Pages

Kamis, 10 Februari 2011

Merunut Sejarah ke Belakang MWI Karangduwur

Santriwan-santriwati/ Pelajar MWI Karangduwur era 70-an

Cikal bakal Berdirinya MWI Karangduwur Petanahan
Sejarah mengenai berdirinya MWI (Madrasah Wathoniyah Islamiyah) Karangduwur, Petanahan tidak bisa lepas dari asal-usul sejarah berdirinya Pondok Pesantren, Masjid dan Madrasah Wathoniyah Islamiyah (POMESMAWI) Kebarongan, Kec. Kemranjen, Kab. Banyumas. Sebab para pendiri MWI Karangduwur adalah murid-murid yang pernah belajar di POMESMAWI Kebarongan, bahkan sempat pula beberapa malah menjadi ustazd-ustad di Pondok tersebut. Agar sejarah tersebut tidak hilang, maka perlu disampaikan dalam kesempatan ini mengenai sejarah awal atau asal-usul berdirinya MWI Kebarongan


Pondok Pesantren Wathoniyah Islamiyah Kebarongan

Proses Berdirinya
Pondok Pesantren Wathoniyah Islamiyah Kebarongan, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas didirikan pada tahun 1878 yang bertepatan dengan tahun 1296 Hijriyah oleh Kyai Haji Muhammad Habib dengan dukungan dari para sanak famili, yang tak lama berselang setelah kepindahan beliau dari kampung asalnya yakni Desa Daratan, Kecamatan Prembun, Kabupaten Kebumen.
Setelah di tempat yang baru mereka berhasil mendirikan sebuah masjid jami’, kemudian muncul inisiatif dari pak Kyai untuk memanfaatkan masjid tersebut sebagai media penyebaran dan pengajian agama Islam. Dengan model dakwah yang halus, kegiatan pengajian itupun akhirnya mendapat sambutan yang hangat dari para penduduk sekitar, khususnya di desa Kebarongan sendiri.
Karena memang berasal dari lingkungan keluarga pondok pesantren, timbul kemudian niatan untuk membangun sebuah asrama –kombongan atau lokal—untuk pemondokan bagi para santri yang khususnya berasal dari luar desa Kebarongan. Inilah momentum sejarah terbentuknya Pondok Pesantren Wathoniyah Islamiyah Kebarongan yang sampai saat ini telah menamatkan puluhan ribu santriwan-santriwatinya yang tersebar di bumi Nusantara. Sedangkan di antara para alumnus tersebut ada yang berasal dari desa Karangduwur kecamatan Petanahan, yang kemudian mendirikan sejenis model pendidikan agama Islam yang sama dengan Pondok Pesantren Wathoniyah Islamiyah Kebarongan.

Biografi Pendiri
Almarhum Kyai Haji Muhammad Habib, lahir dan dibesarkan di desa Daratan, Kecamatan Prembun, Kabupaten kebumen. Pak Kyai ini merupakan putera ketiga dari almarhum Kyai Imam Muhammad. Semasa muda, Kyai Muhammad Habib memiliki semangat yang sangat besar dalam menuntut ilmu. Hal ini dibuktikan setelah tak puas hanya nyantri di Pondok Soumalangu, Kyai Muhammad Habib pergi untuk beribadah Haji sekaligus dimanfaatkan untuk memperdalam pengetahuan Islam Makkah Al-Mukarromah, selama hampir kurang lebih dua tahun lamanya.
Setelah pulang, Kyai Haji Muhammad Habib mengajak sanak familinya untuk membuka sebuah areal pemukiman baru yang akan digunakan sebagai tempat tinggal sekaligus untuk dijadikan sebagai tempat pusat pengajian agama Islam. Akhirnya dipilihlah sebuah tempat yang saat itu masih berupa hutan di desa Kebarongan. Masyarakat disekitar hutan mengenal daerah itu bernama hutan Teleng yang terkenal sangat angker.
Namun dengan tekad yang bulat dan dengan niat suci lillahi ta’ala untuk mencari ridha Allah Subahanahu wata’ala, hutan Teleng itu dibabat, dibersihkan segala semak belukar, mengolah tanah untuk ditanami, dan membasmi segala bentuk isu-isu keangkeran hutan tersebut.
Tindakan berani sang Kyai itu justru menimbulkan simpati yang mendalam di hati masyarakat sekitar. Inilah awal dakwah yang baik dari Pak Kyai, karena setidaknya pak Kyai telah menunjukkan kepada masyarakat sekitar bahwa hanya Allah SWT sajalah yang perlu ditakuti dan perlu disembah, juga hanya Allah SWT saja yang akan melindungi umat manusia dari segala kejahatan baik dari syaitan maupun dari manusia.
Simpati masyarakat berlanjut dengan bersedianya mereka untuk mengikuti shalat jamaah di masjid jami’ dan mengikuti kegiatan pengajian yang diadakan oleh Kyai Haji Muhammad Habib.
Hanya sekitar 1 tahun saja pengabdian Kyai Haji Muhammad Habib, karena kemudian  wafat pada tahun 1888, yang kemudian diteruskan oleh putra-putri beliau yang istiqamah untuk meneruskan syi’ar Islam.

