Pages

Sabtu, 26 Februari 2011

Kata dan Revolusi

Pilihan kita atas sebuah kata akan berpengaruh besar dalam membangun kesadaran, membentuk mind-set, sehingga akhirnya menentukan nasib hidup. Tindakan dalam menghadapi masalah, erat kaitannya dengan ekspresi kita terhadap masalah itu, yang terartikulasi dalam formulasi kata yang kita pilih. Itulah tesis Karen Lebacqz, seorang aktivis gender Amerika. Kata yang kita pilih, demikian Karen, akan menentukan langkah kita untuk berubah, atau sebaliknya: kita tak beranjak sejengkal pun.

Karen mencontohkan, seorang perempuan akan diam saja, meratap, atau cukup menyesali diri, ketika merasa bahwa dirinya sedang depresi atau stres. Namun jika dirinya merasa ditindas, ia mungkin akan beranjak bangkit, melawan, mencanangkan perubahan (revolusi) bagi nasibnya. Jadi, muaranya pada soal pilihan kata: depresi atau ditindas?

Ada seorang istri yang tetap sabar meladeni suaminya yang gemar melakukan KDRT. Kalau kondisi ini diamini, tak akan ada perubahan dalam kehidupan rumahtangganya. Entah sampai kapan. Bukankah sabar tiada batasnya? Di sisi lain, jika si suami juga mengamini hal itu, ia akan emoh berubah. Ia malah berpikir, kelakuannya justru untuk menguji kesabaran istri.

Keadaan akan berubah jika istri menyadari bahwa yang ia rasakan adalah penindasan, yang tak ada hubungannya dengan sabar atau tabah. Sejurus kemudian ia akan mengambil tindakan yang dirasa efektif (mengubah keadaan): melawan, atau menuntut secara hukum. Sebaliknya, jika kesadaran ini menghinggapi suami, maka dia akan segera mengakui bahwa kelakuannya selama ini adalah kezaliman, dan karenanya, demi fitrah manusianya, dia akan mengubah perilakunya.

Jika ditarik ke ranah politik, tesis Karen ini menemukan titik singgungnya. Fase atau momentum perubahan di dunia politik, misalnya, bisa jadi ditentukan oleh pilihan kata, baik oleh penyelenggara negara, rakyat, dst. Dalam konteks ini, kata tak ubahnya menjadi “dunia pandang” (world-view) yang mendasari sikap dan perilaku politik.

Kenapa, misalnya, pemimpin mengabaikan rakyat? Bukankah mereka diangkat untuk melayani rakyat? Dari sudut pandang rakyat, memang idealnya seperti itu, bahwa rakyat memilih pemimpin demi mendelegasikan amanat kedaulatan, yang dengan itu mereka akan dihampirkan pada kesejahteraan. Masalahnya, begitu menduduki kursi kepemimpinan (setelah dipilih), yang bercokol dalam benak si pemimpin terpilih bukan lagi menjadi pelayan atau pengayom publik, melainkan menjadi penguasa. Penguasa itu raja, yang bisa bertindak seenaknya, demi kepentingan pribadi dan kelompoknya, jauh dari kepentingan rakyat. Jadi, muaranya pada pilihan kata: pengayom, pelindung, ataukah penguasa.

Maka wajar, jika suatu saat rakyat akhirnya muak dengan pemimpin yang sudah tidak amanah, yang bukan lagi sebagai pengayom dan pelindung, melainkan penguasa yang justru menzalimi rakyatnya. Itulah yang tengah terjadi hari-hari ini di Afrika dan Timteng. Setelah gerakan rakyat berhasil menggulingkan Ben Ali dan Tunisia serta Mubarak di Mesir, kini Tunisiasi melanda Libya, Yaman, Bahrain, dan Yordania, dengan aneka tuntutan yang sama: ganti pemimpin, amandemen konstitusi!

Yang terjadi di negeri-negeri berpenduduk mayoritas Muslim itu sepertinya tidak jauh-jauh amat dari tesis Karen, yakni soal pilihan kata, yang kemudian membentuk mind-set. Selama berpuluh tahun rakyat di negeri-negeri itu dijangkiti kemiskinan, pengangguran, kelaparan, pengekangan kebebasan, sementara kaum penguasanya korups dan bermoral bejat. Tetapi, ironisnya, rakyat tidak mau bergerak melakukan perubahan. Mengapa? Bisa jadi mereka berpikir, bahwa krisis yang menimpa mereka adalah kelumrahan alamiah, takdir Tuhan. Sehingga, sebagai orang beragama (mayoritas Muslim), mereka mengedepankan sikap sabar dan tawakal, sembari berharap datangnya fadhlun ilahi, anugerah Tuhan (mukjizat dan pertolongan). Konon, Tuhan akan menjamin rizki hamba-hamba-Nya yang sabar dan tawakal.

Namun demikian, matahari kesadaran itu akhirnya merekah. Mereka tersadar, bahwa kelumrahan dan takdir ternyata bukan kata yang tepat untuk melihat ironisme hidup yang menimpa mereka. Yang lebih trpat adalah penzaliman luar biasa, sebagai akibat dari manajemen dan sistem pengelolaan negara yang amburadul, karena pemimpin dan aparaturnya tidak becus, korups, dan tunamoral. Karenanya, sikap sabar dan tawakal tidak layak untuk dikedepankan lagi, sebab itu tak akan mengubah keadaan. Tak perlu lagi berlama-lama menunggu fadhlun ilahi (anugerah Tuhan). Yang dibutuhkan adalah kasbun insani, usaha manusia secara nyata, gerakan riil, supaya perubahan bisa cepat terwujud. Yang dibutuhkan adalah revolusi.

Wal alhir, memang benar sabda Nabi Saw: Inna fil-kalami la-sihran (sesungguhnya dalam kata-kata mengandung sihir). Wallahu a’lam.(*)


Oleh: Sabrur R Soenardi, MSI, alumnus MWI 1994, Syariah-PM 2001, dan S2 Filsafat Islam 2007, UIN Sunan Kalijaga

0 komentar:

Poskan Komentar