Pages

Selasa, 22 Februari 2011

SEJARAH AOI (ANGKATAN OEMAT ISLAM) DI KEBUMEN


oleh Saryono http://jhonoe.blogspot.com/2009/01/sejarah-aoi-angkatan-oemat-islam-di.html

Apa yang terjadi dengan gerakan Angkatan Oemat Islam (AOI) sejauh ini belum terekspos ke publik. Di bangku sekolah menengah, dalam IPS Sejarah maupun PSPB, kita 'dicekoki' AOI tak lebih dari sekedar pemberontakan, 'cabang' DI/TII untuk kawasan Jawa Tengah bagian selatan. Pemahaman sejenis juga bisa dilihat pada para peneliti yang pernah menggeluti persoalan AOI, misalnya alm. Kuntowijoyo (1970) ataupun tesis Danar Widayanta di UI (judulnya Angkatan Oemat Islam 1945 - 1950 : Studi Tentang Gerakan Sosial di Kebumen).
Pusat Penerangan TNI -sebagai lembaga resmi yang menghabisi AOI- bahkan memberikan simplifikasi menggelikan. Dalam Diorama Museum Waspada Purbawisesa disebutkan, AOI mulai melakukan rapat-rapat rahasia pada Mei 1950 sebagai persiapan perlawanan terhadap pemerintah RIS (Republik Indonesia Serikat) yang dianggap sudah dipengaruhi tokoh-tokoh komunis. Dari rapat itulah kemudian Batalyon Lemah Lanang, Batalyon 423 dan Batalyon 426 (ketiga batalyon ini awal mulanya berasal dari Laskar Hizbullah Sabilillah) mulai mengganggu keamanan di Kedu Selatan. Tentu saja ini rancu dan menggelikan, mengingat sebagian besar tokoh komunis sudah dihabisi pasca kudeta setengah hati di Madiun, September 1948. Dari cerita perjalanan hidup Letkol. Untung a.k.a Kusman (yang pernah saya paparkan di sini), ataupun kisah Dipa Nusantara Aidit, kita tahu tokoh2 komunis baru mulai bermunculan pasca 1950.

KH. Abdurahman Wahid menyebut pemberontakan AOI muncul akibat kebijakan pimpinan militer (APRIS) pasca pengakuan kedaulatan 27 Desember 1949 yang menghendaki peleburan laskar-laskar perlawanan ke dalam APRIS setelah usainya Perang Kemerdekaan. Namun, peleburan itu disertai embel2, hanya orang2 yang mendapat pendidikan "Sekolah Umum Belanda" saja yang bisa menduduki jabatan komandan batalyon. Syekh Mahfudz Abdurrahman dikatakan berminat terhadap kedudukan komandan batalyon ini, yang akan dibentuk dan bermarkas di Purworejo. Namun Syekh Makhfudz terhadang oleh ketiadaan ijazah yang dipunyainya dan karena itu beliau memilih mengobarkan pemberontakan, terlebih ketika jabatan yang diincarnya jatuh ke anak muda ingusan bernama Ahmad Yani. Dalam uraian berikut, akan kita lihat bahwa alasan semacam ini juga simplistik.

Merujuk penuturan KH Afifuddin Chanif al-Hasani dan KH Musyaffa Ali -masing-masing cucu dan menantu Syekh Mahfudz- akar masalah AOI sejatinya terletak pada kebijakan Rera (restrukturisasi dan rasionalisasi) yang dikumandangkan kabinet Hatta pada 1948 atas usulan Wakil Panglima Besar AH Nasution. Dalam program Rera ini, laskar-laskar perlawanan akan digabungkan menjadi satu ke dalam TNI dan diciutkan personalianya hingga tinggal setengah dari semula. Prioritas ditujukan pada mereka yang mendapatkan pendidikan militer zaman Hindia Belanda maupun Jepang. Sebagai pimpinan badan kelasykaran terbesar di Jawa Tengah, dengan massa +/- 10.000 orang dan punya potensi massa tambahan 30.000 orang, Syekh Mahfudz risau dengan kebijakan diskriminatif ini mengingat mayoritas massa AOI memiliki tingkat pendidikan formal rendah dan berbasis pesantren sehingga berpotensi tereliminir karena tak punya ijazah. Meski sebagian besar massa AOI semula merupakan petani, tak pelak bahwa perjalanan Perang Kemerdekaan telah menarik sebagian diantaranya untuk bermobilitas vertikal menjalani karir militer. Keresahan bertambah mengingat pada 1948 itu Indonesia justru masih berhadapan dengan ancaman kekuatan NICA, yang bagi Syekh Mahfudz sangat nyata, mengingat sebagai ketua PPRK (Panitia Pertahanan Rakyat Kebumen) yang berkedudukan langsung di bawah Bupati Kebumen, beliau langsung berhadapan dengan pasukan NICA di garis demarkasi Sungai Kemit, Gombong timur. Sehingga menurut beliau tidaklah bijak menggagas Rera justru ketika ancaman nyata menghadang di depan mata.

Di diagonal yang berseberangan, keresahan yang sama juga dihadapi faksi sosialis-komunis yang tergabung dalam Front Demokrasi Rakyat (FDR) pimpinan Amir Syarifuddin di Madiun. Namun FDR memilih menyelesaikannya dengan mengobarkan kudeta setengah hati Madiun Affair yang gagal pada September 1948, peristiwa yang menguras energi lasykar-lasykar rakyat dan TNI terlalu banyak untuk menumpasnya. Penumpasan FDR ini membuat Syekh Makhfudz dan PPRK semakin yakin NICA tinggal menunggu waktu saja untuk menjebol garis demarkasi Sungai Kemit dan menyerbu jauh ke Yogyakarta sebagai ibukota RI.

Keresahan Syekh Mahfudz terbukti ketika NICA menggelar kampanye militer Doorstot naar Djokdja pada 18 Desember 1948, yang berhasil menawan Soekarno-Hatta, menghancurkan kabinet Hatta dan membuat TNI serta lasykar-lasykar tercerai berai. Ini menginisiasi masa Perang Kemerdekaan II yang sekaligus membenamkan ide Rera ala Nasution. Dalam periode inilah peranan AOI kian menanjak dalam percaturan politik dan militer di Jawa Tengah.

Perang usai seiring penandatanganan pengakuan kedaulatan di Istana Rijswik, 27 Desember 1949, sebagai realisasi Konferensi Meja Bundar. Ini sekaligus menandai berdirinya RIS dengan APRIS sebagai tentara nasionalnya. Pembentukan APRIS membawa konsekuensi tersendiri bagi AOI seiring kembali mencuatnya isu Rera. Dalam pandangan Danang Widayanta, tawaran APRIS agar AOI bergabung kedalamnya melalui Rera yang diskriminatif berpotensi menghasilkan sedikitnya empat ancaman : ancaman eksistensi organisasi, ancaman kehilangan posisi sosial ekonomis, ancaman kehilangan posisi politis dan ancaman kehilangan posisi budaya. Ini menghasilkan kondisi AOI tidak lagi otonom, tidak lagi merasa aman dalam posisinya dan frustrasi dengan masa depannya. Ini yang membuat Syekh Mahfudz menolak bergabung.

Namun dari penuturan KH Afifuddin dan KH Musyaffa, atas bujukan KH Nursodik dan KH Sururudin (keduanya pimpinan AOI) sebenarnya Syekh Mahfudz telah bersedia berunding dengan APRIS untuk membicarakan kemana AOI hendak diarahkan, mengingat jasanya yang demikian besar. Perundingan mengerucut pada kompromi dengan pembentukan Batalyon Lemah Lanang, yang khusus menampung massa AOI yang diseleksi sendiri oleh Syekh Mahfudz. Syekh Mahfudz sendiri, dengan usianya yang telah mencapai 49 tahun, tidak berminat mengejar posisi komandan batalyon, mengingat dengan kedudukannya sebagai "Rama Pusat", dengan massa AOI dan thariqah Syadzaliyah yang diampunya, beliau sudah menempati posisi natural leader yang kharismanya melampaui batas-batas kabupaten, mengingat pesona AOI juga terasakan hingga Wonosobo, Banjarnegara, Banyumas, Cilacap dan Purworejo, melebihi formal leader Bupati Kebumen yang waktu itu dijabat R.M. Istikno Sosrobusono. Meski demikian, Kuntowijoyo menyebut Syekh Mahfudz memiliki pandangan apolitis, karena itu tak heran beliau membenci partai politik, termasuk Masyumi.

Tapi persoalan tak usai meski Batalyon Lemah Lanang sudah dibentuk. Sebagai batalyon yang beranggotakan para santri, yang dalam perang kemerdekaan mengumandangkan perang suci (jihad) kepada NICA yang dilabeli kafir, Batalyon Lemah Lanang mengalami gegar budaya ketika harus berbaur dengan unit2 lain dalam APRIS yang notabene sebagian besar berisi perwira hasil didikan Militaire Academie Hindia Belanda. Lebih lagi perwira2 itu umumnya berasal dari kelas bangsawan Jawa, yang sejak kecil dijejali pandangan "Islam adalah problem" warisan Sultan2 dan Sunan2 Mataram. Batalyon Lemah Lanang dianggap kaku dalam berprinsip, radikal dan memiliki sudut pandang selalu hitam putih, sementara Batalyon Lemah Lanang sendiri menganggap unit2 di tubuh APRIS banyak mengadopsi kebiasaan kaum kafir Belanda dan banyak faksi didalamnya yang atheis. Beberapa unit yang dianggap atheis adalah Batalyon Sudarsono dan Ahmad Yani di Purworejo, disamping Brigade X / Garuda Mataram yang dipimpin Soeharto di Yogyakarta.

Gegar budaya ini makin melebar dan meluas hingga keluar dari skup Batalyon Lemah Lanang. Sampai akhirnya terjadi ejek2an berujung tawuran antara pemuda2 AOI dengan anggota Batalyon Sudarsono, yang menyebabkan 1 pemuda AOI terbunuh. Akibatnya AOI bereaksi dan inilah yang ditanggapi Kol. M. Sarbini di Magelang sebagai indikasi AOI hendak memberontak, sehingga diperintahkanlah Batalyon Sudarsono dan Ahmad Yani menggempur Somalangu.

Tidak tepat jika AOI disebut memberontak. Dalam penuturan KH Afifuddin, KH Musyaffa dan Ibu Zubaidah (keponakan Syekh Mahfudz, kini sudah sangat sepuh), hingga menjelang 1 Agustus 1950 tersebut Syekh Mahfudz sama sekali tidak menyiapkan konsep2 untuk mendirikan negara tersendiri sebagaimana dilakukan SM Kartosuwiryo di Jawa Barat. Meski pernah membicarakan wacana wilayah "Kapoetihan" -semacam Kauman yang diperluas, tempat kediaman orang-orang saleh yang digambarkan menempati daratan sebelah timur Sungai Lukulo hingga perbatasan Purworejo- namun tak ada pembicaraan lebih lanjut, apalagi yang bersifat operasional semacam menyiapkan proklamasi, konstitusi dan angkatan perang tersendiri. Syekh Mahfudz sendiri juga tidak menyiapkan suatu perangkat kaderisasi ataupun suatu exile government andaikata Somalangu sewaktu-waktu diserbu. Beberapa pertemuan memang berlangsung dengan pimpinan Batalyon 423 dan 426 (keduanya sama-sama berasal dari lasykar Hizbullah Sabilillah), namun itu lebih ditujukan pada bagaimana mengantisipasi persoalan di antara sesama lasykar Hizbullah Sabilillah akibat kebijakan Rera yang diskriminatif. Tidak ada pertemuan dengan utusan DI/TII, baik dari Kartosuwiryo sendiri maupun dari wakilnya di Jawa Tengah : Abdul Fattah.

Maka bisa dibayangkan bagaimana kagetnya Syekh Mahfudz ketika Somalangu dikepung rapat pada pagi hari 1 Agustus 1950 dan tanpa ba-bi-bu langsung digempur ala manuver blitzkrieg, tanpa sempat menyiapkan diri. Akibatnya tak ada lagi bangunan di Somalangu, Candiwulan, Candimulyo dan sekitarnya yang masih tegak berdiri. Bahkan masjid kuno berusia 400-an tahun peninggalan Syekh Abdul Kahfi Awwal pun ikut runtuh. Tak ada tempat yang tak terbakar, hingga segala macam jejak tertulis mulai dari arsip2 AOI hingga kitab2 dan kitab suci al-Qur'an pun hangus. Mayat berserakan dimana-mana, mulai dari orang tua, pemuda, ibu-ibu, anak-anak dan bahkan bayi. 1.000-an orang tewas hanya pada hari itu.Tak ada kata yang cocok untuk mendeskipsikan keadaan demikian selain pembantaian teramat keji, yang bisa disetarakan dengan Pembantaian Srebrenica 1995 di Bosnia-Herzegovina.

Meski diserang mendadak, namun Bharatayudha berkobar hingga 3 bulan lamanya. Jika kemudian sisa-sisa Batalyon Lemah Lanang memilih untuk bergabung dengan sisa-sisa DI/TII Abdul Fattah, sisa-sisa Batalyon 426 dan 423 MMC (Merapi Merbabu Complex) di kaki Gunung Slamet, pilihan ini diambil pasca tertembak dan wafatnya Syekh Mahfudz di Gunung Selok, Cilacap. Dengan kondisi organisasi AOI berantakan, pemimpin tertingginya wafat dan tak ada yang kader bisa menggantikan kharismanya, dengan Somalangu dan Kebumen timur sudah diobrak-abrik amunisi APRIS, tanpa ada tawaran rekonsiliasi dan amnesti agar bisa kembali ke masyarakat sebagai orang baik-baik, serta jikalau menyerah pun akan masuk Nusakambangan tanpa diadili (seperti dialami ratusan massa AOI yang memilih menyerah), maka dalam pandangan saya tak ada pilihan lain yang logis rasional kecuali menyelamatkan diri, bergabung dengan saudara senasib sepenanggungan dan terus bertempur, meski tak jelas lagi bertempur untuk apa.

