad, Solehah, Drs. A. Purnomo W. dan Ainur.

Umumnya, kesaksian para murtadin itu dihiasi dengan ayat-ayat Al-Qur`an untuk melemahkan akidah umat Islam. Ayat-ayat dan analisa yang ditampilkan itu adalah jurus-jurus “pasaran” yang biasanya dipakai oleh para penginjil. Besar kemungkinan, kesaksian itu tidak murni pengalaman rohani yang benar, melainkan polesan dan rekayasa para misionaris.

Salah satu kesaksian murtadin yang ditampilkan dalam situs Kristen itu adalah Sharafuddin. Ia mengaku berasal dari sebuah keluarga Melayu Muslim yang dididik dalam lingkungan taat beragama yang aktif dalam pengajian ushuluddin dan Al-Qur`an. Lingkungan islami itu, membentuknya sebagai seorang remaja yang rajin menunaikan berbagai kewajiban sebagai seorang Muslim yang bertakwa.

Ketika masuk perguruan tinggi di salah satu universitas, ia mengalami kebosanan dan ketidakpuasan terhadap rutinitas ibadah yang dilakukannya. Kegalauan iman inilah yang menuntun Sharafuddin menjadi seorang ateis. Ia pun membaca buku-buku yang ditulis oleh para penganut mantan ateis. Salah satu buku yang dibacanya adalah “Mere Christianity” tulisan CS Lewis, seorang pujangga, pemikir dan ahli falsafah dari Universitas Oxford, Inggris.

Rutinitas ibadah Islam yang diragukan oleh Sharafuddin adalah ibadah shalat. Menurutnya, ibadah yang dilakukan dengan menghadap Ka’bah ini adalah satu bukti pemberhalaan terhadap benda mati. Ia menulis:

“Islam juga mengutuk segala penyembahan kepada berhala-berhala (idolatry) kerana Muhammad telah menyatakan 'La-illa ha-ilallah', 'Tidak ada tuhan selain daripada Allah'. Akan tetapi, seluruh dunia Islam setiap hari, dan lima kali sehari, mereka bersujud, berlutut dan berukuk kepada sebuah bangunan berbentuk segi-empat di kota Mekkah. Bangunan kaabah itu mengandungi sebuah Batu Hitam yang amat disanjung tinggi oleh semua para Muslimin dan Muslimat, yang disebut sebagai 'Hajarul aswad'. Lebih tepat lagi, batu ini sebenarnya ialah satu serpihan tahi bintang yang telah jatuh dari langit di zaman dahulu.”

Tudingan yang agak mirip, meski tidak sama, pernah dilontarkan dalam Situs PDS. Setelah rubrik “Bimbingan Tauhid” mengoreksi dengan tulisan “Situs PDS Hujat Ibadah Shalat” (Sabili Th. XIV No. 17 & 18), buru-buru DPP PDS menghapus seluruh hujatannya terhadap Islam. Untuk melengkapi jawaban terhadap hujatan shalat, edisi ini kami turunkan jawaban versi lain.

Beribadah menghadap kiblat ke arah tertentu, bukanlah monopoli agama Islam. Jauh sebelumnya, para nabi berkiblat ke Yerusalem ketika menyembah Tuhan. Kitab Perjanjian Lama dalam Bibel sendiri mengakui hal ini. Dikisahkan bahwa Nabi Daniel beribadah dengan bertelut, bersyukur dan berdoa kepada Tuhan, sebanyak tiga kali sehari dengan menghadap kiblat ke Yerusalem (kitab Daniel 6:11, terjemahan lama).

Syariat kiblat ini juga berlaku pada zaman Yesus. Hal ini diakui dalam Ensiklopedi Perjanjian Baru pada halaman 60 disebutkan bahwa Bait Allah adalah jantung kehidupan bangsa Israel. Setiap hari, pada jam-jam tertentu orang berkumpul untuk berdoa, dan tiga kali setahun diadakan ziarah ke bait Allah, dari ujung negeri yang paling jauh sekalipun. Selanjutnya, ensiklopedi itu menyebutkan: “Yesus mentaati dan membenarkan praktik-praktik peribadatan bait Allah, walaupun ia sangat mencela formalitas yang merusaknya. Ia menghendaki hormat bagi bait Allah.”

Dengan demikian, jika ada orang Kristen yang menghina ibadah dengan menghadap Baitullah dengan tudingan memberhalakan benda mati, berarti dia adalah orang yang belum paham dan menentang ajaran Yesus. Bukankah Yesus tidak pernah menuding Daniel sebagai nabi yang memberhalakan Yerusalem? Bukankah Yesus mentaati dan membenarkan praktik-praktik peribadatan bait Allah?

Menuding umat Islam sebagai pelaku pemberhalaan Baitullah sama sekali tidak benar. Seluruh umat Islam di manapun berada, tak satupun yang melakukan shalat untuk menyembah Ka’bah. Umat Islam bukan menyembah Ka’bah, melainkan menyembah Tuhan pemilik Ka’bah tersebut, sesuai dengan firman Allah SWT: “Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah)” (Qs. Al-Quraisy 3).

Ka’bah adalah kiblat atau arah menghadap dalam ritual shalat. Hal ini dilakukan oleh umat Islam seluruh dunia. Jadi, berkiblat ke Ka’bah adalah pemersatuan arah, karena Islam bersifat universal.

Dengan demikian, syariat Islam tidak pernah menyimpang dari ajaran tauhid. Penyimpangan dari tauhid justru dilakukan oleh umat Kristen dengan berdoa kepada Bunda Maria, malaikat dan para santo (orang yang dianggap kudus/suci). Dr H Pidyarto O. Carm yang biasa disapa Romo Pid, dalam bukunya Mempertanggungjawabkan Iman Katolik menyatakan: “Praktik doa kepada orang kudus (Maria dan para Santo) dapat dibenarkan. Mengapa? Sebab Maria dan para kudus adalah anggota-anggota gereja juga. Setelah mereka meninggal dunia dan bersatu di surga, mereka tetap saudara-saudari kita, anggota satu keluarga Allah” (hal. 36).

Sebaiknya, murtadin Sharafuddin merenungkan kembali credo baru yang diyakininya dalam trinitas. Sebab, Pendeta Muhammad Ramli dari Gereja Kristen Sulawesi Selatan (GKSS), sampai saat ini masih bingung dengan doktrin Trinitas. Dalam pertemuan PGI di Cempaka Putih Jakarta Pusat bulan Mei lalu, pria berusia 41 tahun ini menuturkan, “Hingga kini, faham Trinitas masih membingungkan dan sulit dipahami oleh penganut agama lain. Itu sebabnya penyebaran Injil tidak bisa maksimal.”



Memahami dan Mengenal Allah Tritunggal oleh: Abd. Yadi
Monday, October 08, 2007 10:47 AM
Para penginjil benar-benar frustasi dalam membela imannya kepada ketuhanan Trinitas. Setelah gagal membuktikan keabsahan dontrin Trinitas secara teologis berdarkan ayat-ayat Bibel, mereka melirik Al-Qur’an. Secara semberono, kitab suci umat Islam diselewengkan untuk melegitimasi doktrin Trinitas.

Seorang penginjil yang memakai nama Abd Yadi, menulis buku berjudul Memahami dan Mengenal Allah Tritunggal untuk membuktikan keabsahan doktrin Trinitas dan Ketuhanan Yesus. Buku ini beredar di kota Malang, bertepatan ketika kawasan sejuk di Jawa Timur ini dihebohkan dengan kasus pelecehan terhadap Al-Qur’an oleh Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI). Ironinya, buku yang mempermainkan ayat-ayat Al-Qur’an ini justru dijual di toko buku milik pendeta yang menjadi tokoh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Malang.

Satu-satunya ayat Bibel yang dijadikan dalil doktrin Trinitas oleh Abd Yadi adalah kitab 1 Yohanes 5:7-8: “Sebab ada tiga yang memberi kesaksian di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu.”

Ayat tersebut dikutip pada halaman 8 dengan penjelasan singkat: “Inilah yang sering dikenal dengan sebutan Allah Tritunggal.”

Untuk memperjelas doktrin Trinitas, Abd Yadi membuat analogi segitiga sama sisi yang diumpamakan sebagai satu kesatuan Tuhan. Dalam sebuah segitiga ini terdiri dari tiga buah garis yang sama panjang, masing-masing garis ini diibaratkan sebagai Tuhan Bapa, Tuhan Anak atau Firman yaitu Yesus, dan Tuhan Roh Kudus. Bangunan ini tidak dapat disebut segitiga bila salah satu garisnya tiada. Menurut Abd Yadi, diri Allah saja tidak dapat disebut sebagai Allah jika tidak memiliki Firman (Yesus) dan Roh Kudus. Jika hanya ada Allah saja tanpa Firman (Yesus) dan Roh Kudus, berarti Allah itu mati.

Logika penginjil ini dapat dipatahkan dengan beberapa argumen. Pertama, pada permulaan penciptaan alam, Yesus belum lahir, tapi Allah tidak mati, bahkan Maha Hidup dan Maha Kuasa menciptakan alam semesta beserta isinya. Kitab Kejadian 1:1 menyebutkan: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.”

Kedua, akal bulus penginjil yang membuat perumpamaan Tuhan dengan sebuah segitiga ini semakin terbukti kelemahannya pada ayat Bibel yang mengisahkan kematian Yesus di tiang salib (Matius 27:50, Markus 15:37, Lukas 23:46, Yohanes 19:28). Ketika itu Allah Bapa dan Allah Roh Kudus masih ada, tapi mengapa Yesus bisa mati?

Perumpamaan Tuhan Segitiga untuk pembenaran doktrin Tuhan Trinitas dalam iman Kristiani ini adalah usaha yang mubazir, seperti menegakkan benang basah. Penginjil Abd Yadi akan menyesal dan baru menyadari betapa sia-sia usahanya dalam membela Trinitas, bila dia tahu betapa ayat Trinitas yang diperjuangkannya adalah ayat yang palsu.

Kata “Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu” dalam Bibel ini memang satu-satunya ayat yang secara jelas mennyatakan doktrin Trinitas. Konsensus para teolog menyatakan bahwa ayat ini adalah palsu belaka. Lembaga Biblika Indonesia (LBI) menghakimi ayat trinitas itu sbb: “Bagian kalimat antara kurung itu pasti tidak asli” (Kitab Suci Perjanjian Baru tahun 1977/1978, hlm. 551).

Dalam The Holy Bible New International Version halaman 1242, ayat trinitas itu disebut sebagai “not found in any Greek manuscript before sixteenth century” (tidak ditemukan sebelum abad ke-16).

Dr. GC. Van Niftrik dan D.S.B.J Boland menegaskan: “Di dalam Alkitab tidak diketemukan suatu istilah yang dapat diterjemahkan dengan kata TRITUNGGAL ataupun ayat-ayat tertentu yang mengandung dogma tersebut, mungkin dalam 1 Yahya 5: 6-8. Tetapi sebagian besar dari ayat itu agaknya belum tertera dalam naskah aslinya... (Dogmatika masa kini, 1967, hlm. 418).

William Barclay dalam buku The Daily Bible Study: the Epistles of John and Jude menjelaskan: “Ayat ini tidak muncul dalam manuskrip Yunani yang lebih muda dari abad ke-14. Manuskrip-manuskrip yang besar termasuk pada abad-abad ke-3 dan ke-4, dan ayat ini tidak terdapat di dalamnya. Tidak ada satu orang pun dari bapak-bapak Gereja besar yang mengetahui adanya ayat ini. Karena Versi asli Vulgata yang berasal dari Jerome tidak mencakupnya. Orang pertama yang mengutipnya adalah seorang bidah Spanyol yang bernama Priscillian yang meninggal tahun 385 M. Sesudah itu ayat ini menyelinap masuk ke dalam teks-teks Latin dari Perjanjian Baru, walaupun sebagaimana telah kita lihat, ia tidak dapat masuk ke dalam teks Yunani” (edisi Indonesia: Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Surat-surat Yohanes dan Yudas, hlm. 185-187).

Setelah mengotak-atik keesaan tuhan dengan logika “segitiga sama sisi,” penginjil Abd Yadi merakit ayat Bibel dan Al-Qur’an untuk justifikasi gelar “Tuhan” untuk Yesus (hlm. 34-35). Ayat yang diparalelkan adalah Kisah Para Rasul 2:36 yang berbunyi: “Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus.”

Menurut Abd Yadi, ayat Bibel ini didukung oleh ayat Al-Qur’an: “Katakanlah: “Aku berlidung kepada Tuhanya manusia, Rajanya manusia, Sembahannya manusia” (Qs. An-Nas 1-3).

Kesalahan penginjil ini sangat fatal dan berlipat-lipat. Ayat Bibel yang menyatakan bahwa Allah telah melantik Yesus sebagai Tuhan, patut dipertanyakan, karena jauh sebelumnya Allah berfirman bahwa selama-lamanya Dia tidak akan membentuk Tuhan selain Dia.

“Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. Aku, Akulah Tuhan dan tidak ada juruselamat selain daripada-Ku” (Yesaya 43: 10-11).

Keliru besar jika surat An-Nas dipahami sebagai ayat yang menyatakan ketuhanan Yesus. Kekeliruan ini dibuktikan sendiri oleh Nabi Isa AS. Dengan tegas Nabi Isa memerintahkan manusia untuk bertuhan dan menyembah Allah SWT. Sabda suci Nabi Isa ini diabadikan dalam Al-Qur’an: “Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus” (Qs. Az-Zukhruf 64).

Surat An-Nas dan surat sebelumnya yaitu Al-Falaq, berisi perintah kepada orang-orang yang beriman agar memohon perlindungan (isti’adzah) hanya kepada Allah SWT dari kejahatan. Bedanya, surat Al-Falaq berisi perintah untuk memohon perlindungan dari segala bentuk kejahatan, sedangkan surat An-Nas secara spesifik memerintahkan untuk memohon perlindungan dari kejahatan jin dan manusia.

Maka umat Islam berlindung kepada Allah dari jahatnya bisikan setan, baik setan dari bangsa jin maupun manusia, termasuk para penginjil macam Abd Yadi yang hobi menyelewengkan ayat-ayat Allah.



Penginjil Orang Madura 2
Thursday, October 04, 2007 10:50 AM
Setelah murtad meninggalkan Islam, wanita berdarah Madura ini ditokohkan sebagai penginjil yang aktif memberikan ceramah kesaksian di gereja-gereja. Ia pun mendirikan Yayasan Isa Almasih Alaihisalam Ministry Qasidah Injili di Gresik, Jawa Timur.

Untuk memamerkan keahlian berbahasa Arab di hadapan jemaat, Ev Siti Muslikhah Rahayu menceritakan bahwa ia tak pandai menulis huruf latin dengan baik. Karena ia biasa menulis huruf arab pego (tanpa baris harokat) yang ditekuninya di pesantren dulu. Bahkan tanda tangannya pun sampai saat ini berbahasa Arab. Lalu ia menafsirkan nama “Muslikhah” miliknya. Menurutnya, namanya bukan “muslikah” yang berarti minder, tapi “Muslikhah” yang berarti pemberani melangkah untuk memenangkan jiwa-jiwa. “Kalau Muslikhah pakai “kh” itu masuk tajwid, ada syiddah di atas. Nama ini diberikan kebanyakan kepada orang yang masuk pesantren. Kalau tidak dari pesantren tidak berani pakai nama ini,” ujarnya.

Alangkah bohongnya kesaksian penginjil ini. Minder dalam bahasa Arab berarti “khajil” atau “mukhjil”, sedangkan “muslikah” adalah kata turunan dari “salaka” yang berarti meniti atau berjalan. Mengatakan bahwa dalam kata “muslikhah” terdapat tajwid dan syiddah, menunjukkan bahwa sang penginjil adalah orang awam yang berlagak sok tahu membodohi jemaat Kristen. Tajwid adalah cara baca Al-Qur`an, bukan masuk pada sebuah nama seseorang. Jika dalam kata tersebut terdapat syiddah, maka cara bacanya menjadi “muslikh-khah.” Mengartikan muslikhah menjadi pemberani, menambah kejahilan ilmu sang penginjil. Sebab pemberani dalam bahasa Arab disebut asy-syuja’ sedangkan muslikhah (seharusnya muslihah) berarti wanita yang melakukan islah (perbaikan). Nama “Muslihah” dan nama-nama indah lainnya dalam Islam bukanlah monopoli pesantren tertentu, melainkan ajaran Rasulullah kepada semua pengikutnya, bukan milik orang pesantren saja.

Kisah perpindahan agama dari Islam ke Kristen yang dipaparkan Ev Muslihah penuh dengan hal-hal mistik yang sangat mustahil. Kisahnya bermula ketika ia kawin beda agama dengan seorang ABRI Kristen pada tanggal 21 Juli 1980. Waktu menikah, dia lupa tidak menanyakan agama calon suaminya. Ketika sudah berumah tangga, Muslikhah baru tahu kalau suaminya adalah orang Kristen. Maka muncullah prahara rumah tangga yang sangat keras. Sehingga kakak Muslikhah yang di Malaysia menyuruhnya untuk membunuh suaminya, jika ia ingin masuk surga. Muslikhah pun menuruti saran kakaknya.

Ketika suaminya sedang tidur, Muslikhah hendak membunuhnya dengan senjata tajam. Ketika senjata diayunkan, tiba-tiba Muslikhah lumpuh seketika. Setelah berobat kemana-mana tidak membawa hasil, maka Muslikhah didoakan oleh para “hamba-hamba Tuhan” selama tiga hari. Mukjizat pun turun dan Muslikhah sembuh total sampai sekarang. Maka mulailah ia tertarik ke gereja.

Suatu hari, ketika kebaktian di gereja, Muslikhah hendak pulang karena enggan mengikuti acara “Doa Syafaat”. Anehnya, ketika hendak berdiri, kursi yang didudukinya lengket tidak bisa berpisah dari tubuhnya. Jika ia berdiri, kursi yang didudukinya ikut terangkat. Maka terpaksa ia mengikuti doa syafaat. Sejak itulah dia menjadi yakin terhadap Kristen.

Kisah Muslikhah bahwa orang Kristen itu sakti tak bisa dibacok dan membuat lumpuh orang yang akan membacok, ini ajaran mistik yang tidak bisa diterima akal. Dalam kenyataannya, sering diberitakan di mess media, orang Kristen yang mati terbunuh, tertembak, dirampok, dan lain sebagainya. Bahkan belum lama ini 3 orang tokoh Kristen tak mampu menyelamatkan nyawanya dari hukuman eksekusi. Dalam teologi Kristen, tak ada jaminan dalam Bibel bahwa orang Kristen yang beriman itu punya mukjizat tidak bisa dibacok lalu orang yang akan membacok itu menjadi lumpuh.

Yang ada adalah ayat Injil adalah orang yang beriman kepada Yesus itu memiliki mukjizat bisa mengusir setan dalam nama Yesus, bisa berbicara dalam bahasa-bahasa asing, dan kebal terhadap bisa ular dan racun maut (Injil Markus 16:17-18). Tetapi, ayat terlalu naif. Di satu sisi, ayat mukjizat ini tidak bisa dipraktikkan karena tak ada orang Kristen yang berani membuktikan mukjizat ayat ini. Di sisi lain, para teolog sudah sepakat menyatakan bahwa Injil Markus 16:9-20 itu bukan firman Tuhan, melainkan tulisan manusia yang disisipkan dalam Alkitab.

Pada bagian lain, penginjil wanita Sampang Madura yang mengaku berlatar belakang Muhammadiyah fanatik ini mengisahkan tantangan rohani dari keluarga Muslim. Konon, suatu hari kedua orang tuanya akan membagikan warisan, tapi Muslikhah tidak kebagian karena sudah murtad. Ia dibaringkan di tempat tidur untuk dibunuh. Kakaknya menghunus pedang ditempelkan di leher, tinggal menggorok saja. Ketika membaca takbir Allahu Akbar Allahu Akbar hendak menggorok. Muslikhah ditanya, “Siapa Tuhanmu?” Muslikhah menjawab: “Allah Yesus Allah kita semua.” Saat itu pula pedangnya mental dan 25 orang yang menyaksikan kejadian ini jatuh pingsan semuanya.

Tahun 1998 ibunya terserang kanker dan liver ganas. Ketika akan dioperasi, dia minta untuk didoakan lewat nyanyian oleh Muslikah, karena doanya itu manjur. Setelah didoakan dengan minyak urapan, ibunya sembuh total seketika lalu urung dioperasi. Sejak itulah Muslikah sangat dicintai dan diterima kembali di tengah-tengah keluarganya.

