Pages

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 April 2011

Hari Kiamat

Hari Kiamat
Yaumul Hisab
Yaumul Qiyamah
Yaumul Ba'ts
Yaumul Akhirat
Yaumul Akhir

Hari Kiamat

Hari akhir adalah hari Kiamat, di mana seluruh manusia dibangkitkan pada hari itu untuk dihisab da dibalas. Hari itu disebut hari Akhir, karena tidak ada hari lagi setelahnya. Pada hari itulah penghuni Surga dan penghuni Neraka masing-masing menetap di tempatnya.

Iman kepada hari Akhir mengandung tiga unsur. (Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin)

[1]. Mengimani ba'ts (kebangkitan), yaitu menghidupkan kembali orang-orang yang sudah mati ketika tiupan sangkakala yang kedua kali. Pada waktu itu semua manusia bangkit untuk menghadap Rabb alam semesta dengan tidak beralas kaki, bertelanjang, dan tidak disunat.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.

"Artinya : Sebagaimana Kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah Kami akan mengulanginya. Itulah suatu janji yang pasti Kami tepati. Sesungguhnya Kamilah yang akan melaksanakannya".[Al-Anbiyaa : 104]


[2]. Mengimani hisab (perhitungan) dan jaza' (pembalasan) dengan meyakini bahwa seluruh perbuatan manusia akan dihisab dan dibalas. Hal ini dipaparkan dengan jelas di dalam Al-Qur'an, Sunnah dan ijma (kesepakatan) umat Islam.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Artinya : Sesungguhnya kepada Kamilah kembali mereka, kemudian sesungguhnya kewajiban Kamilah menghisab mereka". [Al-Ghasyiyah : 25-26]

"Artinya : Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya ; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi balasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya (dirugikan)". [Al-An'am : 160]

[3]. Mengimani Surga dan Neraka sebagai tempat manusia yang abadi. Surga tempat kenikmatan yang disediakan Allah untuk orang-orang mukmin yang bertaqwa, yang mengimani apa-apa yang harus diimani, yang taat kepada Allah dan rasulNya, dan kepada orang-orang yang ikhlas.

Di dalam Surga terdapat berbagai kenikmatan yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, serta tidak terlintas dalam benak manusia.

"Artinya : Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Rabb mereka ialah surga Adn yang mengalir dibawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Rabbnya". [Al-Bayyinnah : 7-8]

Tanda-tanda kiamat adalah alamat kiamat yang menunjukkan akan terjadinya kiamat tersebut. Dan tanda-tanda kiamat ada dua: tanda-tanda kiamat besar dan tanda-tanda kiamat kecil.

Tanda kiamat kecil adalah tanda yang datang sebelum kiamat dengan waktu yang relatif lama, dan kejadiannya biasa, seperti dicabutnya ilmu, dominannya kebodohan, minum khamr, berlomba-lomba dalam membangun, dan lain-lain. Terkadang sebagiannya muncul menyertai tanda kiamat besar atau bahkan sesudahnya.

Tanda kiamat besar adalah perkara yang besar yang muncul mendekati kiamat yang kemunculannya tidak biasa terjadi, seperti muncul Dajjal, Nabi Isa a.s., Ya’juj dan Ma’juj, terbit matahari dari Barat, dan lain-lain.

Para ulama berbeda pendapat tentang permulaan yang muncul dari tanda kiamat besar. Tetapi Ibnu Hajar berkata, “Yang kuat dari sejumlah berita tanda-tanda kiamat, bahwa keluarnya Dajjal adalah awal dari tanda-tanda kiamat besar, dengan terjadinya perubahan secara menyeluruh di muka bumi. Dan diakhiri dengan wafatnya Isa a.s. Sedangkan terbitnya matahari dari Barat adalah awal dari tanda-tanda kiamat besar yang mengakibatkan perubahan kondisi langit. Dan berakhir dengan terjadinya kiamat.” Ibnu Hajar melanjutkan, ”Hikmah dari kejadian ini bahwa ketika terbit matahari dari barat, maka tertutuplah pintu taubat.” (Fathul Bari)

As-Sunnah, Wahyu Kedua Setelah Al-Qur`an



Pengertian As-Sunnah

Yang dimaksud As-Sunnah di sini adalah Sunnah Nabi, yaitu segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammad berupa perkataan, perbuatan, atau persetujuannya (terhadap perkataan atau perbuatan para sahabatnya) yang ditujukan sebagai syari’at bagi umat ini. Termasuk didalamnya apa saja yang hukumnya wajib dan sunnah sebagaimana yang menjadi pengertian umum menurut ahli hadits. Juga ‘segala apa yang dianjurkan yang tidak sampai pada derajat wajib’ yang menjadi istilah ahli fikih (Lihat Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fil Aqaid wa al Ahkam karya As-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hal. 11).

As-Sunnah atau Al-Hadits merupakan wahyu kedua setelah Al-Qur’an sebagaimana disebutkan dalam sabda Rasulullah :
“Ketahuilah, sesungguhnya aku diberi Al-Qur`an dan (sesuatu) yang serupa dengannya.” -yakni As-Sunnah-, (H.R. Abu Dawud no.4604 dan yang lainnya dengan sanad yang shahih, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam al-Musnad IV/130)

Para ulama juga menafsirkan firman Allah :
“…dan supaya mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah” (Al BAqarah ayat 129)

Al-Hikmah dalam ayat tersebut adalah As-Sunnah seperti diterangkan oleh Imam As-Syafi`i, “Setiap kata al-hikmah dalam Al-Qur`an yang dimaksud adalah As-Sunnah.” Demikian pula yang ditafsirkan oleh para ulama yang lain. ( Al-Madkhal Li Dirasah Al Aqidah Al-Islamiyah hal. 24)

As-Sunnah Terjaga Sampai Hari Kiamat
Diantara pengetahuan yang sangat penting, namun banyak orang melalaikannya, yaitu bahwa As-Sunnah termasuk dalam kata ‘Adz-Dzikr’ yang termaktub dalam firman Allah Al-Qur`an surat al-Hijr ayat 9, yang terjaga dari kepunahan dan ketercampuran dengan selainnya, sehingga dapat dibedakan mana yang benar-benar As-Sunnah dan mana yang bukan. Tidak seperti yang di sangka oleh sebagian kelompok sesat, seperti Qadianiyah (Kelompok pengikut Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiani yang mengaku sebagai nabi, yang muncul di negeri India pada masa penjajahan Inggris) dan Qur`aniyun (Kelompok yang mengingkari As-Sunnah, dan hanya berpegang pada Al-Qur’an), yang hanya mengimani (meyakini) Al-Qur`an namun menolak As-Sunnah. Mereka beranggapan salah (dari sini nampak sekali kebodohan mereka akan Al Qur’an, seandainya mereka benar-benar mengimani Al Qur’an sudah pasti mereka akan mengimani As-Sunnah, karena betapa banyak ayat Al Qur’an yang memerintahkan untuk mentaati Rasulullah yang sudah barang tentu menunjukkan perintah untuk mengikuti As-Sunnah) tatkala mengatakan bahwa As-Sunnah telah tercampur dengan kedustaan manusia; tidak lagi bisa dibedakan mana yang benar-benar As-Sunnah dan mana yang bukan. Sehingga, mereka menyangka, setelah wafatnya Rasulullah , kaum muslimin tidak mungkin lagi mengambil faedah dan merujuk kepada as-Sunnah.( Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fi Al Aqaid wal Ahkam hal. 16)

Dalil-dalil yang Menunjukkan Terpeliharanya As-Sunnah:

Pertama:
Firman Allah:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.” (Q.S. Al-Hijr:9)
Adz-Dzikr dalam ayat ini mencakup Al-Qur’an dan –bila diteliti dengan cermat- mencakup pula As-Sunnah.

Sangat jelas dan tidak diragukan lagi bahwa seluruh sabda Rasulullah yang berkaitan dengan agama adalah wahyu dari Allah sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:
“Dan tiadalah yang diucapkannya (Muhammad) itu menurut kemauan hawa nafsunya.” (Q.S. An-Najm:3)
Tidak ada perselisihan sedikit pun di kalangan para ahli bahasa atau ahli syariat bahwa setiap wahyu yang diturunkan oleh Allah merupakan Adz-Dzikr. Dengan demikian, sudah pasti bahwa yang namanya wahyu seluruhnya berada dalam penjagaan Allah; dan termasuk di dalamnya As-Sunnah.

Segala apa yang telah dijamin oleh Allah untuk dijaga, tidak akan punah dan tidak akan terjadi penyelewengan sedikitpun. Bila ada sedikit saja penyelewengan, niscaya akan dijelaskan kebatilan penyelewengan tersebut sebagai konsekuensi dari penjagaan Allah. Karena seandainya penyelewengan itu terjadi sementara tidak ada penjelasan akan kebatilannya, hal itu menunjukkan ketidak akuratan firman Allah yang telah menyebutkan jaminan penjagaan. Tentu saja yang seperti ini tidak akan terbetik sedikitpun pada benak seorang muslim yang berakal sehat.

Jadi, kesimpulannya adalah bahwa agama yang dibawa oleh Muhammad ini pasti terjaga. Allah sendirilah yang bertanggung jawab menjaganya; dan itu akan terus berlangsung hingga akhir kehidupan dunia ini ( Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fi al Aqaid wa Al Ahkam, karya Muhammad Nashiruddin Al-Albani hal. 16-17)

Kedua:
Allah menjadikan Muhammad sebagai penutup para nabi dan rasul, serta menjadikan syari’at yang dibawanya sebagai syari’at penutup. Allah memerintahkan kepada seluruh manusia untuk beriman dan mengikuti syari’at yang dibawa oleh Muhammad sampai Hari Kiamat, yang hal ini secara otomatis menghapus seluruh syari’at selainnya. Dan adanya perintah Allah untuk menyampaikannya kepada seluruh manusia, menjadikan syariat agama Muhammad tetap abadi dan terjaga. Adalah suatu kemustahilan, Allah membebani hamba-hamba-Nya untuk mengikuti sebuah syari’at yang bisa punah. Sudah kita maklumi bahwa dua sumber utama syari’at Islam adalah Al-Qur`an dan As-Sunnah. Maka bila Al-Qur’an telah dijamin keabadiannya, tentu As-Sunnah pun demikian ( Al-Hadits Hujjatun bi Nafsihi fi al Aqaid wa Al Ahkam, karya Muhammad Nashiruddin Al-Albani hal. 19-20)

Ketiga:
Seorang yang memperhatikan perjalanan umat Islam, niscaya ia akan menemukan bukti adanya penjagaan As-Sunnah. Diantaranya sebagai berikut (Al Madkhal li Ad Dirasah Al Aqidah Al Islamiyah, hal. 25):

(a) Perintah Nabi kepada para sahabatnya agar menjalankan As-Sunnah.

(b) Semangat para sahabat dalam menyampaikan As-Sunnah.

(c) Semangat para ulama di setiap zaman dalam mengumpulkan As-Sunnah dan menelitinya sebelum mereka menerimanya.

(d) Penelitian para ulama terhadap para periwayat As-Sunnah.

(e) Dibukukannya Ilmu Al Jarh wa At Ta’dil.( Ilmu yang membahas penilaian para ahli hadits terhadap para periwayat hadits, baik berkaitan dengan pujian maupun celaan, Pen.)

(f) Dikumpulkannya hadits–hadits yang cacat, lalu dibahas sebab-sebab cacatnya.

(g) Pembukuan hadits-hadits dan pemisahan antara yang diterima dan yang ditolak.

(h) Pembukuan biografi para periwayat hadits secara lengkap.

Wajib merujuk kepada As-Sunnah dan haram menyelisihinya
Pembaca yang budiman, sudah menjadi kesepakatan seluruh kaum muslimin pada generasi awal, bahwa As-Sunnah merupakan sumber kedua dalam syari’at Islam di semua sisi kehidupan manusia, baik dalam perkara ghaib yang berupa aqidah dan keyakinan, maupun dalam urusan hukum, politik, pendidikan dan lainnya. Tidak boleh seorang pun melawan As-Sunnah dengan pendapat, ijtihad maupun qiyas. Imam Syafi’i rahimahullah di akhir kitabnya, Ar-Risalah berkata, “Tidak halal menggunakan qiyas tatkala ada hadits (shahih).” Kaidah Ushul menyatakan, “Apabila ada hadits (shahih) maka gugurlah pendapat”, dan juga kaidah “Tidak ada ijtihad apabila ada nash yang (shahih)”. Dan perkataan-perkataan di atas jelas bersandar kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Perintah Al-Qur`an agar berhukum dengan As-Sunnah
Di dalam Al-Qur’an banyak ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk berhukum dengan As-Sunnah, diantaranya:

1. Firman Allah :
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki maupun perempuan mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya menetapkan suatu ketetapan dalam urusan mereka, mereka memilih pilihan lain. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh, dia telah nyata-nyata sesat.” (Q.S. Al Ahzab: 36)

2. Firman Allah :
“Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. 49:1)

3. Firman Allah :
“Katakanlah, ‘Taatilah Allah dan Rasul-Nya! Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Q.S. Ali Imran: 32)

4. Firman Allah :
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya; janganlah kamu berbantah-bantahan, karena akan menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al Anfal: 46)

5. Firman Allah :
“Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang ia kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya dan mendapatkan siksa yang menghinakan.” (Q.S. An Nisa’: 13-14)

Hadits-hadits yang memerintahkan agar mengikuti Nabi dalam segala hal diantaranya:

1. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:
“Setiap umatku akan masuk Surga, kecuali orang yang engan,” Para sahabat bertanya, ‘Ya Rasulallah, siapakah orang yang enggan itu?’ Rasulullah menjawab, “Barangsiapa mentaatiku akan masuk Surga dan barangsiapa yang mendurhakaiku dialah yang enggan”. (HR.Bukhari dalam kitab al-I’tisham) (Hadits no. 6851).

2. Abu Rafi’ mengatakan bahwa Rasulullah bersabda :
“Sungguh, akan aku dapati salah seorang dari kalian bertelekan di atas sofanya, yang apabila sampai kepadanya hal-hal yang aku perintahkan atau aku larang dia berkata, ‘Saya tidak tahu. Apa yang ada dalam Al-Qur`an itulah yang akan kami ikuti”, (HR Imam Ahmad VI/8 , Abu Dawud (no. 4605), Tirmidzi (no. 2663), Ibnu Majah (no. 12), At-Thahawi IV/209).

3. Abu Hurairah mengatakan bahwa Rasulullah bersabda:
“Aku tinggalkan dua perkara untuk kalian. Selama kalian berpegang teguh dengan keduanya tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Dan tidak akan terpisah keduanya sampai keduanya mendatangiku di haudh (Sebuah telaga di surga, Pen.).” (HR. Imam Malik secara mursal (Tidak menyebutkan perawi sahabat dalam sanad) Al-Hakim secara musnad (Sanadnya bersambung dan sampai kepada Rasulullah ) – dan ia menshahihkannya-) Imam Malik dalam al-Muwaththa’ (no. 1594), dan Al-HakimAl Hakim dalam al-Mustadrak (I/172).