Proses Perkembangan
Periode I (1878-1888)
Dalam periode ini, pimpinan dipegang langsung oleh Kyai Haji Muhammad Habib, yang merintis berdirinya pondok, dan beliaupun nampaknya belum sempat menyempurnakan sarana prasarana yang diperlukan layaknya sebuah pondok pesantren. Hal ini tidak lain karena selain kesibukannya sebagai pengajar tunggal, ia pun masih harus melaksanakan kewajibannya sebagai kepala rumah tangga yang harus mengurus sawah, khususnya di siang hari. Sehingga praktis pada periode awal ini baik mesjid maupun kombongan yang berdiri sangat sederhana dan jauh dari layak. Namun pun demikian, sistem pengajaran standar pondok pesantren tetap diberlakkan seperti menggunakan sistem sorogan maupun bandungan.
Sistem sorogan adalah: Seorang kyai mengajar seorang santri yang santri itu menyodor kitab yang dikehendakinya kepada Kyai.
Sistem bandungan adalah: Seorang Kyai mengajar suatu kitab yang dikerumuni oleh para santri, tanpa emmbedakan kemampuan dan pengetahuan para santrinya.

Periode II (1888-1906)
Sepeninggal Almarhum Kyai Haji Muhammad Habib, pimpinan Pondok segera dipegang oleh Kyai Haji Abdullah Kholifah, yang tidak lain adalah putera menantu Kyai haji muhammad Habib sendiri, yang dikenal alim. Pada periode ini jumlah santriwan yang blajar di ponpes ini bertambah yakni menjadi 75 santriwan dan sekitar 25an santriwati. Adapaun ruang pengajian antara santriwan dan santriwati terpisah, demikian juga waktu-waktu pengajiannya.

Periode III (1906-1911)
Setelah wafatnya Kyai Haji Abdullah Kholifah, tampuk pimpinan dipegang oleh Kyai Haji Damanhuri, yang tidak lain adalah putera sulung K.H Muhammad Habib.

Periode IV (1911-1938)
Pada periode ini, salah seorang putra dari pendiri yakni putra bungsu bernama Kyai Haji Abdullah Zawawi ternyata memiliki semangat yang sangat luar biasa untuk turut serta dalam memajukan pendidikan Islam. Karena tak mungkin ada dua kepemimpinan dalam satu pondok, akhirnya Kyai Haji Damanhuri mencoba bertindak secara bijak yakni untuk konsisten berjuang di dalam dengan cara memakmurkan masjid. Ini dibuktikan dengan membuka satu mesjid lagi di grumbul wetan sekaligus membuka pondok pengajian. Sementara Kya Haji Abdullah Zawawi, selain terus berkarya mem\ngembangkan Pondok Pesantren yang lama, ia mencoba membuka ladang perjuangan baru: membuka hubungan keluar dan mencari dukungan baik moril maupun materiil kepada tokokh-tokoh ulama Indonesia maupun ormas-ormas Islam.

Kemajuan dan perkembangan pondok mulai dikenal oleh tokoh-tokoh pergerakan kebangsaan di Solo, sehingga kontak-kontak atau hubungan ke luar mulai berjalan, dan sedikit banyak pengaruh pembaharuan dapat diterima oleh staf pendidik pondok. Informasi mengenai sistem pendidikan dan bahan-bahan pengajaran dari luar, sedikit demi sedikit diterapkan di dalam, sebagai bentuk penyesuaian terhadap perkembangan zaman.