Dua penggal kisah mistik itu mendapat applaus dari jemaat Gereja Penabur Surakarta, meski secara akal tak bisa dipercaya sama sekali, karena banyak bohongnya. Bohongnya sangat besar.

Pertama, orang tuanya akan membagikan harta warisan kepada anak-anaknya, kecuali kepada Muslikhah. Kisah ini bohong belaka, karena warisan adalah harta dan hutang yang diwariskan kepada ahli waris ketika sang pewaris (orang tua, dll) sudah meninggal. Pembagian harta warisan oleh kedua orang tua kepada anak-anaknya adalah tidak benar. Karena sebelum orang tua meninggal, maka harta yang ada bukan disebut harta warisan. Jadi, cerita pembagian warisan dalam keluarga Muslikhah adalah rekayasa yang dipakai sebagai bumbu kesaksian agar jemaat memberikan applaus kepadanya.

Kedua, tidak ada pedoman hidup Muhammadiyah maupun putusan tarjih yang memerintahkan agar seseorang yang murtad dalam suatu keluarga harus dibunuh dengan pedang di hadapan anggota keluarga. Dengan demikian, kesaksian bahwa keluarganya yang fanatik Muhammadiyah hendak membunuhnya dengan pedang itu hanyalah isapan jempol yang dipakai sebagai pemanis kesaksian agar jemaat simpati kepada perjuangan rohaninya. Kisah fiktif ini adalah fitnah yang mencitrakan persyarikatan Muhammadiyah sebagai organisasi preman yang suka main hakim sendiri dengan gampangnya menghilangkan nyawa orang lain.

Ketiga, kisah penyembuhan ibu kandung Muslikhah dari penyakit kanker dan liver ganas dengan minyak urapan dan doa dalam nama Yesus, sama sekali tak bisa dipercaya. Selain ayat Markus 16:9-20 yang menjadi landasan adalah ayat palsu, fakta di lapangan pun bertolak belakang dengan doktrin “doa penyembuhan dengan minyak urapan dalam nama Yesus” tanpa medis. Jangankan umat Kristen biasa, Paus di Vatican pun kalau sakit berobat ke dokter, bukan dengan minyak urapan (baca: Awas, Situs Pemurtadan, Sabili Th. XIII No. 26, 13 JULI 2006).

Bukti lainnya, banyak pendeta dan umat Kristen yang berprofesi sebagai dokter medis. Contohnya adalah dokter Ruyandi Hutasoit, ketua umum Partai Damai Sejahtera (PDS). Selain sebagai pendeta, ia juga berprofesi sebagai dokter medis. Jika doktrin penyembuhan dengan tumpang tangan dalam nama Yesus itu benar, untuk apa para dokter Kristen memakai obat-obatan kimia dalam terapi terhadap pasien? Jika seorang penginjil bisa menyembuhkan penyakit kanker dan liver ganas hanya dengan doa tanpa tindakan medis, seharusnya orang Kristen menutup rumah sakit Kristen dan membubarkan fakultas kedokteran di perguruan tinggi. Bukankah penyembuhan dengan doa dan minyak urapan lebih praktis, efisien dan hemat? Maukah orang Kristen meniru jejak penginjil berdarah Madura ini?

Ev Siti Muslikhah Rahayu harus menghentikan dusta-dusta dalam kesaksiannya. Sebagai rohaniawan Kristen, ia harus malu dan meniru ajaran damai umat Islam yang mencela dusta sebagai perbuatan dosa (Qs. Al-Jatsiyah 7). Tindakan dusta itu tidak akan memasyhurkan nama Yesus, justru dikecam oleh Yesus sebagai “hamba iblis” (Yohanes 8:44).



Penginjil Orang Madura 1

Thursday, October 04, 2007 10:47 AM
Oréng Mêdurê (orang Madura) adalah suku yang kuat dan fanatik pada ajaran Islam. “Mateh odik paggun Islam!” Postulat adat yang berarti “hidup mati tetap Islam” ini sudah mendarah daging pada semua orang Madura. Tradisi keislaman dijaga ketat oleh orang Madura baik yang masih bermukim di pulau garam maupun orang yang merantau di luar pulau sampai ke luar negeri. Mereka begitu menghormati dan memuliakan ulama. Orang Madura adalah orang Islam, demikian kesan orang ketika menilai agama orang Madura. Opini ini hendak dijebol oleh misionaris wanita asal Madura.

Ev. Siti Muslikhah Rahayu, seorang penginjil wanita berdarah Madura dari Sampang, melakukan tour ceramah kesaksian di Jawa Tengah kurang lebih 2 bulan. Kesaksian yang dilakukan di Gereja Penabur Surakarta, Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh Persekutuan Wanita Kristiani Surakarta, direkam dan dijual dalam bentuk VCD 2 keping bertitel “Isa Almasih Allahisalam.”1 Sayangnya, dalam VCD ini tak disebutkan kapan acara ini berlangsung.


Dalam Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) yang berdurasi 150 menit ini, penginjil asal Madura memakai busana daerah khas Madura. Dialeg khas Madura terlihat begitu kental pada acara yang dihadiri oleh lebih kurang 200 jemaat yang kebanyakan beretnis Cina. Nampak di antara jemaat ini, istri Wakil Walikota Surakarta yang juga berdarah Madura, berasal dari Bangkalan.


Muslikhah memulai dengan pembacaan doa dan lagu pujian dalam bahasa Jawa. Sebelum memulai ceramah kesaksian, ia memperkenalkan bahwa acara ini juga diikuti oleh belasan orang Islam. Mereka diminta berdiri beberapa saat oleh sang penginjil.


Dalam kesaksiannya, berulang kali penginjil Muslikhah menyebutkan bahwa ia dan keluarganya berlatar belakang Muhammadiyah fanatik. Katanya, orang tuanya Muhammadiyah fanatik yang tidak mengakui perkawinan dengan orang dari NU dan LDII.


Penginjil wanita yang sekarang tinggal di Gresik, Jawa Timur ini berusaha menyihir audien dengan kesaksian bahwa dirinya ketika beragama Islam adalah seorang tokoh Islam yang ilmu keislamannya sangat dalam. Tak segan-segan ia mengaku berasal dari pondok pesantren, bekas guru ngaji yang dulunya dipanggil “bu nyai” oleh para muridnya. Ketika bicara pesantren, penginjil ini menyebutkan bahwa ajaran di pesantrennya melahirkan para santri yang ganas, tukang bakar gereja, dan penganiaya orang Kristen. “Saya dulu adalah orang ganas, tukang bakar gereja, tukang menganiaya orang Kristen, penghujat dan penganiaya, karena sejak kecil saya ditanam di pesantren,” hasut sang Penginjil. Sayangnya, ia tak menyebutkan nama dan alamat pesantren yang dimaksudnya, sehingga validitas kesaksian bernuansa fitnah provokatif itu sulit dilacak.


Dalam lagu-lagu rohani yang didendangkannya, wanita yang menjadi jemaat Gereja Pentakosta Internasional Indonesia (GPII) di Surabaya ini menjiplak lagu-lagu qasidah Islam dengan merubah bait syairnya. Lagu Zaman Wis Akhir milik Emha Ainun Najib, dicolong lalu divermak menjadi lagu rohani. “Jaman win akhir, jaman wis akhir bumine goyang. Poro manungso ayo podho neng grejo,” lantunnya. Dalam lagu lainnya, ia mengkombinasikan syair Arab dan Jawa yang dilantunkan dengan cengkok (liuk-liuk) khas Madura:


“Sakjeke aku nderek gusti, uripku tansah diberkahi. Atiku ayem tentrem, kabeh iku Gusti Yesus sing maringi. Matur nuwun Gusti Yesus, Kulo matur nuwun. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah Isa Almasih Alhamdulillah.” Terjemah Indonesia: sejak aku ikut Tuhan hidupku selalu diberkati. Hatiku tenang tenteram, semua itu tuhan Yesus yang memberi. Alhamdulillah Isa Almasih alhamdulillah).


Dalam kesaksiannya, penginjil Muslikhah menyerukan agar umat Kristen melancarkan pengkristenan umat dengan memperalat ayat-ayat Al-Qur’an. “Jadilah Penginjil yang setia. Banyak jiwa-jiwa perlu kita selamatkan lewat Shirotol Mustaqim yaitu Isa Almasih Alaihisalam Yesus Kristus Tuhan. Banyak jiwa-jiwa yang perlu diselamatkan lewat Al-Qur’an.”


Teologi yang dijajakan Muslihah benar-benar amburadul. Hal ini terbukti dalam kutipan ayat yang dilakukan secara ngawur. Ketika membahas doktrin Kristen bahwa semua manusia berdosa sejak lahir, ia mengutip Bibel kitab Roma 3:9-12 yang dijustifikasi oleh ayat yang menurutnya adalah ayat Al-Qur`an. Muslihah menyebutkan: “Di surat Al-Qur`an bahasa Indonesia menyebutkan: di dunia ini tidak ada yang benar di hadapan Allah. Semua orang berdosa, tapi karena kasih karunia Allah kita boleh diselamatkan asal kita percaya bahwa Yesus adalah Tuhan Juru Selamat. Dalam Al-Qur’an tidak ada kata Yesus, tapi yang ada adalah kata Rohul Allah.”
Sayangnya, Muslikhah tak menyebutkan surat apa dan ayat berapa ayat Al-Qur`an yang dikutipnya di atas. Meski demikian, Tim FAKTA berani menjamin, siapapun tak ada yang bisa menunjukkan kutipan penginjil tersebut dalam Kitab Suci Al-Qur`an. Dalam 6666 ayat Al-Qur`an, tak ada ayat yang berbunyi demikian. Ayat tersebut sejatinya diambil dari tulisan Paulus dalam Bibel:
“Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus” (Roma 3:23-24).
Ayat ini biasa dipakai sebagai landasan doktrin Kristen bahwa semua manusia sejak lahir mengidap dosa warisan Adam. Dosa ini tidak bisa dihapus dengan taubat dan amal shalih, melainkan hanya bisa dihilangkan dengan iman kepada Yesus sebagai tuhan dan Juruselamat. Ini adalah ajaran Paulus yang bertentangan dengan ajaran Yesus. Karena dalam Injil Matius 19:14 Yesus mengatakan bahwa anak-anak kecil adalah empunya kerajaan sorga. Berarti, menurut Yesus, anak-anak kecil masih suci, belum pernah berbuat dosa. Yesus juga mengajarkan bahwa di hari kiamat kelak semua orang bertanggungjawab atas perbuatannya masing-masing, tak ada penebusan dosa oleh orang lain: “...Pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya” (Matius 16: 27).

Ayat yang dikutip oleh penginjil Muslikhah itu tidak akan ditemukan dalam Al-Qur`an, justru kontradiktif dengan ajaran Islam yang justru menentang doktrin dosa waris. Rasulullah bersabda: “Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci, maka karena orang tuanyalah dia menjadi Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR. Bukhari).
Ev. Muslihah harus menyadari kekeliruan teologinya dan bertobat dari aktivitas penyebaran ajaran-ajaran menyimpang ke gereja. Jika tidak, maka gelar rohani yang disandangnya bukan “teolog” tapi “tololog.”



Kristen "Murtadin" Meneror Lewat SMS

Thursday, October 04, 2007 10:40 AM
Seorang penginjil berkreasi membuat teka-teki ketuhanan Yesus dengan memperalat ayat-ayat Al-Qur’an. Teka-teki ini disebarkan melalui SMS yang berbunyi: ”Siapa yg bisa terkemuka di akherat, selain Tuhan? Jwb Mhd adl: Isa Almasih/Jrslmt (3:45), krn itu pengikut Isa di atas orang kafir (3:55)!” [dikirim dari nomor +6281553482xxx tanggal 12 April 2007 pukul 22:50].

Teka-teki tersebut dikirim berulang kali kepada para pengurus FAKTA. Pengasuh rubrik ini menjawab bahwa pertanyaan yang serupa sudah pernah diulas di Sabili beberapa tahun yang lalu. Bila dia ingin tahu jawabannya, Tim FAKTA akan mengirimkan foto copy edisi yang dimaksud ke alamat yang jelas. Tapi penginjil yang enggan menyebutkan nama dan alamat jelas itu malah menuduh FAKTA sebagai orang yang asbun dan telmi (telat mikir).


Karena pertanyaan serupa juga beredar dalam bentuk selebaran di berbagai daerah, maka pada edisi ini Tim FAKTA kembali menjawab pertanyaan penginjil dengan jawaban model lain.


Pembuat teka-teki ini sudah menyimpulkan bahwa Nabi Isa (Yesus) adalah orang yang paling terkemuka di akhirat karena dia adalah tuhan dan juruselamat. Hal ini karena pengaruh pemahaman terhadap Bibel yang menyatakan bahwa Yesus telah diberi kekuasaan di sorga dan di bumi: ”Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepadaku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi” (Matius 28:18).


Sayangnya, keabsahan ayat ini diragukan oleh banyak teolog, karena Injil Matius pasal 28 berakhir sampai pada ayat 15. Sedangkan lima ayat berikutnya, yaitu Matius 28:16-20 adalah ayat-ayat yang sisipan ditambahkan oleh Gereja di kemudian hari.


Hugh J. Schonfield, nominator pemenang Hadiah Nobel tahun 1959, mengatakan sebagai berikut:

“This (Matthew 28: 15) would appear to be the end of the Gospel (of Matthew). What follows (Matthew 28: 16-20) from the nature of what is said, would then be a latter addition” (The Original New Testament, hlm. 124).


(Ayat ini [Matius 28: 15] nampak sebagai penutup Injil [Matius]. Dengan demikian, ayat-ayat selanjutnya [Matius 28: 16-20], dari kandungan isinya, nampak sebagai [ayat-ayat] yang baru ditambahkan kemudian).


Robert Funk, Professor Ilmu Perjanjian Baru dari Universitas Harvard, berkomentar:


“The great commission in Matthew 28: 18-20 have been created by the individual evangelist... reflect the evangelist idea of launching a world mission of the church. Jesus probably had no idea of launching a world mission and certainly was not the institution builder. (It is) not reflect direct instruction from Jesus” (The Five Gospels, The search for the Authentic Words of Jesus, hlm. 127).

(Perintah utama dalam Matius 28: 18-20…. diciptakan oleh para penginjil.... memperlihatkan ide untuk menyebarkan ajaran Kristen ke seluruh dunia. Yesus sangat mungkin tidak memiliki ide untuk mengajarkan ajarannya ke seluruh dunia dan (Yesus) sudah pasti bukan pendiri lembaga ini (agama Kristen). (Ayat ini) tidak menggambarkan perintah yang diucapkan Yesus).
Kembali ke masalah teka-teki penginjil. Dengan gaya enteng-entengan, teka-teki tersebut bisa dijawab secara tekstual bahwa yang terkemuka di sisi Allah (di akhirat) itu bukan hanya Nabi Isa saja. Nabi Musa juga dinyatakan sebagai orang yang terkemuka di sisi Allah.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang menyakiti Musa. Maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan yang mereka katakan. Dan adalah dia (Musa) seorang yang mempunyai kedudukan terhormat (terkemuka/wajiihan) di sisi Allah” (Qs. Al-Ahzab 69).
Adanya kata ”wajihan” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi ”terkemuka” atau ”terhormat” pada surat Ali Imran 45, tidak bisa diartikan bahwa hanya Nabi Isa saja yang terkemuka di akhirat. Dalam bahasa Indonesia, awalan ”ter” pada kedua kata ini tidak bermakna ”paling” (superlative). Hal ini berbeda dengan awalan ”ter” yang berarti paling adalah kata terbesar (akbar), terbaik (ahsan), terkuat (aqwa), dlsb.
Surat Ali Imran 45 selengkapnya berbunyi: “(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putera yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) dari pada-Nya, namanya Al-Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)”.
Ayat yang mengabarkan tentang berita kelahiran Nabi Isa AS ini, secara tidak langsung menolak doktrin Kristen tentang ketuhanan Yesus. Karena salah satu karakteristik Tuhan adalah tidak melahirkan dan tidak dilahirkan (Qs. Al-Ikhlas 3). Yesus tidak layak disebut Tuhan karena dia adalah makhluk yang dilahirkan manusia (Qs. Maryam 19-33, Injil Matius 1:8-25).


Kemudian penginjil menyimpulkan surat Ali Imran 55 menyatakan bahwa para pengikut Nabi Isa di atas orang kafir. Selengkapnya, ayat yang dimaksud adalah demikian:
”(Ingatlah), ketika Allah berfirman: ”Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya.”
Memang benar, jaminan dan janji Allah untuk membersihkan Nabi Isa dari orang-orang kafir dan menjadikan para pengikutnya di atas orang-orang kafir. Para pengikut Nabi Isa yang dipilih Allah itu senantiasa berpegang teguh kepada ajaran Nabi Isa, antara lain:
Pertama, ajarannya berlaku khusus untuk bani Israel (Qs. az-Zukhruf 59, Ash-Shaff 6; bdk. Matius 10:5-6, Matius 15:24); kedua, mengakui kenabian Muhammad SAW sebagai nabi terakhir yang kedatangannya telah dinubuatkan oleh Nabi Isa (Qs. Ash-Shaff 6, bdk: Injil Yohanes 16: 7-14); ketiga, menyangkal doktrin bahwa Yesus adalah penjelmaan Allah, sebab Yesus tidak pernah mengajarkannya (Qs. Al-Ma`idah 116-117, bdk: Injil Yohanes 17: 3), dll.


Merekalah orang yang diangkat Allah di atas orang kafir. Namun perlu diketahui bahwa salah satu golongan orang kafir adalah Ahli Kitab (Yahudi dan Kristen), sesuai dengan ayat: ”Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk” (Qs. Al-Bayyinah 6).
Umat Kristen disebut kafir Ahli Kitab karena mereka menjadikan Nabi Isa sebagai Tuhan (Qs. Al-Ma`idah 72-73). Derajat pengikut setia Nabi Isa (kaum Hawariyyun) diangkat oleh Allah di atas derajat orang-orang kafir yang menjadikan Nabi Isa sebagai Tuhan. Jika umat Kristen menjadikan Nabi Isa sebagai Tuhan, maka para pengikut setia Nabi Isa diangkat Allah di atas orang Kristen.


Krisren Model Baru: Namanya Kristen Tauhid, untuk mengecoh dan menarik Umat Islam


Kristen Tauhid/Kristen Unitarian

Thursday, October 04, 2007 10:38 AM
Ada gebrakan baru yang mendobrak iman kristiani. Gerakan kalangan Kristen dengan spirit back to the Bible ini menamakan diri komunitas Kristen Tauhid (Kristen Unitarian).

Pemikiran yang memprotes dasar Iman Kristiani tentang Allah dan Yesus ini dituangkan oleh Frans Donald dalam buku Allah dalam Alkitab dan Al-Qur’an. Buku 97 halaman ini disambut dengan suka cita oleh Pendeta DR Tjahjadi Nugroho MA. Ketua Asosiasi Pendeta Indonesia ini menyebut buku tersebut sebagai buku yang “menohok keras salah satu isyu teologis mendasar” (hlm. 9).


Doktrin Yesus sebagai Allah yang sejati dalam Trinitas, ditelanjangi habis-habisan oleh Frans. Dari sisi sejarah, dipaparkan secara kritis bahwa doktrin ini adalah warisan secara turun-temurun dalam tradisi kekristenan sejak abad ke-4, saat kekristenan yang bertradisi Yahudi bercampur dengan peradaban Yunani dan Romawi yang politeistik (menyembah banyak dewa). Lantas, secara perlahan-lahan tradisi tauhid dibelokkan oleh filsafat Yunani menjadi ajaran Trinitas. Doktrin ini ditradisikan selama belasan abad dan telah mendarah daging sehingga para pendeta dan pastur banyak yang tidak tahu asal-mula doktrin tersebut. Para pendeta dan pastur itu meyakini doktrin Trinitas, bahwa Yesus sebagai oknum kedua dari keallahan (ketuhanan), sebagai ajaran Alkitabiah (sesuai dengan ajaran Alkitab/Bibel). Padahal ajaran ini terbukti tidak sesuai dengan Alkitab, sehingga dinilai tidak Alkitabiah alias salah doktrin. (hlm. 37).