Kesimpulan :
1. Tidak ada perbedaan antara hukum Allah dan hukum Rasul-Nya, sehingga tidak diperbolehkan kaum muslimin menyelisihi salah satu dari keduanya. Durhaka kepada Rasulullah berarti durhaka pula kepada Allah, dan hal itu merupakan kesesatan yang nyata.
2. Larangan mendahului (lancang) terhadap hukum Rasulullah sebagaimana kerasnya larangan mendahului (lancang) terhadap hukum Allah.
3. Sikap berpaling dari mentaati Rasulullah merupakan kebiasaan orang-orang kafir.
4. Sikap rela/ridha terhadap perselisihan, -dengan tidak mau mengembalikan penyelesaiannya kepada As-Sunnah- merupakan salah satu sebab utama yang meruntuhkan semangat juang kaum muslimin, dan memusnahkan daya kekuatan mereka.
5. Taat kepada Nabi merupakan sebab yang memasukkan seseorang ke dalam Surga; sedangkan durhaka dan melanggar batasan-batasan (hukum) yang ditetapkan oleh Nabi merupakan sebab yang memasukkan seseorang kedalam Neraka dan memperoleh adzab yang menghinakan.
6. Sesungguhnya Al-Qur`an membutuhkan As-Sunnah (karena ia sebagai penjelas Al-Qur’an); bahkan As-Sunnah itu sama seperti Al-Qur`an dari sisi wajib ditaati dan diikuti. Barangsiapa tidak menjadikannya sebagai sumber hukum berarti telah menyimpang dari tuntunan Rasulullah
7. Berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah akan menjaga kita dari penyelewengan dan kesesatan. Karena, hukum-hukum yang ada di dalamnya berlaku sampai hari kiamat. Maka tidak boleh membedakan keduanya.

Referensi:
1. Al-Hadits Hujjatun bi nafsihi fil Aqaid wa Al Ahkam, karya as-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, cet. III/1400 H, Ad-Dar As-Salafiyah, Kuwait.
2. Al-Madkhal li Ad Dirasah Al Aqidah Al Islamiyah ‘ala Madzhab Ahli As Sunnah, karya Dr. Ibrahim bin Muhammad Al-Buraikan, penerbit Dar As-Sunnah, cet. III.

Wallahu A’lam .

Diambil dari Majalah Fatawa
Selengkapnya

Sabtu, 26 Februari 2011

Kata dan Revolusi

Pilihan kita atas sebuah kata akan berpengaruh besar dalam membangun kesadaran, membentuk mind-set, sehingga akhirnya menentukan nasib hidup. Tindakan dalam menghadapi masalah, erat kaitannya dengan ekspresi kita terhadap masalah itu, yang terartikulasi dalam formulasi kata yang kita pilih. Itulah tesis Karen Lebacqz, seorang aktivis gender Amerika. Kata yang kita pilih, demikian Karen, akan menentukan langkah kita untuk berubah, atau sebaliknya: kita tak beranjak sejengkal pun.

Karen mencontohkan, seorang perempuan akan diam saja, meratap, atau cukup menyesali diri, ketika merasa bahwa dirinya sedang depresi atau stres. Namun jika dirinya merasa ditindas, ia mungkin akan beranjak bangkit, melawan, mencanangkan perubahan (revolusi) bagi nasibnya. Jadi, muaranya pada soal pilihan kata: depresi atau ditindas?

Ada seorang istri yang tetap sabar meladeni suaminya yang gemar melakukan KDRT. Kalau kondisi ini diamini, tak akan ada perubahan dalam kehidupan rumahtangganya. Entah sampai kapan. Bukankah sabar tiada batasnya? Di sisi lain, jika si suami juga mengamini hal itu, ia akan emoh berubah. Ia malah berpikir, kelakuannya justru untuk menguji kesabaran istri.

Keadaan akan berubah jika istri menyadari bahwa yang ia rasakan adalah penindasan, yang tak ada hubungannya dengan sabar atau tabah. Sejurus kemudian ia akan mengambil tindakan yang dirasa efektif (mengubah keadaan): melawan, atau menuntut secara hukum. Sebaliknya, jika kesadaran ini menghinggapi suami, maka dia akan segera mengakui bahwa kelakuannya selama ini adalah kezaliman, dan karenanya, demi fitrah manusianya, dia akan mengubah perilakunya.

Jika ditarik ke ranah politik, tesis Karen ini menemukan titik singgungnya. Fase atau momentum perubahan di dunia politik, misalnya, bisa jadi ditentukan oleh pilihan kata, baik oleh penyelenggara negara, rakyat, dst. Dalam konteks ini, kata tak ubahnya menjadi “dunia pandang” (world-view) yang mendasari sikap dan perilaku politik.

Kenapa, misalnya, pemimpin mengabaikan rakyat? Bukankah mereka diangkat untuk melayani rakyat? Dari sudut pandang rakyat, memang idealnya seperti itu, bahwa rakyat memilih pemimpin demi mendelegasikan amanat kedaulatan, yang dengan itu mereka akan dihampirkan pada kesejahteraan. Masalahnya, begitu menduduki kursi kepemimpinan (setelah dipilih), yang bercokol dalam benak si pemimpin terpilih bukan lagi menjadi pelayan atau pengayom publik, melainkan menjadi penguasa. Penguasa itu raja, yang bisa bertindak seenaknya, demi kepentingan pribadi dan kelompoknya, jauh dari kepentingan rakyat. Jadi, muaranya pada pilihan kata: pengayom, pelindung, ataukah penguasa.

Maka wajar, jika suatu saat rakyat akhirnya muak dengan pemimpin yang sudah tidak amanah, yang bukan lagi sebagai pengayom dan pelindung, melainkan penguasa yang justru menzalimi rakyatnya. Itulah yang tengah terjadi hari-hari ini di Afrika dan Timteng. Setelah gerakan rakyat berhasil menggulingkan Ben Ali dan Tunisia serta Mubarak di Mesir, kini Tunisiasi melanda Libya, Yaman, Bahrain, dan Yordania, dengan aneka tuntutan yang sama: ganti pemimpin, amandemen konstitusi!

Yang terjadi di negeri-negeri berpenduduk mayoritas Muslim itu sepertinya tidak jauh-jauh amat dari tesis Karen, yakni soal pilihan kata, yang kemudian membentuk mind-set. Selama berpuluh tahun rakyat di negeri-negeri itu dijangkiti kemiskinan, pengangguran, kelaparan, pengekangan kebebasan, sementara kaum penguasanya korups dan bermoral bejat. Tetapi, ironisnya, rakyat tidak mau bergerak melakukan perubahan. Mengapa? Bisa jadi mereka berpikir, bahwa krisis yang menimpa mereka adalah kelumrahan alamiah, takdir Tuhan. Sehingga, sebagai orang beragama (mayoritas Muslim), mereka mengedepankan sikap sabar dan tawakal, sembari berharap datangnya fadhlun ilahi, anugerah Tuhan (mukjizat dan pertolongan). Konon, Tuhan akan menjamin rizki hamba-hamba-Nya yang sabar dan tawakal.

Namun demikian, matahari kesadaran itu akhirnya merekah. Mereka tersadar, bahwa kelumrahan dan takdir ternyata bukan kata yang tepat untuk melihat ironisme hidup yang menimpa mereka. Yang lebih trpat adalah penzaliman luar biasa, sebagai akibat dari manajemen dan sistem pengelolaan negara yang amburadul, karena pemimpin dan aparaturnya tidak becus, korups, dan tunamoral. Karenanya, sikap sabar dan tawakal tidak layak untuk dikedepankan lagi, sebab itu tak akan mengubah keadaan. Tak perlu lagi berlama-lama menunggu fadhlun ilahi (anugerah Tuhan). Yang dibutuhkan adalah kasbun insani, usaha manusia secara nyata, gerakan riil, supaya perubahan bisa cepat terwujud. Yang dibutuhkan adalah revolusi.

Wal alhir, memang benar sabda Nabi Saw: Inna fil-kalami la-sihran (sesungguhnya dalam kata-kata mengandung sihir). Wallahu a’lam.(*)


Oleh: Sabrur R Soenardi, MSI, alumnus MWI 1994, Syariah-PM 2001, dan S2 Filsafat Islam 2007, UIN Sunan Kalijaga
Selengkapnya

Rabu, 23 Februari 2011

About Wasilah

Analisis Hadis Tawassul Malik Ad Daar

Penulis: J Algar
Muqaddimah

Perkara tawasul sudah menjadi hal kontroversial sejak dulu. Dari yang mengharamkannya secara mutlak yaitu para salafiyun sampai kepada yang membolehkannya secara mutlak yaitu sebagian besar ahlussunnah. Kedua belah pihak memiliki dalil masing-masing dan tulisan kali ini ditujukan untuk menganalisis sebagian dalil yang sering diributkan oleh kedua belah pihak. Sebelumnya saya selalu mengingatkan kepada kita semua bahwa apapun kesimpulan yang dicapai hendaknya disikapi dengan wajar. Perbedaan ada untuk diterima dan disikapi dengan baik. Berbedalah dengan cara yang lurus.

Salah satu hadis yang dijadikan dalil tawasul adalah Hadis Malik Ad Daar . Hadis ini menceritakan kisah seorang laki-laki di zaman pemerintahan Umar yang sedang mengalami kemarau berkepanjangan. Orang tersebut datang ke makam Rasulullah SAW dan meminta agar Rasulullah SAW memohon hujan kepada Allah SWT. Kemudian orang tersebut bermimpi bertemu Rasulullah SAW yang mengabarkan bahwa hujan akan diturunkan.

Salafi menolak hadis ini dengan mengatakan kalau hadis Malik Ad Daar dhaif. Syaikh Al Albani dalam kitabnya tentang Tawasul telah membahas hadis tersebut. Beliau menampilkan berbagai illatnya dan pada akhirnya mendhaifkan hadis Malik Ad Daar. Risalah Syaikh Al Albani ternyata mengundang kritikan sengit dari sebagian ulama yang membolehkan tawasul diantaranya Syaikh Abdullah bin Shiddiq Al Ghumari dan Syaikh Mahmud Sa’id Mamduh. Mereka membantah argumen-argumen Syaikh Al Albani dalam membahas hadis-hadis tawasul termasuk hadis Malik Ad Daar. Setelah mempelajari dengan seksama, kami akhirnya berpandangan bahwa dalil yang membolehkan tawasul lebih kuat dibandingkan dengan dalil yang mengharamkannya. Mengenai hadis Malik Ad Daar yang didhaifkan oleh para salafi maka kami katakan bahwa Salafi yang dalam hal ini dipimpin oleh Syaikh Al Albani telah melakukan kekeliruan. Hadis Malik Ad Daar adalah hadis yang shahih sesuai dengan kaidah Ulumul hadis.

Hadis Malik Ad Daar Dalam Kitab Hadis


Hadis Malik Ad Daar diriwayatkan dalam kitab Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 12/31 Kitab Fadhail bab Fadhail Umar bin Khattab RA hadis no 31997

حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ ، عَنِ الأَعْمَشِ ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ ، عَنْ مَالِكِ الدَّارِ ، قَالَ : وَكَانَ خَازِنَ عُمَرَ عَلَى الطَّعَامِ ، قَالَ : أَصَابَ النَّاسَ قَحْطٌ فِي زَمَنِ عُمَرَ , فَجَاءَ رَجُلٌ إلَى قَبْرِ النَّبِيِّ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللهِ , اسْتَسْقِ لاُِمَّتِك فَإِنَّهُمْ قَدْ هَلَكُوا , فَأَتَى الرَّجُلَ فِي الْمَنَامِ فَقِيلَ لَهُ : ائْتِ عُمَرَ فَأَقْرِئْهُ السَّلاَمَ , وَأَخْبِرْهُ أَنَّكُمْ مُسْتَقِيمُونَ وَقُلْ لَهُ : عَلَيْك الْكَيْسُ , عَلَيْك الْكَيْسُ , فَأَتَى عُمَرَ فَأَخْبَرَهُ فَبَكَى عُمَرُ ، ثُمَّ قَالَ : يَا رَبِّ لاَ آلُو إلاَّ مَا عَجَزْت ، عَنْهُ.

Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari ‘Amasy dari Abi Shalih dari Malik Ad Daar dan ia seorang bendahara gudang makanan pada pemerintahan Umar. Ia berkata “Orang-orang mengalami kemarau panjang saat pemerintahan Umar. Kemudian seorang laki-laki datang ke makam Nabi SAW dan berkata “Ya Rasulullah SAW mintakanlah hujan untuk umatmu karena mereka telah binasa”. Kemudian orang tersebut mimpi bertemu Rasulullah SAW dan dikatakan kepadanya “datanglah kepada Umar dan ucapkan salam untuknya beritahukan kepadanya mereka semua akan diturunkan hujan. Katakanlah kepadanya “bersikaplah bijaksana, bersikaplah bijaksana”. Maka laki-laki tersebut menemui Umar dan menceritakan kepadanya akan hal itu. Kemudian Umar berkata “Ya Tuhanku aku tidak melalaikan urusan umat ini kecuali apa yang aku tidak mampu melakukannya”.

Hadis Malik Ad Daar ini juga diriwayatkan oleh Al Hafiz Abu Bakar Baihaqi dalam Dalail An Nubuwah 7/47 hadis no 2974 dan Al Khalili dalam kitabnya Al Irsyad Fi Ma’rifah Ulama Al Hadits 1/313. Keduanya dengan sanad masing-masing yang bermuara pada ‘Amasy dari Abu Shalih dari Malik Ad Daar.

Cacat Hadis Malik Ad Daar Menurut Salafy.


Para salafiyun diantaranya Syaikh Al Albani telah mendhaifkan Hadis Malik Ad Daar. Mereka para pengikut salafy berlomba-lomba untuk mendukung Syaikh Al Albani dari kritikan para Ulama ahlussunnah seperti Syaikh Al Ghumari dan Syaikh Mamduh. Di antara cacat hadis Malik Ad Daar yang dipertahankan oleh para salafiyun tersebut adalah

An’anah ‘Amasy dari Abu Shalih dimana ‘Amasy adalah seorang mudallis.
Abu Shalih Dzakwan bin As Samman tidak diketahui mendengar hadis dari Malik Ad Daar dikarenakan tidak diketahui tahun wafatnya Malik Ad Daar. Sehingga tidak bisa dipastikan apakah Malik Ad Daar bertemu dengan Abu Shalih. Ditambah lagi Malik adalah seorang yang majhul.
Hadis tersebut mubham karena orang yang datang ke makam Nabi SAW tersebut tidak disebutkan namanya. Salafy mengatakan cacat hadis tersebut bahwasanya kita tidak bisa mengetahui apakah Malik Ad-Daar melihat peristiwa tersebut atau ia hanya mengambilnya dari orang yang tidak diketahui identitasnya itu.
Bertentangan dengan syari’at islam bahwa meminta hujan adalah dengan shalat istisqa’ bukan dengan mendatangi makam Rasul SAW.
Semua cacat yang dikatakan salafy ini tidak sepenuhnya benar dan walaupun sebagian perkataan mereka ada yang benar maka itu tidak menjadikan hadis Malik Ad Daar sebagai hadis dhaif.


Bantahan Atas Cacatnya Hadis Malik Ad Daar.

Cacat tidaknya suatu hadis ditentukan dengan kaidah-kaidah ilmu hadis. Terkadang para peneliti yang terpengaruh dengan subjektivitas mahzabnya tidak bisa membedakan mana cacat yang jelas dengan keraguan yang dicari-cari. Hal seperti inilah yang menimpa orang-orang salafy. Bagi salafy, tawasul dalam hadis Malik Ad Daar adalah syirik sehingga mereka berusaha mencari jalan untuk melemahkan hadis tersebut.

Kritik Atas Cacat Pertama

Cacat pertama yang dikemukakan salafy adalah tadlis Al ‘Amasy. Sulaiman bin Mihran Al ‘Amasy terkadang melakukan tadlis. Tetapi tidaklah benar mendakwa setiap hadis mudallis adalah dhaif. Hal ini disebabkan mudallis memiliki banyak tingkatan. Ibnu Hajar dalam Thabaqat Al Mudallis telah membagi para perawi mudallis kedalam 5 tingkatan. Ibnu Hajar menggolongkan Al ‘Amasy ke dalam mudallis tingkatan kedua dalam Thabaqat Al Mudallis no 55. Dimana dalam Muqaddimah kitabnya beliau berkata tentang tingkatan kedua.