Pembantaian Somalangu menandai satu babak baru di kalangan pemerintah RIS / NKRI tentang bagaimana menyikapi dan menyelesaikan perbedaan pendapat dengan cara hantam kromo (main pukul rata). Pasca AOI, di Jawa Tengah, giliran MMC digempur. Di Jawa Timur, satu Batalyon pimpinan KH Yusuf Hasyim (saat itu berpangkat Lettu) pun turut diberangus dengan tuduhan DI/TII dan komandannya ditahan berbulan-bulan tanpa diajukan ke pengadilan. Di Kalimantan Selatan, Ibnu Hadjar dengan KRJT-nya (Kesatoean Rakjat Jang Tertindas) dilucuti dan dituduh DI/TII pula, sementara di Sulawesi Selatan, usulan Abdul Qahhar Muzakar agar lasykar-lasykar asal Sulawesi Selatan yang telah dihimpun menjadi satu dalam KGSS (Keluarga Gerilja Soelawesi Selatan) direkrut ke dalam APRIS dengan nama Brigade Hasanuddin ditolak dan digempur seperti AOI. Ini menyisakan trauma dan dendam berkepanjangan. Maka tidak heran jika Dr. Tgk Muhammad Hasan di Tiro, ketika mendirikan Gerakan Atjeh Merdeka pada 1976, merujuk terjadinya "pembantaian oleh bangsa sendiri" sebagai latar belakang.

Yang jelas, pasca AOI, aparat administrasi Kebumen maupun Jawa Tengah tidak belajar lebih jauh dari peristiwa AOI dan lebih memilih melakukan isolasi sosiologis-politis dengan labelisasi "ekstrim kanan" dan "bagian DI/TII" kepada sisa-sisa AOI, garis keturunan Syekh Mahfudz, maupun penduduk Somalangu dan sekitarnya, tanpa tawaran rekonsiliasi. Dengan bupati2 yang mayoritas militer aktif, berasal dari luar Kebumen, tidak belajar lebih lanjut tentang sosiologi masyarakat setempat, terkooptasi dengan Golkar, berpandangan kaku dan main hantam kromo, ini berpuncak pada munculnya peristiwa kelam selanjutnya : Kerusuhan 7 September 1998. Sisa-sisa AOI memang tidak terlibat dalam peristiwa ini, bahkan barisan ulama yang dulu berafiliasi ke AOI justru menjadi penengah yang berhasil meminimalisir jumlah korban.

Salam,


Ma'rufin

From: slamet -
To: karanganyar- kebumen@yahoogro ups.com
Sent: Tuesday, December 9, 2008 1:09:49 AM
Subject: Bls: [karanganyar- kebumen] Re: Pengin tahu sejarah AOI (Angkatan Oemat Islam) di Kebumen

Pak Lurah, Ngomong ngomong Somalangu Aku mandan Mrebes Mili Kelingan Anak Pak Lurah, Anakku sing Pertama nang Kana wis 6 wulan

Konon Cerita Dari Romo Kyai Haji 'Afifudin Alhasani, Masjid Somalangu sudah berumur 523 tahun kalau nda saya salah dengan dan belom pernah di renofasi sampe dengan saat ini,

Slamet

--- Pada Sel, 9/12/08, marsikin menulis:

Dari: marsikin
Topik: Bls: [karanganyar- kebumen] Re: Pengin tahu sejarah AOI (Angkatan Oemat Islam) di Kebumen
Kepada: karanganyar- kebumen@yahoogro ups.com
Tanggal: Selasa, 9 Desember, 2008, 2:22 AM

Matur nuwun Pak Ma'rufin Sudibyo.
Jian dadi gamblang banget, "nglothok" banget kaya rambutan Aceh.

Sejarah, bagi bekas murid yang malas seperti saya menjadi sesuatu yang membosankan, akan tetapi ketika Sejarah berbicara menyinggung tokoh yang sering saya lihat ketika masih hidup (Bapak K.H. Umar Nasir, Candi) atau menyingkap tragedi wonge dhewek menjadi sangat menarik, penasaran ingin tahu apa lagi jaman saya sekolah dulu rentetan sejarah AOI tidak dimasukan dalam Sejarah.

Sebelumnya saya mendengar istilah AOI yakni cerita dari mulut ke mulut orang tua di desaku (Sidoagung-Sruweng) , sebelum saluran Irigasi Waduk Sempor yang melintasi desaku dibangun tahun 1976, dipinggir jalan ada sebuah kuburan, konon kuburan tersebut merupakan korban penembakan dari Tentara. Nama korban tersebut Kayun kata orang -orang tua desaku, dia bukan ulama atau orang yang terlibat dengan Peristiwa AOI, melainkan "wong gemblung" tapi setengah waras. Konon Kayun adalah seorang santri yang gagal dari pesantren karena tidak kuat mempelajari "Kitab kuning" yang diajarkan oleh Kiai-nya.
Pada ketika TNI mengadakan pengejaran sampai desaku ketemu Kayun yang berpakaian ala santri, padahal masyarakat umumnya para petani pada waktu itu tidak pernah pakai baju kecuali hanya pakai celana "komprang item"
Dan menurut saksi yang melihat dari kejauhan Kayun diinterogasi dengan pertanyaan:" Kowe AOI apa udu?"
Kayun menjawab:"saya AOI"
Tentara langsung membrondhong Kayun "drodor, dor, dor"
Saat itu orang-orang desa sudah pada ngungsi ke daerah Kembang Abang-Giripurno (pegunungan) desa-desa sepi. Mayat Kayunpun hanya dikubur tanpa kain kafan dipinggir jalan meskipun kuburan"Dawa" hanya beberapa puluh meter dari tempat kejadian.
Ketika Saluran Irigasi Sempor dibangun makamnya Kayun dipindahkan ke kuburan "Dawa"
Dari sinilah awalnya saya mendengar istilah AOI
Setelah membaca Sejarah tulisan Pak Ma'rufin saya baru "ngeh"
ternyata "Kebumen ora baen-baen kawit jaman gemien"
Wassalam
"Q Lurah"

--- Pada Sab, 6/12/08, Ma'rufin Sudibyo menulis:

Dari: Ma'rufin Sudibyo
Topik: [karanganyar- kebumen] Re: Pengin tahu sejarah AOI (Angkatan Oemat Islam) di Kebumen
Kepada: karanganyar- kebumen@yahoogro ups.com, "Kebumen" , "Alumni SMA 1 Kebumen"
Cc: "Iffah" , "Rovicky Dwi Putrohari" , "Sulistyowati" , "Ihda" , "Dra. Hj. Sri Riastuti"
Tanggal: Sabtu, 6 Desember, 2008, 7:18 AM

Sing ditunggu soal sinden, malah Q-Lurah takon AOI...

Angkatan Oemat Islam (AOI) itu suatu gerakan Islam modern yang -meski cenderung revivalis- namun punya potensi besar untuk berkembang dan bersejajar dengan gerakan modern seperti NU maupun Muhammadiyah. Hanya saja, gerakan AOI terlanjur abortif, dalam istilah (alm) Kuntowijoyo, gerakan yang mati muda sebelum gejala-gejala dan tanda-tandanya sempat terucapkan. Namun yang jelas, AOI tidak bisa dilepaskan dari Pesantren al-Kahfi Somolangu. Kebetulan saya kenal baik dengan sebagian keluarga inti Somolangu, ditambah dengan paparan pak Kuntowijoyo (Kuntowijoyo, 1991, Paradigma Islam, Bandung : Mizan) yang aslinya dipaparkan dalam Seminar Sedjarah II tahun 1970, maka kita bisa memperoleh gambaran bagaimana AOI dan Somolangu ini sebenarnya.

Pesantren Somolangu itu pesantren tertua di Kebumen,bahkan di tlatah Jawa Tengah bagian selatan. Selain Somolangu, pesantren tua lain di sini adalah Pesantren Lirap Petanahan dan Pesantren Salafiyyah Wonoyoso. Namun K.H. Ibrohim Nuruddin baru mendirikan Lirap di awal abad ke-20 dan K.H. Nasuha meletakkan pondasi Salafiyyah pasca kepulangannya dari Makkah bersama K.H. Hasyim Asy'ari (pendiri NU) di awal abad ke-20 juga. Sementara Somolangu didirikan jauh hari sebelumnya, yakni pada ± 1000 H atau 1590 M oleh Syekh Abdul Kahfi Awwal, ulama Hadramaut yang merantau ke Jawa menyokong eksistensi Kerajaan Islam di Jawa dan selanjutnya bermukim di lembah Sungai Kedungbener. Jejak2 arkeologis menunjukkan lembah ini telah dihuni manusia sejak abad ke-8 M, ditandai keberadaan sepasang yoni dan sejumlah lingga dari batu andesit berlanggam Jawa Tengahan (ciri khas abad ke-8 M) yang terpreservasi dengan baik. Lingga dan Yoni, sebagai simbol kesuburan, diketahui hanya didirikan oleh komunitas Hindu (Syiwa) yang besar dan telah menjadikan tempat tersebut sebagai hunian tetapnya. Maka ada asumsi, komunitas Hindun yang terorganisir itulah yang ditemukan Syekh Abdul Kahfi Awwal dan diislamkan

Syekh Kahfi Awwal terkenal egaliter, bahkan konon sampai sekarang meski beliau sudah wafat ratusan tahun silam. Ada cerita tiap kali makamnya yang terletak di Bukit Lemah Lanang (± 2 km sebelah timur Mapolres Kebumen) hendak diberi cungkup atau tetenger seperti umumnya makam2 lainnya, upaya itu tidak pernah berhasil. Cungkup/tetenger selalu ditemukan sudah 'terbang' ke persawahan di sebelah baratnya. Bukit Lemah Lanang sendiri -menurut dugaan saya, meski sangat lemah- kemungkinan dulu bekas candi.

Menurut cerita, nama Somolangu diberikan oleh Raden Patah (Sultan Alam Akbar al-Fatah) dari kerajaan Demak Bintoro, yang mengatakan "tsumma dha'u" (artinya disinilah tempatmu) ketika menghadiahkan tanah di lembah Sungai Kedungbener itu kepada Syekh Kahfi,namun nang ilate wong Jawa (apamaning wong Kebumen) berubah jadi "Samalangu", dan akhirnya jadi "Somolangu" malah kadang jadi "Semlangu". Tapi dalam konteks sejarah, cerita ini rancu, soale Sultan Demak ketiga saja, yakni Sultan Trenggono, telah wafat pada 1546 M saat penyerbuan Pasuruan. Setting waktu yang lebih rasional mengaitkan berdirinya pesantren al-Kahfi Somolangu dengan akhir dinasti Pajang (Sultan Hadiwijaya) ataupun Mataram Islam awal (mungkin era Panembahan Senopati ataupun Panembahan Ratu/Panembahan Seda ing Krapyak).

Maka usia Somolangu jauh melampaui Kebumen sendiri. Bahkan dalam Babad Kebumen disebutkan, Joko Sangkrip, yang kelak menjadi KRT RAA Aroengbinang I yang keturunannya menjadi bupati2 Panjer/Kebumen sejak 1833 hingga masa Perang Dunia II, ikut nyantri di Somolangu di bawah asuhan Syekh Abdul Kahfi Awwal ini (meski diceritakan Joko Sangkrip ini santri mbeling sontoloyo gemaguse babar blas tukang ngintip wong wadon adus).

Ketika Perang Dunia I berkecamuk, Somolangu mengambil inisiatif berpartisipasi dengan membantu Kesultanan Utsmaniyah Turki (Turki Ottoman). Namun panggung sejarah Somolangu dalam konteks Indonesia Modern, lebih terpapart ketika terjadi peristiwa Angkatan Oemat Islam (AOI) yang menggetarkan pada 1950. AOI ini badan kelasykaran terbesar di Jawa Tengah, didirikan tahun 1945, beranggotakan ± 10.000 orang dari Kebumen timur, Purbalingga, Wonosobo dan Purworejo yang menjadi anggota jaringan tarekat Syadzaliyah yang berpusat di pesantren al-Kahfi Somolangu. Koordinasi dilakukan oleh Syekh Mahfudz Abdurrahman, pengasuh ponpes saat itu, yang digelari "Rama Pusat", dengan pelaksana teknisnya K. Sururudin. K. Sururudin ini bapake K.H. Nashiruddin al-Manshur (bupati Kebumen saat ini). Badan ini lalu bergabung dalam pasukan Hizbullah-Sabililla h yang dibentuk ulama-ulama Indonesia dalam upaya mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945 dan sempat bertempur habis2an melawan tentara Inggris dan NICA dalam Palagan Ambarawa dan Peristiwa 10 November 1945 Surabaya.

Ketangguhannya teruji ketika AOI (sebagai badan terbesar) berhasil mencegah Agresi Militer Belanda I 21 Juli 1947 bergerak ke Yogya sehingga memaksa Panglima NICA, Jendral Spoor dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang baru, Dr. H.J van Mook, membikin garis demarkasi di Sungai Kemit - Gombong, guna menghindari jatuhnya korban tentara NICA lebih besar. Memang garis van Mook ini bobol dalam kampanye militer Doorstot naar Djokdja alias Agresi Militer II 18 Desember 1948, namun pasukan khusus NICA menghadapi perlawanan sangat gigih pejuang Hizbullah-Sabililla h bersama TNI, yang jejak2nya muncul sebagai Palagan Sidobunder, Monumen Kemit dan juga Monumen Jembatan KA Luk Ulo (di barat RSU Kebumen). Meski berhasil menguasai Kebumen dengan bermarkas di Gedung Gembira (dekat Stasiun KA Kebumen), pasukan elit Gajah Merah dan Anjing Hitam NICA tidak pernah bisa menganeksasi Somolangu, meski pondok itu hanya berjarak 2 km dari jalan utama Kebumen - Purworejo. Demikian juga tentara kolonial Hindia Belanda, seabad sebelumnya, yang tak pernah bisa mengontrol Somolangu meski telah mendirikan Benteng Wonosari (sebagai bagian dari sistem benteng stelsel ala de-Kock) di era Perang Diponegoro, yang letaknya bahkan hanya berseberangan sungai terhadap pesantren al-Kahfi.