Pada halaman berikutnya, Frans membeberkan dalil-dalil Bibel untuk membuktikan bahwa Yesus bukan Allah, antara lain: Yohanes 12:49-50 menyebutkan Allah mengutus/memerintah Yesus, berarti Allah dan Yesus adalah dua entitas yang berbeda. Yohanes 14:28 menyebutkan Allah lebih besar daripada Yesus, berarti Yesus tidak setara dengan Allah. Dalil lainnya adlah Yohanes 17:3, 20:17, Matius 24:36, Markus 13:32, 15:34, dll. (hlm. 39-40).


Setelah menohok doktrin tentang trinitas, ketuhanan Yesus, ketuhanan Roh Kudus dan peribadatan hari Minggu yang dinyatakan tidak Alkitabiah, Frans meletakkan bab “Taurat, Injil dan Al-Qur`an Satu Kesatuan” (hlm. 74-78). Dengan mengutip Al-Qur`an surat Al-Ma`idah 68, Frans menyimpulkan bahwa ketiga kitab suci (Taurat, Injil dan Al-Qur`an) adalah satu kesatuan kunci ilahi yang tidak bisa dipisahkan.


Untuk itu, Frans menyindir umat Islam, “Demikian pula para pengikut Nabi Muhammad SAW yang belum menyelidiki dan mempelajari Taurat dan Injil nampaknya belum tahu tentang nama Allah dalam Taurat, Yahweh yang disembah oleh leluhur mereka...” (hlm. 76).


Demikian sedikit ulasan tentang agama Kristen Tahuhid yang dicanangkan oleh Frans Donald. Dia mendefinisikan Kristen Tauhid sebagai Kristen yang bertahuhid kepada Allah yang Esa, bukan Trinitas. (hlm. 86).


Sekilas, ide agama Kristen Tauhid itu terlihat baik untuk meredam gesekan antara Islam dan Kristen. Tetapi, mempertemukan ajaran Taurat, Injil dan Al-Qur`an dalam satu agama pastilah akan melahirkan berbagai kerumitan yang berujung di jalan buntu.


Pasalnya, terdapat perbedaan dalam kitab-kitab tersebut. Jangankan mempersatukan Injil dengan Al-Qur`an, mempertemukan sesama ayat Injil saja bukan hal yang mudah. Misalnya, di satu sisi, Injil Bibel menyatakan bahwa Allah itu tidak sama dengan Yesus sebagaimana yang diungkapkan oleh Frans di atas. Tapi, dalam ayat-ayat lainnya, Bibel tidak membantah gelar bahwa Yesus adalah Allah. Misalnya: Yesus tidak menolak ataupun marah kepada Tomas ketika menyapanya dengan seruan “Ya Tuhanku dan Allahku!” (Yohanes 20:28).


Ayat lain yang menyebut Yesus sebagai Allah adalah: “Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal” (I Yohanes 5:20).


“Tetapi tentang Anak (Yesus, pen.) Ia berkata: “Takhta-Mu, ya Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran” (Ibrani 1:8).


Mempersatukan Al-Qur`an dengan Taurat dan Injil yang ada dalam Bibel, jelas mustahil. Karena dalam banyak ayat antara lain surat Al-Baqarah 75, 79, Al-Ma`idah 13, An-Nisa 46 dll, Al-Qur`an mengkritisi Bibel sebagai kitab yang sudah mengalami tahrif (perubahan, distorsi). Beberapa contoh tahrif ini telah ditampilkan dalam Sabili edisi sebelumnya. Selain itu, salah satu fungsional Al-Qur`an adalah sebagai pengujian (muhaiminan alaih) dan pembetulan/koreksi (mushaddiq) terhadap kitab-kitab terdahulu (Qs. Al-Ma’idah 48).


Keyakinan umat Islam terhadap kitab-kitab terdahulu hanya sebatas mengimani keberadaannya, bahwa Allah pernah mewahyukan Taurat kepada Musa dan Injil kepada Nabi Isa sebagai petunjuk bani Israel ke jalan Tuhan. Tidak ada kewajiban bagi umat Islam untuk mengamalkan Taurat yang ada dalam kitab Bibel milik umat Kristiani saat ini, karena tidak ada bukti yang shahih bahwa Taurat Bibel itu adalah peninggalan Nabi Musa AS. Bahkan beberapa penyelidikan membuktikan bahwa Taurat Bibel itu ditulis setelah Nabi Musa wafat. Demikian pula keyakinan umat Islam terhadap keempat Injil dalam Bibel. Keempat Injil ini bukan peninggalan Nabi Isa AS, melainkan ditulis oleh orang-orang yang bukan murid Yesus berpuluh-puluh tahun setelah Nabi Isa tidak ada di dunia.


Kesalahan dasar asumsi ketika mendefinisikan Allah, menjadi batu sandungan sendiri bagi para Kristen Tauhid. Frans mengurai kata “Allah” berasal dari dua kata yaitu “al” (kata sandang) dan “ilah” (sesembahan, god). Secara etimologis Allah memiliki padanan makna dalam bahasa Indonesia menjadi Dewa, dalam bahasa Inggris menjadi God, dalam bahasa Ibrani menjadi Elohim, dan dalam bahasa Yunani menjadi Theos. (hlm. 23).


Kata “Allah” adalah isim ghairu musytaq (kata yang tidak ada asal katanya dan bukan pecahan dari kata lain). Karena kata ini tidak bisa dirubah menjadi bentuk tatsniyah (ganda), bentuk jamak (plural), dan tidak dapat dijadikan sebagai mudhaf.


Maka menerjemahkan “Allah” menjadi Dewa atau God adalah kesalahan yang sangat fatal. Sebab Dewa dan God adalah kata benda yang dapat diubah menjadi bentuk jamak “Dewa-dewa” dan “Gods”, sedangkan Allah adalah satu-satunya nama ghairu musytaq yang tidak bisa diubah menjadi jamak. Semakin salah jika Allah dipadankan dengan kata “Elohim” karena Elohim adalah bentuk jamak dari “Eloah”.


Kata “Allah” juga disebut sebagai isim murtajal, maksudnya kata “Allah” adalah nama asal bagi Dzat Yang Wajib Ada, Yang Maha Suci, Maha Agung dan Yang Berhak Disembah (ma’bud). Tidak ada satu pun makhluk yang berhak memakai nama “Allah”.


Karena “Allah” adalah nama, maka tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Nama ini diperkenalkan sendiri oleh Allah dalam Al-Qur`an:


“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Ilah (yang haq) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku” (Qs. Thaha 14).
Di seluruh penjuru dunia, umat Islam menyebut Tuhan dengan satu nama yaitu Allah. Inilah keistimewaan yang tidak dimiliki agama lain.



Kristenisasi pada TKI di Hongkong.
Saturday, September 22, 2007 1:33 PM
Sungguh berat godaan iman yang menerpa para tenaga kerja wanita (nakerwan) Indonesia yang mengais rezeki di Hongkong. Sekian lamanya waktu tak dibelai suami, semenjak berbulan-bulan di tempat penampungan TKW, lalu hidup bertahun-tahun di negeri orang, muncullah fenomena lesbian sesama nakerwan yang mengkhawatirkan. Selain itu, gerakan pemurtadan juga mengincar akidah mereka.

Dalam tour dakwahnya di Hongkong, Masyhud dari Tim FAKTA mendapat informasi bahwa di Victoria Park, sejak Januari 2007 sampai kini, misionaris Kristen menyebarkan traktat (brosur) kepada nakerwan Muslimah. Dengan memperalat dalil-dalil dari Al-Qur’an dan Hadits, mereka mengajak umat Islam masuk ke Kristen. Nakerwan Muslimah yang rata-rata berasal dari desa, dengan pengetahuan agama yang masih minim, adalah sasaran empuk bagi misi pemurtadan ini.

Salah satu ayat Al-Qur’an yang jadi idola dalam upaya pelunturan aqidah adalah surat Ali Imran 3 yang bunyi terjemahannya: “Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Qur`an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil.”

Kepada nakerwan yang awam, mereka menafsirkan, Al-Qur`an menyatakan bahwa kitab Injil milik umat Kristen adalah kitab yang absah dan benar-benar firman Allah. Karenanya, umat Islam wajib mengimani dan memedomani Injil Matius, Injil Markus, Injil Lukas dan Injil Yohanes milik umat Kristen. Karena dalam surat Al-Baqarah 3 umat Islam diwajibkan untuk beriman kepada kitab-kitab sebelum Al-Qur’an.

Memang benar, Allah pernah menurunkan kitab-kitab suci Injil kepada Nabi Isa (Qs. Al-Hadid 27, Al-Ma`idah 46). Tapi keimanan kepada kitab Injil itu bersifat global (mujmal), yaitu mengimani keberadaannya bahwa Allah benar-benar menurunkan kitab-kitab tersebut kepada Nabi Isa AS tanpa konsekuensi untuk memedomani, mengamalkan dan mendakwahkan kandungannya. Hal ini sesuai dengan kenyataan bahwa Injil dalam Bibel telah mengalami tahrif, baik penambahan, pengurangan, revisi maupun perubahan tata letak. Allah menyatakan hal ini dalam Al-Qur`an surat Al-Baqarah 75, Al-Baqarah 79, An-Nisa` 46, Al-Ma`idah 13, dll.

Statemen tersebut terbukti, karena Injil Markus telah mengalami penambahan-penambahan ayat, contohnya adalah Markus 9:44 dan 46. Lembaga Biblika Indonesia menyatakan, “ayat 44, 46. kedua ayat ini tidak terdapat dalam naskah yang paling baik dan hanya merupakan ulangan dari ayat 48. kedua ayat ini pasti tidak asli” (Kitab Suci Perjanjian Baru, 1978/1979, hlm. 115).

The Holy Bible New International Version dan The Five Gospels sama sekali tidak memuat kedua ayat tersebut, sehingga setelah ayat 43 langsung loncat ke ayat 45 lalu loncat lagi ke ayat 47. Sedangkan ayat 44 dan 46 tidak di muat sama sekali.

Injil Matius juga mengalami penambahan-penambahan ayat, contohnya adalah Matius 28:16-20. Lima ayat dalam ujung Injil Matius ini adalah tambahan belaka, karena seharusnya Injil Matius pasal 28 berakhir pada ayat 15: “...dan cerita ini tersiar di antara orang Yahudi sampai saat ini.”

Hugh J Schonfield, nominator hadiah Nobel tahun 1959 dalam bukunya The Original New Testament halaman 124 mengomentari sebagai berikut, “This [Matthew 28:15] would appear to be the end of the Gospel [of Matthew]. That follows [Matthew 28:16-20] from the nature of what is said, would then be a latter addition.” (Ayat ini [Matius 28:15] nampak sebagai penutup Injil [Matius]. Dengan demikian, ayat-ayat selanjutnya [Matius 28:16-20], dari kandungan isinya, nampak sebagai ayat-ayat yang baru ditambahkan kemudian).

Hal ini dipertegas oleh Funk dan The Jesus Seminar, “The great commission in Matthew 28:18-20 have been created by the individual evangelist...” (The Five Gospels, hlm. 35).

Lembaga Biblika Indonesia menyatakan, “ayat 44, 46. kedua ayat ini tidak terdapat dalam naskah yang paling baik dan hanya merupakan ulangan dari ayat 48. kedua ayat ini pasti tidak asli” (Kitab Suci Perjanjian Baru, 1978/1979, hlm. 115).

Injil Lukas pun tak luput dari penambahan-penambahan ayat, misalnya pasal 23:17. Lembaga Biblika Indonesia menyatakan, “Kebanyakan naskah tidak memuat ayat ini; kiranya tidak asli” (Kitab Suci Perjanjian Baru, 1978/1979, hlm. 194).

Injil Yohanes mengalami penambahan-penambahan ayat, misalnya pasal 7:53 sd 8:11. Dua belas ayat ini adalah penambahan yang tidak terdapat dalam naskah tua. Lembaga Biblika Indonesia menyatakan, “Bagian ini, 7:53 – 8:11, tidak termasuk dalam naskah yang paling tua, dalam beberapa terjemahan kuno, dan juga tidak dikenal oleh pujangga-pujangga gereja yang paling dahulu” (Kitab Suci Perjanjian Baru, 1978/1979, hlm. 226).

The Holy Bible New International Version memberikan garis batas pada Yohanes 7:53–8:11 dari ayat sebelum dan sesudahnya. Di bawah garis tersebut diberi catatan pada halaman 817, “The earliest and the most reliable manuscript do not have John 7:53–8:11” (Naskah-naskah yang paling tua dan terpercaya tidak memuat Yohanes 7:53–8:11).

Setelah melakukan penelitian, pakar bibliologi Kristen mengkalkulasi bahwa ucapan Yesus dalam Injil hanya 18 persen. Mereka menyatakan, “Eighty-two percent of the words ascribed to Jesus in the Gospels were not actually spoken by him” (Robert W. Funk, Roy W Hoover, and The Jesus Seminar, The Five Gospels, What did Jesus Really Say?, hlm. 5).

(Delapan puluh dua persen kalimat yang disebut-sebut sebagai ucapan Yesus dalam kitab-kitab Injil sebenarnya tidak pernah diucapkan oleh Yesus).

Dalam kacamata ilmu hadits, meskipun 18 persen Injil dianggap sebagai ucapan Yesus oleh para pakar, tetapi karena tidak memiliki sanad (daftar silsilah periwayatan), maka nilainya pun menjadi lemah (dhaif).

Bila 18 persen ayat Injil ini sejalan dengan Al-Qur`an, maka tidak boleh didustakan, karena Rasulullah memberikan pedoman, “Apabila yang dikatakan oleh mereka itu hak (benar), maka janganlah kalian mendustakannya, tetapi apabila yang dikatakan itu batil (bohong) maka janganlah kalian membenarkannya” (HR. Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi).

Sedangkan terhadap 82 persen Injil dalam Bibel yang ternyata bukan ucapan Yesus, umat Islam wajib menolaknya karena hanya berita maudhu’ alias palsu.




Situs PDS Hujat Shalat Umat Islam 1

Saturday, September 22, 2007 1:27 PM
"DAMAI-SEJAHTERA," adalah nama yang bagus, indah dan tenteram dambaan setiap insan. Tapi sayang, kelakuan Partai Damai Sejahtera (PDS) dalam situsnya tak seindah namanya. Dalam salah satu forum di situs resminya, terdapat ratusan link website mancanegara yang menjajakan berbagai gambar bugil dan video adegan seks bebas (gara-gara hal ini link web forum PDS dihapus oleh servernya). Apakah website kejorokan ini sesuai dengan nafas "damai dan sejahtera," sehingga informasi yang merusak itu bertengger dengan gagahnya di situs partai rohani tersebut?

Yang lebih berbahaya dan memicu permusuhan antar agama, dalam forum tersebut dimuat tulisan seorang member yang menamakan diri DPP PDS. Tulisan dengan bahasa preman yang kasar, arogan sarkasme dan bombastis ini sepenuhnya mengagung-agungkan agama Kristen sembari menghujat Islam sejadi-jadinya. Beberapa hujatan yang terdapat dalam situs ini antara lain: Allah dalam Al-Qur`an mempunyai sifat yang plin-plan; Syariat Islam itu kejam, tidak adil dan ketinggalan zaman; Al-Qur`an bukan wahyu Allah yang benar; salah satu surat dalam Al-Qur`an aneh, tidak masuk akal dan kontradiktif; Islam tidak menjamin keselamatan surgawi; Al-Qur`an membenarkan kaum Muslim bersekutu dengan jin; Nabi Muhammad inkonsisten, tak percaya diri dan plin-plan; Nabi Muhammad memberikan peluang kepada umatnya untuk berbuat syirik kepada Allah dengan jin/iblis yang prakteknya antara lain untuk mendapat ilmu kebal, ilmu santet, ilmu pellet dll.

Ketika menghujat ibadah shalat, penulis berinisial DPP PDS itu menuding umat Islam shalat menyembah Tuhan yang berwujud batu hitam yang tinggal di dalam Kabah. Berikut kutipannya:

"Mulut umat Islam 5X komat-kamit, bahkan adakalanya dengan suara yang keras-lantang dibantu dengan loudspeaker pula, mengumandangkan "BAHWA TIADA TUHAN SELAIN ALLAH -LAILAHAILALLAH, DAN KEPADANYA SAJALAH MEREKA WAJIB SUJUD MENYEMBAH". Namun dalam beberapa saat kemudian mereka ruku dan sujud menyembah kepada Allah yang wujudnya sudah berubah menjadi BATU HITAM yang ada dalam bangunan yang diberi predikat BAITULLAH/KAABAH yang ada di Mekkah.

Mulut umat Islam selalu komat-kamit mengakui bahwa Allah itu pada satu titik yang bersamaan ada di mana-mana di setiap sudut dan penjuru dimensi dunia dan alam semesta ini, namun kenyataannya minimal 5X dalam sehari-semalam mereka menyembah Allah yang hanya berada di Mekkah dalam Kaabah dalam bentuk BATU HITAM."

Oknum DPP PDS ini sungguh tidak tahu etika bahasa. Bayangkan, umat Islam dalam shalat membaca doa-doa dan pujian kepada Allah dengan khusyu', tadharru' dan tawadhu'. Ini adalah ajaran ritual ibadah yang mulia. Tapi oleh penulis berinisial DPP PDS, hal itu dijuluki dengan kata yang buruk, yakni komat-kamit. Padahal kata ini hanya layak dipakai untuk para dukun yang sedang merapal mantra untuk tujuan tertentu yang dilakukan dengan bersekutu bersama setan. Seharusnya DPP PDS belajar bahasa yang baik Pepatah "bahasa menunjukkan bangsa" nampaknya sangat tepat bagi penulis hujatan di situs PDS ini. Kejelekan gaya bahasa menunjukkan keburukan akhlak dan wawasan orang yang bersangkutan.

Dalam penggalan dua paragraf tersebut, oknum DPP PDS melakukan banyak kekeliruan dan kebohongan.

Pertama,menyebutkan bahwa hajar aswad (batu hitam) berada di dalam Ka'bah. Ini adalah tudingan yang 'asal bunyi' tanpa ilmu. Karena hajar aswad itu menempel di salah satu pojok Ka'bah, bukan di dalam Ka'bah.

Kedua,menyebutkan bahwa Allah yang disembah umat Islam itu berwujud sebuah batu hitam yang hanya ada di Mekkah. Ini adalah anggapan yang sama sekali salah dan amat menggelikan. Silakan DPP PDS tanyakan kepada seluruh kaum muslimin, apa wujudnya Allah? Tak satupun umat Islam yang meyakini bahwa Allah itu wujudnya batu hitam, karena Al-Qur`an mengajarkan bahwa Allah itu berbeda dengan makhluk-Nya. "Laysa kamitslihi syay-un" (tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai atau serupa dengan Allah).

"Tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan Dia (Allah)..." (Qs. As-Syura 11). "Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia (Allah)" (Qs. Al-Ikhlash 4).

Ketiga, udingan bahwa umat Islam musyrik karena shalat menyembah Ka'bah. Tudingan ini tak berdasar sama sekali, hanya didasarkan pada khayalan DPP PDS yang penuh dengan semangat kebencian dan antiislam. Dalam kenyataan, boleh ditanyakan kepada seluruh umat Islam, apakah mereka shalat menyembah Ka'bah? Tak satupun orang Islam yang shalat menyembah Ka'bah. Salah satu syarat diterimanya shalat adalah Ikhlas, yaitu beribadah kepada Allah secara murni tanpa ada tujuan lain sedikit pun. Umat Islam bukan menyembah Ka'bah, tapi menyembah Tuhan pemilik Ka'bah tersebut, sesuai dengan perintah Allah SWT: "Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah)" (Qs. Al-Quraisy 3).

DPP PDS harus bisa membedakan makna "arah" dan "tujuan". Ka'bah adalah kiblat atau arah menghadap bagi umat Islam dalam ibadah ritual shalat. Harus digarisbawahi, hanya sebagai arah, bukan sebagai tujuan ibadah dan penyembahan. Umat Islam tidak pernah dan tidak akan menyembah apapun selain Allah SWT. Umat Islam melakukan shalat menghadap kiblat itu pun dalam rangka ketaatan kepada Allah SWT yang telah memerintahkan umat-Nya untuk melakukan itu (Qs. Al-Baqarah 144).