Pada periode ini, jumlah santriwan dan santriwati meningkat tajam. Berita tentang Pondok Pesantren Kebarongan tersiar luas baik di Jawa maupun di Sumatera. Beberapa tokoh pergerakan nasional seperti HOS Tjokroaminoto, Sangadji, KH Agus Salim, RM Surjo Pranoto, Sjamsuridjal dan tokoh-tokoh lain silih berganti berdatangan mengunjungi pondok pesantren Kebarongan ini.
Kesibukan Kyai haji Abdullah zawawi sebagai pemimpin Pondok pun bertambah. Bahkan beberapa tahun berselang setelah kedatangan tokoh-tokoh tersebut, dalam sebuah rapat komite, Kyai haji Abdullah Zawawi terpilih untuk memimpin sebuah organisasi Pergerakan nasional bernama Syarikat Islam (SI) afdeling (perwakilan) Kebarongan. Tujuan beliau saat itu turut serta dalam SI adalah untuk turut serta membangun cita-cita kemerdekaan agar segera terbentuk sebuah negara yang merdeka, mandiri, dan tentu saja berasaskan islam sehingga ummat Islam dapat melaksanakan syariat islam dengan sempurna, sebagaimana cita-cita SI sendiri.

Pada tahun 1914, sistem pengajaran di pondok direformasi menjadi tiga kolompok:
1.    Kelompok pertama dengan sistem sorogan dan bandungan bagi santri, yang waktu penyelenggaraanya diadakan setelah shalat jama’ah ’isya.
2.    Kelompok Tamrirus Syibyan atau kelompok latihan anak-anak. Namun dalam kenyataanya santri kelompok ini ada juga yang sudah dewasa, karena kebnayakan belum mengenal huruf arab dan belum bisa membaca al-qur’an.
3.    kelompok pengajian umum, yang diperuntukkan bagi kalangan orang tua, masyarakat awam dan orang-orang abangan yang baru masuk islam.

Dalam tugas pengelolaan pondok yang bertambah rumit ini, pimpinan pondok dibantu oleh beberapa kyai antara lain:
1.    KH Asmu’i
2.    KH Abdul Ro’uf.
3.    Kh Munawwir
4.    Kyai Mujtahid
5.    Kyai Abdul halim
6.    KH Chomrowi
7.    H Munir
8.    Markum
9.    H Ismail.
10.    KH Nachrawi

Kekompakan barisan para pengelola pondok ini ternyata menuai hasil yang menggembirakan. Dengan dibantu dorongan moril maupun materiil dari pergerakan Syarikat Islam, akhirnya berdirilah sebuah lembaga pendidikan Islam baru yang diberi nama Madrasah Islamiyah (jadi saat itu namanya belum Madrasah Wathoniyah Islamiyah) Memang kondisi politik saat itu, para pimpinan organisasi pergerakan terus mendesak kepada pemerintah kolonial belanda untuk segera memberlakukan politik etis. Salah satunya adalah perluasan kesempatan untuk mengenyam pendidikan bagi rakyat Indonesia. Sehingga berdirinya Madrasah Islamiyah tidak lepas dari upaya untuk memanfaatkan pemberlakuan politik etis.
Bisa jadi, inilah satu-satunya sekolah Islam bernama Madrasah yang pernah berdiri di Jawa bagian selatan. Dan keberadaan Madrasah inipun segera mendapat pengakuan dan pengesahan dari pemerintah kolonial Belanda pada saat itu tertanggal 15 Juni 1916, dengan status sekolah Partikuler.

Pertama kali berdiri, lokal Madrasah Islamiyah sangat sederhana karena baru menampung murid sebanyak kurang lebih 78 siswa, yang diasuh oleh dua orang guru yakni:
1.    KH Abdullah Zawawi.
2.    KH Munawir
Adapun mata pelajaran yang diajarkan pada saat itu adalah:
1.    Menulis dan membaca huruf Arab dan arab pegon.
2.    Membaca Alqur’an
3.    Pelajaran Thaharah dan Shalat.

Waktu demi waktu, dari tahun ke tahun jumlah murid yang ingin sekolah di madrasah ini terus bertambah. Untuk melayani peserta didik ini, pihak pengelola pondok pun akhirnya menambah guru untuk penugasan pengajaran. Sehingga ketika pada tahun 1920, tercatat murid yang mengenyam pendidikan di Madrasah Islamiyah mencapai 132 siswa dengan 5 lokal ruang. Selain berasal dari daerah banyumas sendiri, siswa-siswi ini berasal dari beberapa kabupaten sekitar antara lain; Kebumen, Cilacap, dan Purbalingga. Adapun seorang guru baru yang diangkat untuk mengajar adalah: KH Abdul Ro’uf dan K Mudjahid. Sedangkan mata pelajarannyapun bertambah antara lain:
1.    Ilmu Sharaf
2.    Ilmu Nahwu
3.    Ilmu Fiqh.