Meski bertempur bersama, pada periode 1947 - 1948 ini bibit2 pertengkaran AOI dan TNI mulai muncul. TNI - yang didominasi priyayi2 Jawa abangan - menganggap AOI lebih sering menimbulkan masalah, pandangan yang mungkin diturunkan dari Amangkurat I (yang pernah membantai ± 6.000 ulama Kajoran di alun-alun Plered pasca konflik dengan Pangeran Pekik). Yel2 "Allahu Akbar" yang diteriakkan AOI kala melakukan serangan dianggap membuat tentara NICA lebih mudah mengenali sasarannya. Sementara AOI - yang puritan dan mencoba melakukan purifikasi meski tidak seradikal Wahhabi - menganggap perilaku anggota TNI itu 'tidak Islami.' Ada isu pula, pasca Perang Kemerdekaan, AOI dianggap hendak mendirikan suatu "Keputihan", yakni wilayah orang2 saleh yang lokasinya mulai dari Sungai Lukulo hingga batas Kebumen - Purworejo. Namun, walo bermasalah dengan TNI, AOI -khususnya Syekh Mahfudz- menjadi pendukung bahkan berhubungan sangat erat dengan Presiden Soekarno. Soekarno sendiri pula yang menjanjikan AOI "tidak akan diapa-apakan. "

Pertengkaran makin menjurus parah pasca Konferensi Meja Bundar, dimana TNI dan badan2 kelasykaran harus dilebur ke dalam APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat). TNI menghendaki AOI diseleksi sebelum memasuki APRIS, sementara Syekh Mahfudz menghendaki AOI langsung masuk. Sebagai kompromi dibentuklah Batalyon Lemah Lanang untuk mengakomodasi pemuda2 AOI yang berminat masuk APRIS. Namun Batalyon ini terasing, terisolir dan tidak disukai di kalangan APRIS yang mayoritas berasal dari TNI.

Namun pertengkaran dengan TNI berubah menjadi permusuhan terbuka di akhir Juli 1950 kala beberapa personel TNI menggebuki anggota Batalyon Lemah Lanang sampai tewas. Aksi itu dibalas pada 31 Juli saat pemuda2 AOI gantian menggebuk personel TNI yang sedang lewat dengan jipnya, juga sampai tewas. Peristiwa ini dianggap sebagai perlawanan, sehingga sore itu juga Syekh Mahfudz diminta datang menghadap Kol. Sarbini di Markas APRIS Magelang. Syekh berjanji esok paginya akan datang menghadap, mengingat hari itu sudah sore dan transportasi sulit. Namun APRIS menganggapnya sebagai pembangkangan sehingga pagi 1 Agustus 1950 itu juga APRIS sudah mengepung Somolangu dan Syekh Mahfudz diultimatum untuk menyerah.

Maka berlangsunglah Bharatayudha. Somalangu dan desa2 disekitarnya menjadi merah berkuah darah, hancur lebur digempur bangsa sendiri. APRIS mengerahkan pasukan besar bersandi "Kuda Putih" (kelak menjadi Yon 404 /Para Banteng Raiders) dibawah pimpinan Kol. Achmad Yani dengan tugas melakukan stelling, menghancurkan segala jenis bangunan yang berdiri di Somolangu dan sekitarnya tanpa peduli apapun isinya. 1.000-an orang tewas hanya di hari itu, dengan total korban keseluruhan 2.000-an jiwa selama perang saudara berkobar 3 bulan. M. Sarbini dan Achmad Yani mengumumkan AOI terkait dengan DI/TII-nya Kartosuwiryo di Jawa Barat, hal yang tak masuk di akal mengingat Syekh Mahfudz tidak kenal dan tidak pernah berhubungan dengan Kartosuwiryo, baik secara langsung ataupun lewat wakilnya di Jawa Tengah (Abdul Fattah, yang mengobarkan perlawanan di Brebes - Tegal - Pemalang). M. Sarbini juga memindahkan ibukota kabupaten ke Karanganyar dan mengorganisir ulama2 Kebumen barat, sehingga muncul nama K.H. Umar Nasir Candi dan K.H. Makmur Tejasari yang "memberikan" legitimasi menggempur Somalangu.

Batalyon Lemah Lanang dan Pasukan Kuda Putih terlibat baku tembak jarak dekat nan dahsyat di sekitar lokasi Mapolres Kebumen sekarang. Konon demikian brutal aksi pasukan Kuda Putih, sehingga Syekh Makhfudz mengucapkan 'kata kutuk' : kelak Achmad Yani bakalan mati menyedihkan.

Akibat kebrutalan ini dan demi menghindari korban lebih besar, Syekh Makhfudz memutuskan menyingkir dari Kebumen dan berhijrah ke barat, tempat dimana Bandayudha leluhurnya merantau. Namun pada kontak senjata di Gunung Selok (Srandil) Cilacap, Syekh tertembak, meninggal dan dimakamkan di tempat itu. Menjadi ironi bahwa di kemudian hari Gunung Selok ini justru menjadi tempat pertapaan favorit politisi dan petinggi2 militer, termasuk sang big-boss - Soeharto, yang sampe2 membangun helipad khusus.

AOI langsung padam setelah wafatnya Sykh Mahfudz. namun AOI masih menjadi isu sensitif hingga dekade 1970-an. dari cerita (alm) K.H. Durmuji Ibrohim -pengasuh ponpes Lirap hingga 1989- di awal dekade 1970-an itu beliau bersama-sama ulama-ulama kritis Kebumen lainnya sempat diamankan di Makodim selama beberapa bulan, karena isu AOI kembali menghangat dan dikelompokkan ke dalam kutub "ekstrem kanan". Ada juga upaya pengingkaran, yang berlangsung secara sistematis hingga masa kepemimpinan Amin Sudibyo di Kebumen. sebagai contoh, hari lahir Kebumen ditetapkan 1 Januari karena masalah ini, meski banyak bukti menunjukkan sebaiknya menggunakan tanggal berdirinya kadipaten Sruni atau Somolangu sebagai acuan waktu berdirinya Kebumen, karena merujuk runtutan (time-seriesnya) memang seharusnya demikian.