Kiblat ke Ka'bah dalam shalat hanyalah arah yang ditentukan Allah sebagai pusat persatuan. Jika arah shalat umat Islam tidak ditentukan, maka akan terjadi kacau-balau. Sebagian ada yang menghadap ke barat, yang lain ke timur, ke selatan, ke utara, dan sebagainya. Untuk mempersatukan/menyeragamkan umat dalam beribadah kepada Allah SWT, maka umat Islam di manapun tinggal, diwajibkan menghadap ke satu arah yang sama yaitu kiblat ke Ka'bah.

Ada banyak fakta dan data yang secara otomatis membantah tudingan DPP PDS bahwa umat Islam menyembah Ka'bah:

Pertama, ika ada umat Islam berada dalam suatu tempat yang tidak diketahui arahnya, atau sedang duduk di dalam kendaraan yang jalannya berkelok-kelok, maka mereka boleh melakukan shalat dengan menghadap ke arah mana saja. Karena Allah berfirman: "Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui" (Qs. Al-Baqarah 115).

Kedua, ahun 930 sampai 951 hajar aswad pernah hilang dicuri dan disembunyikan oleh kaum Syi'ah golongan Ismailiyah Qarmathi. Apakah dengan hilangnya batu itu lantas umat Islam lantas heboh dan tidak shalat lagi karena hajar aswad sudah tidak ada? Meski hajar aswad pernah hilang, namun selama 21 tahun itu umat Islam tidak pernah libur shalat. Seandainya umat Islam itu shalat menyembah hajar aswad, maka selama 21 tahun itu mereka libur shalat. Tapi nyatanya tidak. Umat Islam tetap shalat menghadap kiblat, baik dengan ada batu ataupun tidak, karena esensi mereka ialah mematuhi perintah Allah bukan menghadap dan menyembah batu.

Ketiga, setelah batu hitam itu berhasil ditemukan kembali, batu itu sudah tidak utuh lagi. Ada pecahan di sana sini, sehingga volumenya sudah mulai berkurang. Dan batu hitam yang ada sampai sekarang pun itu sudah paduan antara batu hitam yang asli dengan yang imitasi. Tetapi anda lihat, apakah umat Islam heboh karena itu? Jawabnya: Tidak pernah! Sebab Tuhan yang disembah oleh umat Islam itu bukanlah batu tetapi Allah SWT. Batu boleh rusak dan hilang tetapi Allah (Tuhan mereka) tetap ada dan kekal sampai selama-lamanya.

Keempat pada masa Rasulullah SAW, para shahabat naik dan berdiri di atas Ka'bah ketika mengumandangkan azan (panggilan shalat). Sampai saat ini, bila para petugas juga naik dan berdiri di atas Ka'bah untuk mengganti Kisywah (kain kelambu penutup) Ka'bah. Ini juga bukti nyata bahwa tak seorang pun umat Islam yang menyembah Ka'bah. Andai kata mereka menganggap Ka'bah sebagai tuhan yang disembah, mana mungkin mereka berani naik, berdiri dan menginjak-injak Ka'bah? (bersambung)




Situs PDS Hujat Shalat Umat Islam 2
Saturday, September 22, 2007 1:25 PM
Tuduhan memmber Kristen yang menamakan diri DPP PDS, bahwa umat Islam melakukan shalat untuk menyembah batu, betul-betul konyol dan tidak bermutu. Banyak sekali fakta-fakta yang secara otomatis dapat mematahkan hujatan dalam website resmi PDS itu. Antara lain:

Pertama,
jika berada dalam suatu tempat yang tidak diketahui arah mata anginnya, atau sedang duduk di dalam kendaraan yang jalannya berkelok-kelok, maka umat Islam boleh melakukan shalat dengan menghadap ke arah mana saja. Karena Allah berfirman:

“Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke mana pun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui” (Qs. Al-Baqarah 115).

Kedua, tahun 930 sampai 951 hajar aswad pernah hilang dicuri dan disembunyikan oleh kaum Syi’ah golongan Ismailiyah Qarmathi. Apakah dengan hilangnya batu itu lantas umat Islam lantas heboh dan tidak shalat lagi karena hajar aswad sudah tidak ada? Meski hajar aswad pernah hilang, namun selama 21 tahun itu umat Islam tidak pernah libur shalat. Seandainya umat Islam itu shalat menyembah hajar aswad, maka selama 21 tahun itu mereka libur shalat. Tapi nyatanya tidak. Umat Islam tetap shalat menghadap kiblat, baik dengan ada batu ataupun tidak, karena esensi mereka ialah mematuhi perintah Allah bukan menghadap dan menyembah batu.

Ketiga, setelah hajar aswad itu berhasil ditemukan kembali, batu itu sudah tidak utuh lagi. Ada pecahan di sana sini, sehingga volumenya sudah mulai berkurang. Dan batu hitam yang ada sampai sekarang pun itu sudah paduan antara batu hitam yang asli dengan yang imitasi. Apakah umat Islam heboh karena itu? Jawabnya: Tidak pernah! Sebab Tuhan yang disembah oleh umat Islam itu bukanlah batu tetapi Allah SWT. Batu boleh rusak dan hilang, tetapi Allah tetap ada dan kekal sampai selama-lamanya. Inilah bukti bahwa Allah bukan batu, dan batu tidak sama dengan Allah.

Keempat, dahulu pada masa Rasulullah SAW, para shahabat naik dan berdiri di atas Ka’bah ketika mengumandangkan azan (panggilan shalat). Mereka melakukan itu lima kali sehari. Rasulullah tak pernah menegur maupun melarangnya. Jika Ka’bah adalah Tuhan yang disembah oleh umat Islam, mana mungkin para shahabat ketika itu berani menginjak-injak Tuhannya?

Kelima, Sampai saat ini, para petugas juga naik dan berdiri di atas Ka’bah ketika mengganti Kisywah (kain kelambu penutup Ka’bah). Ini juga bukti nyata bahwa sampai saat ini dan sampai kapan saja tak seorang pun umat Islam yang menyembah Ka’bah. Andai kata mereka menganggap Ka’bah sebagai tuhan yang disembah, mana mungkin mereka berani naik, berdiri dan menginjak Ka’bah?

Keenam, ketika thawaf dengan menunggang seekor unta, Rasulullah SAW pernah tidak mencium hajar Aswad, melainkan menyentuhnya dengan tongkat beliau. (HR. Bukhari juz 2 nomor 677). Jika Nabi pada waktu hidupnya menyembah hajar aswad, mana mungkin beliau berani menyentuh Tuhannya dengan sebuah tongkat sambil duduk di atas unta? Teladan Nabi ini membuktikan bahwa beliau tidak menyembah hajar aswad.

Menghadap ka'bah ketika shalat, bukan berarti umat Islam menyembah ka’bah tersebut. Mereka melakukan ini semata-mata menjalankan aturan ibadah yang diperintahkan oleh Tuhannya (Qs. Al-Baqarah 144). Jadi, esensi qiblat umat Islam ketika shalat bukan karena batu hitam, melainkan ketundukan dan kepasrahan kepada Tuhan.

Ketundukan ini pula yang telah dilakukan oleh shahabat Umar RA ketika haji. Dalam hadits shahih dikisahkan bahwa beliau datang mendekati Hajar Aswad (batu hitam) lalu dia menciumnya dan berkata: “Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau ini batu yang tidak memberikan mudharat dan tidak pula mendatangkan manfaat. Jika aku tidak melihat Rasulullah menciummu, maka aku tidak akan menciummu pula” (HR Bukhari dari Abis bin Rabi’ah RA).

Kemudian oknum DPP PDS yang miskin bahasa itu melanjutkan hujatannya: “Apakah masuk di akal bahwa Allah yang adalah pencipta langit dan bumi beserta isinya, baik yang kelihatan maupun yang tak kelihatan, mempunyai RUMAH atau BAIT di dunia ini?... Yang benar adalah Alkitab, bahwa Allah tidak punya rumah di dunia ini...”

Sepenggal tulisan ini membuktikan bahwa oknum DPP PDS itu tidak memahami agama, baik agama Islam maupun Kristen. Bila memiliki wawasan yang cukup tentang kitab suci, dia tidak akan sesemberono itu. Sebab istilah Baitullah (rumah Allah) atau Bethel, bukan berarti rumah tempat tinggalnya Allah.

Istilah ini sebetulnya bukan monopoli Islam, karena sudah akrab dalam bahasa teologi para Nabi dan Rasul. Dalam Bibel sering disebut-sebut istilah “Bait Allah.”

“Tetapi aku, berkat kasih setia-Mu yang besar, aku akan masuk ke dalam rumah-Mu, sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus dengan takut akan Engkau” (Mazmur 5:8).

“Dengarlah kiranya akan seru doaku apabila aku berteriak kepada-Mu, apabila aku menadahkan tanganku ke tempat kaabah-Mu yang suci itu” (Mazmur 28:2, TL).

Dalam Matius 21:12 diceritakan bahwa Yesus mensucikan Bait Allah. Injil Matius 24:1 menceritakan Yesus keluar dari Bait Allah.

“Bait Allah” atau rumah Allah adalah istilah metafora. Apabila istilah ini diartikan sebagai rumah tempat tinggalnya Tuhan dalam arti hakiki, lalu diartikan apa ayat Bibel di bawah ini, yang menyatakan bahwa manusia adalah Bait Allah?

“Tidak tahukah kamu bahwa kamu adalah Bait Allah dan bahwa Roh Allah diam dalam kamu? Jika ada orang yang membinasakah Bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab Bait Allah itu kudus dan Bait Allah itu ialah kamu” (I Korintus 3: 16-17).

Jika pisau analisa DPP PDS itu dipakai untuk menafsirkan ayat di atas, maka berarti bahwa rumah tempat tinggalnya Tuhan adalah manusia. Jika manusia meninggal dunia semua, maka rumah Tuhan akan binasa. Lalu apakah Tuhan kemudian tidak punya rumah?

Persoalan kiblat dalam ibadah sebetulnya bukan suatu keanehan. Sebab para nabi dan rasul sebelum Muhammad SAW pun telah mengamalkannya. Mereka berkiblat ke arah tertentu sesuai dengan ketetapan Allah. Perjanjian Lama menyebutkan para nabi terdahulu berkiblat ke Yerusalem. Tiga kali sehari mereka berlutut, berdoa serta memuji Tuhan menghadap Yerusalem. Dalam Alkitab terjemahan lama, istilah “Baitullah” diterjemahkan menjadi “kaabah” Tuhan.

“Tetapi akan Daniel, jikalau diketahuinya akan hal surat itu sudah dimeteraikan oleh baginda sekalipun, masuklah juga ia ke dalam rumahnya, yang pada alayatnya adalah tingkap-tingkap terbuka ke kiblat Yeruzalem dan pada sehari tiga kali bertelutlah ia dan meminta doa dan mengucap syukur kepada Allahnya, seperti biasa dibuatnya dahulu” (Daniel 6:11, TL).

“Maka oleh karena kaabah-Mu yang di Yeruzalem segala raja akan menyampaikan persembahan kepadamu” (Mazmur 68:30, TL). “Maka kataku: Bahwa aku sudah dibuang dari hadapan mata-Mu; kendatilah aku juga akan memandang pula kaabah kesucian-Mu”(Yunus 2:4, TL).

Meski para nabi itu berkiblat ke Yerusalem, tetapi Yesus tidak pernah menuduh mereka telah menyembah Yerusalem, bukan? Seharusnya, oknum DPP PDS ini mengikuti jejak Yesus, dengan tidak menuduh umat Islam menyembah Kabah. (Tamat)



Babi....oh.... Babi......
Tuesday, September 11, 2007 3:47 PM
Seorang Kristen memperkenalkan dari Laskar Kristus, sangat keberatan dengan tampilnya rubrik Bimbingan Tauhid dan liputan-liputan Sabili tentang gerakan pemurtadan dan Kristenisasi. Berulang kali Kenan -nama alias- menyampaikan protesnya melalui SMS. Menurutnya, majalah Sabili selalu mengusik agamanya, padahal dia tidak pernah mengusik agama Islam. Salah satu SMSnya adalah: “Hai Sabili, gimana kalian udah ketemu di majalah apa agama kami menjelekkan agama kalian? Saya mau tanya kenapa kalian haram makan BABI? Sedangkan BABI dicipta sama Tuhan?” (dikirim 07/01/2007 dari HP 085245879###).

Nampaknya Kenan ketinggalan informasi. Di rubrik ini, buku-buku dan majalah Kristen yang melecehkan Islam sudah diungkap dan disanggah. Silahkan Kenan membaca buku Awas Bibel Masuk Rumah Kita yang diterbitkan oleh Sabili.

Kasus terbaru adalah majalah Midrash Talmiddim yang diterbitkan oleh Pendeta Edi Sapto. Dalam majalah yang diketuai oleh Pendeta Yosua ini, Islam disudutkan dengan berbagai tuduhan tanpa dasar, antara lain: Allah dalam Al-Qur`an itu menyesatkan dan tidak Maha Pengampun; gambar Bunda Maria, gambar Yesus dan Salib terdapat di ka'bah; Nabi Muhammad pernah bergabung dengan peribadatan kafir; Nabi Muhammad pemarah dan pembuat ayat Al-Qur`an; dll.

Kenapa umat Islam haram makan babi padahal babi adalah ciptaan Tuhan? Secara berkelakar, pertanyaan ini sebetulnya bisa saja dijawab dengan balik bertanya kepada penanya: mengapa orang tidak mau makan tikus, belatung, ulat, kecoak, orong-orong, nyamuk, jentik, cacing, cicak, kadal, laba-laba, tawon, kecebong, wereng, bangkai, dan lain-lain? Padahal itu semua adalah ciptaan Tuhan. Dengan kata lain, secara gampang orang bisa menyimpulkan bahwa tidak semua ciptaan Tuhan itu untuk dikonsumsi oleh mulut manusia.

Secara tegas, umat Islam haram makan babi karena Tuhan telah mengharamkannya dalam Al-Qur`an: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah,...” (Qs. Al-Ma`idah 3; bdk: An-Nahl 115, Al-Baqarah 173, Al-An'am 145).

Memang, Allah telah menciptakan segala yang ada di muka bumi (ma fil ardhi jami'an) untuk manusia (Al-Baqarah 29, Al-Jatsiyah 13). Tapi bukan berarti semuanya untuk dimakan, melainkan ada yang dipantang.

Allah itu Maha Baik (Thoyyib) yang menyukai kebaikan. Maka Dia tidak akan menerima segala hal kecuali yang baik saja. Dengan adilnya Dia mempersilahkan manusia mengkonsumsi seluruh ciptaan-Nya yang halal dan baik (thoyyib), serta tidak berlebih-lebihan (Al-A'raf 31).

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (Qs. Al-Baqarah 168).

Dalam pandangan Alkitab (Bibel), keharaman babi dinyatakan jauh lebih ekstrim. Babi tidak hanya haram dimakan, tapi juga haram disentuh. Segala yang menyentuh daging babi menjadi najis (Imamat 11:26-27). Tentang haramnya babi dalam Bibel, Tuhan berfirman kepada Musa dan Harun:

“Dan lagi babi, karena sungguhpun kukunya terbelah dua, yaitu bersiratan kukunya, tetapi ia tiada memamah biak, maka haramlah ia kepadamu. Janganlah kamu makan dari pada dagingnya dan jangan pula kamu menjamah bangkainya, maka haramlah ia kepadamu” (Imamat 11: 7-8, bdk: Ulangan 14: 8).

Para penggemar sate babi harus membaca ayat-ayat tersebut dengan lapang dada. Apalagi, dalam sepanjang hidupnya Yesus tidak pernah makan babi. Dalam ayat-ayat Alkitab, tak ada satu pun ayat yang menyebutkan Yesus memakan daging babi. Malah Yesus pernah membunuh babi dua ribu ekor dengan cara memindahkan roh jahat ke dalam babi hingga mati lemas tercebur danau” (Markus 5:13). Kenyataan bahwa Yesus tidak pernah makan babi dalam Alkitab ini bisa dimaklumi, karena dia tidak menghapus hukum Taurat.

“Lebih mudah langit dan bumi lenyap dari pada satu titik dari hukum Taurat batal” (Lukas 16: 17). “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Matius 5: 17).

Satu-satunya ayat Injil yang sering dipakai sebagai dalil bahwa Yesus menghalalkan semua makanan adalah Injil Markus 7: 14-19, karena pada ujung ayat 19 itu disebutkan: “Dengan demikian Yesus menyatakan semua makanan halal”

Dalam Alkitab Today's English Version 1976, penggalan ayat tersebut berbunyi: “In saying this, Jesus declared that all foods are fit to be eaten,” dan ditulis dalam tanda kurung. Biasanya, ayat Injil ditulis dalam tanda kurung itu tidak asli. Contoh ayat yang ditulis dalam tanda kurung adalah Markus 7:16, Markus 9:44 & 46, Markus 11:26, Markus 15:28 dan Markus 16:9-20. Lembaga Biblika Indonesia (LBI), lembaga tafsir resmi milik Katolik, menjelaskan kepalsuan ayat-ayat tersebut. Dalam Kitab Suci Perjanjian Baru dengan Pengantar dan Catatan Singkat terbitan tahun 1978, ayat-ayat tersebut masing-masing diberi catatan kaki “AYAT TIDAK ASLI.”

Ada juga teolog yang mengatakan bahwa semua makanan -termasuk babi- itu halal, karena yang haram bukanlah benda yang masuk ke dalam mulut, tetapi yang keluar dari mulut. Mereka berkilah bahwa pendapat ini sesuai dengan Injil Matius 15:11: “Dengar dan camkanlah: bukan yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan orang, melainkan yang keluar dari mulut, itulah yang menajiskan orang.”

Pendapat ini lemah, tidak logis dan menyimpang dari topik halal-haramnya makanan. Jika semua yang masuk ke dalam mulut manusia tidak menajiskan, bagaimana jika yang masuk ke mulut adalah ganja, morphine, shabu-shabu dan sejenisnya? Apakah jadi halal jika dimasukkan ke dalam mulut, walaupun merusak tubuh, melemahkan pikiran dan membunuh jiwa manusia?

Dalil yang paling kuat dalam Bibel untuk menghalalkan semua makanan adalah ayat-ayat doktrin Paulus, antara lain: “Kamu boleh makan segala sesuatu yang dijual di pasar daging, tanpa mengadakan pemeriksaan karena keberatan-keberatan hati nurani” (Surat Paulus kepada Jemaat Korintus yang Pertama 10: 25).

Menentang hukum Taurat dalam Bibel adalah salah satu karakteristik Paulus. Dalam banyak ayat, Paulus menyatakan permusuhan terhadap hukum Taurat, antara lain: “Kamu tahu, bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus.... Sebab: “tidak ada seorang pun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat” (Surat Paulus kepada Jemaat Galatia 2: 16).

Jika ajaran Paulus ini disosialisasikan, maka betapa rusaknya tatanan masyarakat dunia. Karena hukum Taurat tidak semuanya bertentangan dengan zaman. Masih banyak hukum-hukum yang masih sesuai dengan perkembangan zaman bahkan mustahil dihapuskan dan sesuai dengan syariat agama, misalnya: larangan menyembah patung (Keluaran 20: 5); perintah hormat kepada ayah dan ibu (Keluaran 20: 12; larangan membunuh, zina dan mencuri (Keluaran 20: 13-16); dll.

Walhasil, silakan memilih hukum halal dan haram. Ikut Allah dan Nabi yang mengharamkan babi, ataukah ikut Paulus yang menghalalkan babi. Jika memilih opsi yang kedua, camkan resikonya. Karena penelitian medis membuktikan bahwa babi beresiko tinggi terhadap berbagai penyakit ganas yang menular bagi manusia, penyakit virus (yang menyerang organ pencernaan, pernafasan, usus, darah dan flu babi), cacing (cacing trichinella spiralis yang hidup di otot manusia ini, cacing ascariasis yang menghabiskan makanan manusia, cacing pita) dan jamur yang menyerang paru-paru.