من احتمل الأئمة تدليسه وأخرجوا له في الصحيح لامامته وقلة تدليسه في جنب ما روى كالثوري أو كان لا يدلس الا عن ثقة كإبن عيينة

Orang yang dianggap melakukan tadlis dan hadisnya diriwayatkan dalam kitab Shahih, mereka tidak melakukan tadlis kecuali sedikit seperti Ats Tsawri dan tidaklah mereka melakukan tadlis kecuali dari orang yang tsiqat seperti Ibnu Uyainah.

Al ‘Amasy tidak diragukan lagi ketsiqahannya oleh para Ulama hadis. Hanya saja beliau terkadang meriwayatkan dengan ‘an anah. Hadis ‘an anah ‘Amasy telah dijadikan pegangan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya termasuk an’anah ‘Amasy dari Abu Shalih (Shahih Bukhari hadis no 465, no 2013, no 2527, no 4217, no 4651 dan lain-lain). Abu Shalih dikenal sebagai salah satu guru ‘Amasy sehingga dapat ditemukan hadis ‘Amasy yang diriwayatkan dengan hadatstsani Abu Shalih (dalam Shahih Bukhari hadis no 626, no 1410 dan no 1884). Sehingga beberapa Ulama hadis menganggap kalau ‘an anah ‘Amasy dari Abu Shalih adalah muttasil atau bersambung. Adz Dzahabi dalam Mizan ‘Al Itidal 2/224 no 3517 berkata

عن ” تطرق إلى احتمال التدليس إلا في شيوخ له أكثر عنهم كإبراهيم ، وابن أبى وائل ، وأبى صالح السمان ، فإن روايته عن هذا الصنف محمولة على الاتصال

Riwayat “an” ‘Amasy dianggap sebagai tadlis kecuali riwayat dari para Syaikh-nya seperti Ibrahim, Ibnu Abi Wail dan Abi Shalih As Saman dimana riwayat-riwayat tersebut dapat dianggap bersambung.


Riwayat ‘an anah ‘Amasy baik dari Ibrahim, Ibnu Abi Wail dan Abi Shalih telah dijadikan hujjah oleh Bukhari dalam kitab Shahih-nya sehingga menyatakan dhaif ‘an anah ‘Amasy berarti mendhaifkan cukup banyak hadis Shahih Bukhari.

Kritik Atas Cacat Kedua

Cacat Kedua yaitu Abu Shalih tidak mendengar dari Malik dan Malik sebenarnya majhul. Kedua pernyataan ini sangat jelas tidak benar. Abu Shalih telah meriwayatkan hadis dari para sahabat besar. Ibnu Hajar dalam At Tahdzib juz 3 no 417 mengatakan kalau Abu Shalih Dzakwan meriwayatkan hadis

وعن أبي هريرة وأبي الدرداء وأبي سعيد الخدري وعقيل بن أبي طالب وجابر وابن عمر وابن عباس ومعاوية وعائشة وأم حبيبة وأم سلمة وغيرهم وأرسل عن أبي بكر

Dari Abu Hurairah, Abu Darda, Abu Sa’id Al Khudri, Aqil bin Abi Thalib, Jabir, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Muawiyah, Aisyah, Ummu Habibah, Ummu Salamah dan yang lainnya dan meriwayatkan secara mursal dari Abu Bakar.

Keterangan ini menunjukkan kalau Abu Shalih memiliki kesempatan untuk meriwayatkan dari para sahabat besar. Jadi tidak mustahil kalau ia meriwayatkan dari Malik Ad Daar (Malik dinyatakan sebagian orang kalau ia tabiin dan sebagian lagi mengatakan ia seorang sahabat). Adz Dzahabi dalam Siyar ‘Alam An Nubala 3/65 mengatakan kalau Abu Shalih lahir pada masa khalifah Umar bin Khattab RA sehingga Abu Shalih dan Malik berada dalam satu masa sehingga sangat mungkin bagi Abu Shalih untuk meriwayatkan hadis dari Malik Ad Daar. Memang benar kalau kapan tepatnya Malik Ad Daar wafat tidaklah diketahui tetapi dalam hal ini sudah seharusnya kita menetapkan kesaksian Abu Shalih sendiri yang mengatakan kalau ia meriwayatkan hadis tersebut dari Malik Ad Daar.

Abu Shalih dalam At Tahdzib juz 3 no 417 telah dinyatakan tsiqah oleh Ahmad, Ibnu Ma’in, Ibnu Sa’ad, Abu Hatim, Abu Zar’ah, As Saji, Ibnu Hibban dan Al Ajli. Tidak ada satupun dari ulama tersebut yang mengatakan kalau ia seorang mudallis. Kitab-kitab tentang para perawi mudallis seperti Thabaqat Al Mudallis, Asma Al Mudallisin, dan lain-lain tidak sedikitpun memuat nama Dzakwan Abu Shalih. Oleh karena itu riwayat ‘an Abu Shalih adalah tsabit dan benar.

Satu-satunya dalil yang digunakan kaum salafy adalah pernyataan Al Khalili dalam kitab Irshad Fi Ma’rifah Ulama Al Hadits 1/313 setelah meriwayatkan hadis ini ia berkata

يقال أن أبا صالح السمان سمع مالك الدار هذا الحديث والباقون أرسلوه

Dikatakan bahwa Abu Shalih mendengar hadis ini dari Malik Ad Daar dan ada yang mengatakan kalau ia mengirsalkannya.

Salafy dengan mudah mengambil kalimat terakhir sebagai hujjah padahal Al Khalili juga menegaskan bahwa ada yang mengatakan Abu Shalih mendengar hadis dari Malik Ad Daar. Telah ditunjukkan bahwa Abu Shalih seorang yang tsiqah dan ia bukan seorang mudallis sehingga pernyataan kalau ia mengirsalkan hadis ini memerlukan bukti. Abu Shalih yang tsiqah berada satu masa dengan Malik Ad Daar sehingga berdasarkan persyaratan Imam Muslim maka hadis ini sudah bisa digolongkan muttasil (bersambung).

Dalam pandangan kami, orang yang mengatakan Abu Shalih mengirsalkan hadis di atas adalah disebabkan menurut orang tersebut Malik adalah orang yang majhul. Padahal sebenarnya tidak begitu. Salafy hanya mengutip pernyataan dari Al Mundziri dalam Targhib Wat Tarhib 2/41 yang berkata “Thabrani meriwayatkan hadis tersebut dalam Al Kabir, para perawinya sampai ke Malik adalah tsiqat tetapi aku tidak mengetahui siapa Malik”. Pernyataan Al Mundziri tidak bisa menjadi hujjah karena orang yang tidak tahu dikalahkan oleh orang yang tahu. Dalam hal ini Ibnu Sa’ad, Ibnu Hajar, Al Khalili dan Ibnu Hibban telah mengetahui siapa Malik.

Ibnu Sa’ad dalam Thabaqat Al Kubra 5/12 mengatakan bahwa Malik Ad Daar adalah Mawla Umar bin Khattab kemudian ia melanjutkan dengan kata-kata
وروى مالك الدار عن أبي بكر الصديق وعمر رحمهما الله روى عنه أبو صالح السمان وكان معروفا

Malik Ad Daar meriwayatkan dari Abu Bakar dan Umar, meriwayatkan darinya Abu Shalih As Saman, dan ia dikenal.

Al Khalili berkata dalam Irshad Fi Ma’rifah Ulama Al Hadits 1/313-314

مالك الدار مولى عمر بن الخطاب الرعاء عنه تابعي قديم متفق عليه

Malik Ad Daar Mawla Umar bin Khattab meriwayatkan hadis darinya, ia seorang tabiin awal Muttafaqualaih

Ibnu Hibban memasukkan Malik Ad Daar dalam kitab Ats Tsiqat 5/384 no 5312 dan menggolongkannya sebagai orang yang meriwayatkan dari Sahabat Nabi. Ibnu Hajar dalam Al Ishabah 6/274 no 8362 mengatakan

مالك بن عياض مولى عمر هو الذي يقال له مالك الدار له إدراك وسمع من أبي بكر الصديق وروى عن الشيخين ومعاذ وأبي عبيدة روى عنه أبو صالح السمان

Malik bin Iyadh Mawla Umar, ia disebut juga dengan Malik Ad Dar, ia melihat Nabi SAW dan mendengar dari Abu Bakar Shiddiq, meriwayatkan hadis dari Syaikhan, Muadz dan Abi Ubaidah. Meriwayatkan darinya Abu Shalih As Saman.

Semua kesaksian di atas sudah cukup untuk membuang status majhul yang dikatakan oleh Al Mundziri. Malik Ad Dar dikenal sebagai tabiin awal yang sempat melihat Nabi SAW. Atau mungkin ada yang tertarik melihat ini

Al Hafidz Adz Dzahabi menggolongkan Malik Ad Daar atau Malik bin Iyadh sebagai Sahabat dan memasukkan nama Malik dalam Kitab karyanya yang memuat nama para Sahabat Nabi yaitu Tajrid Asma’ As Shahabah no 527

Kritik Atas Cacat Ketiga

Cacat yang ketiga adalah hadis tersebut mubham. Kami katakan hadis tersebut memang mubham dan mubham tersebut terletak pada matannya bukan pada sanadnya jadi tidak ada keraguan mengenai sanad hadis tersebut. Lihat kembali hadis di atas dan memang terdapat seseorang yang tidak disebutkan namanya yaitu laki-laki yang datang ke makam Rasul SAW. Bagi kami, ada atau tidak nama laki-laki tersebut maka itu tidak akan merubah status hadisnya. Malik Ad Daar bisa jadi seorang tabiin awal yang tsiqah atau seorang Sahabat seperti yang dikatakan Adz Dzahabi. Malik Ad Daar juga adalah maula Umar bin Khattab sehingga bisa dikatakan ia menyaksikan sendiri peristiwa tersebut yang terjadi di masa Umar.

Ibnu Hajar dalam Fath Al Bari 2/496 mengatakan

وقد روى سيف في الفتوح أن الذي رأى المنام المذكور هو بلال بن الحارث المزني أحد الصحابة
Saif meriwayatkan dalam Kitab Al Futuh bahwa laki-laki yang bermimpi tersebut adalah Bilal bin Harits Al Muzanni seorang Sahabat Nabi.


Nah kita sampai pada bagian yang cukup menarik. Salafiyun bersikeras untuk mendhaifkan pernyataan Ibnu Hajar di atas dengan mengatakan kalau Saif itu sangat dhaif.

Syaikh Al Albani dalam kitab Tawasul hal 119 berkata


لا حجة فيها ، لأن مدارها على رجل لم يسمَّ فهو مجهول أيضا ، وتسميته بلالا في رواية سيف لا يساوي شيئا ، لأن سيفا هذا هو ابن عمر التميمي ، متفق على ضعفه عند المحدثين بل قال ابن حبان فيه يروي الموضوعات عن الأثبات وقالوا إنه كان يضع الحديث ، فمن كان هذا شأنه لا تُقبل روايته ولا كرامة لاسيما عند المخالفة
Tidak ada hujjah pada riwayat tersebut, karena masalahnya terletak pada orang yang tidak disebutkan namanya, sehingga ia adalah majhul juga. Penamaannya dengan Bilaal dalam riwayat Saif tidak berarti sama sekali, karena Saif adalah Ibnu Umar AtTamimi seorang yang telah disepakati kedhiafannya oleh para ahli hadis. Bahkan Ibnu Hibban berkata “Ia meriwayatkan hadis-hadis palsu dari orang-orang tsabit”. Dan dikatakan ”Ia telah memalsukan hadits”. Maka orang yang seperti ini tidak bisa diterima riwayatnya dan tidak ada kemuliaan padanya, terutama jika terdapat yang menyelisihinya.

Bagi kami sudah jelas kalau Saif itu sangat dhaif tetapi disini saya akan mengingatkan pembaca tentang ketidakjujuran salafy dalam berhujjah. Ketika berbicara tentang Syiah dimana Salafy menuduh kalau Abdullah bin Saba’ adalah pendiri Syiah, mereka bersikeras berhujjah dengan Saif bin Umar At Tamimi. Ketika dikatakan kepada mereka kalau Saif itu seorang perawi yang sangat dhaif dan pemalsu hadis maka mereka salafy itu berapologia dengan perkataan berikut

Perkataan tentang Saif bin Umar At Tamimi tersebut seakan mereka sedang berusaha untuk menegakkan benang basah, dengan dalih Saif bin Umar At Tamimi haditsnya tidak bisa diterima, maka saya katakan:
Kalau seandainya yang anda cantumkan dari perkataan ulama jarh wa ta’dil tentang Saif bin Umar at Tamimi, bahwa lemah dan haditsnya tidak bisa diterima maka pembicaraan anda terfokus pada Saif bin Umar At Tamimi yang berkapasitas sebagai muhadits (ahli hadits dan yang meriwayatkan hadits). Tapi apa gerangan perkataan ulama tentang dia sebagai orang yang berkapasitas Ahli sejarah, marilah kita kembali ke buku-buku rijal (jarh wa ta’dil):
Berkata Adz Dzahabi : adalah ia sebagai ahli sejarah yang mengetahui” (Mizan ‘Itidal : 2/255).
Berkata Ibnu Hajar : Lemah dalam Hadits, pakar (rujukan) dalam sejarah” (Taqriibut Tahdziib no 2724).
Dangan ini habislah “lemah dan ditinggalkan” yang dinisbatkan ke diri Saif sebab perkataan itu ditujukan dalam segi Hadits bukan dalam segi sejarah. Inilah titik pembahasan kita.

Kutipan di atas diambil dari situs-situs salafy, silakan lihat tulisan-tulisan ini

Abdullah bin Saba’ Bukan Tokoh Fiktif


Kalau memang seperti yang dikatakan para salafiyun bahwa Saif bin Umar lemah dalam hadis dan rujukan dalam sejarah. Maka tidak ada alasan bagi para salafiyun untuk menolak pernyataan Saif yang dikutip Ibnu Hajar. Saif tidak sedang meriwayatkan hadis, ia hanya mengisahkan kisah yang terjadi di masa Umar dimana ia menyebutkan kalau nama orang tersebut adalah Bilal bin Harits seorang sahabat Nabi. Perkataan Saif disini adalah sejarah bukannya hadis maka berdasarkan hujjah salafy, Saif menjadi rujukan dalam sejarah. Tetapi mengapa mereka besikeras menolak keterangan Saif. Apakah karena mereka tidak mau mengakui kalau sahabat Nabi bertawasul (seperti yang dikatakan salafy bahwa itu adalah syirik)?. Kalau memang riwayat Saif di atas mau ditolak maka sudah sewajarnya riwayat Saif tentang Abdullah bin Saba’ juga ditolak. Jadi sebenarnya salafy sendiri yang sedang menegakkan benang basah Sungguh antagonisme yang nyata.

Salafy sudah sembrono dalam berhujjah, bagi kami jarh wat ta’dil dalam kitab Rijal berlaku untuk riwayat sejarah ataupun hadis. Sehingga tidak diragukan lagi kalau riwayat Saif tersebut tidak bisa diterima. Membeda-bedakannya akan membuat masalah kontradiksi seperti yang terjadi pada para salafiyun. Oleh karena riwayat tersebut merendahkan Syiah maka riwayat tersebut dibela mati-matian walaupun perawinya sangat dhaif sedangkan di saat lain ketika perawi tersebut menyerang mahzab Salafy maka mereka bersikeras untuk mendhaifkannya. Keculasan yang patut disayangkan keluar dari “orang yang mengaku berpegang pada sunnah”.