Namun kini stigma ekstrem kanan itu mulai pupus, seiring naiknya K.H. Nashiruddin al-Manshur ke tampuk Bupati Kebumen. Walopun, tak banyak yang mau berbicara atau menyinggung- nyinggung AOI. Satu2nya ilmuwan yang berani meneliti AOI secara komprehensif hanyalah (alm). Kuntowijoyo.
--------------------------------------------------
ANGKATAN OEMAT ISLAM: GERAKAN ISLAM LOKAL DI KEBUMEN 1945-1950
Rabu, 01 Desember 2010
Pendahuluan
Angkatan Oemat Islam (AOI) didirikan sekitar September-Oktober 1945. Sebagai gerakan kelaskaran, sudah banyak gerakannya dalam menghadapi usaha-usaha militer Belanda antara 1945-1950 di kebumen. Gerakan ini tidak akan menarik perhatian kalau pada akhirnya, yaitu 1 Agustus 1950, tidak tercatat sebagai pemberontak.dari semua pemberontakan yang ada di Indonesia pada tahun-tahun itu, AOI mempunyai tempat tersendiri. Kalangan tentara menganggap AOI indispliner, sementara itu menteri agama RIS, Wahid Hasjim berpendapat ada salah paham antara AOI dan APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat).1 Di bawah ini adalah usaha meninjau struktur dan fugsi sosialnya untuk melihat seberapa jauh corak organisasinya telah menempatkan pergerakan itu dalam posisi sebagai pemberontak. Sekalipun tidak ada data terperinci, suatu analisis masih mungkin dilakukan.
Pada Oktober 1945 telah berdiri AOI, AMGRI (Angkatan Muda Guru Indonesia), dan Barisan Banteng. Pada bulan November berdiri pula Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI), Barisan Buruh Indonesia (BBI), PERWANI, GPII, Hisbullah, Laskar Rakyat, dan Srekat Tani Indonesia (SATRIA) yang kemudian menjadi BTI (Barisan Tani Indonesia). Dari daftar di atas tampak beracam gejala masyarakat yang mulai mengelompokan diri dalam suatu badan. Badan-badan itu mempunyai basis sosial masing-masing. Ada badan yang mempunyai hubungan vertikal dan nasional, serta ada yang hanya bersifat lokal. AOI adalah badan lokal yang merekrut anggota-anggotanya dari petani desa dan lebih berdasarkan agama.
Susunan kepengurusan AOI yang pertama adalah Kiai Mahfud (ketua), Moh. Sjafei (wakil ketua), Saebani (penulis), dan Affandi (bendahara).2 Tak lama setelah pembentukannya resmi, ranting-ranting AOI segera berkembang di desa-desa hampir 22 kecamatan seluruh Kebumen. Dengan dukungan seperti itu, tak heran jika kemudian AOI segera menjadi badan kelaskaran yang terkuat.
Adalah tujuaan dari tulian ini untuk menganalisis mengapa AOI yang pada mulanya sangat potensial bagi perjuangan akhirnya terlibat dalam pemberontakan terhadap pemerintah—suatu perjalanan yang unik dalam riwayat organiasasi sosial.
Analisis Tentang Kekuasaan Elite dan Kelompok Sosial di Pedesaan
Dahulu, Kebumen termasuk dalam wilayah Bagelen sebagai suatu daerah vorstenladen—yang sesudah perang Jawa, pada 1830, menjadi daerah Gubermen1. Di bawwah pemerintah Hindia Belanda, segala peraturan pemerintah yang menyangkut desa seperti cultuur-stelsel, dan pajak-pajak terasa sampai ke desa. Begitu juga kegiatan seperti gugur gunung yang pernah dilaksanakan pada masa pendudukan Jepang. Pamong desalah yang berkewajiban memikul tugas-tugas itu. Pemerintah desa cenderung muncul dan berkembang menjadi kekuasaan legal. Gejala-gejala ini menunjukan bahwa tradisi lama yang menganggap lurah sebagai Patriacrch desa mulai meluntur dan digantikan oleh tradisi baru, yaitu lurah hanyalah seorang pejabatdari sebuah birokrasi yang bersifat rasional dan impersonal. Inilah yang mnyeebabkan loyalitas penduduk berubah dari ikatan non-kontraktual ke ikatan kontraktual, yang dikuatkan dengan sangsi hukum positif. Singkatnya status lurah telah digantikan oleh power akibat solidaritas sosial lama yang mulai retak.
Ketika itu di desa, sesungguhnya telah muncul sistem stastus yang lain, yaitu yang lebih didasarkan pada ukuran agama. Kiai atau haji mempunyai status tinggi pula. Dalam pengaruh, kiai dapat menyaingi lurah, sehingga kedua power elite desa itu berada dalam posisi berhadapan. Selebihnya mereka membawa social group masing-masing atau sebaliknya.
Demikianlah, kita melihat bahwa di desa terdapat dua kelompok rural elite, yaitu elite birokrasi dan elite agama, atau lurah dan kiai. Keduanya sama-sama mempunyai otoritas. Lurah dengan otoritas tradisional yang kemudian menjadi rasional dan kiai dengan otoritas kharismatik. Lurah dijamin oleh tradusu dan hukum, kiai oleh kekeramatan perseorangan. Lurah adalah pewaris little tradition, sementara kiai adalah pewaris dari great tradition, yang pertama tradisi Jawa dan yang kedua tradisi Islam.
Sebenarnya, tidak ada perubahan struktural maupun fungsional di desa jika tidak ada perang persiapan-persiapan perang meimbulkan kecemasan—sesuatu yang menyebabkan penduduk mencari natural leader di tengah-tengah kekacauan tersebut. Max Weber mengatakan bahwa natural leader pada saat-saat kekacauan fisik, psikis, ekonomis, etis, religius, atau politis, bukanlah pejabat-pejabat, tapi orang yang mempunyai kesangguan badan dan batin, kekuatan yang dipercaya sebagai gaib yang tak dimiliki setiap orang. Itu sebabnya pandangan orang tertuju kepada kiai dan bukannya kepada lurah. Pada latar semacam inilah, AOI mendapat sambutan yang sangat responsif dari penduduk. Di pihak lain, kedudukan legal lurah sebagai kepala desa dan formal group semakin terancam. Dengan adanya dua formal group yang saling bersaing dan bertanding itu, mekanisme pemerintahan desa menjadi beku.
Meskipun demikian, dalam pandangan Angkatan Perang dan pemerintah, lurah masih tetap dianggap sebagai satu-satunya pemimpin di tengah rakyat.2 Sinyalemen ini tidak sesuai dengan kenyataan sosial di desa. Pada pertengahan 1948, lurah Gondanglegi diserbu oleh pemuda-pemuda AOI dari Kutawinangun dan Kedungwot. Inilah konflik antara santri dan abangan, atau antara kanan dan kiri.3 Lurah mencari perlindungan pada Angkatan Perang. Selain itu berdiri Persatuan Pamong Desa Indonesia (PPDI) pada tahun itu. Usaha untuk memperkuat desa dan birokrasi lewat pembentukan Pager Desa (Pasukan Gerilya Desa) dengan instruksi dari MBKD (Markas Besar Komando Djawa) No. 11/MBKD/49 di Kebumen, tidak banyak mengubah kekuatan desa. AOI rupanya masih lebih berpengaruh.4 Dua power elite masih saling berhadapan.
Organisasi Sosial
ketika AOI diminta menyerahkan pasukannya kepada Angkatan Perang, terjadilah perbedaan pendapat yang tajam. Banyak hal yang harus dipikirkan oleh pemuka AOI. Tapi Batalion Lemah Lanang ditambah dengan Ki Surengpati dari Hisbullah diresmikan sebagai Bn9/Be IX/III; dan pelantikannya dilakukan pada 17 Mei 1950. Kesulitan-kesulitan itu terjadi karena secara struktural dan fungsional, organisasi sosial AOI bereda dengan pasukan lain. Di bawah ini adalah uraian mengenai organisasi sosialnya.
Hukum agama selalu menjadi pertimbangan pemuka AOI. Dalam rapat, Kiai Mahfud akan menulis ayat-ayat di papan, kemudian bermusyawarah tentang arti dan pelaksanaan ayat-ayat itu. Ketika pada November 1945 AOI berangkat untuk front Sidoarjo di Surabaya, sebelum pasukan dikirim, perbekalan dan bahan makanan dikirim lebih dahulu. Tindakan ini didasarkan pada sebuah ayat yang mendahulukan kata amwalikum (harta benda) daripada anfusikum (dirimu) dalam ayat tentang jihad.5
Dalam kepengurusan AOI, bagian ruhani mempunyai peranan besar. Pelajaran-pelajaran ruhani yang diberikan meliputi tauhid, fiqih, dan juga tarikh Nabi. Para prajurit di asramakan, mendapatkan latihan militer, bimbingan pelajaran ruhani, dan pada waktu senggang juga wirid atau shalat malam. Mereka tampak bersedia mensucikan diri sebelum mati syahid. Basis moral agama itu dapat dipandang sebagai formula politik bagi AOI yang meungkinkannya menarik pengikut.
Anggota AOI adalah petani dari desa-desa, berbeda dengan badan lain yang beranggotakan pegawai, buruh, atau pedagang. Pada tahun 1948, AOI ditugasi membantu keamanan di Kebumen untuk pembersihan sisa-sisa pemberontak Madiun; juga diserahi tugas NTR dari 123 desa di sebelah utara Kebumen dengan mengangkat enam kepenghuluan yang beranggotakan tiga puluh orang kiai.6 Ini menunjukan beberapa kemajuan dalam hubungan dengan outer group. Juga masuknya Bn. Lemah Lanang ke APRIS, dan integrasi Ki Surengpati Hisbullah ke dalamnya—gejala-gejala yang memberikan harapan kalau tidak tibatiba terputus karena peristiwa berikutnya.
Hubungan antara AOI pusat dan kiai-kiai desa di tingkat ranting sudah lama terjalin—sesuatu yang misalnya menyebabkan AOI tidak mengubah organisasi sosial yang di bawa dari desa sebagai basisnya. Solidaritas lama yang berdasarkan ikatan informal dan nonkontraktual tetap berjalan meskipun AOI mengembangkan suatu solidaritas organis lebih daripada solidaritas mekanis seperti yang terdapat pada zaman lampau. Hubungan seperti itu, seperti halnya sangat terasa di daerah pedesaan Jawa, bersifat langsung intim, personal, dan langgeng. Solidaritas sosial semacam itu lebih diintensifkan lagi dengan adanya asrama tempat anggota yang sudah homogen—dengan pengalaman, latar belakang kebudayaan, dan agama yang sama—dikumpulkan. Dengan cepat, suatu perilaku kolektif menjadi pola tingkah laku mereka. Yaitu suatu perasaan kolektif yang di dalamnya kohesi sosial terjadi sesama anggota, sementara perasaan bermusuhan muncul terhadap kelompok di luarnya. Prasangka mereka yang lama terhadap abangan, priyayi, atau orang asing, mulai mencari bentuk. Perselisisan sudah terjadi ketika pada Februari 1949, Mayor Sudarmo mulai mengonsolidasikan pasukan di Kebumen.7
L’ Enfant Terrible
Seharusnya AOI telah membubarkan diri ketika Bn. Lemah Lanang diresmikan menjadi bagian APRIS. Tetapi AOI tidak bubar. Pada 31 Juli 1950, seorang anggota AOI ditemukan mati tertembak setelah berkelahi dalam sebuah jeep dengan anggota-anggota CPM. Pada pagi harinya, 1 Agustus 1950, Somolangu ternyata sudah dikepung, setelah usaha pendekatan sebelumnya gagal dilakukan, sehingga perang menjadi tak terhindar.
Perubahan yang cepat dalam revolusi dan juga kekacauan perang telah membawa disorganisasi pribadi dan sosial. Anggota AOI mula-mula berniat menjadi anggota sukarelawan, melaksanakan jihad, kemudian akan kembali ke pondok setelah perang selesai. Tapi setelah itu mereka menghadapi problem-problem: 1. Menjadi tentara tetap atau tidak; 2. Jika masuk APRIS, senjata yang dulu dimiliki tidak lagi menjadi haknya; 3. Beberapa batalion APRIS dicurigai sebagai komunis; 4. AOI harus bubar atau terus; 5. Ada usaha mutasi personil dan tempat bagi Bn. Lemah Lanang dalam rangka agar mereka dapat dipecah-pecah; 6. Suatu disiplin rasional tidak tepat untuk mereka; 7. Demobilisasi akan membawa problem baru; 8. Mereka sendiri terlalu terisolasi, sehingga menyusahkan kerja sama dengan pasukan lain; 9. Persaingan yang terjadi antar pasukan telah berkembang menjadi konflik; dan 10. Mereka takut menghadapi hal-hal baru.
Rupanya di desa, AOI dapat dipandang sebagai reaksi santri terhadap birokrasi, sebagaimana gerakan Samin adalah reaksi abangan terhadap birokrasi. Kiai Mahfud dan kiai-kiai AOI tidak berhasil membina pola hubungan baru baik dengan cara intragroup maupun intergroup. Mereka tampak lebih sebagai broker yang gagal, yang tidak berhasil menerjemahkan institusi nasional ke dalam komunitas lokal, atau menerjemahkan unsur kosmopolitan Islam ke dalam lingkungan lokal penduduk pedesaan.
Barang kali karena anggotanya terdiri atas para petani dan tidak terdapat golongan menengah yang receptive di kalangan mereka, mereka kemudian cenderung kembali ke basisnya, yaitu suatu komunitas tertutup, semacam revivalisme dari pondok dengan santri sebagai pelaku utamanya. Tampak apa yang disebut cultural-lag dalam tubuh AOI, sehingga terdapat jarak antara kota-desa, nasional-lokal, modernisme-revivalisme, atau masyarakat terbuka-masyarakat tertutup. Intelegensia AOI yang mempunyai tugas lebih dari sekitarnya tidak menjalankan perannya secara maksimal. Pesantren atau pondok yang seperti desa pada umumnyacenderung mempunyai otonomi, tidak mersa perlu akan tambahan, timbal balik dari subordinasi. Pesantern tetap bertahan untuk suatu little-communty dengan corak yang
homogen, lamban, dan merasa cukup-diri.1
Keinginan Kiai Mahfud yang mengatakan sesudah perang kiai akan kembali mengajar dan santri akan kembali ke pondok, tidak semudah itu dapat dijalankan. Transformasi masyarakat tamapaknya tidak berlangsung secepat yang dicita-citakan. Ini menyebabkan otoritas kharismatis dimintai pertanggungjawaban dan dengan demikian dituntut untuk selalu menunjukan kekuatannya. Situasi ini menjadikan pemimpin AOI terseret untuk kembali kepada otoritas karismatis dan mempermanenkannya, dan itu berarti menghadapkannya pada birokrasi, yaitu RIS. Dikabarkan bahwa AOI bahkan akan mendirikan negara merdeka sendiri dengan batas-batas Sungai Lukula di barat, Sungai Gebang di timur, Wonosobo di utara, dan Laut Selatan di selatan; atau setidaknya mendirikan suatu daerah kepoetihan yang didiami oleh orang-orang Muslim yang saleh.
Perubahan dari geurilla forces ke regural army yang diusahakan oleh pemerintah mempunyai dampak tertentu bagi AOI. Otnomi dalam politik dan ekonomi yang sangat perlu dalam perang gerilya, telah dengan baik dilaksanakan oleh AOI. Selama ini AOI sama sekali otonom, tidak ada subordinasi dari birokrasi pemerintah atau angkatan perang. Mitos tentang kekuatan diri sangat dikenal begirtu AOI banyak melakukan keberanian dan kesuksesan dalam perang gerilya—sesuatu yang juga memunculkan apa yang disebut warlordism pada tahun 1950-an. Kelas berkuasa yang memang masih berada di tangan lama, minus Belanda, menggusarkan AOI. Selama ini AOI sudah merupakan suatu power group yang berpengaruh, tapi tak cukup berbuat banyak karena bukan ruling-class—suatu keadaan yang dianggap tidak adil.
Pada bulan September 1950, setelah peristiwa AOI meletus, rapat ulama diadakan di Candi, dipimpin oleh Kiai Haji Umar Nasir.2 Rupanaya peristiwa ini menunjukan gejala seperti yang terjadi pada birokrasi kolonial dengan adanya golongan agama sekuralis yang mendapat status formal dalam birokrasi dan ulama revivalis yang didukung oleh peduduk desa.3 Tampak sekali bahwa sebagai gerakan Islam, AOI mengikuti pola kebudayaan santri pedesaan abad ke-19—sesuatu yang aneh karena pada tahun 1950-an itu, gerakan Islam lain cenderung bersifat urban, reformis, dan dinamis.
KESIMPULAN
Lebih dari segalanya, kasus AOI adalah suatu problem sosial. AOI bukan semata-mata badan kelaskaran, tetapi suatu pergerakan sosial yang abortif karena gagal mencapai sasaran pergerakannya.1
Dalam menyelesaikan problem sosial, yang sebagian anggota masyarakatnya memisahkan diri, sebaiknya diadakan sosialisasi. Seandainya suatau penyelesaian damai terlaksana, niscaya jiwa dari 1.500 hingga 2.000 orang akan selamat dari kematian, dan keretakan sosial selanjutnya dapat dihindari, tapi, sejarah rupanya telah bergerak terlaku cepat sebelum timbul perkiraan mengenai apa yang bakal terjadi. Kini, tampak bahwa sudah saatnya ilmu-ilmu sosial mendapat perhatian untuk menyelesaikan problem-problem sosial seperti itu. (Artikel ini di ambil dari: http://wijayadia.blogspot.com/2010/12/pendahuluan-angkatan-oemat-islam-aoi.html)
-------------------------------------------------------------------------------
Markas Darurat Tentara Pelajar di Front Barat pada Perang Kemerdekaan I - 1947: Bagian 2

GUGURNYA RIDWAN DAN ACHMAD

Saat menunggu kedatangan pasukan Djokonomo, induk pasukan mendapat serangan dari sebelah Utara. Dengan keberanian luar biasa, saudara Ridwan yang bersenjata brend gun melakukan perlawanan hebat untuk menggagalkan gerakan masuk tentara Belanda ke desa Sidobunder dalam serangan yang bergelombang.
Gelombang pertama dan kedua dapat digagalkan, tapi pada kesempatan berikutnya saudara Ridwan gugur ditembus peluru musuh. Saudara Koenarso Kampret yang ada di dekatnya sempat mengamankan senjata Ridwan.

Saudara Achmad, seorang kurir yang masih sangat muda dari MBT (Markas Besar Tentara-penyunting), karena kemalaman pada 1 September 1947 memaksa dirinya tidur di markas induk. Pagi harinya setelah shalat Subuh, ia melaporkan kedatangan kepada Komandan Seksi, menyatakan ingin bergabung dengan seksi 321 dan minta dipersenjatai. Pertama, ia diberi sejumlah granat gombyok oleh mas Anggoro, tapi ditolak. Akhirnya, Komandan Seksi 321 ini merelakan senjata andalan sebuah karabijn pendek hasil perebutan dengan tentara Jepang di Kotabaru (Jogja-peny) kepada Achmad. Sementara dirinya mengalah dengan bersenjatakan granat yang akan diberikan kepada Achmad. Setelah bergabung, Achmad ikut menahan gelombang serangan itu yang akhirnya membuat pemuda itu gugur dalam menjalankan tugas.

Setelah Regu 1 datang melapor, Komandan Seksi 321 segera memerintahkan pasukannya untuk memulai pergerakan mundur. Sdr. Hapto merelakan diri sebagai penunjuk jalan, diikuti Pramono dan Kusdradjat. Sementara itu, mas Anggoro dan Fuad Sahil menelusuri jalan ke arah Timur. Sisa pasukan dibagi dua bergerak di antara rumah-rumah penduduk ke Timur di kedua sisi jalan. Dengan tenang sdr Hapto mendekati regu Maulwi Saelan. Mereka mamberi isyarat bahwa keadaan masih aman dan pasukan dapat mengikutinya ke arah Timur. Mungkin salah pengamatan karena baju seragam dan warna kulit sama dengan pasukan Belanda yang berasal dari KNIL, sebenarnya kedudukan mereka telah dikepung oleh tentara musuh. Sehingga pasukan kita telah terperangkap dalam wilayah yang telah dikuasi tentara Belanda. Pertempuran seorang demi seorang (tidak berkelompok dalam regu-penyunting) tak terhindarkan. Pada saat itu Hapto dan Pramono gugur. Komandan Seksi dan sisa pasukan yang mengikutinya ke arah Timur masih sempat berlindung di sudut desa untuk menyusun ulang kekuatan yang ada sambil mencari informasi tentang teman-teman yang jadi korban. Serta kedudukan tentara Belanda pada waktu itu. Dalam waktu yang relatif singkat, telah berkumpul 11 orang yang terdiri dari Kusdradjat, Rinanto, Fuad Sahil, Djokonomo dan selebihnya adalah anggota TNI. Melihat situasi yang tidak memungkinkan pasukan untuk bertahan lebih lama, pasukan ini bergerak ke arah Timur dengan pimpinan Djokonomo.

Setelah memasuki desa pertama, pasukan kecil ini tiba-tiba dihujani tembakan mortir. Dengan pelan dan berhati-hati akhirnya mereka dapat memasuki daerah yang dikuasi oleh pasukan kita dari Angkatan Oemat Islam (AOI). Mereka kemudian dikepung oleh pasukan AOI dalam jumlah besar dan bersenjata detonator dengan maksud akan merampas senjata yang dibawa pasukan kecil ini. Karena emosional, Djokonomo segera menarik pelatuk standgun-nya. Tapi segera dicegah oleh mas Anggoro selaku Komandan Seksi. Kemudian ia meminta kepada anggota pasukan AOI untuk mempertemukan dirinya dengan pimpinannya. Tapi tidak ada tanggapan sama sekali. Mereka tetap terdiam. Akhirnya, mas Anggoro minta untuk diantar ke masjid guna menunaikan shalat Maghrib. Karena yang muslim hanya dua orang, anggota pasukan lainnya diperintahkan mengikuti saja gerakan teman yang ditunjuk menjadi imam.

Setelah usai menunaikan shalat Maghrib, datang hidangan. Akhirnya pak kyai yang menjadi pimpinan pasukan AOI itu menghampiri pasukan kecil ini. Beliau meminta senjata yang kita bawa untuk diserahkan kepada mereka agar dapat memperkuat pertahanan pasukan AOI. Dengan cara halus, permintaan itu ditolak dan Komandan Seksi berjanji akan menggantinya dengan sekotak granat tangan yang bias diambil di markas Tentara Pelajar di Karanganyar. Sesampai di markas, janji itu dipenuhi dan terjadilah hujan tangis. Banyak anggota TP yang gugur di medan laga sekitar desa Sidobunder.