"Insya Allah" Membungkam Ev. Jansen Litik
Tuesday, September 11, 2007 3:36 PM
Meski sudah usang dan ketinggalan zaman, buku tipis tulisan Ev Jansen Litik ini masih menjadi primadona. Buku ini masih sering disebarkan ke kalangan Muslim untuk melunturkan akidah Islam sembari menanam bibit iman baru dalam nama Yesus. Padahal buku berjudul Lima Alasan Pokok Tentang Isi Al-Qur’an Yang Menyebabkan Kami Meninggalkan Islam dan Beralih Menjadi Pemeluk Kristen ini tidak ilmiah, sangat lemah dan banyak salah data. Kesalahan data inilah yang membuahkan kesimpulan yang salah. Hal ini terlihat kentara pada kesimpulan penutupnya: “…Karena mereka tidak percaya lagi bahwa Al-Qur`an itu wahyu Allah, melainkan menganggapnya hanya satu Kitab Insani belaka yang isinya kurang lebih 75 % hasil jiplakan yang lihai dari isi Alkitab ditambah kurang lebih 25 % hasil buah pikiran, imajinasi, rekaan, kreasi dari Muhammad dan kawan-kawannya yang menulis Al-Qur`an itu dengan diberi selimut kamuflase seolah-olah sebagai 100 % Wahyu Allah” (hlm. 39).

Jika 75 persen Al-Qur`an itu menjiplak Bibel, berarti ada 5.000 ayat Al-Qur`an yang isinya sama dengan Bibel. Dapatkah Litik membuktikan adanya 5.000 ayat Al-Qur`an yang dituduh menjiplak Bibel itu? Kesimpulan Jansen Litik ini hanyalah isapan jempol belaka dan sangat tidak berdasar sama sekali, justru bertolak belakang 180 derajat dengan kenyataannya.

Memang ada beberapa persamaan antara Al-Qur`an dengan kitab-kitab sebelumnya, hal ini karena pada kitab-kitab terdahulu masih ada sisa-sisa wahyu Allah yang belum dimanipulasi. Tetapi, dalam banyak ayat, justru Al-Qur`an melakukan penghapusan (nasikh), pengujian (muhaiminan alaih) dan pembetulan/koreksi (mushaddiq) terhadap kitab-kitab terdahulu.

Sebagai mushaddiq (to correct), Al-Qur`an mengoreksi ayat-ayat yang sudah menyimpang jauh dari kebenaran Ilahi. Koreksi ini diperlukan karena kitab-kitab terdahulu yang ada saat ini sudah banyak dirubah dan disisipi (Qs. An Nisaa 46), sehingga kitab suci tersebut menjadi campur aduk antara yang haq dan yang batil (Qs. Ali Imran 71).

Contoh koreksinya adalah Bibel kitab Roma 10:9 yang menyatakan bahwa Allah membangkitkan Yesus sebagai Tuhan. Ayat ini dikoreksi karena bertentangan dengan aqidah Tauhid (Qs. Al-Ma’idah 72-73). Taurat dalam Bibel mengisahkan Nabi Luth sebagai ayah bejat yang menghamili kedua puteri kandungnya (kitab Kejadian 19:30-38), dikoreksi Al Quran bahwa beliau adalah nabi Allah yang soleh dan mulia derajatnya (Qs. Al An’aam 86, Al Anbiyaa 74-75, Luth 133). Kesalahan Bibel yang mengisahkan Nabi Daud berzinah dengan isteri orang (II Samuel 11:1-27) dan Nabi Sulaiman dikisahkan sebagai lelaki yang rakus wanita, keduanya diralat Al-Quran dalam Shaad 30. Taurat dalam Bibel mengisahkan Nabi Nuh pernah minum anggur sampai teler dan telanjang bugil kelihatan anaknya (kitab Kejadian 9:18-27), dikoreksi Al-Quran dalam surat Ali Imran 33 dan Al Israa 3.

Tuhan kelihatan kaki-Nya (Keluaran 24:10), Tuhan kelihatan punggung-Nya (Keluaran 33:23, Tuhan mengerang kesakitan seperti perempuan hamil (Yesaya 42:14), Tuhan pelupa sehingga tidak ingat alas kaki-Nya ketika marah (Ratapan Yeremia 2:1), Tuhan seperti orang teler yang siuman dari mabok anggur (Mazmur 78:65), Tuhan mencukur (Yesaya 7:20), Tuhan mengaum (Yeremia 25:30), Tuhan bersiul (Zakharia 10:8) dan lain-lain. Ayat-ayat Alkitab (Bibel) yang melecehkan Tuhan tersebut tidak mungkin dibenarkan, tapi dengan tegas ditolak dan dikoreksi Al-Qur`an:

“Tidak ada sesuatu apapun yang serupa dengan Dia (Allah). Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (Qs. As-Syura 11). “Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia (Allah)” (Qs. Al-Ikhlash 4).

Menurut Litik, salah satu alasan umat beralih (murtad) meninggalkan Islam lalu masuk Kristen adalah karena ajaran “insya Allah” yang tidak relevan. Jansen Litik merasa alergi terhadap ucapan “insya Allah” yang diucapkan oleh umat Islam terhadap sesuatu yang belum terjadi, misalnya dalam berbicara. Kalau ditanya, apakah anda besok bisa hadir? apakah anda yakin masuk surga? Orang mukmin menjawab “Insya Allah.”

Setelah merasa risih terhadap ungkapan “insya Allah” ini, kemudian dengan sombongnya Litik menyimpulkan bahwa berarti surganya umat Islam itu belum pasti, karena masih pakai insya Allah yang artinya jika Allah menghendaki. Puncaknya, dengan takabur Litik membanggakan kekristenannya, dengan menyatakan bahwa orang Kristen pasti masuk surga, tidak perlu pakai insya Allah lagi. Karena Yesus sudah menjamin pasti keselamatan surgawi.

Kenapa Litik jadi alergi terhadap insya Allah lalu takabur merasa sudah pasti masuk surga dalam nama Yesus? Bukankah Bibel menceritakan bahwa pada hari Akhir kelak banyak orang Kristen yang akan berkata kepada Yesus, “Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi namamu, dan mengusir setan demi namamu, dan mengadakan banyak mukjizat demi namamu juga?” Pada saat itu, dengan nada marah Yesus mengusir mereka, “Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah daripadaku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Mungkin Litik lupa, atau belum membaca, atau sudah membaca tapi belum memahami Injil Matius 7:21-23 ini?

Umat Islam berkata “insya Allah” terhadap jaminan masuk surga, bukan karena ragu-ragu atau tidak yakin. Tetapi karena Allah mengajarkan bahwa untuk hal-hal akan dikerjakan, akan dijanjikan, dan hal-hal lain yang masih belum terjadi, termasuk masalah sorga, tidak boleh mengatakan pasti, melainkan harus mengatakan insya Allah.

“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): Insya Allah” (Qs. Al-Kahfi 23-24).

Ini sebagai ungkapan iman bahwa Allah adalah penentu segala sesuatu. Tiada yang terjadi tanpa seizin-Nya. Meskipun Allah sudah menjamin surga (Qs. An-Nisa 124, An-Nahl 31, Al-Mukmin 40, dll), tapi umat Islam harus bersikap rendah diri di hadapan Allah dengan menyatakan insya Allah. Sebab tidak seorang pun tahu keadaan akhir hayatnya. Tak sedikit orang yang semasa hidupnya beriman dan beramal shaleh, tapi di akhir hayatnya tidak tahan ujian sehingga mati dalam keadaan tidak beriman.

Seharusnya Litik tidak perlu alergi terhadap insya Allah, jika ia benar-benar paham terhadap kitab suci agamanya. Bukankah dalam Bibel masih ada ayat yang memerintahkan berucap insya Allah terhadap hal-hal yang belum terjadi?

“Hai kamu yang berkata, “Bahwa hari ini atau besoknya biarlah kita pergi ke negeri anu serta menahun di situ, dan berniaga dan mencari laba”; padahalnya kamu tiada mengetahui apa yang akan jadi besoknya. Bagaimanakah hidupmu itu? Karena kamu hanya suatu uap, yang kelihatan seketika sahaja lamanya, lalu lenyap. Melainkan patutlah kamu berkata, “Insya Allah, kita akan hidup membuat ini atau itu” (Yakobus 4:13-15, Alkitab tahun 1960).

Dalam Alkitab cetakan sekarang ini, kata “insya allah” dalam ayat tersebut diganti menjadi “jika Tuhan menghendakinya.” Meski demikian, artinya sama saja, yaitu tidak boleh mengatakan pasti atau memastikan segala janji, hal yang akan dikerjakan, atau hal yang belum terjadi.

Evangelis Jansen Litik dan para pengikutnya harus bertaubat dari alergi insya Allah, karena menurut Alkitab sendiri (Yakobus 4:16-17), ini adalah satu kecongkakan yang masuk dalam kategori perbuatan dosa. Jadi meyakini dirinya pasti masuk surga adalah perbuatan dosa.


Adam Dituduh Homoseks
Saturday, September 08, 2007 12:46 PM
Di antara sekian banyak pembaca dari kalangan Nasrani, Ruben adalah orang yang paling ngefans terhadap rubrik BT majalah Sabili. Ia rajin menanggapi artikel BT dan mengirimkan SMS tentang ayat-ayat Al-Qur'an yang menurutnya musykil, aneh dan ganjil. Salah satu SMS Ruben adalah sbb: “Coba anda pecahkan QS 2:35, di situ dikatakan Adam pasangannya laki-laki. Kalau perempuan bentuk bahasanya Aswajatuka” (dikirim dari HP 081384953###).

Ayat yang dimaksud oleh Ruben itu selengkapnya berbunyi: “Dan Kami berfirman: “Hai Adam diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang dzalim.” Ayat ini senada dengan surat Al-A'raf 19.

Dalam nas Al-Qur`an, kata “istrimu” pada ayat tersebut tercantum “zaujuka”. Menurut Ruben, berdasarkan ayat ini berarti pasangan Nabi Adam itu laki-laki (homoseks). Karena jika pasangan Nabi Adam itu wanita, maka seharusnya ayat tersebut berbunyi: “zaujatuka.”

Tuduhan ini tidak benar, sebab Al-Qur'an menyatakan bahwa homoseks dan lesbi adalah perbuatan (Qs. An-Naml 54-55, 15-16, An-Nisa 15-16). Mustahil Adam sebagai Nabi Allah yang pertama melakukan tindak penyimpangan seksual.

Nampaknya Ruben baru belajar bahasa Arab tingkat i'dad (pemula/intermediate) yang baru mempelajari bab isim mudzakkar dan mu`annats (kata benda maskulin dan feminin). Dia menganggap bahwa isim mu`annats (kata benda perempuan) itu harus diakhiri dengan huruf ta` marbuthoh. Pandangan ini salah besar, karena isim mu`annats ada yang ma'nawiy, yaitu lafal katanya mudzakkar (laki-laki) tapi maknanya mu'annats (perempuan). Misalnya: Zainab, Hindun, dan lain sebagainya. Di samping itu, ada juga isim mudzakkar ma'nawiy, yaitu lafal kata mu`annats (perempuan) tapi maknanya mudzakkar (laki-laki). Misalnya: Hamzatu, Muawiyatu, dll.

Memang, dalam kamus bahasa Arab disebutkan bahwa “zaujun” berarti suami, sedangkan “zaujatun” berarti istri. Tapi dalam qawa`id (kaidah) pemakaian bahasa Arab, kata “zauzun” itu taglib atau aglabiyah (keumuman) yang bisa dipakai untuk pengganti laki-laki maupun perempuan. Tidak sebaliknya, kata “zaujatun” hanya bisa dipakai sebagai pengganti perempuan, tidak boleh dipakai untuk pengganti laki-laki.

Dalam surat Al-Baqarah 35, istri Nabi Adam disebut “zaujuka” yang berarti pasanganmu (pasangan Adam). Karena Adam itu laki-laki, maka otomatis pasangannya adalah wanita yang bernama Hawa.

Jika Ruben hanya berpatokan bahwa setiap kata Arab yang tidak diakhiri dengan huruf ta' marbuthoh pasti bermakna laki-laki, maka alangkah bingungnya dia jika memahami kata “ha`idh” (orang yang sedang haid). Meski kata “ha`idh” tidak diakhiri dengan huruf ta' marbuthoh, tapi bukan berarti bahwa “ha`idh” itu kata benda (isim) untuk laki-laki. Sebab di muka bumi ini tidak ada lelaki yang mengalami haid/nifas. Inilah yang disebut isim mu`annats ma'nawi. Sayangnya, bab “mudazkkar dan mu`annats ma'nawiy) ini terlewatkan dalam studi Ruben ketika mempelajari ilmu nahwu. Ia terlalu prematur mengkritik tatabahasa Al-Qur`an dengan kemampuannya yang cekak.

Jika pendalaman ilmu bahasa Arab sudah matang, maka satu titik pun tak ada yang salah maupun janggal dalam Al-Qur'an. Hal-hal yang nampak salah dalam Al-Qur`an, bisa terjadi karena pengetahuan manusia akan bahasa Arab masih sangat awam, seperti Ruben di atas.

Walhasil, semua kritikan terhadap bahasa Al-Qur`an akan bisa diluruskan dan dicari akar kesalahannya. Hal ini semata-mata karena Allah sendiri telah menjamin keaslian Al-Qur`an (Qs. Al-Hijr 9). Hal inilah yang tidak dimiliki oleh Alkitab (Bibel), kitab agama Kristiani. Karena naskah asli Bibel sudah musnah, maka kitab-kitab yang beredar sekarang ini hanyalah salinan dan terjemahan dari salinan kitab-kitab terdahulu. Dengan demikian, banyak hal-hal yang hilang dari kitab salinan dan terjemahan. ME Duyverman, ilmuwan Kristen mengakui kelemahan ini sebagai berikut: “Ada kalanya penyalin tersentuh pada kesalahan dalam naskah asli yang dipergunakannya, lalu kesalahan itu diperbaikinya, padahal perbaikan itu sering mengakibatkan perbedaan yang lebih besar dengan yang sungguh asli. Dan kira-kira penyelidikan dan penyesuaian salinan-salinan; agaknya terdorong oleh perbedaan yang sudah terlalu besar di antara salinan-salinan yang dipergunakan dengan resmi dalam gereja" (Pembimbing ke dalam Perjanjian Baru, hal. 24-25).

Dr R Soedarmo, teolog terkemuka Indonesia yang mendapat gelar S1 dan S2 di Belanda menandaskan: “Dengan pandangan bahwa Kitab Suci hanya catatan saja dari orang, maka diakui juga bahwa di dalam Kitab Suci mungkin sekali ada kesalahan. Oleh karena itu Kitab Suci mungkin sekali ada kesalahan. Oleh karena itu Kitab Suci dengan bentuk sekarang masih dapat diperbaiki" (Ikhtisar Dogmatika, BPK Jakarta, hal. 47).

Dengan demikian, maka tidak heran bila dalam telaah kritis, akan nampak banyak ayat-ayat Alkitab yang nampaknya perlu diperbaiki. Misalnya tentang kisah anak-anak Nabi Adam. Dalam Perjanjian Baru disebutkan bahwa Nabi Adam adalah makhluk pertama di muka bumi.

Secara singkat, kronologi kisah Adam dalam Bibel, dimulai ketika Nabi Adam dan Hawa, istrinya diusir dari surga lalu diturunkan ke dunia. Ini akibat pelanggaran mereka setelah memakan buah pohon terlarang (Kejadian 3:6-24). Berarti di seluruh muka bumi ini baru dihuni oleh dua orang saja.

Setelah turun ke dunia, Adam dan Hawa memperanakkan Kain dan Habil (Kejadian 4:1-2). Berarti bahwa bumi baru dihuni oleh empat orang saja yaitu Adam, Hawa, Kain dan Habil. Setelah terjadi konflik, Habil dibunuh oleh Kain (Kejadian 4:8), berarti bumi hanya dihuni oleh tiga orang yaitu Adam, Hawa dan Kain.

Tiba-tiba Alkitab menceritakan bahwa Kain pergi ke negeri bernama Tanah Nod lalu bersetubuh dengan istrinya hingga mengandung dan melahirkan (Kejadian 4:16-17). Dalam Bibel tidak disebutkan siapa nama istri Kain itu? Siapa ayah dan ibunya? Kapan lahir dan di mana dilahirkan, semua tidak diceritakan dalam Alkitab.

Jika istri Kain itu adalah anak Adam, kenapa tidak ada kabar kelahirannya dalam Alkitab? Jika istri Kain itu bukan anak Adam, lalu anak siapa? Jika demikian, berarti selain Adam ada manusia lain di bumi pada waktu itu. Dan ini menggugurkan keyakinan bahwa Adam manusia pertama, dan kontradiktif dengan ayat: “Seperti ada tertulis: “Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup” (I Korintus 15:45).

Lebih baik Ruben memikirkan ayat-ayat musykil dalam Alkitab ketimbang mengkritik Al-Qur`an dengan modal ilmu yang cekak. Mengapakah Ruben mencari-cari selumbar di mata orang lain, sedangkan balok di dalam matanya sendiri tidak diketahui?



Pemurtadan Dengan Hamilisasi
Saturday, September 08, 2007 12:42 PM
“…Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya...” (Qs. Al-Baqarah 221).

Kisah nyata ini harus menjadi perhatian serius bagi siapapun yang memiliki anak, saudara atau famili gadis remaja. Jangan sampai gadis-gadis muslimah salah pergaulan dan tertipu oleh bujuk rayu pria non Islam. Bila tidak waspada, kasus pemurtadan melalui tipuan dan hamilisasi di Palembang ini bisa terulang kembali. Keteledoran sedikit saja bisa berujung murtad di tangan orang model Ucok ini.
Ucok –bukan nama sebenarnya– adalah seorang calon pendeta warga jalan Abi Hasan Kenten, Palembang. Wajahnya memang belagak (ganteng), berkulit putih, badannya atletis cok bodyguard. Tapi hatinya busuk, terutama bila mendekati gadis muslimah yang hendak dimurtadkan. Salah satu korbannya adalah Ayu –bukan nama sebenarnya– gadis SMA yang tinggal di Tanjung Siapi-api, Palembang. Kecantikan dan keluguan Ayulah yang membuat Ucok begitu bernafsu untuk mendekatinya. Ayu adalah satu-satunya anak wanita dari tiga bersaudara, ayahnya adalah sopir truk berusia 50 tahun.

Dengan memperkenalkan diri sebagai seorang Muslim, pria Batak yang mengaku berprofesi sebagai dokter ini pun mulai sering datang apel ke rumah Ayu, terutama pada hari libur dan malam minggu. Kata-katanya yang manis, sikapnya yang sopan, dan penampilannya yang ramah, membuat Ayu dan keluarganya benar-benar simpati kepada Ucok. Setelah menyimpulkan bahwa Ucok adalah seorang yang shaleh, rajin ibadah, setia dan penuh tanggung jawab, maka kedua orang tua Ayu welcome terhadap Ucok.

Makin muluslah perangkap “cinta buaya” Ucok. Sejak itu ia mulai sering menginap di rumah Ayu saat apel di malam minggu, dengan alasan kemalaman lah, suasana hujan lah, takut masuk angin lah, motor mogoklah, dst. Ucok memang pandai cari-cari alasan supaya bisa menginap. Dari seringnya menginap inilah tragedi bermula.

Setahun kemudian Ayu berbadan dua. Ketika kehamilannya berusia 2 bulan, kedua orang tua Ayu menuntut tanggungjawab kepada Ucok. Maka suatu hari Ucok melamar si Ayu, didampingi oleh pamannya. Ucok yang merasa dalam posisi tidak dirugikan, dengan lantang menyatakan siap menikahi si Ayu kapan saja asal menikah di gereja dengan tata cara Kristen.

Blaarrrrrr……. Bak disambar geledek di siang bolong, ayah Ayu kaget luar biasa. Ia baru tahu kalau Ucok yang disangka remaja masjid itu ternyata aktivis Kristen. Di tengah kebingungan dan kekagetannya, ia berkata, “Sekarang terserah Ayu saja. Mau pilih Islam atau Ucok?” ucapnya dengan agak marah.

Sebagai wanita yang masih labil, Ayu kehilangan kesadaran agama. Yang terpikir hanyalah isi kandungannya itu. Baginya, yang penting ada orang yang mau mengakui keberadaan sang janin sebagai anak kandungnya. Maka ia lebih memilih Ucok daripada Islam.

Kekagetan orang tua Ayu semakin menjadi. Dengan terpaksa ia merelakan sang Ayu dinikahi secara Kristen di gereja. Sebelum pulang, Ucok yang sudah merasa menang, berani sesumbar, “Untuk dapatkan wanita yang dicintai, harus dengan cara menipu.” Sejak itu, Ayu semakin sering tinggal di rumah Ucok daripada di rumah orang tuanya, padahal belum resmi menikah.