Kritik Atas Cacat kelima

Cacat terakhir bahwa riwayat tersebut menyelisihi syariat maka kami katakan itu adalah alasan yang dicari-cari. Riwayat tersebut tidak menyelisihi syariat karena riwayat tersebut tidak menafikan kalau selanjutnya umat islam pada zaman umar melakukan shalat istisqa’. Atau bisa jadi mereka sudah melakukan shalat istisqa’. Intinya riwayat di atas tidaklah melarang dan tidaklah menganjurkan apapun. Riwayat tesebut hanya menceritakan kisah seseorang yang bertawasul di zaman Umar hingga mimpi bertemu Rasulullah SAW. Jika memang mau ditarik hukum darinya maka riwayat tersebut hanya menunjukkan kebolehan bukan anjuran atau perintah.

Hadis Malik Ad Daar Menurut Ulama

Hadis Malik Ad Daar diriwayatkan oleh para perawi tsiqah dan semua cacat yang dikatakan salafy tidaklah menunjukkan dhaifnya riwayat tersebut. Ibnu Hajar dan Ibnu Katsir telah menyatakan keshahihan hadis tersebut.

Ibnu Hajar berkata dalam Fath Al Bari 2/495

وروى بن أبي شيبة بإسناد صحيح من رواية أبي صالح السمان عن مالك الداري وكان خازن عمر
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih dari riwayat Abu Shalih As Saman dari Malik Ad Daar seorang bendahara Umar.

Ibnu Katsir dalam Al Bidayah Wan Nihayah 7/106 mengomentari hadis ini

وهذا إسناد صحيح
Hadis ini sanadnya shahih.

Dalam kitab Jami’ Al Masanid Was Sunan 1/223 Ibnu Katsir berkata

إسناده جيد قوي
Hadis ini sanadnya jayyid (baik) dan kuat.
Selengkapnya

Who Is YA’JUJ and MA’JUJ

Minggu, 21 Februari 2010
Inilah Bangsa Perusak YA’JUJ dan MA’JUJ

“Sebenar benar perkataan adalah kitabullah(alquran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad Shallallahu Alaihi Wassalam..”(HR.Muslim)

Mereka adalah bangsa perusak yang Allah keluarkan di akhir zaman. Mereka..alhamdulillah yg dulu terkurung oleh benteng/tembok yang dibuat oleh Dzulqarnain seorang raja yang shalih, bukan Iskandar Dzulqarnain Al Maqduny/Alexander The Great from Macedonia (356-323 SM) http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=591

Mereka (Ya’juj n Ma’juj) adalah keturunan TURK (1)dari Yafits bin Nuh yang juga menurunkan raja-raja hebat dalam sejarah dari keturunannya, mereka adalah anak-anak paman mereka. Saudara mereka dari bangsa Mongol dan Turk dibiarkan Allah subhanahu wa ta’ala di luar dinding sedangkan Ya’juj dan Ma’juj di dalam dinding(Hari Kiamat Sudah Dekat, hal 121).

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/0/0a/Map-TurkicLanguages.png/800px-Map-TurkicLanguages.png
Wilayah saat sekarang yang berbahasa Turki dan merupakan rumpun utama Bangsa Turk
Asal mula Bangsa Turk dari wilayah di Asia Tengah di Barat Cina dan disebut Xiongnu (Xiōngnú)
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/9a/Gokturkut.jpg
Adapun tanda kiamat kubra/besar (dapat dipastikan setelah tanda ini keluar maka kiamat), di antaranya disebutkan dalam hadits Hudzaifah bin Usaid Al-Ghifari radhiyallahu ‘anhu:
اطَّلَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْنَا وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ. فَقَالَ: مَا تَذَاكَرُوْنَ؟ قَالُوا: نَذْكُرُ السَّاعَةَ. قَالَ: إِنَّهَا لَنْ تَقُوْمَ حَتَّى تَرَوْنَ قَبْلَهَا عَشْرَ آيَاتٍ. فَذَكَرَ الدُّخَانَ وَالدَّجَّالَ وَالدَّابَّةَ وَطُلُوْعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا وَنُزُوْلَ عِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَيَأَجُوْجَ وَمَأْجُوْجَ وَثَلاَثَةَ خُسُوْفٍ خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ وَخَسْفٌ بِجَزِيْرَةِ الْعَرَبِ وَآخِرُ ذَلِكَ نَارٌ تَخْرُجُ مِنْ الْيَمَنِ تَطْرُدُ النَّاسَ إِلَى مَحْشَرِهِمْ
Rasulullah melihat kami ketika kami tengah berbincang-bincang. Beliau berkata: “Apa yang kalian perbincangkan?” Kami menjawab: “Kami sedang berbincang-bincang tentang hari kiamat.” Beliau berkata: “Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kalian lihat sebelumnya sepuluh tanda.” Beliau menyebutkan: “Dukhan (asap), Dajjal, Daabbah, terbitnya matahari dari barat, turunnya ‘Isa ‘alaihissalam, Ya’juj dan Ma’juj, dan tiga khusuf (dibenamkan ke dalam bumi) di timur, di barat, dan di jazirah Arab, yang terakhir adalah api yang keluar dari Yaman mengusir (menggiring) mereka ke tempat berkumpulnya mereka.” (HR. Muslim no. 2901)
-
Jadi tidak mungkin KIAMAT 2012, paling kurang butuh 7 th untuk turunnya Al Masih Isa bin Maryam, 1 tahun 2 bulan 22 hari untuk munculnya Al Masih Dajjal dan 7-9 tahun untuk munculnya Imam Mahdi Muhammad bin Abdullah.

Al Qur’an dua kali menyebutkan kata “Ya’juj dan Ma’juj”. Pertama, di surat Al Kahfi ayat 94-100, yang berbunyi:
“Mereka berkata: Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya membuat dinding antara kami dan mereka? “Dzulqarnain berkata: ‘Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka bantulah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kalian dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi.’ Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain: ‘Tiuplah (api itu).’ Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu.’ Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya. Dzulqarnain berkata: ‘Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku, maka apabila telah datang janji Rabbku Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Rabbku itu adalah benar.’ Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya.”
http://i464.photobucket.com/albums/rr8/mbahjogo/Zulkarnaen-Tembok%20besi/Gunung-Tembok-Besi-02.jpg
Darial George/ Darial Pass merupakan salah satu tempat yang dicurigai tempat Ya’juj dan Ma’juj keluar di samping beberapa pendapat lain (namun semuanya hanya kira-kira)
http://www.geographicguide.net/earth/pictures/caucasus.jpg
http://www.mobot.org/MOBOT/Research/caucasus/images/Caucasus_Borders4.jpg
http://www.geography.hunter.cuny.edu/~tbw/wc.notes/15.climates.veg/climate/aral.sea.map.jpg
Khurasan, yang meliputi Utara Iran, Utara Afghanistan, Turkmenistan, Uzbekistan, Kazakhstan, Tajikistan. Tempat keluarnya Dajjal di akhir zaman dan mungkin juga Ya’juj n Ma’juj(wallahu a’lam)“Dajjal akan keluar/muncul dari muka bumi ini di bagian timur yang bernama Khurasan”. (HR. Tirmidzi)

#Kemunculan Ya`juj dan Ma`juj merupakan satu dari tanda-tanda kiamat besar#
Kedua,
حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ. وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَإِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ أَبْصَارُ الَّذِينَ كَفَرُوا يَاوَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا بَلْ كُنَّا ظَالِمِينَ
“Hingga apabila dibukakan (dinding) Ya`juj dan Ma`juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata): ‘Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zhalim’.” (Al-Anbiya`: 96-97)

Itulah dua ayat Qur’an yang menyebutkan tentang Ya’juj dan Majuj. Ayat 94 surat Al Kahfi berbicara perihal Ya’juj dan Ma’juj di masa lalu. Tentang sifat mereka yang suka membuat kerusakan di dunia, sampai kemudian Dzulqarnain membuat benteng yang menghalangi mereka, dan mereka tidak mampu bangkit lagi semenjak zaman Dzulqarnain itu, juga zaman-zaman setelahnya. Sementara surat Al Anbiya berbicara dengan jelas tentang Ya’juj dan Ma’juj di masa depan dan perihal kebangkitannya ketika mendekati hari Kiamat. Kalimat pada ayat surat Al Anbiya yang berbunyi, “dan mereka turun dengan cepat dari seluruh penjuru yang tinggi.” Menunjukkan besarnya kekuatan, jumlah personel yang mereka miliki, dan kerasnya ekspansi yang mereka lakukan.

Dari Zainab bintu Jahsyi radhiyallahu ‘anha bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun dari tidurnya seraya berkata: “La ilaha illallah, celakalah orang-orang Arab, karena keburukan yang telah dekat. Telah terbuka pada hari ini dari dinding Ya`juj dan Ma`juj seperti ini.” –dan Sufyan (seorang perawi) melingkarkan tangannya dalam bentuk angka sepuluh– Kemudian saya (Zainab) berkata: “Ya Rasulullah, apakah kita akan binasa meskipun bersama kita ada orang-orang shalih? Beliau menjawab: “Ya, ketika al-khabats(kemaksiatan) semakin banyak jumlahnya.”(2)

Bahkan dalam hadits yang berasal dari An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu (dalam Shahih Muslim) disebutkan kemunculan Ya`juj dan Ma`juj ini dalam satu rangkaian dengan kemunculan Dajjal, Isa bin Maryam, lantas muncul Ya`juj dan Ma`juj. Semua peristiwa tersebut adalah peristiwa-peristiwa yang akan mendahului terjadinya hari kiamat. Nampaklah bahwa peristiwa demi peristiwa jelang hari kiamat merupakan peristiwa yang tersusun bagai marjan dalam satu untaian tali. Al-Imam Ahmad rahimahullahu meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tanda-tanda hari kiamat (bagaikan) marjan yang disusun dalam untaian tali. Bila tali itu putus, maka terikutlah sebagian pada sebagian (lainnya).”(3)

-
Ya`juj dan Ma`juj merupakan anak keturunan Nabi Adam ‘alaihissalam (manusia). Dalil yang menunjukkan mereka dari anak cucu Adam adalah hadits yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai Adam.” Adam menjawab: “Aku sambut panggilan-Mu dan dengan bahagia aku penuhi perintah-Mu, segala kebaikan berada di tangan-Mu. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Keluarkanlah utusan (penghuni) neraka.” Adam bertanya, “Apa utusan (penghuni) neraka itu?” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dari setiap 1.000 orang ada 999 orang.” Maka, ketika itu anak-anak kecil rambutnya beruban, yang hamil melahirkan kandungannya, dan kamu lihat manusia mabuk padahal mereka tidak mabuk, akan tetapi karena adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala yang teramat keras. Para shahabat bertanya, “Siapa satu yang selamat dari kita itu, wahai Rasulullah?” Beliau jawab, “Bergembiralah, karena kamu hanya seorang sedang dari kalangan Ya`juj dan Ma`juj seribu orang.” (Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Anbiya` Bab Qishshah Ya`juj wa Ma`juj)

Ada hadits marfu’(disandarkan pada nabi) yang menyebutkan bahwa Ya`juj dan Ma`juj adalah keturunan Nuh, sedangkan Nuh –tidak dipungkiri lagi– adalah keturunan Adam dan Hawa.

Berdasar hadits ini pula, Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullahu menyatakan bahwa Ya`juj dan Ma`juj adalah keturunan manusia. Kata beliau, “Hadits ini jelas sekali menyatakan bahwa Ya`juj dan Ma`juj adalah keturunan Adam.”

Demikian pula Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu dalam Tafsiru Surati Al-Kahfi menyebutkan bahwa dengan hadits ini kita mengetahui kesalahan mereka yang berpendapat Ya`juj dan Ma`juj bukan berujud seperti manusia. Sebagian mereka sangat pendek dan sebagian lagi sangat tinggi tubuhnya. Sebagian telinganya terpentang dan yang lain berlipat. Semuanya merupakan dongeng Israiliyat. Tidak boleh kita membenarkan (begitu saja), bahkan harus dikatakan bahwa sesungguhnya mereka termasuk bani Adam (manusia), hanya saja mereka kemungkinan berbeda seperti perbedaan (di antara) manusia karena keadaan lingkungannya.

Kemungkinan yang paling besar dari Ya’juj n Ma’juj adalah seperti keturunan Turk yang lain -wallahu a’lam- yaitu seperti hadits nabi beriku:

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah bersabda:
“Tidak akan terjadi hari Kiamat hingga kaum muslimin memerangi bangsa Turk, yaitu kaum dimana wajah-wajah mereka seperti tameng yang dilapisi kulit, mereka memakai (pakaian) yang terbuat dari bulu dan berjalan (dengan sandal) yang terbuat dari bulu.”(4)
Wajah seperti tameng yang dipakaikan padanya kulit adalah pengibaratan karena muka yang membundar lebar dan menonjolnya pipi bagian atas.(5)
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/1b/YuanEmperorAlbumKhubilaiPortrait.jpg/477px-YuanEmperorAlbumKhubilaiPortrait.jpg
Potret Kublai Khan dan wajahnya ciri khas orang-orang Mongol dan Turk
http://forums.civfanatics.com/uploads/20480/AttilaHun.jpg
http://3.bp.blogspot.com/_2q4azV6s5_w/RpO6m2qeLuI/AAAAAAAAAE0/SagCvkeK2dE/s320/attila_the_hun.jpg
Pipi atas yang tinggi dan lebar ciri khas orang-orang Mongol dan Turk
-
http://chinggiskhanfound.com/images/Mongol%20Empire%20Map.jpg
Imperium Mongol di Puncak Kekuasaannya yang menaklukkan 2/3 dunia (Asia,Eropa,Timur Tengah) pada masa cucu Jenghis Khan yaitu Kublai Khan 1294 M
-
Turki n Mongol saudara Ya’juj n Ma’juj dari pihak paman-paman mereka, lihatlah dahsyatnya Bangsa Turk ini dalam menguasai dunia di zamannya, apalagi nanti ekspansi Ya’juj n Ma’juj di akhir zaman.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/4/43/Huns_empire.png
Puncak Kekuasaan Bangsa Hun di bawah Attila pada tahun 450 M.

Juga diriwayatkan dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Akan terbuka (dinding) Ya`juj dan Ma`juj sehingga mereka keluar sebagaimana yang difirmankan Allah ‘dari setiap ketinggian mereka bergerak dengan cepat’. Lalu mereka menguasai bumi. Dan kaum muslimin menjauhi mereka sehingga tinggallah kaum muslimin di kampung dan benteng-benteng mereka, lalu mereka kumpulkan hewan-hewan ternak bersama mereka. Sehingga tatkala mereka (Ya`juj dan Ma`juj) lewat di sebuah danau(danau Thabariyah/Tiberias di Palestina berdasarkan hadits ttg Dajjal),
http://starryskies.net/wp-content/uploads/2009/09/iss020.lake.tiberius01a.jpg
Danau Thabariyah/Tiberias di Palestina
mereka pun meminum (air) nya hingga tidak menyisakan sedikitpun. Maka orang yang terakhir dari mereka melewati bekasnya, lalu salah seorang dari mereka berkata: ‘Di tempat ini tadi ada air.’ Lalu merekapun mengalahkan penduduk bumi, lalu salah seorang dari mereka berkata: ‘Mereka ini penduduk bumi, kita telah selesai dari mereka. Maka kita akan mengalahkan penghuni langit.’ Sampai salah seorang dari mereka ada yang melemparkan tombaknya1 ke langit lalu kembali dalam keadaan berlumuran darah, lalu mereka berkata: “Kami telah membunuh penghuni langit.” Di saat mereka dalam keadaan demikian, seketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirim binatang-binatang seperti ulat, lalu menyerang leher (tengkuk) mereka. Mereka pun mati seperti matinya belalang, saling bertumpuk satu dengan yang lain. Sehingga kaum muslimin pun tidak mendengar lagi tentang perbuatan mereka. Lalu mereka mengatakan: ‘Siapakah orang yang mau mengorbankan dirinya untuk melihat apa yang mereka lakukan?’ Salah seorang dari mereka lalu keluar dengan siap merelakan dirinya untuk dibunuh oleh Ya`juj dan Ma`juj. Ternyata dia mendapati mereka (Ya`juj dan Ma`juj) sudah menjadi bangkai. Diapun berseru: ‘Bergembiralah, telah binasa musuh kalian.’Manusia pun keluar lalu melepaskan hewan ternak mereka. Maka merekapun tidak mempunyai makanan kecuali daging-daging mereka (Ya`juj dan Ma`juj), sehingga menjadikan mereka gemuk seperti gemuk yang paling sempurna dari tumbuhan yang pernah ia makan.” (HR. Ibnu Majah no. 4079. Dishahihkan Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Ibnu Majah)
-
Tambahan dari akhir hadits di atas setelah Ya’juj n Ma’juj mati pada Hadits Riwayat Muslim: ”Tumbuhlah buah-buahanmu dan kembalikanlah berkahmu.” Maka pada hari itu serombongan orang memakan buah delima dan berteduh dengan kelopaknya, juga diberkahi air susu seekor unta yang cukup untuk serombongan orang, air susu seekor sapi cukup untuk satu keluarga. Ketika mereka dalam keadaan demikian, Allah mengirim angin yang harum yang tertiup dibawah ketiak mereka, lalu mencabut setiap nyawa orang mukmin dan muslim, dan yang tersisa adalah orang-orang jahat yang melakukan persetubuhan seperti keledai (bersetubuh di depan umum tanpa rasa malu), maka pada masa mereka itulah terjadi kiamat(orang2 kafir saja yang tertinggal di bumi, sejelek2 makhluk adalah yang menjumpai kiamat dalam keadaan hidup).