Pertahanan Pasukan PERPIS

Pasukan pelajar Sulwesi pimpinan Maulwi Saelan mengalami keadaan serupa. Mereka terpaksa mengundurkan diri, bertempur secara individual dan tercerai berai karena kurang mengenal medan. Pos mereka yang menghadap jalan menuju Karanganyar dilengkapi senjata yang cukup kuat. Sekitar jam lima pagi, Maulwi dengan teropongnya melihat sejumlah besar tentara Belanda yang tengah bergerak di jalan antara Karang ayar dan Puring kea rah desa Sidobunder. Waktu itu seorang pelajar Timor bernama Herman Fernandez bertindak selaku penembak senapan mesin. Maulwi memerintahkan La Sinrang untuk menghubungi Anggoro agar brendgun ditarik ke depan. Beberapa saat sehabis Subuh, pecahlah kontak senjata dam hujan mortir. Dari arah Gombong terdengar dentuman meriam yang pecahan pelurunya berjatuhan di kiri dan kanan pertahanan pasukan TP.
Tiba-tiba Tajudin tertembak senjata musuh dan sempat berteriak “ BAHSAMA”. Aba-aba mundur diteriakkan dan pasukan ini tak sempat memberitahu pasukan Anggoro. La Sinrang, La Indi, Losung dan Herman Fernandez terpisah dari induk pasukannya. Setelah melewati persawahan yang tergenang air setinggi dada, mereka mencapai kebun kelapa. Di sini terjadi kontak tembak jarak dekat dengan pasukan Belanda yang datang dari arah Puring di bawah pimpinan seorang opsir.
Losung dan La Indi gugur di tempat itu karena kehabisan peluru dan tertembak. Dalam persembunyian di antara semak-semak, La Sinrang dan Herman Fernandez mendengar teriakan Losung:
“ Jangan tembak oom… peluru habis”
Terdengar suara lain, “ Cukimai Kawanua… budak Soekarno”, lalu terdengar rentetan tembakan.
Herman Fernandez kepergok seorang opsir Belanda yang berteriak:
“ God verdom zeg Ambonese. Angkat tangan…!”.
Herman Fernandez membalas teriakan: “ Inlander….”, dan terdengar senjata La Sinrang yang pelurunya tinggal sebutir menyalak, menembus dada opsir Belanda yang segera roboh.
Kedua anggota Tentara Pelajar ini lari berpencar. La Sinrang menemukan standgun yang disangka milik teman yang gugur dan membuang senjata laras panjangnya karena habis peluru. Tiba-tiba dari arah Puring muncul anggota pasukan Belanda lainnya yang berteriak: “ Angkat tangan…. “.
Setelah mengetahui senjata di tangannya juga tanpa peluru, La Sinrang membalas dengan teriakan lain” Tak ada peluru…”. Meski dihujani tembakan oleh tentara Belanda itu, terjadi keanehan. Tak ada satu pelurupun yang mengenai tubuhnya. Melihat kejadian itu, salah satu tentara Belanda mendekat dan memukul tubuh La Sinrang. Ia jatuh dan segera diikat. Diseret menyeberang sungai dan dibawa truk menuju Gombong. Kejadian ini disaksikan oleh beberapa orang penduduk yang diantaranya adalah Rasikun alias Ana mat Mu’sin, Kepala Desa Sidobunder saat ini (sekitar tahun 1984 – penyunting ).
La Sinrang pertama kali ditahan di bagian belakang bersama anggota BPRI (barisan Pemberontak RI) dan ALRI Sumpyuh.
Seorang juru rawat putri yang mengobati lukanya pernah bertanya kepada La Sinrang: “ Bung dari TP ? “ yang dijawab “ Ya…”. Kemudian juru rawat itu meneruskan, “ nanti saya akan obati bung.. keluarga saya ada di Jogja”.

Pemeriksaan oleh Tentara Belanda

Setelah lukanya membaik, La Sinrang segera diinterograsi :
“ Apakah anda kenal (Herman) Fernandez..”, Tanya tentara Belanda
“ Ya..” jawab La Sinrang.
Selang waktu sekitar dua minggu, La Sinrang dipindahkan ke tempat tahanan lain. Di situlah ia bertemu Herman Fernandez . Mereka kemudian berpelukan layaknya sahabat yang berpisah lama.
Ketika dibawa ke kantor MP (Militaire Politie/ Polisi Militer) untuk diperiksa, disaksikan oleh seorang pastor Belanda dan seorang lain yang bertugas mengambil foto, Herman Fernandez yang fasih berbahasa Belanda dan La Sinrang mendapat pukulan beberapa kali oleh anggota MP itu setelah pastor dan juru foto pergi meninggalkan tempat pemeriksaan itu. Mereka dimaki dengan kata-kata : “ Anjing Soekarno…!”.
La Sinrang ditanya: “ apa kamu yang tembak sersan NEX..?”.
“ tidak tahu.. karena pertempuran..”, jawab La Sinrang. Ia segera tahu bahwa ada empat tentara Belanda yang ditembak mati dirinya : seorang kapten Belanda dan tiga orang lainnya dari suku Ambon dan Timor.
Saat ditanyakan, “ senang mana Negara Indonesia Timur atau Jogja”, Herman Fernandez dengan lantang menjawab :
“ Kami kenal dan kami pertahankan hanya satu, Negara Republik Indonesia”. Setelah pernyataan itu, kedua anggota TP ini dipukul berkali-kali. Kemudian keduanya secara resmi dihadapkan di pengadilan militer Belanda di Gombong.



PESAN HERMAN FERNANDEZ KEPADA LA SINRANG DALAM TAWANAN TENTARA BELANDA

Herman Fernandez bercerita kepada La Sinrang bahwa dirinya disangka keras sebagai penembak Kapten NEX ( semacam wajib militer di Tentara Belanda – penyunting) karena jenis senjata yang dipegangnya (ketika ditangkap) laras panjang dan La Sinrang memegang stendgun.
“ Tapi tak mengapa.. adik (La Sinrang) jangan takut mati. Mati ditembak Belanda lebih baik dari pada mati konyol”, kata Herman Fernandez.
“ Mungkin saya tak kan hidup lama lagi. Pastor Belanda telah memberi kitab dan menyuruh saya akan segera bersembahyang”.
“Pastor pernah menawarkan pertolongan jika saya mau mengakui sangkaan itu. Tapi saya selalu menolaknya”
“Saya sering bermimpi buruk. Adik saya doakan agar tetap selamat..”
“Kalau nanti saya mati ditembak, tolong sampaikan salam kepada teman-teman dan tunangan saya yang ada di asrama Katholik Magelang”, kata Herman Fernandez dengan tabah.

Suatu malam, La Sinrang mendengar kabar bahwa Herman Fernandez dibawa pergi oleh tentara Belanda dan tidak kembali lagi. Sementara itu, dirinya dua kali dipindahkan sebagai tawanan di Sumpyuh dan Banyumas. Atas ijin Tuhan Yang Maha Kuasa, dalam pemeriksaan lanjutan dan sangat menentukan, ia ditolong seorang anggota Tentara Belanda asal pulau Buton bernama Lambia yang memberi kesaksian meringankan. Akhirnya La Sinrang urung dieksekusi mati.



Pasukan Maulwi Saelan Lolos dari Lubang Jarum

Setelah mengetahui tentang kabar anak buahnya banyak yang gugur di medan laga Sidobunder dan kehabisan peluru, Maulwi Saelan mencari jalan untuk meloloskan diri dari pembantaian tentara Belanda. Karena postur tubuh dan warna kulitnya yang kuning langsat, ia berpikir dapat mengelabuhi patroli Belanda dengan cara bertelanjang dada dan mengibarkan baju di antara pematang sawah. Seolah mereka tengah mengejar gadis desa layaknya para sinyo Belanda. Taktik ini ternyata jitu.

Jam 12.45, dua anggota TP yakni Soemitro dan Wahju Widodo bertemu dua orang desa berpakaian tani yang sedang memikul usungan di jalan sebelum masuk desa Tegalsari. Ternyata yang mereka usung adalah jenasah Sorjoharjono. Selang waktu spuluh menit berikutnya, kedua anggota TP ini berpapasan dengan dua pengusung lain di desa Tegalsari. Di dalamnya terdapat tubuh Alex Rumambi yang terluka parah dengan lubang bekas tertembus peluru dan banyak sayatan di sekujur tubuh.

Sesampai di markas TP Karanganyar, Maulwi Saelan diperintahkan kembali ke desa Sidobunder untuk menemukan jenasah para pejuang. Didampingi anggota International Brigade dari India dan sejumlah anggota TP, ia berangkat. Tetapi karena situasinya masih rawan dengan sejumlah tentara Belanda yang sering berpatroli serta sawah yang tergenang air, pencarian itu ditunda sampai esok hari.
Tanggal 3 September 1947, ditemukan sejumlah jenasah pejuang yang berserakan di sawah dan pekarangan penduduk. Setelah dikumpulkan dan dibungkus dengan daun pisang, semua jenasah itu diangkut dengan usungan bambu dan dibawa ke desa Sugihwaras menggunakan perahu-perahu rakyat. Kemudian semuanya dipindahkan ke markas Karanganyar untuk disemayamkan dan menunggu kedatangan kereta api yang akan membawanya ke Jogja. menggunakan perahu-perahu rakyat. Kemudian semuanya dipindahkan ke markas Karanganyar. dibungkus dengan daun pisatuasinya masih rawan

Markas Pusat Tentara Pelajar di Jogja memiliki Staf Putri yang dipimpin oleh Sri Daruni, pelajar SMA B Kotabaru. Mbak Daruni, begitu panggilan yang biasa diberikan kepada beliau, sebagaimana dituturkan oleh Atiatoen yang saat itu selaku anggota staf dan siswi di Sekolah Guru Putri (SGP) adalah “kanca wingking” – nya anggota TP laki-laki yang berlaga di garis depan. Ada dua hal yang biasa mereka urus yakni dapur umum dan kepalang-merahan. Untuk angkatan pertama dan kedua, anggota staf putri diberikan pelatihan dasar kemiliteran seperti baris berbaris, mengenal dan menggunakan beberapa senjata serta bela diri militer. Sesuai ingatan Atiatoen, ada beberapa nama siswi SGP yang pernah mengikuti latihan dasar kemiliteran di Militair Academie (MA) Kotabaru Jogjakarta yaitu Retno Sriningsih, Retno Triningsih, Oemijatoen dan Koeshartini yang pernah bersamanya ditugaskan di rumah sakit darurat PMI Mojoagung Mojokerto Jawa Timur bersama teman-teman dari Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP) membantu perawatan korban pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Demikian pula penugasan di Markas Darurat Tentara Pelajar di lingkungan Gereja Kristen Jawa jalan stasiun Kebumen pada Perang Kemerdekaan I tahun 1947. Markas yang dipimpin Moedojo (mahasiswa HESP di sekolah tinggi hukum yang sekarang bernama Universitas Gadjahmada) dan wakilnya Tjiptardjo yang pelajar Sekolah Menengah Teknik (STM Jetis Jogjakarta). Kantor markas berada di sebuah rumah di kanan gereja yang sekarang dipakai untuk kantor pemasaran produk rangka baja. Sementara itu, rumah dinas kapandhitan yang saat itu dikelola bapak Pendeta Reksodihardjo digunakan sebagai asrama di bagian aula dan dapur umum di bangunan sayapnya. Secara kebetulan, keluarga bapak Reksodihardjo memiliki kedekatan hubungan dengan keluarga Atiatoen. Selain menjadi pelanggan beras yang dijual oleh almarhumah ibu kandung dan mesin jahit yang disediakan oleh ayahnya, Moch. Djadjuli, dua kakak kandung Atiatoen yakni Affandi yang akrab disapa Pandi Gondhek dan Achmad Dimjatie (letnan TRI, penguasa militer di Front Barat) adalah teman bermain putra bapak pendeta Reksodihardjo yang bernama Agustinus. Karena itu, penugasan Atiatoen di markas darurat TP ini mendapat dukungan penuh dari keluarga pendeta Reksodihardjo. Di antaranya adalah mempekerjakan tukang masak keluarga bernama Fathonah dan seorang tukang kebun gereja yang ditugaskan menanak nasi, membersihkan lingkungan yang dipakai asrama dan dapur serta mencari kayu bakar.

Selama menjalankan tugas di markas darurat ini, Atiatoen dibantu oleh beberapa teman sesama siswi SGP asal Kebumen yaitu Rasini dan Oemijaton (adik kandung Martono, Komandan Detasemen III TP Jogja, mantan Menteri Transmigrasi), Oemi Wasilah (mantan Kepala SD N 5 Kebumen) dan Haryati yang rumahnya dekat gereja. Ia bertugas sepanjang masa libur kenaikan kelas sekitar pertengahan Juli – pertegahan September 1947. Sementara itu, markas darurat telah dioperasikan sekitar tiga minggu sebelumnya.

Menjelang akhir Agustus 1947, terjadi pengerahan pasukan TP secara besar-besaran ke arah Barat kota Kebumen membantu pemusatan kekuatan tempur pasukan TRI yang dipimpin oleh Letnan Achmad Dimjatie di sekitar wilayah Gombong Selatan (Kuwarasan, Puring dan Buayan). Selain dari Jogja yang dikerahkan dari Markas Pusat di Tugu Kulon, pasukan TP diperkuat oleh TGP, TP Solo, SA/CSA, TRIP dan TP Purworejo. Tentu saja dari markas TP Kebumen yang sekarang menjadi SMP Muhammadiyah 1 saat itu dipimpin Sadar, Samijo dan David Sulistjo juga mengerahkan pasukannya. Kebanyakan dari mereka adalah para siswa Sekolah Teknik (sekarang SMP N 7 Kebumen) dari berbagai daerah. Tidak hanya sekitar Kedu dan Banyumas. Tapi banyak juga yang berasal dari luar Pulau Jawa seperti Flores dan Ambon.