Berita pemurtadan metode hamilisasi ini pun terdengar oleh Tim FAKTA Sumsel. Agustiawarman SH SIP, ketua FAKTA yang baru, menggodok kasus ini dan menugaskan tim khusus yang terdiri dari 7 orang.

Esoknya tim berkoordinasi dengan keluarga Ayu. Agus menjelaskan kepada kedua orang tua Ayu tentang langkah strategis yang harus dilakukan untuk menyelamatkan akidah Ayu. Kedua orang tua Ayu menangisi dan menyadari kesalahannya selama ini. Mereka ikhlas menerima Ayu kembali ke dalam keluarga, apapun keadaannya, asalkan tetap Islam.

Selanjutnya FAKTA berkoordinasi dengan ketua RT dan remaja masjid di sekitar rumah Ucok. Pukul 10 pagi mereka bersama-sama mendatangi rumah Ucok untuk memulangkan Ayu ke rumah orang tuanya. Dengan bijak Pak RT menanyakan keberadaan Ayu di rumah Kristen tersebut. “Karena Ucok dengan Ayu belum menikah, maka Ayu adalah tamu di rumah itu. Jika masih tinggal serumah, berarti mereka kumpul kebo. Sebagai tamu, harus lapor RT selama 1 x 24 jam,” jelasnya.

Tak mau kalah, Ucok membela diri sembari menyalahkan Ayu. “Ini bukan salah kami, tapi salah Ayu sendiri. Saya sudah bilang sama Ayu, tapi dia tidak mau,” jawabnya ngeyel.

“Jangan macam-macam ya, pakai ngaku-ngaku Islam untuk menipu!” balas Ustadz Legawan Isa, penasihat FAKTA Sumsel.

“Cok, benar nggak, kau mengaku beragama Islam ketika mendekati Ayu?” tanya Agus. “Ya!” jawab ucok sembari menganggukkan kepala.

Karena duduk persoalannya sudah jelas, maka disetujuilah kesepakatan bersama di atas kertas segel yang isinya: Pertama, jika Ayu datang ke rumah Ucok harus diusir. Kedua, jika Ucok melarikan Ayu, maka rumah Ucok akan dibakar dan orang tua Ucok jadi jaminan. Ketiga, menyampaikan kesepakatan itu kepada polisi.

Pertemuan ditutup dengan statemen seorang remaja masjid yang masih tetangga Ucok, “Kalu dio ngelanggar janji dan macem-macem, kami siap mbereske.” Remaja masjid ini geram terhadap kelakuan Ucok yang sudah sering gonta-ganti pacar dan sudah menghamili beberapa gadis sebelumnya.

Esok harinya, di rumah orang tuanya, Ayu dinasihati oleh Tim FAKTA Sumsel, dengan pembinaan khusus. Dijelaskan oleh Ustadz Legawan bahwa kasus pemurtadan dengan strtegi hamilisasi ini sudah sering terjadi. Dengan metode komparatif, dijelaskan bahwa Yesus hanya manusia biasa yang dipilih Allah sebagai nabi. Seumur hidupnya Yesus tidak pernah jadi Tuhan dan dia belum pernah meminta kepada muridnya untuk diibadahi sebagai Tuhan. Satu-satunya ayat doktrin ketuhanan Trinitas yang diimani oleh umat Kristen adalah ayat palsu (I Yohanes 5:7-8).

Kepalsuan Alkitab, kitab suci Kristiani juga dibeberkan secara ilmiah. Di dalamnya terdapat ayat-ayat mustahil, pornografi, pelecehan tuhan, dan ratusan ayat kontradiktif. Bukti-bukti konkretnya sudah dibukukan dalam buku Dokumen Pemalsuan Alkitab: Menyambut Kristenisasi Berwajah Islam yang diterbitkan oleh FAKTA dan buku Indeks Kesalahan Alkitab terbitan Jemparing Jakarta.

Alangkah ruginya jadi orang kafir, karena orang kafir adalah makhluk yang paling buruk di dunia dan nanti akan kekal di neraka jahanam (Qs. Al-Bayyinah 6). Betapa bahagianya jadi orang Islam, karena Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai Allah (Qs. Ali Imran 19).

Terakhir, dijelaskannya makna Islam, makna syahadatain dan hal-yang yang membatalkan keislaman. Ayu yang sempat murtad beberapa bulan, kini menyadari kesalahannya. Air mata penyesalannya mengalir deras tak terbendung, ketika disyahadatkan ulang. Seluruh keluarga menangis terharu. Selesai sudah satu persoalan, tapi persoalan janin yang dikandungnya belum tuntas. Siapa yang akan menjadi ayahnya kelak? Thoyib, seorang remaja masjid menjawab, “Saya siap mengasuhnya dari lahir hingga dewasa. Demi akidah, Saya ikhlas menikahi Ayu bila ia sudah melahirkan, asal dia benar-benar taubat kembali pada Islam.”

Kasus-kasus yang menimpa Ayu itu banyak terjadi di berbagai tempat. Sayangnya, tak banyak pahlawan akidah seperti Thoyib, pria pemberani yang rela mengorbankan egonya untuk Islam.



Rasulullah Wafat Mewariskan Bible?
Friday, September 07, 2007 1:09 PM
Seorang bos sebuah perusahanan di kawasan Jakarta Selatan, merangkap sebagai misionaris Kristen. Kepada bawahannya ia menyodorkan buku saku 77 halaman berjudul “Riwayat Singkat Pusaka Peninggalan Nabi Muhammad SAW” tulisan Drs A Poernama Winangun. Seorang muslimah yang menjadi sasaran misi bos Kristen tersebut, meminta kepada Tim FAKTA untuk menjawabnya.

Buku saku yang sarat dengan penyimpangan tafsir Al-Qur`an dan sejarah Rasulullah ini tergolong buku “gelap” karena tidak mencantumkan nama dan alamat penerbitnya. Akibatnya, Tim FAKTA menemui jalan buntu untuk bisa berdialog dengan penulis buku ini. Maka melalui rubrik ini, Tim FAKTA mengundang Poernama Winangun, penulis buku ini untuk berdialog secara ilmiah mengenai isi buku tersebut.

Setelah pindah agama dari Islam, Poernama Winangun rajin menulis buku-buku yang menyelewengkan ayat-ayat Al-Qur`an untuk menyebarkan kekristenan kepada umat Islam. Dalam menulis buku, Poernama sering memakai nama alias Drs H Amos, Drs Ara Apwin, dll. Bila diteliti, tulisan-tulisan tersebut bukan hasil pikiran dan penelitian sendiri, melainkan hasil jiplakan terhadap tulisan islamologi para pendeta dan penginjil. Hal ini terlihat dari jurus-jurus yang sama ketika menyimpangkan ayat-ayat Al-Qur`an. Ditambah lagi dengan riwayat hidup Poernama Winangun sendiri sebagai seorang yang awam dalam hal keislaman.

Dalam kesaksiannya, Poernama Winangun mengaku lahir pada tanggal 17 Mei 1935. Ia pindah agama dari Islam ke Kristen dalam usia 58 tahun (tanggal 30 Mei 1993). Sampai bulan Mei 1993 (sebelum masuk Kristen), dia hanya hafal surat Al-Fatihah, Al-Falaq, An-Naas, Al-Ikhlash dan Al-Kautsar, tanpa mengetahui artinya.

Ia juga mengaku sebagai orang yang tidak mengerti Bahasa Arab, sehingga yang dipelajari hanya terjemahan Al-Qur`an saja. Dalam mencari kebenaran agama Kristen, ia mengaku mempelajari dan meneliti Al-Qur`an hanya dalam tempo tiga minggu saja.

Bisa dibayangkan, orang Islam yang sudah berumur 58 tahun hanya hafal lima surat pendek dalam Al-Qur`an tanpa memahami artinya. Padahal anak TK/TPA Islam rata-rata sudah hafal puluhan ayat Al-Qur`an. Inilah bukti betapa awamnya wawasan Islam penginjil Poernama, tak lebih pandai daripada anak TK Islam.

Dengan modal ilmu yang dangkal tentang Islam, maka meneliti Al-Qur`an dalam waktu 3 minggu untuk mencari kebenaran Kristen adalah hal yang mustahil dan tidak masuk akal.

Salah satu kerancuan yang dilakukan Poernama adalah dengan merubah terjemah hadits, lalu dikomentari secara salah bahwa ketika wafat, Nabi Muhammad hanya meninggalkan Alkitab (Bibel) dan Sunnah Nabi Isa. Poernama menulis:

“Pada waktu Muhammad SAW wafat meninggalkan umatnya, tidak ada harta benda yang berarti yang diwariskan kepada anak istrinya, tetapi beliau meninggalkan dua pusaka yang diwariskan kepada umatnya.S

Sabdanya, “Kutinggalkan untuk kamu dua perkara (pusaka), taklah kamu akan tersesat selama-lamanya, selama kamu masih berpegang keduanya, yaitu Al Kitab dan Sunnah Rasulnya.”

Yang dimaksud dengan Muhammad SAW berpegang kepada Al Kitab ialah Taurat dan Injil yaitu Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru karena buku Al-Qur`an pada waktu Muhammad SAW wafat belum terwujud... Sedangkan yang dimaksud dengan Sunnah Rasulnya adalah perintah dan perbuatan Nabi Isa AS putra Maryam” (hlm. 43-44).

Penyimpangan yang sengaja dilakukan oleh Poernama dalam kutipan hadits di atas. Adalah merubah kata “Kitabullah” menjadi “Alkitab,” untuk dicocokkan dengan kemauan penginjil dalam membodohi pembaca. Dalam Kristen, Alkitab adalah nama Indonesia dari The Bible, kitab suci agama Kristen. Ini adalah kesalahan yang sangat mencolok.

Dalam Islam Kitabullah dan Sunnah rasul-Nya adalah istilah lain dari Al-Qur`an dan Hadits/Sunnah Rasulullah.

Sebelum diutus ke Yaman, Mu’adz bin Jabal ditanya oleh Rasulullah, “Dengan pedoman apa kau putuskan suatu urusan?” Mu’adz menjawab, “Dengan Kitabullah.”

Rasulullah bertanya lagi, “Kalau tidak ada dalam Al-Qur`an?” Mu’adz menjawab, “Dengan Sunnah Rasulullah.”

Dari cuplikan percakapan tersebut, jelaslah bahwa maksud “Kitabullah dan Sunnah Rasulullah” adalah istilah lain dari “Al-Qur`an dan Hadits/Sunnah Nabi Muhammad.” Keduanya adalah sumber hukum dalam Islam.

Kitabullah warisan Nabi Muhammad itu adalah Al-Qur’anul Karim, bukan Taurat, Injil, maupun Bibel. Allah menyebutkan bahwa wahyu yang diturunkan kepada beliau adalah Al-Qur`an: “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur`an kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur” (Qs. Al-Insan 23).

Sebelum Rasulullah wafat, Al-Qur`an sudah selesai diwahyukan kepada beliau, sehingga sempurnalah Islam: “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu (Muhammad) agamamu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kamu” (Qs Al-Ma`idah 3).

Pernyataan Poernama bahwa Alkitab (Bibel) yang terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru adalah warisan Nabi Muhammad, justru menambah daftar keawaman teologinya. Sebagai seorang penginjil, seharusnya dia tahu siapa para penulis Alkitab (Bibel) itu?

Sebagian besar Kitab Perjanjian Baru ditulis oleh Paulus dkk. Dari seluruh ayat Injil, hanya 18 persen saja yang diyakini sebagai ucapan Yesus.

Penulis Kitab Taurat Musa bukanlah Nabi Musa AS. Sedangkan kitab-kitab Perjanjian Lama yang masih misterius riwayat dan sejarah penulisannya. The Bible Revised Standard Version terbitan Collins tahun 1971 menyebutkan bahwa Kitab Rut pengarangnya tidak diketahui secara pasti (not definitely known); Kitab I Samuel, II Samuel, I Raja-raja, II Raja-raja, I Tawarikh, II Tawarikh, kitab Ester, kitab Ayub, dan kitab Yunus pengarangnya tidak diketahui (unknown). Kitab Pengkhotbah penulisnya diragukan (doubtful). Kitab Habakuk tidak ada yang tahu tempat dan tanggal lahirnya (nothing known of the place or time of his birth); dll.

Sedangkan yang dimaksud dengan ‘Sunnah Rasul-Nya’ itu bukanlah sunnah Nabi Isa (Yesus), melainkan adalah Sunnah Rasulullah atau Hadits Nabi Muhammad SAW, yaitu segala perbuatan, perkataan dan keizinan (taqrir) Nabi Muhammad SAW.

Jika penginjil Poernama ingin mematuhi Sunnah Nabi Isa, maka Sunnah Nabi Isa itu yang mana? Karena beliau meninggalkan dunia tanpa meninggalkan tulisan maupun kitab. Sedangkan Kitab Injil milik Kristen yang dinisbatkan kepada beliau pada saat ini, bukanlah Injil peninggalan Nabi Isa. Keempat Injil dalam Bibel itu adalah tulisan orang-orang yang bukan murid Yesus berpuluh-puluh tahun setelah Nabi Isa tidak ada di dunia.

Sampai saat ini, umat Kristen tidak bisa memastikan bahwa tatacara peribadatan yang mereka lakukan itu adalah sesuai dengan tuntunan dan Sunnah Nabi Isa. Hanya seorang penginjil Poernama saja yang berani mengumbar slogan tentang Sunnah Nabi Isa, itu pun tak didukung dalil Alkitabiah.
Istri Rasulullah Beragama Kristen?
Friday, September 07, 2007 1:06 PM
Buku “Riwayat Singkat Pusaka Peninggalan Nabi Muhammad SAW” memang penuh distorsi dan manipulasi sejarah. Dengan gegabah, Penginjil Poernama Winangun alias H Amos alias H Ara Apwim menulis sejarah Rasulullah SAW berdasarkan anggapan yang mentah, dan tak didukung data yang valid. Salah satu penyesatan sejarah dalam buku tersebut adalah klaim bahwa Rasulullah SAW menikahi Siti Khadijah yang beragama Kristen dan memahami ajaran Alkitab (Bibel). Poernama menulis:

“Siti Khadijah sebagai pemeluk Kristen yang taat mempunyai pribadi yang luhur dan akhlak yang mulia. Dalam kehidupannya sehari-hari senantiasa memelihara istiadat kesucian dan martabat dirinya, ia selalu menjauhi adat-istiadat yang tidak senonoh sebagaimana yang dilakukan oleh wanita-wanita Arab Jahiliyah pada waktu itu, sehingga oleh penduduk Mekkah ia diberi gelar “At-Thahirah.”... Adapun peranan Siti Khadijah sebagai istri Muhammad SAW pada saat beliau menerima wahyu, secara ringkas dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Siti Khadijah yang patuh dan setia kepada suaminya Muhammad SAW sangat mengenal perilaku beliau baik jiwa, pribadi serta akhlaknya sejak beliau kecil. Siti Khadijah dapat menyelami jiwa suaminya yang tidak puas terhadap keadaan sekelilingnya yaitu adat-istiadat kaumnya yang menyembah dan mendewakan patung dan berhala. Demikian pula ia sangat benci kepada kegemaran kaumnya yang berjudi dan meminum khamar (semacam minuman keras) di samping kaumnya yang suka perbuatan-perbuatan di luar peri kemanusiaan serta membunuh bayi perempuan mereka dengan alasan malu dan takut miskin.

2. Siti Khadijah memberi kesempatan dan keluasan yang sebesar-besarnya untuk kehidupan berpikir dan alam nafsani untuk mencari hakikat yang benar dan mutlak. Siti Khadijah dengan pengetahuannya atas isi ALKITAB memberi dorongan dan semangat kepada suaminya agar terus mencari hakikat yang benar dan mutlak dengan tidak dibebani dengan masalah-masalah rumah tangga.” (hlm. 18-20).

Bila dilacak, sebenarnya tulisan tersebut berasal dari “Al-Qur`an dan Terjemahnya” terbitan Departemen Agama RI, bagian Muqaddimah bab “Sejarah Ringkas Nabi Muhammad SAW” tepatnya halaman 56. Dengan culas Poernama menambahkan kalimat “Siti Khadijah sebagai pemeluk Kristen yang taat” dan kalimat “Siti Khadijah dengan pengetahuannya atas isi ALKITAB.” Tujuannya jelas untuk memalsukan data dalam rangka menyesatkan aqidah umat Islam, sekaligus pembodohan terhadap jemaat Kristiani sendiri.

Pernikahan Rasulullah dengan Khadijah, memang sudah menjadi langganan “pelecehan” oleh para penginjil. Pendeta RM Nurdin misalnya, lebih jauh lagi ia menyatakan bahwa Siti Khadijah, istri pertama Nabi beragama Kristen, karena pada waktu itu Islam belum ada. Maka pada waktu itu juga ikut merayakan Natalan (Maulid) Nabi Isa. (Selamat Natal Menurut Al-Qur’an, hlm 11-12).

Lebih lanjut, Nurdin menyatakan bahwa sebelum jadi nabi, Muhammad belajar (kursus) Bibel (Taurat dan Injil) kepada Khadijah sampai hafal ayat-ayat Taurat dan Injil (Ayat-ayat Penting di dalam Al-Quran, hlm 59). Maka, ketika menikahi Khadijah, Nabi Muhammad memberikan mahar berupa sebuah Alkitab (Bibel). Lalu wali nikah atau penghulunya menyampaikan khotbah nikah dengan menyampaikan ayat-ayat Bibel. (Keselamatan Di Dalam Islam, hlm 24). Bahkan sebelum menjadi Nabi, Muhammad beribadah secara Kristen selama 15 tahun. (Keselamatan Di Dalam Islam, hlm. 35).

Itulah contoh teologi Pendeta dan Penginjil ketika mengkaji Islam. Tanpa data dan literatur ilmiah, Islam digambarkan dalam bentuk yang peioratif kepada jemaat Kristiani. Anehnya, jemaat kurang kritis, menelan mentah-mentah, dan langsung menyebarkannya tanpa merasa dibodohi sedikit pun. Malah, dengan bangga seorang bos di sebuah perkantoran kawasan Jakarta Selatan, menjajakan teologi picisan karangan Poernama kepada anak buahnya yang beragama Islam.

Memang benar, Khadijah binti Khuwailid memiliki paman seorang rahib bernama Waraqah bin Naufal. Tapi Waraqah bukanlah orang yang menikahkan Khadijah dengan Muhammad.

Dalam buku-buku sejarah Nabi, disebutkan data-data valid bahwa yang meminang Khadijah adalah paman Muhammad yang bernama Hamzah bin Abdul Muthalib. Lalu yang menikahkan Muhammad dengan Khadijah adalah paman Khadijah yang bernama ‘Amru bin Asad, sedangkan yang memberikan khutbah nikah adalah Abu Thalib, paman Muhammad. Maharnya pun bukan Alkitab (Bibel), tapi 20 ekor unta. (lihat: As-Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam, juz I, hlm. 201).

Kedua pendeta dan penginjil itu mengklaim Muhammad menikahi Khadijah dengan tatacara Kristen, karena mereka beranggapan bahwa pada waktu itu Islam belum ada (Muhammad belum menjadi Nabi). Tidak mungkin Muhammad menikah dengan ritual Yahudi, karena sangat dibenci bangsa Arab. Inilah logika yang tidak jelas juntrungnya.

Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menganalisa ritual pernikahan yang dipakai oleh Muhammad dan Khadijah. Kita tidak usah mencari-cari dan merekayasa tatacara pernikahan Yahudi maupun Kristen yang sama-sama tidak diterima oleh bangsa Arab pada waktu itu.

Bangsa Arab pada waktu itu masih mengikuti adat-istiadat yang berasal dari jejak syariat Nabi Ibrahim yang hanif. Hal ini terbukti, mereka masih melaksanakan syariat khitan dan menghormati Ka’bah yang didirikan oleh Ibrahim dan putranya, Ismail AS. Secara historis, bangsa Arab adalah keturunan Ibrahim melalui Ismail yang menikahi penduduk Mekkah dari suku Jurhum yang berasal dari Yaman. Keturunan Ismail inilah yang beranak-pinak di Mekkah yang disebut sebagai Bani Ismail atau Adnaniyyun.