Pada tahun 1922, perkembangan Madrasah Islamiyah Kebarongan menunjukkan kondisi yang kurang memuaskan. Hasil dari pendaftaran siswa baru sangat minim. Penyebabnya adalah, pada tahun-tahun itu Pemerintah kolonial Belanda sendiri membuka secara besar-besaran sekolah-sekolah umum dengan kurikulum yang menarik dan jaminan lapangan kerja yang menggiurkan setelah mereka lulus.

Agar tidak terdesa oleh adanya persaingan tidak sehat ini, pengelola Pondok, madrasah dan dibantu oleh pengurus Syarekat islam afdeling Kebarongan segera membentuk Team Penyusun Rencana/ Program Pendidikan dengan tujuan untuk meningkatkan derajat Madrasah agar bisa sejajar dengan HIS dalam mata pelajaran umum.
Rencana itu pun akhirnya tersusun dengan rancangan biaya yang diperlukan sebanyak 10.000 gulden. Dana sebanyak ini direncanakan untuk pembiayaan sarana dan prasarana madrasah. Dan proposal ini semula akan diajukan kepada pemerintah Kolonial Belanda. Namun semua niatan itu akhirnya pupus, setelah pada tahun 1926 PKI melancarkan aksi pembangkangan dan pemberontakan. Sekalipun aksi ini PKI hanya berjalan selama satu hingga dua hari, namun dampaknya sangat luar biasa dirasakan oleh umat Islam. Pemerintah Belanda akhirnya bersikap keras terhadap seluruh organisasi-organisasi pergerakan, termasuk kepada Syarikat Islam. Sehingga keberadaan Madrasah Islamiyah inipun tak luput dari sikap Belanda yang lebih banyak menekan dan membungkam dari pada membiarkan berkembang.

Sekalipun rencana pembangunan sarana dan prasarana itu pudar, dengan kemampuan yang dimiliki, Madrasah Islamiyah mencoba menambah beberapa mata pelajaran umum yang biasa diajarkan disekolah-sekolah Belanda seperti:
1.    Membaca dan menulis huruf latin
2.    Berhitung
3.    Bahasa dan sastra Melayu.

Pada tahun 1929, untuk pertama kalinya Madrasah Islamiyah Kebarongan melepaskan tamatannya, sedangkan murid dari semua kelas jumlah keseluruhannya ada sekitar 242 siswa.

Pada tahun 1931, terjadi sebuah momentum yang snagat berarti dalam sejarah Madrasah Islamiyah Kebarongan, antara lain karena:
1.    Nama Madrasah Islamiyah Kebarongan diubah menjadi Madrasah Wathoniyah Islamiyah Kebarongan, yang dalam bahasa Indonesia berarti: “Sekolah Berkebangsaan Islam atau Sekolah Berkebangsaan yang berazas Islam”
2.    Pemberlakuan Pembagian kelompok kelas yang dibagi menjadi 2:
a.    Kelompok Kelas Latin dengan bahasa pengantar yakni Bahasa Indonesia.
Kelompok ini terdiri dari 4 kelas dengan team pendidik antara lain:
1. Markum.
2. Abdul Charis.
3. Muhammad Chusnan
4. KH Abdul Waha (Qolun)
5. Achmad Ridwan
6. Salamun

b.    Kelompok Kelas Arab dengan tulisan dan bahasa pengantar bahasa Arab. Kelompok ini terdiri dari 5 kelas dengan team pendidik antara lain:
1.    Sunan Muchdir
2.    Mufro’il
3.    Marghoni
4.    Chamami
5.    Haji Chudori

Dalam perkembangan selanjutnya, para alumni Madrasah Wathoniyah Islamiyah Kebarongan yang pulang kekampung halamn masing-masing, mencoba merintis cabang Madrasah antara lain muncul di:
1.    MWI cabang Gombong dengan pimpinan KH Abdul Ghofir dan selanjutnya berkembang lagi di Karanganyar, Rowokele, Kuwarasan, Brangkal, Kalidondong dan beberapa tempat lainnya yang belum sempat mendapat pengesahan dari pusat (Kebarongan)
2.    MWI Cabang Sidareja dengan pimpinan Kyai Djazuli yang beberapa tahun berikutnya berkembang lagi di daerah Cikawung dan Suruhan.
3.    MWI Cabang Kebumen dengan pimpinan Haji Chusen
4.    MWI Cabang Purworejo dengan pimpinan Yusuf Subagijono, yang bertempat di desa Balaidono dan ada satu agi yang berkembang di desa Ngemplak, Kutoarjo.