Menurut penuturan Atiatoen, seminggu menjelang pertempuran besar di sekitar Sidobunder, hampir setiap hari Markas Pusat TP di Jogja mengirim dua sampai tiga gerbong pasukan. Ada yang berasal dari Pelajar Kalimantan, Sulawesi (PERPIS) dan pelajar dari berbagai daerah di Indonesia (kecuali Papua) yang tengah menjalani studi di Jogjakarta. Dari banyak anggota TP yang singgah di asrama dan mengambil jatah makan di dapur umum, ada tiga nama yang sangat diingatnya. Pertama, seorang yang disebut Lowo. Ia diingat karena sikapnya yang urakan dan suka mengganggu teman-teman putrinya di dapur umum. Alex Rumambi yang berperawakan pendek dan pendiam. Tapi disegani oleh rekan-rekannya. Dan satu lagi adalah seorang pelajar Kalimantan yang membantu dirinya memetik nangka di halaman belakang rumahnya untuk persediaan sayur, menu malam nanti. Sampai sekarang, ia tak mengenal nama pelajar Kalimantan ini. Dari keterangan kakak kandungnya, Pandi Gondhek, ia bernama Losung. Jika benar keterangan itu, kebersamaan memetik nangka adalah kesempatan pertemuan terakhir. Karena Losung merupakan salah satu korban yang gugur pada pertempuran di desa Sidobunder.
Diposkan oleh Toto K Wirjosoemarto di 14:06 0 komentar Link ke posting ini
Minggu, 28 Maret 2010
Markas Darurat Tentara Pelajar di Front Barat pada Perang Kemerdekaan I - 1947
Keberadaan Tentara Pelajar (TP), Tentara Republik Indonesia Pelajar (TRIP), Tentara Genie Pelajar (TGP), SA/CSA (Corp Student Army) atau Pelajar/Mahasiswa Pejuang Kemerdekaan (Bersenjata) dan beberapa nama lain adalah sebuah realitas sejarah perjuangan kaum terpelajar dalam ikut serta selaku warga negara - bangsa menegakkan amanat Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Dengan rentang waktu yang sangat pendek (Juni 1946 - akhir Desember 1949), mereka telah mewarnai sejarah dengan beragam cerita heroik dan segala pernak-perniknya. Dalam peta kendali kekuatan perjuangan rakyat, wilayah Gombong, Kuwarasan, Buayan, Puring dan sekitarnya biasa disebut Front Barat. Pada Perang Kemerdekaan I 1947, wilayah ini sering terjadi pertempuran hebat antara pejuang Kemerdekaan RI dan pasukan penjajah Belanda yang sebagian besar adalah NICA (semacam legiun asingnya Tentara Kerajaan Belanda). Seolah jadi kebiasaan, setiap menjelang peristiwa penting bagi Kerajaan Belanda seperti hari lahir Ratu dan lain-lain, tentara Belanda melakukan aksi pertempuran besar di berbagai wilayah. Satu di antaranya adalah sekitar Desa Sidobunder Kecamatan Puring Kab. Kebumen. Berikut adalah cerita pertempuran yang melatar-belakangi pembuatan Palagan Sidobunder oleh Keluarga Besar Tiga Tujuhbekas (Tentara Pelajar Detasemen III Brigade 17 TNI) sebagaimana ditulis Istopo Sebul dalam buku Peringatan Palagan Sidobunder (1984) dengan sedikit penyuntingan ejaan agar mudah dipahami umum. *** PALAGAN SIDOBUNDER Awan gelap menggantung di ufuk Barat. Matahari mulai terbenam meninggalkan cahaya kemerah-merahan di celah-celah mendung hitam, meramalkan kesuraman yang menggetarkan hati. Seperti masuk neraka saja, rasanya. Sepasukan kecil dari Seksi (Sie) 321 Kompi (Kie) 320 Batalyon (Bat) 300 Tentara Pelajar dibawah komandan Anggoro bergerak melaksanakan perintah untuk menduduki daerah Sidobunder membantu dan memperkuat pertahanan sepasukan kecil dengan kekuatan satu regu Tentara Rakyat Indonesia (TRI, sebutan bagi TNI saat itu) di bawah pimpinan seorang Letnan ( kemudian diketahui bernama Achmad Dimjati – penyunting). Pasukan bergerak pelan-pelan dan berhati-hati, sebentar-sebentar berhenti memperhatikan dengan seksama keadaan di depan dan di sekelilingnya. Senapan-senapan yang semula dengan santai disandang di pundak, tanpa komnado, telah dibawa dalam keadaan siap tempur. Mata mereka hampi tak berkedip, meneliti senja yang berangsur gelap itu, agar dapat menelusuri jalan menuju Desa Sidobunder. Masuk Desa Sidobunder Tanggal 31 Agustus 1947, pasukan TP telah memasuki Desa Sidobunder. Segera Sie 321 melapor kedatangannya kepada Penguasa (Militer) setempat yang dijabat oleh Letnan TRI tersebut di atas dan juga Kepala Desa Sidobunder yang telah siap menyambut kedatangan Sie 321 dengan nuk (nasi bungkus jaman itu) yang segera diserbu oleh semua pasukan yang sudah lapar. Malam itu Nampak banyak obor menyala di seberang sawah yang mencurigakan. Tetapi, setelah Kepala Desa menerangkan bahwa itu adalah kebiasaan rakyat setempat yang sedang mencari gangsir (sejenis jangkrik/ cengkerik) di malam hari, maka Komandan Anggoro mengijinkan pasukannya untuk beristirahat. Setelah pasukan beristirahat sebentar maka Sie 321 menempati pos masing-masing di beberapa penjuru Desa Sidobunder yang dianggap rawan bila pasukan Belanda menyerang pertahanan pasukan RI. Bersamaan kedatangan Sie 321, tiba pula anggota TP Sulawesi (PERPIS: Persatuan Pelajar Indonesia Sulawesi) yang dipimpin oleh Maulwi Saelan dan beberapa anggota TP Purworejo yang menggabungkan diri di Desa Sidobunder. Markas pasukan TP adalah rumah Pak Ponco yang letaknya di sebelah Barat Kelurahan yang kini menjadi gedung SD. Pak Ponco adalah seorang pensiunan pegawai pegadaian (Pandhuis Schatter, juru tulis pegadaian) dank arena itu masyarakat setempat menyebut beliau sebagai pak Sekater. Senin, 1 September 1947 Baru satu malam berada di Desa Sidobunder, kami mendengar kabar bahwa tentara Belanda telah mengadakan pemusatan kekuatan di Karangbolong. Pagi itu, Sdr. Losung dari PERPIS bersama tiga rekan ditugaskan untuk menguji kebenaran berita itu. Memang benar ada tentara Belanda di sana, tetapi jumlahnya tidak banyak. Bahkan ada yang sempat berenang dan mandi di sungai itu. Oleh keempat anggota TP yang masih belasan tahun umurnya itu, tanpa memperhitungkan bahaya yang akan timbul, orang-orang Belanda itu ditembaki. Karena kaget, mereka lari terbirit-birit tanpa membalas tembakan anak-anak TP. Bagian II Bersiap-siap Menyongsong Musuh Senin pagi, Regu 1 dibawah pimpinan Djokonomo menempati pertahanan terdepan dengan tugas khusus mempertahankan jembatan yang telah diledakkan pada waktu yang lalu. Atau setidak-tidaknya menghambat gerakan pasukan Belanda apabila mereka menyerang dari arah Barat. Anggota Regu 1 nampak sangat gembira pagi itu. Di tebing sungai terdapat lubang-lubang perlindungan yang rupanya pernah dipakai sebagai lubang pertahanan pasukan yang dating sebelumnya. Dari situ dapat terlihat suasana Desa Sidobunder secara jelas. Meskipun hari itu pasukan berusaha santai, tetapi hati merasa was-was, karena 31 Agustus kemarin adalah hari ulat tahun Ratu Wilhelmina, yang biasanya oleh tentara Belanda dirayakan dengan serangan besar terhadap pertahanan pasukan RI. Pertemuan Terakhir antara Komandan Regu 1 dan 2 Komandan Regu 2, Djokopramono yang ganteng, bersama beberapa anggotanya siang itu mengunjungi pertahanan Regu 1 dan ikut ngobrol di pos terdepan. Siang itu mereka berenang di sungai . Kebetulan ada perahu rakyat yang tak terpakai. Djokopramono coba mengayuhnya dan ia nampak gembira sekali. Rupanya itulah kesempatan terakhir bergembira ria bersama teman-temannya. Anggota lain menyeberang jembatan dan menapaki jalan-jalan yang termasuk daerah kekuasaan tentara Belanda. Ia berpesan agar mereka tidak terlalu jauh memasuki daerah musuh. Karena akan menarik perhatian mereka untuk mengetahui posisi pertahanan pasukan TP. Sampai pergantian hari, tidak ada kejadian penting. Pasukan TP tetap berjaga di pos masing-masing. Semua sadar bahwa serangan mendadak tentara Belanda bisa datang sewaktu-waktu untuk merayakan hari kelahiran Ratu Belanda itu. Malam Dingin yang Mencekam Malam itu hujan turun sangat deras, bagai dicurahkan dari langit. Tetapi anggota Regu 1 tak ada yang beranjak dari posnya. Dan lubang-lubang pertahanan yang mereka tempati telah menjadi kolam-kolam kecil. Pasukan tetap bertahan semalam suntuk dengan perut kosong dan terendam air setinggi dada. Malam itu kekawatiran akan diserbu tentara Belanda benar-benar memuncak. Komnadan Regu 1, Djokomono, disertai Imam Sukotjo memeriksa anak buah dari satu ke lain lubang. Dari satu ke lain pos. Akhirnya setelah yakin bahwa semua anggota pasukannya tetap waspada dan siap tempur, kedua orang ini mencari tempat berteduh disekitar jembatan dan menemukan sebuah kandang kerbau yang kosong. Di Pos TP Sulawesi, Sukiman bersama 9 orang temannya menempati pos di sekitar pertigaan (saat ini di salah satu sisinya telah berdiri tugu peringatan pertempuran/ Palagan Sidobunder). Tempatnya di sebuah kandang dan lumbung desa. Semua berpencar sesuai instruksi yang mereka peroleh sore itu. Sekitar tengah malam, terdengar suara “ uukk..” seperti ayam jantan berkokok. Ketika didekati ternyata tidak ada hal yang mencurigakan. Tapi suara itu muncul lagi di tempat lain. Kewaspadaan pasukan TP ditingkatkan. Kira-kira jam satu dini hari ada dua orang yang berpakaian adat Jawa mengirim kopi panas dan singkong rebus kepada Sukiman dan teman-temannya dengan permintaan agar kiriman itu segera dihabiskan. Tetapi, Sukiman satu-satunya orang yang dapat berbahasa Jawa memberi perintah agar kedua orang itu segera meninggalkan pos mereka dan tak perlu menunggu kiriman itu dihabiskan. Di belakang hari akhirnya diketahui bahwa ini merupakan taktik musuh untuk menghabisi pasukan RI dengan cara mudah. Terbukti, di Puring, kejadian serupa menimpa empat anggota pasukan TRI dan semuanya tewas. Mereka memang mata-mata musuh. 2 September 1947 Hari masih gelap menjelang Subuh. Tiba-tiba Komandan Sie 321 dikejutkan oleh rentetan bunyi senapan mesin dari berbagai penjuru. Disusul oleh kedatangan Letnan Achmad Dimajati yang member tahu bahwa posisi pasukan RI telah dikepung tentara Belanda dari segala arah. Setelah mempelajari situasi, mas Anggoro memutuskan agar pasukan yang terkepung mengadakan stoot (pergerakan pasukan) kea rah Timur guna meloloskan diri dari kepungan itu. Untuk menyiapkan pergerakan pasukan itu, diperintahkan kepada pasukan PERPIS agar diperkuat dengan senapan mesin buatan Jepang, Juki, untuk menghambat pergerakan pasukan musuh. Kepada Soejitno, Komandan Sie 321 memerintahkan agar segera menghubungi pasukan di garis depan yang dikomandani Djokonomo ditarik mundur dan menggabungkan diri dengan pasukan induk yang berpusat di Desa Sidobunder.
------------------------------------------------------------------------------------
###
AOI via FB
oleh Eko Juni
http://www.facebook.com/topic.php?uid=48782182235&topic=11184

Angkatan Oemat Islam (AOI) itu suatu gerakan Islam modern yang -meski cenderung revivalis- namun punya potensi besar untuk berkembang dan bersejajar dengan gerakan modern seperti NU maupun Muhammadiyah. Hanya saja, gerakan AOI terlanjur abortif, dalam istilah (alm) Kuntowijoyo, gerakan yang mati muda sebelum gejala-gejala dan tanda-tandanya sempat terucapkan. Namun yang jelas, AOI tidak bisa dilepaskan dari Pesantren al-Kahfi Somolangu. Kebetulan saya kenal baik dengan sebagian keluarga inti Somolangu, ditambah dengan paparan pak Kuntowijoyo (Kuntowijoyo, 1991, Paradigma Islam, Bandung : Mizan) yang aslinya dipaparkan dalam Seminar Sedjarah II tahun 1970, maka kita bisa memperoleh gambaran bagaimana AOI dan Somolangu ini sebenarnya.

Pesantren Somolangu itu pesantren tertua di Kebumen,bahkan di tlatah Jawa Tengah bagian selatan. Selain Somolangu, pesantren tua lain di sini adalah Pesantren Lirap Petanahan dan Pesantren Salafiyyah Wonoyoso. Namun K.H. Ibrohim Nuruddin baru mendirikan Lirap di awal abad ke-20 dan K.H. Nasuha meletakkan pondasi Salafiyyah pasca kepulangannya dari Makkah bersama K.H. Hasyim Asy'ari (pendiri NU) di awal abad ke-20 juga. Sementara Somolangu didirikan jauh hari sebelumnya, yakni pada ± 1000 H atau 1590 M oleh Syekh Abdul Kahfi Awwal, ulama Hadramaut yang merantau ke Jawa menyokong eksistensi Kerajaan Islam di Jawa dan selanjutnya bermukim di lembah Sungai Kedungbener. Jejak2 arkeologis menunjukkan lembah ini telah dihuni manusia sejak abad ke-8 M, ditandai keberadaan sepasang yoni dan sejumlah lingga dari batu andesit berlanggam Jawa Tengahan (ciri khas abad ke-8 M) yang terpreservasi dengan baik. Lingga dan Yoni, sebagai simbol kesuburan, diketahui hanya didirikan oleh komunitas Hindu (Syiwa) yang besar dan telah menjadikan tempat tersebut sebagai hunian tetapnya. Maka ada asumsi, komunitas Hindun yang terorganisir itulah yang ditemukan Syekh Abdul Kahfi Awwal dan diislamkan

Syekh Kahfi Awwal terkenal egaliter, bahkan konon sampai sekarang meski beliau sudah wafat ratusan tahun silam. Ada cerita tiap kali makamnya yang terletak di Bukit Lemah Lanang (± 2 km sebelah timur Mapolres Kebumen) hendak diberi cungkup atau tetenger seperti umumnya makam2 lainnya, upaya itu tidak pernah berhasil. Cungkup/tetenger selalu ditemukan sudah 'terbang' ke persawahan di sebelah baratnya. Bukit Lemah Lanang sendiri -menurut dugaan saya, meski sangat lemah- kemungkinan dulu bekas candi.