Sampai zaman Muhammad belum diangkat Allah sebagai Nabi, bangsa Arab meyakini bahwa pemeliharaan serta kepemimpinan dalam upacara keagamaan di depan Ka’bah itu adalah hak Bani Ismail. Salah satu pemimpin kabilah Quraisy dari keturunan Ismail adalah Qushai.

Dengan demikian, satu-satunya syariat yang mungkin diterapkan dalam pernikahan Muhammad dengan Khadijah adalah syariat hanif Nabi Ibrahim.

Lantas apa agama yang dianut oleh Khadijah waktu itu? Dr Muhammad Abduh Yamani dalam buku Khadijah: Drama Cinta Abadi Sang Nabi, menyebutkan bahwa Khadijah adalah penganut agama Ibrahim AS (Al-Hanif) yang mendapat gelar “ath-thahirah” (perempuan suci)

Walhasil, pembohongan sejarah yang dilakukan oleh Penginjil Poernama dan Pendeta RM Nurdin, tindakan orang yang menjajakan pemikiran mereka, tidak bisa dibenarkan dengan alasan apapun. Penginjilan model ini tidak akan dibenarkan oleh Yesus. Dalam Injil Matius 15:11, Yesus justru mengecam mereka sebagai kaum yang menajiskan orang dengan ucapan yang keluar dari mulutnya.

Missionaris Saksi Yehova Beraksi
Friday, September 07, 2007 1:03 PM
Di siang bolong, dengan membawa sebuah mobil, sekelompok bule berhidung mancung mebgai-bagikan buku dan brosur Kristen di daerah Pasar Sindang, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Tak memandang apapun agama orang yang lewat, siapapun diberi buku dan brosur itu. Orang-orang berwajah luar negeri itu juga masuk ke gang-gang kecil, mengetuk pintu rumah-rumah warga lalu membag-bagikan brosur Kristen itu. Misi yang sama juga terjadi di daerah Stasiun Jatinegara Jakarta Timur, Bekasi, Bandung, dan lainnya.

"Buku ini tidak ada bahayanya bagi kami. Tapi kami merasa risih dan tidak nyaman dengan hal ini," ujar Dina, warga Rawabadak, Jakarta Utara, dalam selembar surat yang ditujukkan kepada Tim FAKTA.

Brosur yang dimaksud adalah selebaran full colour berjudul Akhir Agama Palsu Sudah Dekat. Lembaran itu diterbitkan oleh Saksi Yehova, sebuah sekte Kristen yang dibentuk oleh Charles Tase Russel, tokoh mantan jemaat gereja Seventh Day Adventist (Advent Hari Ketujuh) pada tahun 1879 di Amerika Serikat. Di Indonesia, sekte ini pernah dilarang selama seperempat abad sejak awal Desember 1976 berdasarkan Surat Keputusan Jaksa Agung RI. Pada masa Pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), larangan ini dicabut sehingga salah satu aliran dalam Kristen ini bebas merajalela.

Sedangkan buku yang disebarkan oleh missionaris bule itu berjudul Yesus Juru Selamatmu terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (LAI). Cover depan buku itu bergambar sebuah lukisan seorang pria sedang berusaha menyelamatkan seekor kambing yang hendak terjatuh ke dalam jurang. Sedangkan cover belakang menampilkan lukisan Yesus yang sedang berdiri terpentang di tiang Salib setinggi kurang lebih empat meter.

Mendapat buku yang sampulnya berbau pornografi ini, Dina menyatakan dalam suratnya, "Mungkin buku ini tidak ada bahayanya bagi umat Islam," Ini bisa dimaklumi, karena ajaran Islam sangat bertolak belakang dengan tradisi Kristen. Dalam Islam, melukiskan seorang Nabi saja dilarang, apalagi menggambarkan seorang nabi dalam rupa yang menderita dan tak berbusana wajar sehingga kelihatan auratnya.

Buku setebal 93 halaman yang disusun oleh Tim Penyiapan Naskah LAI ini sepenuhnya menjajakan doktrin Kristen bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat penebus dosa manusia. Profil, karya, ajaran, mukjizat dan filosofi Yesus yang diungkap dalam buku ini dikutip dari ayat-ayat Injil ditambah dengan doktrin tulisan Paulus dalam surat-suratnya. Beberapa mukjizat Yesus yang ditampilkan dalam buku ini, antara lain menyembuhkan orang yang berpenyakit kusta, orang lumpuh, orang buta, dan memberi makan lima ribu orang dengan lima ketul roti.

Terhadap mukjizat tersebut, umat Islam tidak merasa aneh lantas menaikan derajat Nabi Isa sebagai tuhan. Bahkan dalam al-Qur'an masih banyak mukjizat nabi Isa yang tidak dilukiskan dalam Injil, antara lain menyembuhkan orang yang berpenyakit sopak, menghidupkan orang mati, menciptakan burung hidup dari tanah liat, dan lain sebagainya. Semua ini bukan kemampuan Nabi Isa, tapi karena izin Allah (bi idznillah). Ini bisa dibaca dalam surat Ali Imran 49.

Injil Yohanes 5:30 juga menyatakan bahwa Yesus tidak bisa berbuat apapun dari dirinya sendiri, karena semuanya terjadi atas kehendak Tuhan yang mengutusnya. Jadi, segala mukjizat Yesus itu bukan bukti atas ketuhanan dirinya, tapi bukti kekuasaan Allah yang mengutus Yesus sebagai seorang Nabi.

Tentang ajaran kemanusiaan Yesus, dalam buku ini dijelaskan syariat Yesus tentang perzinaan (hlm 33-34). Dalam selebaran itu, dikutip Injil Yohanes 8:1-11 yang megisahkan bahwa suatu hari orang-orang ahli taurat menangkap basah seorang perempuan yang sedang berzina. Mereka meminta fatwa kepada Yesus tentang hukuman yang harus diterapkan kepada pezina itu, karena dalam Taurat Musa disebutkan bahwa pezina itu harus dirajam. Yesus mengabulkan permintaan mereka dengan syariat baru, "Barangsiapa di antara kami tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." Karena tidak ada dari mereka yang tak memiliki dosa, maka mereka tidak berani menghukum sepasang pezina tersebut. Maka bebaslah kedua pezina itu setelah dinasihati Yesus dengan sepatah kalimat, "Jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

Selain bertentangan dengan hukum Taurat tentang hukum rajam (Ulangan 22:22-24), syariat Yesus tentang perzinaan ini jelas sulit diterapkan di masyarakat. Sulit dibayangkan apa yang terjadi di masyarakat, jika orang yang terbukti dan tertangkap basah berzina itu tidak diberi hukuman apapun, kecuali hanya dinasihati dengan kalimat, "Jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang."

Ketika menjelaskan misi Yesus yang disampaikan kepada ke-12 muridnya, penulis dari LAI mengutip Injil Markus 3:13-19. Ayat ini hanya menjelaskan bahwa Yesus memilih 12 orang sebagai murid untuk pendamping dalam menyebarkan kabar baik dari Tuhan. Sedangkan dalam Injil Matius 10:1-6 tidak dikutip. Ayat-ayat ini juga menceritakan pemilihan Yesus kepada 12 orang murid yang dilengkapi dengan wasiat berisi undang- undang penyiaran agar misinya hanya disampaikan kepada orang Israil yang hilang.

Secara tegas, Yesus mewanti-wanti kepada ke-12 muridnya, "Janganlah kamu menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, melainkan pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel" (Matius 10:5-6)

Jika para penginjil bule itu menaati wasiat Yesus ini, maka persoalan mereka dengan umat Islam sudah selesai. Mereka tidak perlu jauh-jauh meninggalkan tanah airnya mengkristenkan umat Islam di Nusantara dengan segala cara. Menyebarkan Kristen kepada bangsa Indonesia yang notabene bukan orang Israel adalah tindakan yang melanggar wasiat Yesus yang mereka anggap sebagai Tuhan itu. Yesus tidak akan menyukai tindakan yang menyalahi ajarannya.


Al Quran Dituduh Menyadur Bible
Friday, September 07, 2007 1:01 PM
Kehebatan al-Qur'an yang penuh dengan mukjizat, disambut dengan kedengkian oleh pihak Nasrani. Mereka berusaha menyerang otentisitas al-Qur'an dengan berbagai metode. etelahgagal, mereka frustasi dan terus-menerus melakukan kritikan untuk menanamkan keraguan terhadap umat Islam. Salah satu kritikannya adalah menuding al-Quran sebagai kitab saduran.

Adalah Mohamad Guntur Romli, aktivis JIL yang getol menjajakan liberalisasi agama berkedok Islam. Dalam artikelnya belum lama ini, Guntur mencak-mencak menuding al-Qur'an sebagai kitab saduran yang menyunting (mengedit) keyakinan dan kitab-kitab sebelumnya.

"Kisah Isa (Yesus) dalam al-Qur'an yang menegaskan, Isa hanyalah seorang Rasul, bukan anak Tuhan, dan tidak ada penyaliban terhadapnya adalah "saduran" dari keyakinan sebuah sekte Kristen," tulisnya.

Guntur menegaskan pula, "Al-Qur'an tetap memiliki banyak sumber dan 'proses kreatif' yang bertahan serta berlapis-lapis. Al-Qur'an adalah 'suntingan' dari 'kitab-kitab' sebelumnya, yang disesuaikan dengan kepentingan penyuntingnya," (koran Tempo, 4 Mei 2007).

Tuduhan ini sebenarnya sudah basi, dan sama sekali tidak ada yang baru. Para orientalis dan misionaris Kristen sudahterlalu sering melontarkan tuduhan ini. Misalnya, FJL Menezes (1911) dalam karyanya The Life anda Religion of Mohammad:The Prophet of Arabia menuduh : "Tidak ada suatu apapun dari al-Qur'an itu, selain ciptaan dan rekaan Muhammad dan para sahabatnya."

Dalam jajaran pengritik al-Qur'an, tercatat nama-nama orientalis terkemuka, antara lain : G. Sale dalam buku Preliminary Discourse (1899) yang menyebutkan bahwa Muhammad adalah penulis asli al-Qur'an. Di belakang hari, kritikan serupa dikemukakan oleh Sir William Muir dan Wollaston (1905), Lammens (1926), Champion dan Short (1959), Glubb (1970), Robinson (1977), dan seterusnya.

Di Indonesia, tuduhan yang sama dilontarkan oleh evangelis Jansen Litik, Suradi ben Abraham, Pendeta Muhamad Nurdin, dan lain-lain. Jauh sebelumnya, Louis Hoyack dalam buku De Onbekende Koran menuduh al-Qur'an telah menjiplak Bibel : "De Koran staat vol van verhalen, ontleend aan het Oude en Nieuwe Testament, en ook aan andere bronnen, maar waar de profeet het noodig oordelde, een weinig geretoucheed" (hlm.74). (Al-qur'an berisi dongengan-dongengan yang dicuplik dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, juga dari sumber-sumber lain, tetapi di mana dianggap perlu oleh sang nabi maka diadakan penyuntingan disana-sini).

Bila ditelaah secara kritis, kritik Guntur terhadap al-Qur'an itu sungguh tidak bermutu, karena tidak disertai data-data yang akurat dan faktual. Dalam ulasannya mengenai proses turunnya al-Qur'an, Guntur menganalisa bahwa krtika berbicara tentang pewahyuan al-Qur'an, Allah memakai dhamir nahnu (kata ganti plural "kami"). Menurutnya, kata "awhayna(kami wahyukan) dipakai dalam al-Qur'an lebih dari 30 kali, sedangkan kata "awhaytu" (aku wahyukan) hanya dipakai 8 kali. Bertolak dari data "awhayna" ini, Guntur menyatakan, proses turunnya al-Qur'an melibatkan kerja kolektif antara Tuhan dan manusia.

Dari penjelasan ini, terlihat jelas betapa Guntur adalah orang yang miskin data. Menurut penelitian Tim FAKTA dengan fasilitas program al-Qur'an digital, kata "awhaytu" dalam al-Qur'an hanya ada satu kata, yaitu dalam surah al-maidah:111, Itu pun bukan tentang pewahyuan al-Qur'an, melainkan ilham kepada para pengikut setia Nabi Isa (Hawariyun).

Selain itu, pemakaian kata ganti Nahnu (Kami) bukan berarti bilangan Allah itu jamak (plural), dan tidak berarti bahwa proses turunnya al-Qur'an itu melibatkan kerja sama antara Tuhan dan manusia. Dalam bahasa Arab, pemakaian kata ganti jamak untuk kata orang pertama tunggal (mutakallim mufrad) berarti penghormatan dan pengagungan (lit-ta'zhim).

Tidak benar tudingan Guntur bahwa pewahyuan al-Qur'an itu hasil kerja sama antara Tuhan dan manusia dengan menyadur dan menyunting kitab-kitab sebelumnya. Tudingan ini terbantah oleh ayat al-Qur'an serah al-Baqarah:41. Dalam ayat ini Allah memakai kata ganti tunggal "anzaltu" (Aku turunkan) ketika berbicara tentang turunnya al-Qur'an. Pada ayat tersebut Allah berfirman : "Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (al-Qur'an)...".

Ketika melontarkan tudingan al-Qur'an menyadur kitab sebelumnya (baca:Bibel), lagi-lagi Guntur memamerkan kemiskinannya dalam hal data. Sebagai seorang peneliti, seharusnya Guntur membktikan tuduhannya atas berbagai pertanyaan berikut : Pertama, jika al-Qur'an adalah kitab suci yang menyadur Bibel, maka ayat Bibel mana saja yang disadur, dan ayat al-Qur'an mana yang dianggapnya menyadur itu. Kedua, Berdasarkan sejarah yang diyakini Guntur, kapan Nabi Muhammad membaca dan meneliti Bibel ketika menyadurnya dalam al-Qur'an? Ketiga, menurut al-Qur'an, Muhammad adalah nabi yang ummiy (buta aksara). Tudingan bahwa beliau menyadur kitab-kitab sebelumnya, berarti menuding bahwa beliau bisa membaca. Siapa nama guru Nabi Muhammad yang mengajarkan baca-tulis?

Dalam artikelnyam Guntur hanya bisa menuding tanpa membuktikan fakta dan data yang akurat. Karenanya, tudingan ini boleh disebut sebagai asbun.

Secara singkat, semua tuduhan itu kandas dengan sendirinya oleh firman Allah dalam surah al-'Ankabut:48-49 yang menyatakan Muhammad adalah nabi yang ummiy. Kenyataan bahwa al-Qur'an sepanjang sejarah dunia tidak pernah berubah setitikpun, membuktikan bahwa al-Qur'an adalah Kalamullah (firman Allah) yang redaksinya sama sekali tidak melibatkan campur tangan manusia. Sebab jika al-Qur'an adalah hasil karya manusia, pastilah dikemudian hari akan mengalami editing (perubahan), karena hasil karya manusia memiliki banyak keterbatasan.

Jelaslah bahwa al-Qur'an bukan kitab saduran. Lantas siap ayang sebenarnya menyadur? Bisa jadi kelompok liberal yang menyadur fitnah-fitnah dari kaum orientalis dan misionaris.



Buku Pendeta Menghujat Islam
Friday, September 07, 2007 11:06 AM
Malang merupakan kota yang dingin lagi sejuk. Keberadaannya terbukti sejak sebelum kemerdekaan menjadi tempat peristirahatan oleh para Belanda. Jawa Timur, khususnya Malang, merupakan daerah yang berpenduduk mayoritas Islam, dan bisa juga di katakan bahwa Malang merupakan daerah basis Islam yang kuat.

Agama Islam dibawa masuk ke Malang dengan damai, tanpa ada peperangan. Toleransi antar umat beragama pun terlihat dengan anggun. Umat Islam di Malangpun sangat toleran terhadap umat beragama lainnya. Tetapi siapa sangka, di baim toleransi itulah para missionaris maupun zending memeperdaya umat Islam. Jika dahulu para Missionaris diberikan fasilitas berupa gedung serta gulden (uang belanda) serta yang tidak kalah terkenalnya dengan bantuan sembako, sekarang para Missionaris menggunakan trik-trik memutilasi ayat-ayat Al Quran untuk menghujat Islam.

Trik-trik diatara cara mereka adalah menrbitkan sejumlah buku serta brosur-brosur yang berisikan nada bahwa Agama Kristenlah agama yang paling benar serta di jamin masuk surga. Sebuah brosur yang berjudul "Akhir Agama Palsu Sudah Dekat" yang diterbitkan oleh Kristen Saksi Yehovah di daerah Kedung Kandang serta Jl. Ki Ageng Gribig ini adalah contoh konkrit dari penyebaran agama Kristen. Padahal menurut Peraturan Bersama serta SKB 2 Menteri hal semacam ini tidak dibenarkan. Tidak deengan brosur, mereka juga berusaha menjadikan "Islam" murid Yesus dengan cara membuat Kaligrafi Arab. Kaligrafi yang di buka dengan kalimat "Aba Ana" ini ternyata diterbitkan oleh Kanisah Ortodoks Syria pimpinan Bambang Noorsena.

Tidak dengan itu, mereka ternyata membuat buku-buku yang menghujat agama Islam. Buku buku ini umumnya merupakan cetakan lama yang diperindah dengan membuat sampulnya menjadi indah kembali. Dengan kata lain mereka membuat barang yang sudah usang dan kadaluarsa menjadi barang bagus lagi.

Umumnya buku-buku ini merupakan buku dari group Nehemia, pimpinan Suradi Ben Abraham, Ev. Jansen Litik serta para kroco-kroconya Amos Purnama Winangun. Buku-buku ini selain sesat, juga menyesatkan. Di dalam buku "Riwayat dan Pusaka Peninggalan Nabi Muhammad" karangan Amos Purnama Winangun, dikatakan bahwa sebenarnya Khadijah beragama Kristen, Muhammad itu dikatakan sebagai pemegang ajaran Injil dan Yesus. Bayangkan, sejak kapan Muhammad menjadi pemegang ajaran Injil yang ada sekarang?.Lain Amos, Lain pula Abd. Yadi, dengan menggunakan nama Abd.; maka umat islam awam akan terkecoh dengan trik srigala berbulu domba Abd. Yadi ini. Di Dalam bukunya "Memahami Allah Tritunggal" dia memberikan statement bahwa Al Quran mengakui ketuhanan Yesus serta Trinitas.

Buku-buku ini dijual bebas di toko-toko buku Kristen di Malang, dari penelusuran kami, buku-buku ini umunya di jual dengan ahrga yang relatif murah antara Rp 6.500-12.500. Buku-buku ini juga menajdi pegangan para penginjil untuk mengkristenkan umat Islam.

Berikut ini nama-nama buku yang beredar menghujat Islam di Jawa Timur :

1. Riwayat Singkat dan Pusaka Peninggalan nabi Muhamad SAW (A. Poernama Winangun)

2. Ayat-ayat Al Quran yang Menyelamatkan (A. Poernama Winangun)

3. Isa Alaihisalam dalam Pandangan Islam (A. Poernama Winangun)

4. Al Masih: Ringkasan Kisah Nyata Nabi Isa (Dadang Sasmita)

5. Jawaban Dibalik Jeruji Besi-Penginjilan Pribadi (Abd. Al Masih)

6. Seorang Gadis Kristen Yang Mempertahankan Iman Kristianinya-Penginjilan pribadi (Ev. Jansen Litik)

7. Kedatangan Yesus (Pdt. Markus Agung)

8. Memahami dan Mengenal Allah Tritunggal (Abd. Yadi)

9 Kebenaran Tersembunyi dalam Al Quran (Anonymous)
Sepintas judul-judul diatas islami, tapi siapa sangkan judul-judul tersebut merupakan srigala berbulu domba, cerdik seperti ular, tulus seperti merpati. (Tim Fakta Malang)



VCD Penistaan Agama

Friday, September 07, 2007 10:54 AM
Beberapa bulan lalu kita dikejutkan dengan VCD penistaan agama oleh LPMI (Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia) yang berisi penodaan terhadap Al Quran. Kasus terang-terangan ini baru pertama kalinya di seluruh dunia dari zaman nabi Adam, hingga zaman Millenium ini. Bermula di Kota Batu, LPMI mengadakan Training doa. Para peserta Training ini menggunakan atribut Islam; baik itu kopyah, surban, sajadah hingga Al Quran.