- Mereka terisolir di antara dua gunung, dan benteng yang mengisolir itu berasal dari besi yang bercampur dengan tembaga.

Dalam hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memberitahukan kepada Isa ‘alaihissalam akan keluarnya Ya`juj dan Ma`juj yang tidak ada seorang pun mampu memerangi mereka, dan Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan Isa ‘alaihissalam menjauhkan kaum mukminin dari jalan yang ditempuh Ya`juj dan Ma`juj seraya berfirman: “Kumpulkan hamba-hamba-Ku ke gunung Ath-Thur.” (lihat Asyrathu As-Sa’ah, Yusuf Al-Wabil hal. 369)

Berdasarkan hadits An-Nawwas bin Sam’an radhiyallahu ‘anhu dalam Shahih Muslim, maka akan nampak bahwa kemunculan Ya`juj dan Ma`juj bersamaan masa dengan kehadiran Al Masih Isa ‘alaihissalam setelah terbunuhnya Al Masih Dajjal oleh Al Masih Isa alaihissalam.

Keluarnya Ya`juj dan Ma`juj pada akhir zaman, belum terjadi. Sebab, hadits-hadits yang shahih menunjukkan bahwa Ya`juj dan Ma`juj keluar setelah Isa ‘alaihissalam turun ke bumi. Namun tanda-tanda keluarnya telah ada sejak jaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Telah mulai terbuka hari ini dari dinding Ya`juj dan Ma`juj sebesar (lubang) ini.” Rasulullah membuat ingkaran dengan dua jarinya, ibu jari dan jari telunjuk. (HR. Al-Bukhari dari Zainab bintu Jahsyin radhiyallahu ‘anha) [Lum’atul ‘Itiqad, hal. 108-109]

Sumber :
Hari Kiamat Sudah Dekat oleh Yusuf bin Abdillah bin Yusuf Al Wabil, Penerbit Pustaka Ibnu Katsir
http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=590
http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=595
http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=594
http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=589
http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=593

notes:
1) Bangsa yang merupakan keturunan Yafits bin Nuh dan dari keturunan inilah Ya’juj dan Ma’juj berasal
2) Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad rahimahullahu dalam Musnad-nya no. 26145, 26148; Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Kitab Ahaditsul Anbiya` no. 3346
3) (Musnad Ahmad 12: 6-7, hadits no. 7040. Ahmad Syakir rahimahullahu berkata, “Sanadnya shahih.” Al-Haitsami rahimahullahu berkata, “Hadits ini diriwayatkan Ahmad dan di dalamnya terdapat Ali bin Zaid yang bagus haditsnya.” Majma’uz Zawaid, 7/321. Lihat Asyrathu As-Sa’ah, Yusuf Al-Wabil, hal. 246)
4) Shahih Muslim, Al Fitsn wa Asyraatus Saa’ah (XVIII/37, Syarh An Nawawi)
5) An Nihaayah fi Ghariibil Hadiits (III/122), Syarh an Nawawi li Shahiih Muslim (XVIII/36-37)
Diposkan oleh jack di 12:23 8 komentar Link ke posting ini
Label: benteng dzulqarnain, Ya'juj dan Ma'juj
Mengenal Ya’juj dan Ma’juj

Mengenal Ya’juj dan Ma’juj

Penulis : Al-Ustadz Muhammad Umar As-Sewed

Kemunculan sebuah bangsa yang akan menciptakan kekacauan serta kerusakan di muka bumi telah ditakdirkan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai salah satu penanda kiamat besar. Siapakah dan bagaimanakah mereka?

Di dalam beberapa hadits tentang tanda-tanda hari kiamat kubra, disebutkan ada sepuluh tanda hari kiamat. Di antaranya adalah keluarnya Ya`juj dan Ma`juj.
Berita tentang keluarnya Ya`juj dan Ma`juj bukan hanya mutawatir, bahkan disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Anbiya’ ayat 96-97:
حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ. وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَإِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ أَبْصَارُ الَّذِينَ كَفَرُوا يَاوَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا بَلْ كُنَّا ظَالِمِينَ.
Hingga apabila dibukakan (dinding) Ya'juj dan Ma'juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah datangnya janji yang benar (hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata): “Aduhai, celakalah kami, sesungguhnya kami dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang dzalim.”
Ibnu Katsir rahimahullahu menerangkan: mereka adalah dari keturunan Adam ‘alaihissalam dari keturunan Nabi Nuh ‘alaihissalam, dari anak keturunan Yafits yakni nenek moyang bangsa Turki yang terisolir oleh benteng tinggi yang dibangun oleh Dzulqarnain.
Sedangkan makna “min kulli hadabin yansilun” diterangkan oleh Ibnu Katsir rahimahullahu: yakni turun dari tempat-tempat yang tinggi dengan cepat dengan membuat kerusakan.
Demikian pula disebutkan dalam surat Al-Kahfi ayat 94:
قَالُوا يَاذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي اْلأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَى أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا
“Wahai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya`juj wa Ma`juj merusak di muka bumi, kami akan siapkan imbalan yang besar agar kiranya engkau membuatkan benteng antara kami dengan mereka.”
Adapun kalimat yang menunjukkan bahwa runtuhnya benteng Dzulqarnain dan keluarnya Ya`juj wa Ma`juj sebagai tanda dekatnya hari kiamat adalah ucapan Allah Subhanahu wa Ta’ala pada ayat ke-98:
هَذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ
“Ini adalah rahmat dari Rabbku, maka apabila sudah datang janji Rabb-ku Dia akan menjadikannya hancur luluh…..”
Ibnu Katsir rahimahullahu menyatakan: “Ini adalah dalil yang menunjukkan bahwa mereka tidak akan bisa melubanginya sedikitpun…”
Sedangkan makna “Jika datang janji Rabbku” adalah: Jika telah dekat hari kiamat, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan runtuhkan benteng tersebut. Demikian dikatakan oleh Ibnu Katsir rahimahullahu.

Ya`juj wa Ma`juj dari keturunan Adam ‘alaihissalam

Ya’juj dan Ma’juj adalah dari jenis manusia keturunan Adam ‘alaihissalam. Tidak seperti yang digambarkan oleh sebagian orang bahwa mereka bukanlah dari keturunan manusia. Hanya saja mereka adalah orang-orang yang merusak serta memiliki sifat dan perangai yang Allah Subhanahu wa Ta’ala takdirkan kepada mereka tidak seperti manusia pada umumnya.
Dalil yang menunjukkan bahwa mereka dari jenis manusia keturunan Adam ‘alaihissalam adalah apa yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari dalam Kitabul Anbiya’ bab Qishah Ya’juj dan Ma’juj, dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِي اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: يَقُولُ اللهُ تَعَالَى: يَا آدَمُ. فَيَقُولُ: لَبَّيْكَ وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ فِي يَدَيْكَ. فَيَقُولُ: أَخْرِجْ بَعْثَ النَّارِ. قَالَ: وَمَا بَعْثُ النَّارِ؟ قَالَ: مِنْ كُلِّ أَلْفٍ تِسْعَ مِائَةٍ وَتِسْعَةً وَتِسْعِينَ فَعِنْدَهُ يَشِيبُ الصَّغِيرُ وَتَضَعُ كُلُّ ذَاتِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّاسَ سُكَارَى وَمَا هُمْ بِسُكَارَى وَلَكِنَّ عَذَابَ اللَّهِ شَدِيدٌ ﭼ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَيُّنَا ذَلِكَ الْوَاحِدُ؟ قَالَ: أَبْشِرُوا فَإِنَّ مِنْكُمْ رَجُلًا وَمِنْ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ أَلْفًا …
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Adam: “Wahai Adam.” Maka Adam menjawab: “Labbaika wa sa’daika wal khairu fi yadaika (Aku sambut panggilan-Mu dengan senang hati dan kebaikan semuanya di tangan-Mu).” Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Keluarkan utusan (penghuni) neraka.” Maka Adam bertanya: “Apa itu utusan (penghuni) neraka?” Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Mereka dari setiap seribu orang, sembilan ratus sembilan puluh sembilan orang!” Maka ketika itu anak kecil menjadi beruban, setiap yang hamil melahirkan apa yang dikandungnya, dan kamu lihat orang-orang seakan-akan mabuk padahal mereka tidak mabuk, tetapi karena adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat keras. Kemudian para shahabat bertanya: “Siapa satu yang selamat dari kita itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Bergembiralah, sesungguhnya penghuni neraka itu dari kalian satu dan dari Ya’juj dan Ma’juj seribu….” (HR. Al-Bukhari dengan Fathul Bari, juz 6 hal. 382)
Dari hadits di atas kita dapatkan beberapa faedah:
Pertama: Ya’juj dan Ma’juj adalah calon penghuni neraka.
Kedua: jumlah Ya’juj dan Ma’juj sangat besar.
Ketiga: bahwa Ya’juj dan Ma’juj dari jenis manusia keturunan Adam.

Sifat-sifat Ya`juj dan Ma`juj

Walaupun mereka dari jenis manusia keturunan Adam, namun mereka memiliki sifat khas yang berbeda dari manusia biasa. Ciri utama mereka adalah perusak dan jumlah mereka yang sangat besar sehingga ketika mereka turun dari gunung seakan-akan air bah yang mengalir, tidak pandai berbicara dan tidak fasih, bermata kecil (sipit), berhidung kecil, lebar mukanya, merah warna kulitnya seakan-akan wajahnya seperti perisai dan sifat-sifat lain.
Disebutkan dalam riwayat Al-Imam Ahmad rahimahullahu, dari Ibnu Harmalah, dari bibinya, dia berkata:
خَطَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَاصِبٌ إِصْبَعَهُ مِنْ لَدْغَةِ عَقْرَبٍ فَقَالَ: إِنَّكُمْ تَقُولُونَ لاَ عَدُوَّ وَإِنَّكُمْ لاَ تَزَالُونَ تُقَاتِلُونَ عَدُوًّا حَتَّى يَأْتِيَ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ عِرَاضُ الْوُجُوهِ صِغَارُ الْعُيُونِ شُهْبُ الشِّعَافِ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ كَأَنَّ وُجُوهَهُمُ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah dalam keadaan jarinya terbalut karena tersengat kalajengking. Beliau bersabda: “Kalian mengatakan tidak ada musuh. Padahal sesungguhnya kalian akan terus memerangi musuh sampai datangnya Ya’juj dan Ma’juj, lebar mukanya, kecil (sipit) matanya, dan ada warna putih di rambut atas. Mereka mengalir dari tempat-tempat yang tinggi, seakan-akan wajah-wajah mereka seperti perisai.” (HR. Ahmad)

Benarkah Ya`juj dan Ma`juj Sudah Ada Sekarang ?

Ya`juj dan Ma`juj sudah ada dan terus dalam keadaan turun-temurun (beranak pinak), tidak meninggal satu orang dari mereka, kecuali lahir seribu orang lebih. Sebagaimana disebutkan dalam riwayat Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan Al-Hakim rahimahullahu dalam Mustadrak-nya.
Namun alhamdulillah Allah Subhanahu wa Ta’ala telah bentengi mereka dari kita, yaitu dengan sebab menakdirkan munculnya Dzulqarnain yang dengan kemampuannya membuat benteng yang terbuat dari besi dan tembaga.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا. حَتَّى إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُونِهِمَا قَوْمًا لاَ يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلاً. قَالُوا يَاذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي اْلأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَى أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا. قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا. آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ حَتَّى إِذَا سَاوَى بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُوا حَتَّى إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ ءَاتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا. فَمَا اسْطَاعُوا أَنْ يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا. قَالَ هَذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا
“Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi). Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan keduanya, suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan. Mereka berkata: ‘Hai Dzulqarnain, sesungguhnya Ya`juj dan Ma`juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan suatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?’ Dzulqarnain berkata: ‘Apa yang telah dikuasakan oleh Rabbku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka, berilah aku potongan-potongan besi.’ Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulqarnain: ‘Tiuplah (api itu).’ Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: ‘Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar kutuangkan ke atas besi panas itu.’ Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya. Dzulqarnain berkata: ‘Ini (dinding) adalah rahmat dari Rabbku, maka apabila sudah datang janji Rabb-ku Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Rabbku itu adalah benar’.” (Al-Kahfi: 92-98)

Kesombongan Ya`juj dan Ma`juj

Ya`juj dan Ma`juj ketika keluar tidaklah melewati sesuatu kecuali dirusaknya. Tidaklah melewati danau kecuali meminumnya hingga habis. Tidaklah mendapati manusia kecuali dibunuhnya sampai ketika mereka merasa menang membantai seluruh penduduk bumi, mereka menantang penduduk langit. Inilah kesombongan yang luar biasa dari Ya`juj wa Ma`juj.
ثُمَّ يَسِيرُونَ حَتَّى يَنْتَهُوا إِلَى جَبَلِ الْـخُمَرِ وَهُوَ جَبَلُ بَيْتِ الْمَقْدِسِ فَيَقُولُونَ: لَقَدْ قَتَلْنَا مَنْ فِي اْلأَرْضِ هَلُمَّ فَلْنَقْتُلْ مَنْ فِي السَّمَاءِ. فَيَرْمُونَ بِنُشَّابِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ فَيَرُدُّ اللهُ عَلَيْهِمْ نُشَّابَهُمْ مَخْضُوبَةً دَمًا
“Kemudian mereka berjalan dan berakhir di gunung Khumar, yaitu salah satu gunung di Baitul Maqdis. Kemudian mereka berkata: “Kita telah membantai penduduk bumi, mari kita membantai penduduk langit.” Maka mereka melemparkan panah-panah dan tombak-tombak mereka ke langit. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala kembalikan panah dan tombak-tombak mereka dalam keadaan berlumuran darah.” (HR. Muslim dalam kitab Al-Fitan wa Asyrathus Sa’ah)
Yakni mereka mengira bahwa darah tersebut bukti kemenangan mereka melawan penduduk langit. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala binasakan seluruhnya pada saat puncak kesombongan mereka dalam waktu yang hampir bersamaan.