Menurut cerita, nama Somolangu diberikan oleh Raden Patah (Sultan Alam Akbar al-Fatah) dari kerajaan Demak Bintoro, yang mengatakan "tsumma dha'u" (artinya disinilah tempatmu) ketika menghadiahkan tanah di lembah Sungai Kedungbener itu kepada Syekh Kahfi,namun nang ilate wong Jawa (apamaning wong Kebumen) berubah jadi "Samalangu", dan akhirnya jadi "Somolangu" malah kadang jadi "Semlangu". Tapi dalam konteks sejarah, cerita ini rancu, soale Sultan Demak ketiga saja, yakni Sultan Trenggono, telah wafat pada 1546 M saat penyerbuan Pasuruan. Setting waktu yang lebih rasional mengaitkan berdirinya pesantren al-Kahfi Somolangu dengan akhir dinasti Pajang (Sultan Hadiwijaya) ataupun Mataram Islam awal (mungkin era Panembahan Senopati ataupun Panembahan Ratu/Panembahan Seda ing Krapyak).

Maka usia Somolangu jauh melampaui Kebumen sendiri. Bahkan dalam Babad Kebumen disebutkan, Joko Sangkrip, yang kelak menjadi KRT RAA Aroengbinang I yang keturunannya menjadi bupati2 Panjer/Kebumen sejak 1833 hingga masa Perang Dunia II, ikut nyantri di Somolangu di bawah asuhan Syekh Abdul Kahfi Awwal ini (meski diceritakan Joko Sangkrip ini santri mbeling sontoloyo gemaguse babar blas tukang ngintip wong wadon adus).

Ketika Perang Dunia I berkecamuk, Somolangu mengambil inisiatif berpartisipasi dengan membantu Kesultanan Utsmaniyah Turki (Turki Ottoman). Namun panggung sejarah Somolangu dalam konteks Indonesia Modern, lebih terpapart ketika terjadi peristiwa Angkatan Oemat Islam (AOI) yang menggetarkan pada 1950. AOI ini badan kelasykaran terbesar di Jawa Tengah, didirikan tahun 1945, beranggotakan ± 10.000 orang dari Kebumen timur, Purbalingga, Wonosobo dan Purworejo yang menjadi anggota jaringan tarekat Syadzaliyah yang berpusat di pesantren al-Kahfi Somolangu. Koordinasi dilakukan oleh Syekh Mahfudz Abdurrahman, pengasuh ponpes saat itu, yang digelari "Rama Pusat", dengan pelaksana teknisnya K. Sururudin. K. Sururudin ini bapake K.H. Nashiruddin al-Manshur (bupati Kebumen saat ini). Badan ini lalu bergabung dalam pasukan Hizbullah-Sabililla h yang dibentuk ulama-ulama Indonesia dalam upaya mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945 dan sempat bertempur habis2an melawan tentara Inggris dan NICA dalam Palagan Ambarawa dan Peristiwa 10 November 1945 Surabaya.

Ketangguhannya teruji ketika AOI (sebagai badan terbesar) berhasil mencegah Agresi Militer Belanda I 21 Juli 1947 bergerak ke Yogya sehingga memaksa Panglima NICA, Jendral Spoor dan Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang baru, Dr. H.J van Mook, membikin garis demarkasi di Sungai Kemit - Gombong, guna menghindari jatuhnya korban tentara NICA lebih besar. Memang garis van Mook ini bobol dalam kampanye militer Doorstot naar Djokdja alias Agresi Militer II 18 Desember 1948, namun pasukan khusus NICA menghadapi perlawanan sangat gigih pejuang Hizbullah-Sabililla h bersama TNI, yang jejak2nya muncul sebagai Palagan Sidobunder, Monumen Kemit dan juga Monumen Jembatan KA Luk Ulo (di barat RSU Kebumen). Meski berhasil menguasai Kebumen dengan bermarkas di Gedung Gembira (dekat Stasiun KA Kebumen), pasukan elit Gajah Merah dan Anjing Hitam NICA tidak pernah bisa menganeksasi Somolangu, meski pondok itu hanya berjarak 2 km dari jalan utama Kebumen - Purworejo. Demikian juga tentara kolonial Hindia Belanda, seabad sebelumnya, yang tak pernah bisa mengontrol Somolangu meski telah mendirikan Benteng Wonosari (sebagai bagian dari sistem benteng stelsel ala de-Kock) di era Perang Diponegoro, yang letaknya bahkan hanya berseberangan sungai terhadap pesantren al-Kahfi.

Meski bertempur bersama, pada periode 1947 - 1948 ini bibit2 pertengkaran AOI dan TNI mulai muncul. TNI - yang didominasi priyayi2 Jawa abangan - menganggap AOI lebih sering menimbulkan masalah, pandangan yang mungkin diturunkan dari Amangkurat I (yang pernah membantai ± 6.000 ulama Kajoran di alun-alun Plered pasca konflik dengan Pangeran Pekik). Yel2 "Allahu Akbar" yang diteriakkan AOI kala melakukan serangan dianggap membuat tentara NICA lebih mudah mengenali sasarannya. Sementara AOI - yang puritan dan mencoba melakukan purifikasi meski tidak seradikal Wahhabi - menganggap perilaku anggota TNI itu 'tidak Islami.' Ada isu pula, pasca Perang Kemerdekaan, AOI dianggap hendak mendirikan suatu "Keputihan", yakni wilayah orang2 saleh yang lokasinya mulai dari Sungai Lukulo hingga batas Kebumen - Purworejo. Namun, walo bermasalah dengan TNI, AOI -khususnya Syekh Mahfudz- menjadi pendukung bahkan berhubungan sangat erat dengan Presiden Soekarno. Soekarno sendiri pula yang menjanjikan AOI "tidak akan diapa-apakan. "

Pertengkaran makin menjurus parah pasca Konferensi Meja Bundar, dimana TNI dan badan2 kelasykaran harus dilebur ke dalam APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat). TNI menghendaki AOI diseleksi sebelum memasuki APRIS, sementara Syekh Mahfudz menghendaki AOI langsung masuk. Sebagai kompromi dibentuklah Batalyon Lemah Lanang untuk mengakomodasi pemuda2 AOI yang berminat masuk APRIS. Namun Batalyon ini terasing, terisolir dan tidak disukai di kalangan APRIS yang mayoritas berasal dari TNI.

Namun pertengkaran dengan TNI berubah menjadi permusuhan terbuka di akhir Juli 1950 kala beberapa personel TNI menggebuki anggota Batalyon Lemah Lanang sampai tewas. Aksi itu dibalas pada 31 Juli saat pemuda2 AOI gantian menggebuk personel TNI yang sedang lewat dengan jipnya, juga sampai tewas. Peristiwa ini dianggap sebagai perlawanan, sehingga sore itu juga Syekh Mahfudz diminta datang menghadap Kol. Sarbini di Markas APRIS Magelang. Syekh berjanji esok paginya akan datang menghadap, mengingat hari itu sudah sore dan transportasi sulit. Namun APRIS menganggapnya sebagai pembangkangan sehingga pagi 1 Agustus 1950 itu juga APRIS sudah mengepung Somolangu dan Syekh Mahfudz diultimatum untuk menyerah.

Maka berlangsunglah Bharatayudha. Somalangu dan desa2 disekitarnya menjadi merah berkuah darah, hancur lebur digempur bangsa sendiri. APRIS mengerahkan pasukan besar bersandi "Kuda Putih" (kelak menjadi Yon 404 /Para Banteng Raiders) dibawah pimpinan Kol. Achmad Yani dengan tugas melakukan stelling, menghancurkan segala jenis bangunan yang berdiri di Somolangu dan sekitarnya tanpa peduli apapun isinya. 1.000-an orang tewas hanya di hari itu, dengan total korban keseluruhan 2.000-an jiwa selama perang saudara berkobar 3 bulan. M. Sarbini dan Achmad Yani mengumumkan AOI terkait dengan DI/TII-nya Kartosuwiryo di Jawa Barat, hal yang tak masuk di akal mengingat Syekh Mahfudz tidak kenal dan tidak pernah berhubungan dengan Kartosuwiryo, baik secara langsung ataupun lewat wakilnya di Jawa Tengah (Abdul Fattah, yang mengobarkan perlawanan di Brebes - Tegal - Pemalang). M. Sarbini juga memindahkan ibukota kabupaten ke Karanganyar dan mengorganisir ulama2 Kebumen barat, sehingga muncul nama K.H. Umar Nasir Candi dan K.H. Makmur Tejasari yang "memberikan" legitimasi menggempur Somalangu.

Batalyon Lemah Lanang dan Pasukan Kuda Putih terlibat baku tembak jarak dekat nan dahsyat di sekitar lokasi Mapolres Kebumen sekarang. Konon demikian brutal aksi pasukan Kuda Putih, sehingga Syekh Makhfudz mengucapkan 'kata kutuk' : kelak Achmad Yani bakalan mati menyedihkan.

Akibat kebrutalan ini dan demi menghindari korban lebih besar, Syekh Makhfudz memutuskan menyingkir dari Kebumen dan berhijrah ke barat, tempat dimana Bandayudha leluhurnya merantau. Namun pada kontak senjata di Gunung Selok (Srandil) Cilacap, Syekh tertembak, meninggal dan dimakamkan di tempat itu. Menjadi ironi bahwa di kemudian hari Gunung Selok ini justru menjadi tempat pertapaan favorit politisi dan petinggi2 militer, termasuk sang big-boss - Soeharto, yang sampe2 membangun helipad khusus.

AOI langsung padam setelah wafatnya Sykh Mahfudz. namun AOI masih menjadi isu sensitif hingga dekade 1970-an. dari cerita (alm) K.H. Durmuji Ibrohim -pengasuh ponpes Lirap hingga 1989- di awal dekade 1970-an itu beliau bersama-sama ulama-ulama kritis Kebumen lainnya sempat diamankan di Makodim selama beberapa bulan, karena isu AOI kembali menghangat dan dikelompokkan ke dalam kutub "ekstrem kanan". Ada juga upaya pengingkaran, yang berlangsung secara sistematis hingga masa kepemimpinan Amin Sudibyo di Kebumen. sebagai contoh, hari lahir Kebumen ditetapkan 1 Januari karena masalah ini, meski banyak bukti menunjukkan sebaiknya menggunakan tanggal berdirinya kadipaten Sruni atau Somolangu sebagai acuan waktu berdirinya Kebumen, karena merujuk runtutan (time-seriesnya) memang seharusnya demikian.

Namun kini stigma ekstrem kanan itu mulai pupus, seiring naiknya K.H. Nashiruddin al-Manshur ke tampuk Bupati Kebumen.
lebih dari setahun yang lalu •

###

Komentar:
Eko Juni
kebumen sebenarnya punya sejarah yang yg sangat lama dan kaya, tetapi akibat kerakusan atas kekuasaan dari perwira2 TNI yg memimpin kebumen berpuluh2 tahun kita menjadi buta akan sejarah kota kita sendiri
lebih dari setahun yang lalu •
#
Ken Abimanyu
Kang Doel kempit jempol 5 temenan nggo paparan sejarahe..kiye sing perlu dilestarikna nek perlu kudu dipublikasikna..
soale sing rakus ora mung petinggi2,tapi dewan kesenian/budaya kebumen mungkin jg sedang impoten..
lebih dari setahun yang lalu •
#
Denbow Mc
Bener2 info menarik, nyong dadi kelingan critane mbahku (adike mbah kakung) mbiyen pernah melu dadi anggota AOI, sing intine simbah mung melu apa sg diperintahna gurune (sami'na wa ato'na) sing penting jare simbah melawan kemungkaran, dudu melawan aparat apamning memberontak negara. Tp simbah ora gelem crita panjang lebar ttg masa2 ng AOI alasane "kue kabeh dadi masalalune simbah bae" Ya nganti sedane, mbahku pesen: tekan kapan bae jenenge kemungkaran kudu dilawan, nek ra wani nglawan ya meneng bae kro nyuwun marang Gusti Allah.
Sejarah pancen ora kena dilupakan, sebab anane jaman siki ya sekang jaman mbiyen. Sing dadi masalah, kadang sejarah kuwe wis dibelokna apa diubah skenarione ya mungkin bisa baen. Kenangapa bisa kaya kue, ya mungkin sebab pertimbangan politik, keamanan apa kepentingan stabilitas ya mbuh ra ngerti. Apamaning nek bukti sejarah sg otentik wis ora ana wujude. Wong caraku, ya mung ngerti sejarah seka maca buku, masalah valid apa ora buku sejarah mau ya ora ngerti nyong... :)P

Nek sejarah kebumen scr fisik mungkin msh bs dilacak sekang bukti batuan sing ana ng Karangsambung :

Batu yang disebut "sekismika" ini merupakan batuan tertua di Jawa/Indonesia, yang menjadi alas pulau ini. Batuan ini terdiri dari mineral mika dan terbentuk karena pengaruh tekanan yang sangat kuat hingga menjadi sekis mika di dalam kulit bumi. Berdasarkan penanggalan secara radioaktif, ternyata batuan ini termetamorfosakan pada zaman Kapur, 117 juta tahun lalu. Ini membuktikan bahwa sejak zaman tersebut telah terjadi tumbukan lempeng samudera dengan lempeng benua di kawasan Karangsambung.