Para peserta itu seperti biasanya melakukan ritual agama Kristen. Ketika acara inti dimulai, seseorang menggunakan peci putih dan surban/sarung maju kedepan (pria ini belakangan diketahua sebagai terdakwa Djoko Widodo, SH.) yang kemudian mengangkat Al Quran dan mengatakan bahwa Al Quran itu sesat. Setelah puas berkata demikian, majulah lelaki berkulit coklat tua menggunakan kopiah hitam (yang kemudian diketahui bernama Nur Iman Daniel) berkata-kata: Masjid, Mushola, Madrasah utnuk mendiskreditkan agama Islam.

Setelah kejadian ini beredar luas di koran-koran lokal maupun nasional, pihak MUI serta Polwil segera mengambila tindakan tegas untuk di bawa ke pada hukum negara (baca: Pengadilan) untuk selanjutnya di proses. AW selaku ketua penyelenggara LPMI Training Doa ini selajutnya berstatus sebagai terdakwa. Sidang di pengadilan ini di bagi 3 kasus yaitu: Ambrosius Lily, S.Th; Djoko Birowo, dkk serta Djoko Widodo, SH. Para terhukum ini divonis dengan putusan hakim 5 tahun penjara. (Aris Hardinanto, Malang)


Kristen Berjilbab Susupi Jamaah Wanita di Malang

Friday, September 07, 2007 10:51 AM
MALANG - Tms, warga Bareng Kulon, Kecamatan Klojen, Kota Malang, hingga kemarin maish berada di Mapolresta Malang. Pemuda 25 tahun yang menggunakan burqah (semacam jilbab pajang dan bercadar) dan menyusup ke Majelis Taklim di Masjid As Salam Jl Bendungan Riam, Kota Malang, itu tidak ditahan. Sebab, polisi tidak menemukan unsur yang mengarah pada tindak kejahatan.

Selain itu, permintaan untuk tinggal di mapolresta adalah permintaanya sendiri. Pasalnya, dia takut kena teror dan ancaman dari orang yang tidak bertanggung jawab.

Seperti diberitakan sebelumnya, Tms Minggu pagi kemarin ditangkap jamaah Majelis Taklim Husnul Khotimah karena dianggap telah dicurigai laki-laki yang memakai baju wanita. Benar juga, setelah burqah-nya dibuka paksa, ternyata "wanita" ber-burqah itu adalah laki-laki. Dia adalah Tms. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, Tms diserahkan pengurus jamaah pengajian ke Polresta Malang.

Lantas apa motif Tms menyusup ke majelis taklim? Saat ditemui di mapolresta, Tms mengaku semata-mata hanya faktor keingintahuan terhadap agama Islam. Tidak ada maksud melecehkan atau maksud lain. "Rasa ingin tahu saya muncul setelah mendengar ceramah dari Aa Gym," ujar Tms pendek.

Selain itu, sambung dia, sejak ditinggal bapak kandungnya sejak masih duduk di bangku SD, ia mengaku seperti tak memiliki pegangan hidup. Tms selalu mengikuti semua yang diperintahkan ibunya, salah atau salah. "Kalau menyangkut keyakinan, saya selalu bimbang," tandas Tms.

Permasalahan keluarga yang kerap menghinggapi kehidupannya juga membuat pria pendiam ini mencoba mencari pegangan hidup. Setiap kali ada kesempatan keluar rumah, dia selalu memanfaatkan untuk membaca buku tentang keyakinan. Hingga pada Februari 2006 lalu, Tms mendengarkan ceramah Aa Gym di Stadion Gajayana Malang. Dari ceramah yang didengarkan itu, Tms mengaku menemukan ketenangan dalam jiwanya. "Sejak saat itu saya sering membaca buku tentang Islam," jelasnya.

Selain membaca buku, Tms juga rutin mendatangi kegiatan keagamanan. Walau saat datang dia hanya sekadar melihat atau mendengarkan dari jauh. "Saya mendapat informasi adanya kegiatan dari media. Selain itu, saat kebetulan melintas ada kegiatan ceramah lalu saya sempatkan berhenti," tambahnya.

Mengapa dari jarak jauh? Tms mengaku takut ada teman yang mengetahuinya. "Hanya takut dan cemas saja," ujar Tms.

Karena keingintahuan yang mendalam itu, Tms lalu merencanakan sesuatu. Dengan membeli burqah di wilayah Dinoyo, Tms memantapkan niatnya untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang Islam. Dia mendatangi majelis taklim Husnul Khotimah di Masjid As Salam, Jl Bendungan Riam, Kota Malang. Sebelumnya, Tms terlebih dulu bergabri pakaian terlebih dahulu di sebuah lapangan yang tidak jauh dari lokasi majelis taklim. "Setelah menggunakan burqah, saya lalu masuk, dan melihat buku yang dipajang di depan," terang Tms.

Karena tingkah lakunya mencurigakan, jamaah perempuan lain memberanikan diri untuk menangkap penyusup itu. Betapa kagetnya jamaah perempuan ketika cadar dibuka paksa. Mereka melihat wajah seorang laki-laki dewasa di balik cadar itu. "Saya ditangkap dan diserahkan ke Polresta Malang," akunya. (Jawapos, Radar Malang)



Pendeta Edy Sapto beraksi di Madura
Friday, September 07, 2007 10:49 AM
Suku Madura menjadi target gerakan Kristenisasi. Selain bergerilya ke pelosok desa, para penginjil juga mengaku aktif berdialog dengan para ustadz pesantren. Mereka menggunakan metode perbandingan agama dan penginjilan yang menggunakan Alkitab dalam bahasa Arab. Dengan pendekatan kultural, mereka menjadikan Madura ladang pemurtadan.

Kristenisasi yang mengincar Madura memang terbilang nekat. Bagaimana tidak, orang Madura yang terkenal taat memegang Islam dan selama ini sulit ditembus gerakan salibis, tiba-tiba dikejutkan dengan fakta adanya upaya pemurtadan.

Sebuah buletin yang diterbitkan kelompok penginjil di bekasi menulis soal kegiatan misionaris yang ngebet menjadikan pulau yang terkenal dengan budaya karapan sapinya itu sebagai ladang Kristenisasi. "Doakan kepada suku Madura agar mata hati mereka terbuka dan firman Tuhan masuk dalam kehidupan mereka. Doakan para penginjil, pendeta yang sedang menyampaikan kebenaran firman Tuhan. Doakan siswa-siswi sekolah Alkitab yang diutus agar diberi kesabaran dan perlindungan...." tulis MIDRASH TALMIDDIN, sebuah buletin yang berisi informasi proyek Kristenisasi dan ajaran-ajaran Kristen tersebut.


Sampul depan edisi ke-4 tahun 2006 buletin yang diterbitkan oleh Yayasan Kaki Dian Emas Bekasi itu, memuat foto orang madura yang masih menggenakan kopiah dan sarung tengah didoakan oleh beberapa orang pendeta. Seperti halnya ritual pembaptisan, tangan seorang pendeta memegang kepala orang Madura tersebut, sambil komat-kamit mendoakan. Entah, apakah orang Madura itu sadar atau tidak.

Adalah Edhie Sapto Wedha, pendeta yang menjadi motor penggerak Kristenisasi di wilayah madura. Pria yang mengaku sebagai asli orang madura ini getol menjalankan misinya dengan berbagai cara. Edhie juga yang terlihat sedang membaptis orang madura seperti dalam sampul depan buletin MIDRASH TALMIDDIN tersebut.

Bersama penginjil lainnya, Edhie menerbitkan buletin tersebut. Dari format dan isi buletin yang banyak menggunakan tulisan berbahasa Arab, Edhie dan kawan-kawan jelas ingin mengaburkan akidah umat Islam. Selain bahasa Arab, istilah - istilah yang familiar dalam ajaran Islam juga kerap mereka gunakan. Dalam misinya, Edhie dikenal piawai menggunakan metode perbandingan agama dan pengabaran injil dalam bahasa Arab. Meski tertulis "Untuk kalangan sendiri", buletin dengan lambang Bintang David dan pohon Gorqot ini juga beredar luas di masyarakat. "Ini sduah meresahkan umat Islam," jelas Mulyadi, anggota tim FAKTA.

Dari penelusuran Tim FAKTA, para penginjil ini menjalankan misinya di wilayah Sampang, Madura. Pada beberapa foto yang ada dalam buletin tersebut terlihat jelas, mereka tak sungkan mendatangi masyarakat untuk berdialog dan menjalankan aksi "tipu-tipunya". Bahkan dalam foto itu digambarkan seseorang yang mengenakan kopiah haji terlihat seperti tak sadarkan diri dikelilingi para pendeta yang sedang mendoakan. "Para ustadz minta didoakan dan mereka dijamah Roh Kudus," tulis keterangan dalam foto tersebut.

Meski terbilang berani dan melecehkan orang Madura yang terkenal fanatik terhadap Islam, Edhie mengaku aksinya memurtadkan umat Islam di madura tanpa paksaan ."itu berdasarkan kemauan mereka sendiri. Kita tidak memaksa. Kan orang tidak boleh dipaksa dalam beragama," kilah Edhie saat dikonfirmasi sabili, sambil mengatakan bahwa Islam dan kristen sama-sama sebagai agama misionaris, cuma ada aturan yang tidak membolehkan adanya pemaksaan dalam beragama. "Siapa yang berani maksa orang Madura, Mas?" tambahnya.

Menurut Edhie, kedatangannya ke Madura bukan atas kemauannya sendiri. "Kita diundang bersama mereka. madura itu kan orangnya keras, kemudian mereka lihat Kristen itu penuh kasih, kedamaian. Mereka pilih itu," terangnya. Mengenai tudingan terhadap buletin dan gerakan pemurtadan yang dilakukannya dengan menggunakan bahasa Arab, Edhie menjelaskan, "Alkitab diterjemahkan dalam bahasa Arab oleh Waraqah bin Naufal. Itu bukan pelecehan terhadap Islam, sebab Alkitab itu ada dalam bahasa Arab. Kristen itu kan berasal dari Arab." tambahnya lagi. Meski begitu, Edhie mengaku kegiatannya di sampang sudah dihentikan, karena umat Islam disana melakukan aksi penolakan. Bahkan, dua orang pendeta yang melakukan pemurtadan di sana sempat berurusan dengan aparat hukum.

Mengenai gerakan Kristenisasi di Sampang, tokoh masyarakat Madura yang tinggal di Surabaya, KH Abdurrahman Navis, mengakui hal tersebut sempat membuat orang Madura gerah. Dengan alasan akan menawarkan bantuan kemanusiaan bagi korban konflik Sampit, para pengjinjil melakukan aksi Kristenisasi. "Kasus ini sempat masuk pengadilan, bahkan kedua orang pendetanya sudah dipenjara," jelas Kiai Navis.

Bagi Kiai Navis, tak ada ceritanya orang Madura murtad dari Islam. Kalau toh ada, menurutnya itu karena ditipu atau diiming - imingi sesuatu yang besar. "secara kultur orang Madura tidak mungkin masuk Kristen. Lebih baik mati daripada masuk Kristen. kalau ada yang maksa, bisa carok!" ucap kiai yang bersuara teduh ini dengan tegas. Menurutnya, gerakan Kristenisasi yang terjadi di Sampang itu terjadi dengan mengelabui umat Islam bahwa ajaran yang mereka sampaikan bukan Kristen, tapi Islam Ayah atau Islamnya nabi Isa. "Orang awam yang tidak ngerti bisa dikelabui soal ini." tambahnya.

Bukan kali ini saja Edhie membuat ulah. pada tahun 2002 ,pendeta ini terlibat kasus penyekapan puluhan anak yang dipekerjakan sebagai penjaga kandang babi. selain disuruh menjada kandang babi, Edhie juga berusaha memurtadkan anak-anak tersebut. Kasus ini terbongkar berkat laporan masyarakat dan aksi penggerebekan yang dilakukan umat Islam Bekasi.

Saat ini, dengan dalih membuka kursus bahasa Arab, pendeta yang sempat berurusan dengan laskat Ababil pimpinan tokoh Islam Bekasi, KH Sulaeman Zachawerus, ini berusaha memurtadkan umat Islam. Tak tanggung-tanggung, untuk mengelabui masyarakat, pendeta yang mengajar bahasa Arab itu, mengenakan baju koko khas ustadz. "Orang ini tidak kapok. Saya minta Polres Bekasi menindak tegas orang-orang itu," ujar Sulaeman Zachawerus saat diminta pendapatnya soal kembali berkasinya pendeta Edhie dan kawan-kawan.

Saat diminta konfirmasinya soal kursus bahasa Arab itu, Edhie berlepas tangan. " Itu bergerak sendiri. Bukan di luar koordinasi saya. Orangnya sudah ada di Bandung, saya juga kehilangan kontak," ujar lelaki yang tinggal di bilangan Jaka Mulya, Bekasi ini, seolah tak bersalah.

Umat Islam Bekasi meminta aparat penegak hukum bertindak tegas terhadap para perusak aidah kaum Muslimin. Jika aparat lembek, bukan tidak mungkin, seperti kata Sulaeman Zachawerus, "Umat Islam akan bikin perhitungan sendiri!" (Tim Fakta Surabaya)




Kristenisasi di desa Pait, Kasembon Malang
Friday, September 07, 2007 10:48 AM
Geliat kaum Salibis memurtadkan umat Islam di Tanah Air tak pernah berhenti. Berbagai cara ditempuh, termasuk mengirim mahasiswa teologi di desa mayoritas Muslim dengan dalih Kuliah Kerja Nyata. Di Malang, sebuah desa menjadi target Kristenisasi.

Malang, sebuah kota kecil di Jawa Timur yang terkenal dengan udara dingin dan buah apelnya, juga termasuk kegiatan gerilyawan Salib. Bahkan kota Malang sudah menjadi basis pengedaran misionaris. Hla ini diperkuat dengan banyaknya gereja dan sekolah, baik legal maupun ilegal.

Kini, di Malang, Kristenisasi juga mengincar para peternak. Seperti yang terjadi di desa Pait, kecamatan Kesemben, kabupaten malang, sebuah desa di perbukitan yang berbatasan dengan kabupaten Kediri. Kasus ini tergolong unik. Seorang pendeta yang memiliki ternak sering meminjamkan sapi betina dan pejantan kepada warga yang mau ikut sekolah minggu. Ketika sapi tersebut beranak, maka anak hewan itu menjadi hak warga yang memeliharanya, berapapun jumlahnya. Lain waktu, sang Pendeta menawarkan jenis sapi perah untuk dimanfaatkan susunya. Biasanya, ia memberikan dua ekor sapi betina siap perah, lalu hasilnya dijual ke Koperasi Unit Desa (KUD).

salah seorang yang giat melakukan Kristenisasi ala ternak sapi ini adalah Pendeta Yohanes Sukirno. Selain melakukan Kristenisasi dnegan model tersebut, Pendeta Sukirno juga kerap menjadikan rumahnya sebagai tempat kebaktian. Ia juga tak segan - segan "mengimpor" jemaat untuk meramaikan kebaktian. "Saya dan Bapak pindahan dari Madiun, dan sudah sekitar lima tahunan disini, puji Tuhan selama ini kami ngga ada masalah dengan warga," ujar Ambarwati, istri Pendeta Sukirno saat ditemui SABILI di rumahnya yang telah "disulap" menjadi gereja.

Untuk menjalankan misinya, Sukirno dibantu oleh Pendeta Richard, seorang misionaris muda alumnus sebuah sekolah teologi di Karanglo, Malang. Pendeta mudah dari Ambon ini, menurut Ambarwati, juga aktif sebagai gembala sebuah gereja di Kandangan, Kediri. "Saya senang disini. Selain refreshing, saya juga belajar misi di daerah terpencil pada Pak Sukirno," aku Pendeta Richard saat ditanya tentang kesannya ketika menebar misi di desa ini.

Selain mendekati para peternak, kedua misionaris di perbukitan ini juga mengincar jalur pendidikan. Seorang penginjil yang menurut warga dulunya adalah Muslim, giat menebar misi di Sekolah Dasar Pait I. Guru tersebut sering menawarkan bantuan bimbingan belajar privat komputer dan bahasa inggris gratis kepada para siswa. Hingga artikel ini ditulis, sudah dua siswa yang dimurtadkan.

Dua kasus diatas terungkap dari investigasi Tim FAKTA Malang atas laporan seorang mahasiswa yang sedang melakukan KKN di daerah tersebut.

Tahun lalu, kesalahpahaman yang hampir berujung bentrok juga pernah terjadi di desa ini. Bermula dari KKN mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang yang sudah diamanahkan untuk menggarap bidang sosial, agama dan pendidikan. Di saat yang sama, mahasiswa KKN dari Universitas Katolik Widya Karya (UKWK), Malang. Mereka mengambil alih beberapa bidang yang sudah diambil oleh Mahasiswa Muhammadiyah. Kasus ini meruncing saat seorang dari mereka, mensosialisasikan program mereka di Madrasah Ibtidaiyah serta menghapus lafadz Bismillah di papan tulis salah satu kelas.

"Alhamdulillah, kasus ini bisa selesai dengan damai," ujar Suyit, salah seorang pengurus Yayasan Madrasah tersebut. Sejak itu, pihak UKWK beralih pada bidang pertanian dengan konsentrasi irigasi dan pembibitan.

Meski pihak UKWK sudah meminta maaf atas peristiwa tersebut, umat Islam masih menyimpan kewaspadaan. "Ngga cukup dengan kata ma'af, Mas. Suatu saat mereka pasti akan mengulangi jika ada celah," ujar Noer salah seorang ibu yang resah dengan kehadiran UKWK.

Kekhawatiran Noer pun jadi kenyataan. Setelah kasus di Madrasah tersebut, mahasiswa UKWK pun aktif mendatangi rumah warga untuk menawarkan program dasa wisma dan bimbingan belajar untuk putra-putri warga. Namun, anehnya aparat desa seakan tak peduli dengan apa yang terjadi. "Ngga ada apa - apa kok Mas, mereka cuman pingin kenal warga saja," ujar pak Modin, aparat desa setempat.

Ironi, memang. Di satu sisi aparat seakan tek peduli dengan bahaya kristenisasi yang mengancam kaum Muslimin. Di sisi lain, warga mulai resah dengan kehadiran mereka. Apalagi jika Kristenisasi itu semakin menggunakan cara-cara yang halus dan penuh tipu daya. "Intinya begini, saya ingin mahasiswa Muslim yang KKN disini itu membantu dakwah, sekaligus saya juga sudah melapor ke MUI kecamatan, ke Muhammadiyah ataupun ibu-ibu Fatayat NU. Tapi kok ngga ada respon, saya jadi heran," ujar Noer yang juga aktif menggerakan pengajian ibu - ibu.

Kegundahan Noer seharusnya disikapi oleh aparat dengan tegas. Bagaimana tidak, sekitar dua bulan setelah mahasiswa UKWK pergi, kini di desa Pait didatangi Mahasiswa Institut Injil Indonesia dari kota Batu, Malang. Kalau ini dibiarkan, akidah umat Islam di desa Pait terus terancam. (Kukuh Santoso, Fakta Malang)



Visi dan Misi Tim FAKTA

Friday, September 07, 2007 10:47 AM
Visi

Para pendiri dan pengurus FAKTA menyadari dan terpanggil untuk membentangi akidah umat Islam dari bahaya pemurtadan dan menegakkan dakwah baik internal maupun eksternal kepada Ahli Kitab kepada kalimat Tauhid dengan hikmah, pelajaran yang baik (mau'izhah hasanah), dialog/debat yang baik (mujadalah allatii hiya ahsan) sesuai dengan perintah Allah dalam Al-Quran:

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yanglebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk" (Qs. An-Nahl 125).

"Katakanlah: Hai Ahli Kitab, marilah berpegang kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: Saksikanlah, bahwa kai dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri" (Qs. Aali 'Imraan 64).

"Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim diantara mereka, dan katakanlah: Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada kami danyang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu; dan kami hanya kepanya-Nya berserah diri" (Qs. Al 'Ankabut 46).


Misi
Dengan hanya mengharapkan ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala semata, FAKTA memiliki misi utama:

1. Menjadi pusat informasi dan "crisis center" bagi para korban pemurtadan
2. Menjadi forum bersama umat Islam dalam mencegah upaya-upaya pemurtadan dan pendangkalan di Indonesia.
3. Memberikan imunisasi akidah umat dari bahaya pemurtadan.
4. menyampaikan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar (dinul haq) kepada masyarakat muslim dan non muslim melalui beragam bentuk taklim, diskusi, dialog agama, pelatihan dan penerbitan.

0 komentar:

Poskan Komentar