Binasanya Ya'juj dan Ma'juj dengan doa Nabi Isa ‘alaihissalam
Diriwayatkan dari An-Nawwas Ibni Sam’an radhiyallahu ‘anhu dalam hadits yang panjang. Di antaranya sebagai berikut:
إِذْ أَوْحَى اللهُ إِلَى عِيسَى إِنِّي قَدْ أَخْرَجْتُ عِبَادًا لِي لاَ يَدَانِ لِأَحَدٍ بِقِتَالِهِمْ فَحَرِّزْ عِبَادِي إِلَى الطُّورِ وَيَبْعَثُ اللهُ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ فَيَمُرُّ أَوَائِلُهُمْ عَلَى بُحَيْرَةِ طَبَرِيَّةَ فَيَشْرَبُونَ مَا فِيهَا وَيَمُرُّ آخِرُهُمْ فَيَقُولُونَ لَقَدْ كَانَ بِهَذِهِ مَرَّةً مَاءٌ وَيُحْصَرُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ حَتَّى يَكُونَ رَأْسُ الثَّوْرِ لِأَحَدِهِمْ خَيْرًا مِنْ مِائَةِ دِينَارٍ لِأَحَدِكُمُ الْيَوْمَ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ فَيُرْسِلُ اللهُ عَلَيْهِمُ النَّغَفَ فِي رِقَابِهِمْ فَيُصْبِحُونَ فَرْسَى كَمَوْتِ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى اْلأَرْضِ فَلاَ يَجِدُونَ فِي اْلأَرْضِ مَوْضِعَ شِبْرٍ إِلاَّ مَلَأَهُ زَهَمُهُمْ وَنَتْنُهُمْ فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيسَى وَأَصْحَابُهُ إِلَى اللهِ فَيُرْسِلُ اللهُ طَيْرًا كَأَعْنَاقِ الْبُخْتِ فَتَحْمِلُهُمْ فَتَطْرَحُهُمْ حَيْثُ شَاءَ اللهُ ثُمَّ يُرْسِلُ اللهُ مَطَرًا لاَ يَكُنُّ مِنْهُ بَيْتُ مَدَرٍ وَلاَ وَبَرٍ فَيَغْسِلُ اْلأَرْضَ حَتَّى يَتْرُكَهَا كَالزَّلَفَةِ ثُمَّ يُقَالُ لِلْأَرْضِ أَنْبِتِي ثَمَرَتَكِ وَرُدِّي بَرَكَتَكِ…
Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan kepada Isa ‘alaihissalam: Sesungguhnya aku mengeluarkan hamba-hamba-Ku yang tidak ada kemampuan bagi seorang pun untuk memeranginya. Maka biarkanlah mereka hamba-hamba-Ku menuju Thuur. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala keluarkan Ya’juj dan Ma’juj dan mereka mengalir dari tiap-tiap tempat yang tinggi. Kemudian mereka melewati danau Thabariyah1, dan meminum seluruh air yang ada padanya. Hingga ketika barisan paling belakang mereka sampai di danau tersebut mereka berkata: “Sungguh dahulu di sini masih ada airnya.” Ketika itu terkepunglah Nabiyullah Isa ‘alaihissalam dan para sahabatnya. Hingga kepala sapi ketika itu lebih berharga untuk mereka daripada seratus dinar kalian sekarang ini. Maka Isa dan para sahabatnya berharap (berdoa) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pun mengirim sejenis ulat yang menyerang leher mereka. Maka pagi harinya mereka seluruhnya binasa menjadi bangkai-bangkai dalam waktu yang hampir bersamaan. Kemudian turunlah (dari gunung Thuur) Nabiyullah Isa dan para sahabatnya, maka tidak didapati satu jengkal pun tempat kecuali dipenuhi oleh bangkai dan bau busuk mereka. Maka Nabi Isa ‘alaihissalam pun berharap (berdoa) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengirimkan burung-burung yang lehernya seperti unta, membawa bangkai-bangkai mereka dan kemudian dilemparkan di tempat yang Allah Subhanahu wa Ta’ala kehendaki2. Kemudian Allah kirimkan hujan yang tidak menyisakan satu pun rumah maupun kemah, lalu membasahi bumi hingga menjadi licin. Kemudian dikatakan kepada bumi itu: ‘Tumbuhkanlah buah-buahanmu dan kembalilah berkahmu...” (HR. Muslim)

Wajib Beriman dengan berita Ya`juj wa Ma`juj
Berita tentang Ya`juj wa Ma`juj adalah berita dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, sehingga seorang muslim yang beriman wajib menerimanya. Bukankah ciri-ciri orang yang bertakwa adalah beriman kepada hal ghaib yang dikabarkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya? Dan termasuk hal yang ghaib adalah apa yang akan terjadi pada akhir zaman, termasuk berita akan keluarnya Ya`juj wa Ma`juj?
Namun sebagian kaum muslimin, khususnya kaum Mu’tazilah dan para rasionalis atau orang-orang yang terpengaruh oleh mereka, menolak berita-berita hadits yang -menurut anggapan mereka- tidak masuk akal. Mereka menganggap hadits-hadits tersebut hanya akan membuat orang lari dari Islam.
Ketika mereka mendengarkan hadits-hadits tentang diangkatnya Nabi Isa ‘alaihissalam dalam keadaan hidup, akan turunnya beliau pada akhir zaman, berita tentang Dajjal -yang sudah ada wujudnya dalam keadaan terbelenggu- atau tentang Ya`juj wa Ma`juj yang masih beranak-pinak dan terus menerus berupaya untuk keluar dari benteng yang dibuat oleh Dzulqarnain, dan lain-lainnya. Mereka benar-benar gelisah, panas dadanya seraya berkata: “Untuk apa hadits-hadits seperti ini disampaikan. Hadits-hadits ini akan menjadikan manusia semakin jauh dari Islam.” Mereka melontarkan olok-olok, celaan, dan berbagai macam ucapan penolakan terhadap hadits-hadits tersebut. Keadaan mereka ini persis seperti yang dikatakan oleh para ulama tentang ahlul bid’ah:
Ahmad bin Sinan Al-Qaththan rahimahullahu berkata: ”Tidak ada di dunia ini seorang mubtadi’ (ahli bid’ah) pun kecuali akan membenci ahlil hadits. Jika seseorang mengada-adakan kebid’ahan niscaya akan dicabut kelezatan hadits dari hatinya.” (Aqidatussalaf wa Ashhabul Hadits hal. 300)
Abu Nashr bin Sallam Al-Faqih rahimahullahu berkata: “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dan lebih dibenci bagi orang-orang mulhid (sesat) daripada mendengarkan hadits dengan riwayat dan sanadnya.” (Aqidatus Salaf Ashhabil Hadits hal. 302)

Penutup
Sebagai nasihat dan peringatan untuk kita dan seluruh kaum muslimin, kami nukilkan beberapa ucapan para ulama dalam masalah ini:
Al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullahu menyatakan: “Barangsiapa yang menolak hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi sa wallam, maka dia berada di pinggir jurang kehancuran.” (Thabaqat Al-Hanabilah, 2/11 dan Al-Ibanah, 1/269; lihat Ta’zhimus Sunnah hal. 29)
Al-Imam Al-Barbahari rahimahullahu menegaskan: “Jika engkau mendengar seseorang mencela riwayat-riwayat (yakni riwayat hadits yang shahih), menolaknya atau menginginkan selainnya, maka curigailah keislamannya dan jangan ragu kalau dia adalah pengekor hawa nafsu, ahlul bid’ah.” (Syarhus Sunnah hal. 51)
Abul Qashim Al-Ashbahani rahimahullahu menerangkan: Ahlus Sunnah dari kalangan salaf berkata: “Barangsiapa mencerca riwayat-riwayat hadits, maka sepantasnya untuk dituduh keislamannya.” (Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah 2/248. Lihat Ta’zhimus Sunnah, hal. 29)
Al-Imam Az-Zuhri rahimahullahu –imamnya para imam pada zamannya- berkata: “Dari Allah Subhanahu wa Ta’ala keterangannya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyampaikannya, maka kewajiban kita adalah menerimanya.” (Aqidatus Salaf Ashhabil Hadits, hal. 249)
Beliau rahimahullahu berkata juga: “Diriwayatkan dari salaf bahwa kaki Islam tidak akan kokoh, kecuali di atas fondasi at-taslim (yakni menerima dan tunduk pada seluruh ucapan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, pent.).” (Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits hal. 200). Wallahu a’lam.

1 Danau Tiberias/Galilea, terletak di wilayah pendudukan Yahudi, tepatnya di barat daya Dataran Tinggi Golan. Merupakan sumber air tawar bagi warga Yahudi-Israel.
2 Dalam riwayat lain, dilemparkan ke laut. (HR. Al-Hakim dalam Mustadrak-nya, dan Al-Imam Ahmad dalam Musnad-nya)

sumber:
Diposkan oleh jack di 02:20 0 komentar Link ke posting ini
Label: Ya'juj dan Ma'juj
Ya’juj dan Ma’juj [Menurut Wikipedia]

Ya’juj dan Ma’juj (Arab يأجوج ومأجوج , Ibrani:גוג ומגוג, Inggris:Gog dan Magog) adalah sebutan kepada suatu bangsa yang muncul dalam akhir zaman, yang memiliki kekuatan sebagai perusak dan penghancur kehidupan di muka bumi.

Kisah tentang kaum ini terdapat dalam ajaran agama Yahudi, Kitab Kejadian umat Kristen dan kitab suci umat Islam, Al-Qur'an. Mengenai sekelompok manusia Ya’juj dan Ma’juj dalam tradisi religius digambarkan dalam istilah yang ambigu (tidak jelas). Ada yang menyebutnya sebagai bentuk manusia, mahkluk berbentuk raksasa, suatu bangsa atau negeri. Ya’juj dan Ma’juj juga muncul dalam banyak mitos dan cerita rakyat di banyak negara.
Genealogi

Ibnu Katsir menerangkan bahwa mereka adalah dari keturunan Adam[1] dari keturunan Nuh, dari anak keturunan Yafits yakni nenek moyang bangsa Turki yang terisolir oleh benteng tinggi yang dibangun oleh Dzulqarnain.

Magogh bin Yafet bin Nuh bin Lamik (Lamaka) bin Metusyalih (Matu Salij) bin Idris bin Yarid bin Mahlail bin Qianan bin Anus bin Syit bin Adam.

Ya’juj dan Ma’juj adalah merupakan keturunan manusia, yaitu masih keturunan anak lelaki Nuh bernama Yafis dan berhijrah ke utara, yaitu ke Eropa dan Rusia bagian Selatan, selepas banjir kering. Keturunan Sam berlegar di sekitar bumi Kanaan lalu membentuk bangsa Arab dan sekitarnya. Keturunan Ham pula berhijrah ke Afrika lalu membentuk bangsa Afrika.

Oleh itu sekiranya seseorang itu berketurunan nabi, beliau semestinya manusia dan malahan boleh dianggap berketurunan mulia dan baik-baik. Oleh itu, tidak munasbah menyatakan Ya’juj & Ma’juj makhluk ghaib (jin?) tetapi berketurunan nabi-nabi.

Dalam surah al Kahfi bahwa Zulqarnaen, dalam sebuah perjalanannya sampai disuatu tempat diantara dua gunung. Dia menemukan suatu kaum yang tidak dikenali bahasanya. Kaum itu mengadukan kepadanya bahwa ada bahaya mengancam mereka yaitu dari Ya'juj dan Ma'juj dan mereka meminta untuk membangun tembok yang dapat melindungi mereka dari kejahatan Ya'juj dan Ma'juj. Kemudian Zulqarnaen memenuhi permintaan mereka.

Ya’juj dan Ma’juj adalah dua bangsa yang sangat besar jumlahnya. Mereka masih keturunan Adam, sebagaimana di jelaskan dalam hadits shahih Bukhari dan Muslim.
Wujud Ya’juj & Ma’juj

Walaupun mereka dari jenis manusia keturunan Adam, namun mereka memiliki sifat khas yang berbeda dari manusia biasa. Ciri utama mereka adalah perusak dan jumlah mereka yang sangat besar sehingga ketika mereka turun dari gunung seakan-akan air bah yang mengalir, tidak pandai berbicara dan tidak fasih, bermata kecil (sipit), berhidung kecil, lebar mukanya, merah warna kulitnya seakan-akan wajahnya seperti perisai dan sifat-sifat lain.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa berdasarkan keterangan Surah al-Kahfi 92-98, fakta relevan mengenali Ya’juj & Ma’juj ialah:

* Negeri Ya’juj & Ma’juj = Khazaria & Russia (Ya'juj adalah koalisi Anglo-American dan Israel sedangkan Ma'juj adalah Russia)
* Jalan ke utara = ke utara Iran menuju ke Armenia
* Di antara dua gunung = Gunung Kaukasus
* Kaum hampir mereka tidak memahami perkataan = Kaum Armenia
* Tembok besi = Daryal Gorge/Gerbang Iberian/ Gerbang Kaukasia

sumber: http://id.wikipedia.org
Selengkapnya

Jumat, 18 Februari 2011

Vallentine Days ...


Hukum Merayakan Hari Valentine

Keinginan untuk ikut-ikutan memang ada dalam diri manusia, akan tetapi
hal tersebut menjadi tercela dalam Islam apabila orang yang diikuti
berbeda dengan kita dari sisi keyakinan dan pemikiran. Apalagi bila
mengikuti dalam perkara akidah, ibadah, syi'ar dan kebiasaan. Padahal
Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam telah melarang untuk mengikuti
tata cara peribadatan selain Islam, artinya,
"Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut."
(HR. At-Tirmidzi).

Valentine's Day adalah salah satu contoh hari besar di luar Islam yang
pada hari itu sebagian kaum muslimin ikut memperingatinya, terutama
kalangan ramaja dan pemuda. Padahal Valentine -menurut salah satu
versi sebuah ensiklopedi- adalah nama pendeta St. Valentine yang
dihukum mati karena menentang Kaisar Claudius II yang merlarang
pernikahan di kalangan pemuda. Oleh karena itu kiranya perlu
dijelaskan kepada kaum muslimin mengenai hukum merayakan hari
Valentine atau yang sering disebut sebagai hari kasih sayang.

Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata, "Memberikan ucapan selamat terhadap
acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati
bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya
dan puasa mereka, dengan mengucapkan, "Selamat hari raya!" dan
sejenisnya. Bagi yang mengucapkannya, kalau pun tidak sampai pada
kekafiran, paling tidak itu merupakan perbuatan haram. Berarti ia
telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah
subhanahu wata'ala. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di
sisi Allah subhanahu wata'ala dan lebih dimurkai dari pada memberi
selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh. Banyak orang yang
terjerumus dalam suatu perbuatan tanpa menyadari buruknya perbuatan
tersebut. Seperti orang yang memberi selamat kepada orang lain atas
perbuatan maksiat, bid'ah atau kekufuran. Padahal dengan itu ia telah
menyiapkan diri untuk mendapatkan kemarahan dan kemurkaan Allah
subhanahu wata'ala."

Abu Waqid meriwayatkan, "Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam saat
keluar menuju perang Khaibar, beliau melewati sebuah pohon milik
orang-orang musyrik, yang disebut dengan Dzaatu Anwaath, biasanya
mereka menggantungkan senjata-senjata mereka di pohon tersebut. Para
sahabat Rasulullah shallallahu `alaihi wasallam berkata, "Wahai
Rasulullah, buatkan untuk kami Dzaatu Anwaath, sebagaimana mereka
mempunyai Dzaatu Anwaath." Maka Rasulullah bersabda, "Maha Suci Allah,
ini seperti yang diucapkan kaum Nabi Musa, 'Buatkan untuk kami tuhan
sebagaimana mereka mempunyai tuhan-tuhan.' Demi Dzat yang jiwaku di
tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan orang-orang yang
ada sebelum kalian." (HR. At-Tirmidzi, ia berkata, hasan shahih).