Subhanallah...
lebih dari setahun yang lalu •
#
Ãŗdhiê Gœzt LûwÜkzżžź
joz gandos sejaraeh KEBUMEN jane nyong mandan mrinding,kang Doel Kempit untuk selanjutnya inyong bisa maca sejarah KEBUMEN neng endi maning kiye...?
lebih dari setahun yang lalu •
#
Haryanto Bumen Bae
AOI adalah bagian sejarah Kebumen dan Indonesia, yang karena kepentingan kekuasaan telah dibelokkan dg sangat massif dan sistematis. Inilah yang akhirnya membuat kita menjadi generasi buta jatidiri.
Ttg AOI, sayangnya sampai saat ini tidak terlihat upaya 'perlawanan' utk meluruskan sejarah itu, sehingga stigma AOI sebagai gerakan makar dan gerakan islam ekstrimis tetap diyakini sebagai kebenaran. Bahkan ketika reformasi sdh memberi peluang termasuk lewat KH Nashirudin sbg bupati.
Tulisan versi Kang Doel ini, semoga bisa menjadi pembuka wacana mengenai pemutihan sejarah lokal. Bukan hanya pada sejarah AOI tetapi jg sejarah lokal lain yang dipaksakan secara sewenang-wenang. Termasuk hari jadi Kebumen yang sebenarnya ditolak oleh mayoritas masyarakat Kebumen.
Lanjutkan Kang Doel..!
lebih dari setahun yang lalu •
#
Anto Wnz
ckckckck...inyong salut kang doel!tp jre bekas2 senjatane di pendem nang mbaji(wetan pager kodok,wonosari)sing wadas2 kae...
lebih dari setahun yang lalu •
#
Toto Karyanto-dua
Mas Dul, sejarah adalah sebuah proses perjalanan hidup manusia. Begitu pula eksistensi AOI di Kebumen. Kebetulan pertama, saya ikut menelusuri (sebagian) jejak itu. Terutama untuk melengkapi penelitian yang dilakukan oleh salah satu stasiun TV nasional untuk bahan pembuatan film dokumenter atas pertempuran di front Gombong Selatan di sekitar desa Sidobunder. Kebetulan kedua, paman saya adalah salah satu petinggi TNI struktural yang sekarang bernama Kodim Kebumen. Beliau adalah komandan lapangan pada peristiwa itu. Kebetulan ke tiga, ibu kandung saya adalah salah satu anggota staf markas darurat Tentara Pelajar yang bertempat di dekat GKJ Jl.Pemuda Kebumen (sekarang kantor distributor bahan bangunan) yang mengurusi logistik dan kesehatan. Markas darurat ini hanya beroperasi sekitar 6 bulan sejak Mei - Oktober 1947 . Palagan Sidobunder dan Pendopo Desa Sidobunder Puring serta Tugu Pena di depan aula GKJ Kebumen adalah saksi bisu peristiwa yang puncaknya adalah terjadinya "pembantaia" puluhan anggota Tentara Pelajar yang berasal dari pelajar Kalimantan, Sulawesi dan beberapa lainnya dari TP Detasemen II & III serta TGP dari Brigade 17 TNI itu. Kebetulan berikutnya, Ibu saya adalah saksi pertempuran antara AOI dan TNI di sekitar pertigaan Kepetengan Desa Wonosari Kebumen yang saat itu dititipkan A. Yani selaku komandan lapangan di salah satu tank TNI. Cerita lainnya, kakek kandung saya Moch. Djadjoeli adalah guru ngaji pak Sururudin dan teman diskusi Romo Toyfur. Salah satu orang penting di struktur AOI Somalangu.
Dari berbagai kebetulan itu, saya ikut merasakan langsung dalam upaya meningkatkan derajat kesejahteraan ekonomi warga desa Roworejo melalui kegiatan LEPMM Deperindagkop Kab. Kebumen 1999 - 2001. Karena faktor kultural para pelakunya, kegiatan yang kemudian menyebar di beberapa desa di sekitar Somalangu akhirnya tenggelam kembali. Meskipun telah berulang kali saya ingatkan dalam kapasitas sebagai motivator dan pendamping kegiatan itu.
Itulah tambahan dari saya, sekadar memberikan pelengkap informasi dan tak ada motivasi lain kecuali ajakan agar kita bersikap arif dalam menyikapai peristiwa apapun. Khususnya menyangkut kemerdekaan dan kedaulatan NKRI. Alhamdulillah, ibu kandung saya masih diijinkan Allah SWT menjadi saksi jaman di usia beliau yang 80 tahun dalam keadaan fisik dan mental yang cukup prima.
lebih dari setahun yang lalu •
#
Abyan Arizky
Kang Doel Kempit ,maturnuwun atas informasi tentang sejarah AOI kebumen.smoga bisa bertemu dengan sampaian Kang.
sekitar 10 bulan yang lalu •
#
Bibit Ssk
maturnuwun kang dul,kebetulan ramaku dadi anggota aoi meh pada critane,senjata lan amunisi ramaku di pendem nang ngisor wit krambil atawa glugu men ora bisa di jukut anu kuate oyod barengan mendem senjata karo nandur cikal saprene krambile wohe kena nggo gawe lenga klentik hehehhhe melu ndongeng kiye..
----------------------------------------------------------------------------
http://books.google.co.id/books?id=4_xgeiuTLS8C&lpg=PP1&pg=PP1#v=onepage&q&f=false
http://books.google.co.id/books?id=4_xgeiuTLS8C&lpg=PA32&ots=1TMimsI7wf&dq=penelitian%20tentang%20gerakan%20AOI%20kebumen&pg=PA33#v=onepage&q&f=false
------------------------------------------------------------------------------
Sekelumit Sejarah DI/TII dan AOI Versi Pemerintah
PERISTIWA DI/TII
A. Peristiwa DI/TII dan Cara yang Dilakukan Oleh Pemerintah dalam Penanggulangannya
1. Pemberontakan DI / TII di Jawa Barat

Pada tanggal 7 Agustus 1949 di suatu desa di Kabupaten Tasikmalaya (Jawa Barat), Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo memproklamirkan berdirinya Negara Islam Indonesia. Gerakannya dinamakan Darul Islam (DI) sedang tentaranya dinamakan Tentara Islam Indonesia (TII). Gerakan ini dibentuk pada saat Jawa Barat ditinggal oleh pasukan Siliwangi yang berhijrah ke Yogyakarta dan Jawa Tengah dalam rangka melaksanakan ketentuan dalam Perundingan Renville.
Ketika pasukan Siliwangi berhijrah, gerombolan DI/TII ini dapat leluasa melakukan gerakannya dengan membakar rumah-rumah rakyat, membongkar rel kereta api, menyiksa dan merampok harta benda penduduk. Akan tetapi setelah pasukan Siliwangi mengadakan long march kembali ke Jawa Barat, gerombolan DI/TII ini harus berhadapan dengan pasukan Siliwangi. Usaha untuk menumpas pemberontakan DI/TII ini memerlukan waktu yang lama disebabkan oleh beberapa faktor, yakni :
(1) medannya berupa daerah pegunungan-pegunungan sehingga sangat mendukung pasukan DI/TII untuk bergerilya,
(2) pasukan Kartosuwiryo dapat bergerak dengan leluasa di kalangan rakyat,
(3) pasukan DI /TII mendapat bantuan dari beberapa orang Belanda, antara lain pemilik-pemilik perkebunan dan para pendukung negara Pasundan,
(4) suasana politik yang tidak stabil dan sikap beberapa kalangan partai politik telah mempersulit usaha-usaha pemulihan keamanan.
Selanjutnya dalam menghadapi aksi DI/TII pemerintah mengerahkan pasukan TNI untuk menumpas gerombolan ini. Pada tahun 1960 pasukan Siliwangi bersama rakyat melakukan operasi “Pagar Betis” dan operasi “Bratayudha.” Pada tanggal 4 Juni 1962 SM. Kartosuwiryo beserta para pengawalnya dapat ditangkap oleh pasukan Siliwangi dalam operasi “Bratayudha” di Gunung Geber, daerah Majalaya, Jawa Barat. Kemudian SM. Kartosuwiryo oleh Mahkamah Angkatan Darat dijatuhi hukuman mati sehingga pemberontakan DI/ TII di Jawa Barat dapat dipadamkan.
Pada awalnya DI/NII di Jawa Barat banyak mendapat dukungan dari para kiai dan alim ulama Jawa Barat, kecuali dari kelompok kiai dan alim ulama Priangan Barat yang berada dibawah pengaruh Kiai Ahmad Sanusi. Seperti dikemukakan oleh A.E. Kawilarang, salah satu yang menguntungkan bagi perjuangan RI di Jawa Barat adalah dukungan Kiai Ahmad Sanusi dan Kiai Damanhuri (adik kandung Ahmad Sanusi) terhadap RI. Pengaruh kedua kiai itu di wilayah Priangan dan Karesidenan Bogor, membuat pengaruh DI/TII di kedua wilayah itu tidak begitu berkembang. Selain itu, kekuatan TNI yang sebagian diantaranya tidak beragama Islam (sepertit Kawilarang sendiri) dapat disambut sebagian besar masyarakat Jawa Barat sebagai bagian dari mereka, dan sebagai pejuang mereka (Ramadhan KH 1988).
Dalam mempertahankan 'kedaulatannya' sekaligus menyebarluaskan pengaruhnya, DI membagi wilayah dalam tiga kategori, yaitu daerah I yang merupakan "Ibu daerah Negara Islam" di mana berlaku kekuasaan dan hukum-hukum Islam. Kemudian daerah II merupakan daerah yang terdekat dengan Daerah I, namun belum berlaku hukum Islam. Para pemimpin DI di daerah ini berkewajiban untuk menarik setoran 2% setiap minggunya dari penghasilan penduduk setempat, serta berkewajiban untuk melakukan pemberontakan langsung yang berhubungan dengan DI. Dan yang terakhir adalah Daerah III, yaitu suatu wilayah yang diupayakan oleh para pemimpinnya untuk dijadikan sebagai daerah II dan seterusnya menjadi daerah I.
Namun popularitas DI di kalangan para kiai dan ulama Priangan pada khususnya semakin menurun, setelah mereka melihat berbagai kegiatan dan tindakannya dinilai tidakIslami. Oleh karena itu beberapa kiai dan ulama yang semula mendukungnya, bahkan ikut naik gunung bertempur bersama Kartosuwirjo, menarik kembali dukungannya. Mereka kembali turun ke desa atau kota asalnya seperti yang lebih dahulu dilakukan oleh Kiai Yusuf Tojiri (Jawa Barat 1953).
sekelompok orang yang dipimpin oleh Sekarmadji Maridjan kartosoewiryo memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII). untuk mencapai tujuannya kelompok ini melakukan teror, pembunuhan, perampokan harta benda penduduk, dan membuat kekacauan. gerakan ini juga meluas sampai Jawa tengah, Sulawesi Selatan, kalimantan, dan Aceh. Untuk menghadapi gerakan separatis ini TNi melakukan gerakan Operasi Pagar Betis, dan Operasi Baratha Yudha yang berkerja sama dengan rakyat.
1. DI/TII Kartosuwiryo di Jawa Barat
Berdasarkan Perundingan Renville, kekuatan militer Republik Indonesia harus meninggalkan wilayah Jawa Barat yang dikuasai Belanda. TNI harus mengungsi ke daerah Jawa Tengah yang dikuasai Republik Indonesia. Tidak semua komponen bangsa menaati isi Perjanjian Renville yang dirasakan sangat merugikan bangsa Indonesia. Salah satunya adalah S.M. Kartosuwiryo beserta para pendukungnya. Pada tanggal 7 Agustus 1949, Kartosuwiryo memproklamasikan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII). Tentara dan pendukungnya disebut Tentara Islam Indonesia (TII). Gerakan Darul Islam yang didirikan oleh Kartosuwiryo mempunyai pengaruh yang cukup luas. Pengaruhnya sampai ke Aceh yang dipimpin Daud Beureueh, Jawa Tengah (Brebes, Tegal) yang dipimpin Amir Fatah dan Kyai Somolangu (Kebumen), Kalimantan Selatan dipimpin Ibnu Hajar, dan Sulawesi Selatan dengan tokohnya Kahar Muzakar. Untuk lebih jelasnya lihat tabel 12.1 berikut.

2. Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah

Gerombolan DI/TII ini tidak hanya di Jawa Barat akan tetapi di Jawa Tengah juga muncul pemberontakan yang didalangi oleh DI/ TII. Pemberontakan DI/TII di Jawa Tengah di bawah pimpinan Amir Fatah yang bergerak di daerah Brebes, Tegal, dan Pekalongan. dan Moh. Mahfudh Abdul Rachman (Kiai Sumolangu). Untuk menumpas pemberontakan ini pada bulan Januari

1950 pemerintah melakukan operasi kilat yang disebut “Gerakan Banteng Negara” (GBN) di bawah Letnan Kolonel Sarbini (selanjut-nya diganti Letnan Kolonel M. Bachrun dan kemudian oleh Letnan Kolonel A. Yani). Gerakan operasi ini dengan pasukan “Banteng Raiders.” Sementara itu di daerah Kebumen muncul pemberontakan yang merupakan bagian dari DI/ TII, yakni dilakukan oleh “Angkatan Umat Islam (AUI)” yang dipimpin oleh Kyai Moh. Mahudz Abdurachman yang dikenal sebagai “Romo Pusat” atau Kyai Somalangu. Untuk menumpas pemberontakan ini memerlukan waktu kurang lebih tiga bulan.
Pemberontakan DI/TII juga terjadi di daerah Kudus dan Magelang yang dilakukan oleh Batalyon 426 yang bergabung dengan DI/TII pada bulan Desember 1951. Untuk menumpas pemberontakan ini pemerintah melakukan “Operasi Merdeka Timur” yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto, Komandan Brigade Pragolo. Pada awal tahun 1952 kekuatan Batalyon pemberontak terrsebut dapat dihancurkan dan sisa- sisanya melarikan diri ke Jawa Barat dan ke daerah GBN.
Pada tanggal 23 Agustus 1949, terjadi gerakan Di/TII di Jawa Tengah yang mempunyai tujuan mendirikan Negara Islam Indonesia. Gerakan ini terjadi di beberapa daerah yaitu Tegal, dan Brebes. Gerakan ini juga dikenal dengan Majelis Islam. Kelompok ini dipimpin oleh Amir Fatah. dikebumen dikenal dengan nama Angkatan Umat Islam yang dipimpin oleh Mahfudh Abdul Rahman. Untuk menumpas gerakan DI/TII diJawa Tengah ini pemerintah membentuk pasukan gerakan khusus yang diberi nama Banteng Raiders. Pasukan ini merupakan pasukan khusus yang melakukan operasi kilat dalam mengejar para pemberontak. gerakan ini desebut Gerakan Banteng Negara (GBN).
------------------------------------------------------------------------------

0 komentar:

Poskan Komentar