Syaikh Muhammad al-Utsaimin ketika ditanya tentang Valentine's Day
mengatakan, "Merayakan hari Valentine itu tidak boleh, karena alasan
berikut:
Pertama; ia merupakan hari raya bid'ah yang tidak ada dasar hukumnya
di dalam syari'at Islam.
Kedua; ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan
seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salaf shalih
(pendahulu kita) -semoga Allah meridhai mereka-. Maka tidak halal
melakukan ritual hari raya, baik dalam bentuk makan-makan,
minum-minum, berpakaian, saling tukar hadiah ataupun lainnya.
Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi
orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan. Semoga Allah
subhanahu wata'ala melindungi kaum muslimin dari segala fitnah (ujian
hidup), yang tampak ataupun yang tersembunyi dan semoga meliputi kita
semua dengan bimbingan-Nya."

Maka adalah wajib bagi setiap orang yang mengucapkan dua kalimat
syahadat untuk melaksanakan wala' dan bara' (loyalitas kepada muslimin
dan berlepas diri dari golongan kafir) yang merupakan dasar akidah
yang dipegang oleh para salaf shalih. Yaitu mencintai orang-orang
mu'min dan membenci dan menyelisihi orang-orang kafir dalam ibadah dan
perilaku.

Di antara dampak buruk menyerupai mereka adalah: ikut mempopulerkan
ritual-ritual mereka sehingga terhapuslah nilai-nilai Islam. Dampak
buruk lainnya, bahwa dengan mengikuti mereka berarti memperbanyak
jumlah mereka, mendukung dan mengikuti agama mereka, padahal seorang
muslim dalam setiap raka'at shalatnya telah membaca ayat,artinya,
"Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang
telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka
yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat." (Al-Fatihah:6-7)

Bagaimana mungkin ia memohon kepada Allah subhanahu wata'ala agar
ditunjukkan kepadanya jalan orang-orang yang mukmin dan dijauhkan
darinya jalan golongan mereka yang sesat dan dimurkai, namun ia
sendiri justru menempuh jalan sesat itu dengan sukarela.

Lain dari itu, mengekornya kaum muslimin terhadap gaya hidup mereka
akan membuat mereka senang serta dapat melahirkan kecintaan dan
keterikatan hati. Allah subhanahu wata'ala telah berfirman, yang artinya,
"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang
yahudi dan nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebagian mereka
adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kamu
mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu
termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang zhalim." (al-Maidah:51)

Di dalam ayat lainnya, artinya,
"Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan
hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang
Allah dan Rasul-Nya." (Al-Mujadilah:22 )

Ada seorang gadis mengatakan bahwa ia tidak mengikuti keyakinan
mereka, hanya saja hari Valentine tersebut secara khusus memberikan
makna cinta dan suka citanya kepada orang-orang yang memperingatinya.

Saudaraku!! Ini adalah suatu kelalaian, padahal sekali lagi: Perayaan
ini adalah acara ritual agama lain! Hadiah yang diberikan sebagai
ungkapan cinta adalah sesuatu yang baik, namun bila dikaitkan dengan
pesta-pesta ritual agama lain dan tradisi-tradisi Barat, akan
mengakibatkan seseorang terobsesi oleh budaya dan gaya hidup mereka.

Mengadakan pesta pada hari tersebut bukanlah sesuatu yang sepele, tapi
lebih mencerminkan pengadopsian nilai-nilai Barat yang tidak memandang
batasan normatif dalam pergaulan antara pria dan wanita sehingga saat
ini kita lihat struktur sosial mereka menjadi porak-poranda.

Alhamdulillah, kita mempunyai pengganti yang jauh lebih baik dari itu
semua, sehingga kita tidak perlu meniru dan menyerupai mereka. Di
antaranya, bahwa dalam pandangan kita, seorang ibu mempunyai kedudukan
yang agung, kita bisa mempersembahkan ketulusan dan cinta itu
kepadanya dari waktu ke waktu, demikian pula untuk ayah, saudara,
suami dst, tapi hal itu tidak kita lakukan khusus pada saat yang
dirayakan oleh orang-orang kafir.

Semoga Allah subhanahu wata'ala senantiasa menjadikan hidup kita penuh
dengan kecintaan dan kasih sayang yang tulus, yang menjadi jembatan
untuk masuk ke dalam Surga yang hamparannya seluas langit dan bumi
yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Semoga Allah
menjadikan kita termasuk dalam golongan orang-orang yang disebutkan
dalam hadits qudsi, Allah subhanahu wata'ala berfirman yang artinya,
"Kecintaan-Ku adalah bagi mereka yang saling mencintai karena Aku,
yang saling berkorban karena Aku dan yang saling mengunjungi karena
Aku." (HR. Ahmad).(fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin)

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:
* Seorang muslim dilarang untuk meniru-niru kebiasan orang-orang
di luar Islam, apalagi jika yang ditiru adalah sesuatu yang berkaitan
dengan keyakinan, pemikiran dan adat kebiasaan mereka.
* Bahwa mengucapkan selamat terhadap acara kekufuran adalah lebih
besar dosanya dari pada mengucapkan selamat kepada kemaksiatan seperti
meminum minuman keras dan sebagainy.a
* Haram hukumnya umat Islam ikut merayakan Hari Raya orang-orang
di luar Islam.
* Valentine's Day adalah Hari Raya di luar Islam untuk
memperingati pendeta St. Valentin yang dihukum mati karena menentang
Kaisar yang melarang pernikahan di kalangan pemuda. Oleh karena itu
tidak boleh ummat Islam memperingati hari Valentin's tersebut.

http://www.mail-archive.com/assunnah@yahoogroups.com/msg01566.html
------------------------------------------------------------------------------------
Valentine’s Day | Hari Kasih Sayang
Posted by Yulis on January 9th, 2011
valentine_day

Hari kasih sayang atau Hari Valentine [Valentine's Day], yang jatuh pada tanggal 14 Februari setiap tahunnya adalah hari yang tepat untuk mengungkapkan rasa sayang dan cinta seseorang terhadap seseorang yang membuat cinta itu hadir. Yah, begitulah yang terjadi di Dunia Barat! Dan di Indonesia Hari Valentine sudah sangat mewabah sampai pelosok tanah air. Namun, tidak banyak yang mengetahui asal muasal mengapa dan bagaimana Sejarah Valentine itu sehingga menjadi hari yang sangat special untuk mereka-mereka yang sedang dilanda cinta.

Hari kasih sayang atau Hari Valentine diasosiasikan oleh para pecinta dengan saling bertukar dalam simbol modern seperti misalnya coklat berbentuk hati, bunga mawar berbentuk hati, kartu berbentuk hati, gambar-gambar cupid bersayap, dan lain sebagainya. Di Amerika, Hari Valentine merupakan hari raya terbesar kedua setelah hari Natal. Dan diperkirakan sekitar 85%, kaum wanitalah yang paling dominan membeli kartu-kartu valentine.

Sebuah kencan pada Hari Valentine seringkali dianggap bahwa pasangan yang sedang kencan terlibat dalam sebuah hubungan serius. Sebenarnya Hari Valentine itu merupakan Hari Percintaan, bukan hanya kepada pacar ataupun kekasih, Valentine merupakan hari terbesar dalam soal percintaan dan bukan berarti selain valentine tidak merasakan cinta.

Di Amerika Serikat, Hari Valentine diasosiasikan dengan ucapan umum CINTA PLATONIK; “Happy Valentine’s”, yang bisa diucapkan oleh pria kepada teman wanita mereka, teman pria kepada teman prianya, dan teman wanita kepada teman wanitanya. Cinta platonik adalah sebuah istilah yang dipakai untuk menyebut sebuah relasi yang sangat afektif, tetapi di mana unsur-unsur rasa ketertarikan secara seksual tidak terdapat, terutama apabila hal ini justru malahan diperkirakan ada.

SEJARAH VALENTINE DAY MENURUT ISLAM > Valentine sebenarnya adalah seorang martyr [dalam Islam disebut 'Syuhada'] yang karena kesalahan dan bersifat ‘dermawan’ maka dia diberi gelar Saint atau Santo.

Pada tanggal 14 Februari 270 M, St. Valentine dibunuh karena pertentangannya dengan penguasa Romawi pada waktu itu Raja Claudius II [268 - 270 M]. St. Valentine dianggap sebagai simbol ketabahan, keberanian dan kepasrahan dalam menghadapi cobaan hidup, oleh sebab itu para pengikutnya memperingati kematian St. Valentine sebagai ‘upacara keagamaan’.

Tetapi sejak abad 16 M, upacara keagamaan tersebut mulai berangsur-angsur menghilang dan berubah menjadi perayaan bukan keagamaan. Hari Valentine kemudian dihubungkan dengan pesta jamuan kasih sayang bangsa Romawi kuno yang disebut “Supercalis” yang jatuh pada tanggal 15 Februari.

Setelah orang-orang Romawi itu masuk agama Nasrani, pesta ‘supercalis’ kemudian dikaitkan dengan upacara kematian St. Valentine. Penerimaan upacara kematian St. Valentine sebagai hari kasih sayang juga dikaitkan dengan kepercayaan orang Eropah bahwa waktu kasih sayang itu mulai bersemi – Bagai Burung Jantan & Betina – pada tanggal 14 Februari.

Ungkapan Cinta HARI VALENTINE
Aku akan menjadi apa saja yang engkau inginkan kekasihku

Jika badai memisahkan kita di rumput tinggi samudera
Ombak-ombak akan menyatukan kita di pantai yang tenang

Aku akan selalu tahu apa yang kau ketahui kekasihku
Sehingga kita akan terus berjalan dan bercakap-cakap bersama-sama

Apakah engkau masih ingat suatu masa
Ketika aku mengucapkan selamat tinggal
Dengan ciuman intim yang kau daratkan di bibirku?

Engkau adalah teman jiwaku
Yang hilang setengah dariku
Yang dipisahkan saat ditetapkan

Ketika aku memikirkan dirimu
Hidup ini menjadi lebih baik
Lebih mulia dan jauh lebih indah
Saat ku cium kedua tanganmu
Ku berkati diriku sendiri

Jiwaku tidak mendamba perpisahan
Sebab engkau adalah bagian dari diriku
Mataku tak pernah jenuh memandangmu
Sebab engkau adalah cahaya bagiku

Mendekatlah padaku
Ayo ke sini
Mendekatlah kekasihku
Datanglah di sampingku
Dan biarkanlah aku mengobati rasa rinduku padamu

*Nada-nada Cinta Kahlil Gibran*
http://www.yulissamoa.com/puisi-kata-kata-cinta-valentine-day
Selengkapnya

Artikel Dunia Pendidikan

Apa sih Maksud dari PTK - Penelitian Tindakan Kelas ?
Rabu, 16 Februari 2011, 11:19 WIB

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bu Evi, saya guru SMP. Ingin tanya tentang pembuatan PTK . Pertanyaan saya:
1. Apakah pembuatan PTK boleh dilakukan sendirian?
2. Siapakah pejabat yang bisa mengesahkan PTK tersebut?

Demikian pertanyaan saya. Atas jawaban Bu Evi, saya ucapkan terima kasih.
Machmuds

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pak Machmuds yang senantiasa dirahmati Allah, senang sekali saya menerima pertanyaan dari Bapak. Pertanyaan tersebut mengindikasikan sebagai guru Anda sudah melangkah lebih maju. Artinya, Pak Mahmud sepertinya tidak hanya sekedar mengajar, tapi senantiasa melakukan proses perubahan melalui penelitian tindakan. Tentunya dengan tujuan agar terjadi peningkatan kualitas pembelajaran bukan?

Ciri khas PTK atau Penelitian Tindakan Kelas dibandingkan dengan penelitian ilmiah pada umumnya, adalah adanya masalah pembelajaran dan tindakan perbaikan untuk memecahkan masalah dalam kelas yang kita ajar. Melalui proses penelitian tersebut, secara dinamis guru senantiasa melakukan perbaikan pembelajaran di kelas dan mengembangkan keahlian mengajar. Jika setiap guru melakukan penelitian tindakan ini seperti Bapak, wah…Anda termasuk guru yang berkontribusi dalam memajukan kualitas pendidikan di negara ini. Luar biasa.

PTK merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru. Apakah PTK dapat dilakukan sendiri? Ya. Guru dapat menjadi pengajar sekaligus peneliti. Namun pada pelaksanaannya, guru sebaiknya perlu melakukan langkah penelitian ini secara bersama-sama dengan teman sejawat (sebagai kolaborator) dari awal hingga akhir secara kolaborasi. Mengapa demikian? Karena ketika kita melakukan sebuah penelitian yang dimulai dengan (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan perbaikan, (3) pengamatan dan (4) evaluasi refleksi tindakan; maka kita perlu kolaborator yang membantu kita mengamati pelaksanaan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif. Tujuannya memberikan penilaian dari instrumen yang kita buat sebagai alat ukur penelitian, misalnya. Selain itu kolaborator dapat memberikan umpan balik ( feedback ) pada saat evaluasi refleksi yang tujuannya perbaikan tindakan yang kita lakukan. Nah masukan dan data-data yang diberikan kolaborator dapat menjadi bahan perbaikan untuk penelitian tindakan pada siklus berikutnya.

Kemudian, siapakah pejabat yang bisa mengesahkan PTK? Pada lingkup sekolah, PTK bisa disahkan oleh kepala sekolah. Demikian Pak Machmuds, semoga jawaban saya cukup membantu Bapak menyusun PTK. Terus semangat dan terus kreatif, ya Pak, dalam melakukan strategi-strategi pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas yang Bapak lakukan. Semoga Allah memudahkan ikhtiar Bapak. Amiin.

Evi Afifah Hurriyati, M.Si
Trainer Pendidikan & Kepala Program Sekolah Guru Ekselensia Indonesia LPI Dompet Dhuafa Republika

pendidikan@rol.republika.co.id

---------------------------------------
Republika OnLine » Pendidikan » Konsultasi Pendidikan
Seni Mengelola Kelas
Kamis, 11 November 2010, 10:18 WIB

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Bu Evi yang baik, saya adalah seorang guru di salah satu SDIT Kota Bogor. Di kelas saya, hanya ada lima orang siswa, dua putra dan tiga putri. Setiap kegiatan belajar mengajar dimulai, saya harus mencari murid satu persatu untuk masuk kelas. Bagaimana cara yang efektif Bu, agar siswa saya disiplin dan mau belajar tanpa harus saya kejar-kejar? Terimakasih Ibu..

Puspita, Bogor.


Jawaban :

Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh,

Ibu Puspita, terimakasih atas pertanyaannya. Saya doakan, semoga Ibu selalu sabar, menghadapi siswa-siswi ibu. Meskipun hanya lima orang tapi membutuhkan energi yang cukup besar ya, sehingga Ibu harus kejar-kejaran dengan siswanya.

Ibu, mengajar dan mendidik adalah seni mengubah perilaku siswa menjadi cerdas dan baik. Oleh karena itu mengajar di kelas besar maupun kecil sama saja. Tidak tepat juga bila ada yang mengatakan mengajar di kelas besar lebih sulit dibandingkan mengajar di kelas kecil. Kelas Ibu contoh konkritnya. Saya juga punya teman yang mengajar hanya dua orang siswa bahkan. Saat satu siswa tidak termotivasi, siswa lainnya ikutan tidak termotivasi juga. Tetapi, jika kita tahu seninya, baik mengajar di kelas besar maupun kelas kecil akan terasa sama mudahnya.

Sebenarnya dalam mengelola sebuah kelas, yang terpenting adalah keterampilan manajemen kelas. Sebaiknya Ibu Puspita membuat peraturan dan prosedur dulu ketika hari pertama masuk sekolah. Misalnya peraturan masuk kelas. Nah, prosedurnya (cara) masuk kelas harus Ibu sampaikan pula. Mengenai prosedur kelas, Ibu bisa juga mengajak siswa untuk membuatnya bersama. Namun jika saat ini pembelajaran sudah berlangsung dan Ibu belum membuat kedua hal tersebut, tidak masalah. Sampaikanlah kedua hal tersebut pada hari Senin, sebelum memulai pembelajaran. Dapat juga hal tersebut Ibu sampaikan di akhir pekan, sehingga pada hari Senin berikutnya prosedur dan peraturan tersebut sudah dapat diterapkan. Jangan lupa, tentukan pula reward (hadiah) dan punishment (hukuman). Namun, perlu diingat bahwa reward dan punishment hanya diberikan setelah semua pendekatan tidak efektif.

Lalu bagaimana dengan pengelolaan kelas kecil seperti kelas Ibu? Setelah disosialisasikan peraturan dan prosedurnya, maka langkah kedua adalah membuat organisasi kelas dengan memberi tanggungjawab pada kelima anak tersebut dengan masing-masing tugas yang berbeda.

Cara efektif agar siswa menjadi disiplin adalah dengan menanamkan kesadaran terlebih dahulu. Sebab, jika aturan kelas hanya disampaikan tanpa membangun kesadaran terlebih dahulu maka sulit disiplin kelas terbentuk. Tentu saja perlu diperhatikan pendekatan komunikasi pada anak-anak tersebut. Berikanlah pesan-pesan yang membangun kesadaran dengan 'menyentuh' hati dan pikiran mereka. Sehingga siswa merasa membutuhkan disiplin tersebut. Mereka tahu manfaat disipin dan akibatnya, jika melanggar displin.

Oh ya bu, agar semua peraturan dan prosedur, bisa berjalan efektif dan siswa menjadi disiplin yang terpenting adalah dengan memberi teladan. Tentu saja teladan tersebut datang dari orang dewasa, dalam hal ini dicontohkan oleh guru sebagai role model. Insyaallah pendekatan-pendekatan yang ibu berikan dapat menyelesaikan masalah kelas ibu. Tetap semangat ya bu, sukses selalu. Semoga Ibu Puspita selalu dirahmati Allah swt.

Konsultasi diasuh oleh :
Evi Afifah Hurriyati, M.Si
Trainer Pendidikan & Kepala Program Sekolah Guru Ekselensia Indonesia LPI Dompet Dhuafa Republika

Email : pendidikan@rol.republika.co.id

--------------------------------------------

Republika OnLine » Pendidikan » Konsultasi Pendidikan
Bel Masuk? Santai Dulu Aaah…
Rabu, 19 Januari 2011, 10:52 WIB

Pertanyaan

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Di MTs kami, bel tanda masuk tidak begitu dihiraukan oleh murid dan sebagian guru. Walaupun sudah terdengar bel tanda masuk, murid-murid masih di luar kelas dengan alasan Bapak atau Ibu guru belum masuk ke kelas. Sebagian guru kapok masuk kelas tepat waktu karena murid-murid banyak yang belum masuk kelas. Saya sendiri sebagai kepala merasa rikuh atau sungkan bila menegur guru-guru yang lebih tua untuk masuk kelas tepat waktu. Mohon saran dan masukannya.

Terimakasih.

Faiq Aminuddin,
MTs. Irsyaduth Thullab Tedunan, Wedung, Demak

Jawaban

Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,
Bapak Faiq yang dirahmati Allah swt, pertama-tama saya mengucapkan selamat. Sepertinya Anda masih muda, tapi sudah menjabat sebagai Kepala Sekolah. Memang jabatan tidak selalu berkorelasi positif dengan usia, artinya tidak selalu jabatan kepala sekolah diberikan kepada orang yang lebih tua. Tapi jika seseorang mempunyai kompetensi sebagai seorang pemimpin, maka ia mempunyai kesempatan untuk mengemban amanah tersebut.

Membaca pertanyaan Bapak, saya jadi balik nanya, sikap siapa yang harus diperbaiki terlebih dulu, siswa atau guru?

Bapak Kepala Sekolah yang hebat, sebagai pemimpin Anda sudah membaca gejala budaya sekolah yang tidak kondusif yaitu belum terciptanya disiplin di sekolah Anda. Ketika bel tanda masuk berbunyi siswa maupun sebagian guru tidak menghiraukannya. Sepertinya peraturan sekolah belum diterapkan sepenuhnya. Sehingga kondisi ini memunculkan sikap saling menyalahkan. Siswa menyalahkan guru ketika mereka tidak disiplin, demikian juga sebaliknya.

Hal pertama yang harus Bapak lakukan adalah menegakkan peraturan disiplin. Misalnya semua warga sekolah harus datang 15 menit sebelum bel berbunyi. Jika bel tanda masuk berbunyi, maka baik siswa maupun guru harus sudah ada di kelas. Jika hal tersebut dilanggar maka ada sanksi. Sanksi harus selalu disertakan dalam pembuatan peraturan, mulai sanksi pelanggaran ringan sampai berat. Mulai dari memberi peringatan/teguran sampai hukuman. Tentu saja, peraturan tersebut harus disosialisasikan terlebih dahulu ke semua warga sekolah, mulai dari siswa, guru, pegawai administrasi bahkan penjaga sekolah kalau ada. Tak kalah penting adalah alasan kenapa peraturan tersebut dibuat. Sehingga, akan terbentuk kesadaran dari seluruh warga sekolah.

Sikap siapa yang harus dibenahi dulu, apakah siswa atau guru? Tentu saja guru. Karena guru adalah model atau teladan yang dapat dicontoh oleh siswa. Siswa akan belajar perilaku dari orang dewasa dalam hal ini guru. Jika guru tidak disiplin, maka jangan salahkan siswa tidak disiplin juga. Jika hal ini dibiarkan siswa akan memperkuat perilakunya dengan tetap tidak disiplin. Oleh karena itu, sebagai kepala sekolah Bapak mempunyai hak untuk memperbaiki kinerja guru-guru Anda. Tapi, tentu saja sebagai pemimpin Anda juga harus terlebih dahulu memberi teladan yang baik buat guru maupun siswa.

Sebagai kepala sekolah yang secara usia lebih muda dari guru-guru yang senior, tentunya Bapak merasa sungkan untuk menegur mereka. Tapi karena Bapak adalah pimpinan yang mempunyai kewajiban menegakkan kedisiplinan, maka Bapak berhak menegur jika ada guru yang tidak disiplin. Namun Pak, yang perlu diperhatikan adalah cara komunikasi dan pesan yang akan Bapak sampaikan. Dalam hal ini Bapak harus asertif, artinya yaitu menyampaikan pesan secara lugas tanpa membuat orang lain merasa tersinggung. Sehingga, komunikasi menjadi efektif. Demikian yang dapat saya jawab Pak. Semoga jika kedisiplinan dilakukan di sekolah Bapak melalui proses pembiasaan maka akan terbentuk karakter dan budaya positif di sekolah Bapak. Semoga bermanfaat…

Evi Afifah Hurriyati, M.Si
Trainer Pendidikan & Kepala Program Sekolah Guru Ekselensia Indonesia LPI Dompet Dhuafa Republika

pendidikan@rol.republika.co.id
------------------------------------------
Republika OnLine » Pendidikan » Konsultasi Pendidikan
Koq Masih Gaduh Juga Ya?
Senin, 17 Januari 2011, 18:07 WIB
Pertanyaan

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ibu Evi, saya Hendra, Guru Matematika. Begini Bu, saya sudah mencoba membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.ed) untuk rancangan pembelajaran di kelas dengan bermacam-macam strategi mengajar. Tapi Bu, yang terkadang membuat kesal, anak-anak masih sering gaduh ketika saya mengajar. Di awal pembelajaran mereka memperhatikan, beberapa menit kemudian mereka gaduh lagi. Bagaimana cara mengatasinya ya Bu?

Terimakasih.

Hendra, Salatiga

Jawaban

Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh,
Pak Hendra yang insyaallah diberkahi Allah swt, saya bahagia membaca surat Bapak. Bapak adalah guru yang luar biasa, mengajar dengan penuh perencanaan. Apa yang Bapak lakukan sebagai guru sudah benar. Dalam melakukan kegiatan belajar mengajar, tentunya hal pertama yang harus kita lakukan adalah membuat rencana pembelajaran. Bahkan Pak Hendra sudah mencoba berbagai strategi pembelajaran. Hanya, yang menjadi masalah meskipun Bapak sudah membuat rencana pembelajaran di kelas, menjadi tidak begitu kondusif karena siswa hanya bertahan konsentrasi pada awal mengajar saja.

Pak Hendra yang budiman, rencana pembelajaran bisa saja bersifat luwes, artinya dapat menerima perubahan atau penyesuaian dengan keadaan, suasana belajar, kondisi perbedaan siswa, mata pelajaran dan topik tertentu. Sebagai Guru Matematika, tentu Pak Hendra sudah melakukan strategi pembelajaran matematika yang menyenangkan bukan? Kebanyakan siswa masih menganggap matematika adalah pelajaran sulit, oleh karena itu tanpa pembelajaran aktif (active learning) dan menyenangkan, siswa akan sulit menerimanya. Jika Bapak sudah mengatur pembelajaran yang menyenangkan untuk membangkitkan gelombang alfa siswa, insyaallah siswa bertahan untuk konsentrasi. Jika siswa dapat berkonsentrasi dengan baik, tentunya mereka dapat mencapai hasil belajar yang diinginkan. Jika pada saat tertentu terlihat siswa Anda sudah tidak berkonsentrasi, gaduh misalnya, cobalah mengkondisikan kelas dengan membuat energizing misalnya braingym (senam otak) atau kata-kata "Hai-Hello". Panggilah siswa-siswa Anda dengan "Hai", dan siswa Anda harus membalasnya dengan "Hello" atau sebaliknya. Namun tentu saja kata-kata tersebut harus sudah disampaikan sebelum Bapak memulai pelajaran, agar siswa tidak bingung. Pak Hendra juga bisa membuat variasi kata yang lain.

Pak Hendra yang selalu semangat, untuk mempertahankan konsentrasi siswa perbanyaklah aktivitas yang mengarah kepada pembelajaran siswa. Misalnya diskusi kelompok, simulasi dan sebagainya. Siswa akan mudah memahami pelajaran sampai 90 persen dari informasi yang disampaikan melalui apa yang dia lakukan. Tentu Bapak ingat, istilah "I hear I forget, I see I remember, I do I understand".

Selain itu Pak Hendra, faktor modalitas belajar siswa penting juga untuk diperhatikan dalam pengelolaan pembelajaran. Modalitas belajar adalah cara bagaimana siswa memproses informasi yang diterimanya. Menurut DePorter dkk (2000) terdapat tiga macam modalitas belajar yang digunakan oleh seseorang dalam pembelajaran, pemrosesan informasi, dan komunikasi yaitu mendengar (auditori), melihat (visual) dan melakukan (kinestetik). Mungkin ada sebagian siswa Anda yang modalitas belajarnya adalah auditori, maka pak Hendara bisa menyampaikan informasi dengan cara menjelaskan (ceramah) dengan penggunaan intonasi yang bervariasi, menggunakan nyanyian untuk mengingat rumus atau konsep matematika, berdikusi misalnya. Namun, bisa jadi ada siswa yang lebih mudah menangkap informasi dengan cara melihat (visual),atau membayangkan sesuatu (gambaran mental) oleh karena itu perbanyak penggunaan alat peraga pembelajaran, gambar, warna, grafik dan sebagainya. Mungkin tidak sedikit juga siswa Anda yang mudah menangkap informasi dengan cara melakukan langsung, misalnya dengan simulasi, bermain peran dan sebagainya. Untuk mengakomodasi kebutuhan semua siswa, Pak Hendra dapat menggunakan strategi pembelajaran dengan mengkombinasikan ketiga pendekatan modalitas tersebut.
Demikan Pak Hendra, jika Bapak dapat meramu prinsip-prinsip di atas untuk diaplikasikan dalam kelas, insyaallah siswa-siswa Bapak akan belajar matematika dengan konsentrasi penuh dari awal sampai akhir pelajaran. Harapan saya, nilai matematika siswa Anda akan meningkat tentunya, semoga. Semangat selalu Pak Hendra!

------------------------------------

Republika OnLine » Pendidikan » Olimpiade
Wow...Indonesia Raih Tiga Medali Emas Olimpiade Sains
Senin, 13 Desember 2010, 06:11 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,TANGERANG--Indonesia meraih tiga medali emas, lima perak dan empat perunggu dalam kompetisi Olimpiade Sains Junior Internasinal ke-7 yang digelar di Abuja, Nigeria diwakili 12 pelajar tingkat SMP dari seluruh Indonesia. Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan Nasional, Prof Suyanto di Tangerang, Banten, Senin mengatakan keberhasilan 12 pelajar yang mengikuti Olimpiade Internasional Sains Junior itu merupakan hasil pembinaan secara matang.

"Para pelajar yang dikirim ke Nigeria itu merupakan unggulan dari masing-masing sekolah kemudian dilakukan pelatihan selama empat bulan setelah itu mereka masuk karantina," kata Prof Suyanto ketika menyambut 12 pelajar peserta olimpiade di Terminal II-D Kedatangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, Senin dini hari.

Olimpiade Sains Junior Internasional itu diikuti 34 negara diantaranya Afganistan, Argentina, Brazil, Ghana, India, Iran, Mexico, Rusia, Taiwan, Thailand Zimbabwe serta Estonia. Namun dalam olimpiade tersebut Taiwan menjadi juara umum merupakan peringkat terbaik dalam teori, dan India urutan kedua serta Indonesia pada urutan ketiga.

Olimpiade Sains Junior itu adalah suatu ajang kompetisi tahunan pada bidang ilmu pengetahuan alam yang mencakup mata pelajaran Fisika, Biologi, Kimia dan matematika diikuti pelajar usia 15 tahun pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kompetisi itu untuk mendorong anak-anak muda mencintai ilmu pengatahuan alam dan mengembangkan komunikasi internasional dalam bidang sains.

Indonesia merupakan penggagas kegiatan internasional itu dan sebagai tuan rumah pertama yang digelar di Jakarta tahun 2004. Selain itu, rencananya olimpiade serupa tahun 2011 digelar di Kota Duran, Afrika Selatan dan tahun 2012 di India.

Menurut Suyanto para pelajar yang meraih medali di Nigeria itu akan diberikan kemudahan dalam menempuh pendidikan yang lebih tinggi di kota asal masing-masing serta mendapatkan beasiswa.
Para pelajar yang meraih medali emas yakni Muhamad Iqbal Ibrahim pelajar SMP Pribadi Depok, Jabar, Richard Akira Heru pelajar SMP DL Dominico Savio, Jateng, dan Fransisca Susan dari SMP St Ursula, Jakarta.

Peraih medali perak masing-masing I Made Gita Narendra Kumara dari SMP Negeri I Negara, Bali, Mikael Harseno Subianto dari SMP Susteran Purwokerto, Jateng, Putu Ivan Budi gunawan pelajar SMP Negeri I Tabanan, Bali, Yoga Rafinika dari SMP Sragen Bilingual Boarding School, Jawa Tengah serta Faisal Puji Nugroho pelajar SMP negeri 68 Jakarta.

Untuk pelajar yang meraih medali perunggu masing-masing Mardika Firlina dari SMP Pribadi School Bandung, Jabar, Titis Setiyobudi dari SMP Negeri I Kauman, Jawa Timur, Anang Rizki Muharom dari SMP Negeri II Semarang, Jateng dan Nurul Falahiyyah Bahri dari SMP Negeri I Sumenep, Madura, Jatim.
Selengkapnya