Namun pun demikian hingga tahun 1978, cabang-cabang Madrasah Wathoniyah Islamiyah Kebarongan yang masih eksis adalah:
1.    MWI cabang Redisari, Rowokele, Kebumen (kini MIS Muhammadiyah)
2.    MWI cabang Karangduwur, Petanahan, Kebumen.
3.    MWI cabang Karangjati, Kemranjen, Banyumas.(kini MTs Muhammadiyah)
4.    MWI cabang Meluwong, Cilacap (kini sudah tidak ada lagi)

Kemajuan perkembangan Pondok Pesantren dan Madrasah Wathoniyah Islamiyah Kebarongan yang telah dicapai dengan perjuangan gigih, telah emndapati rintangan-rintangan terutama oleh Pihak pemerintah Kolonial Belanda yang tidak menginginkan kemajuan pada ummat Islam.

Periode V (1938-1942)
Sementara KH Abdullah Zawawi mencapai usia sepuh, tampuk pimpinan Pondok, Mesjid dan Madrasah diserahkan kepada puteranya, Kyai Sunan Muchdir. Dalam periode kepemimpinan beliau, tingkat kelas tertinggi adalah 7, sementara pelajaran keterampilan, bahasa Belanda juga diajarkan. Nama pondok Pesantren dan Madrasah Wathoniyah Islamiyah Kebarongan inipun berkibar. Santriwan-dan santriwati semakin banyak yang berdatangan dari seluruh penjuru daerah. Bahkan ada salah seorang santri yang jauh berasal dari Singapura, yang pada waktu itu masih menjadi satu dengan semenanjung Malaysia, di bawah jajahan Inggris.

Namun menjelang jepang tiba, pemerintah kolonial Belanda memberlakukan peraturan baru yang bernama Undang-undang Welde Schoolen yang berisikan: bahwa Pemerintah Belanda berhak mencampuri urusan Rumah Tangga Sekolah Swasta. Akibat dari ndang-undang tersebut, sistem pengelolaan, pengajaran dan kurikulum Madrasah Wathoniyah Islamiyah Kebarongan harus dirobah. Saat itu team penilik pengajaran dan pendidikan Kolonial belanda menyuruh agar Madrasah Wathoniyah Islamiyah Kebarongan menyusaikan diri dengan kurikulum Madrasah ibtidaiyah dan Madrasah Tsanawiyah yang berlaku di Negara Mesir, dan semua mata pelajrannya harus berbahas Arab.

Mata pelajaran yang impor dari Negara Mesir itu adalah:
1.    An-Nahwu
2.    As-Sharaf
3.    Al-Balaghah
4.    Al-Tafsir
5.    Al-Jughrofiyyah (Geografi)
6.    Al-Qiraah (bacaan)
7.    Al-Hadits
8.    ’Ilmu as-Sihhah
9.    At-Tarikh
10.    Al-Insya
11.    Al-Lughah
12.    Al-Hisab.
13.    At-Tauhid
14.    Al-Imla
15.    Al-Fiqh, dan lain-lain

Adapun bahasa pengantar di kelas 1 hingga 2 masih diperbolehkan menggunakan bahasa Melayu dan Jawa. Sedangkan untuk kelas 3 hingga kelas 7 harus menggunakan bahsa pengantar Bahasa Arab.
Adapun guru-guru tambahan yang mengajar di Madrasah Wathoniyah Islamiyah Kebarongan adalah:
1.    Abdul Mu’thi
2.    Sachidin
3.    Abdul Cholik
4.    Basrun
5.    Muhammad Syatibi
6.    Abdul Malik
7.    ’Asifuddin Zawawi *)

*) ket: K.H. ’Asifuddin Zawawi adalah ayahanda dari Ustadz Jauhar Muhammad ibn 'Ashifuddin, saat ini memangku jabatan sebagai Kyai di Pondok Pesantren dan Madrasah Wathoniyah Islamiyah, Karangduwur, Kec. Petanahan, Kab. Kebumen. adapun Adik kandung Ustadz Jauhar adalah Kyai Faiz yang saat ini menjadi Mudzir (pimpinan) Pondok Pesantren Al-Bukhari yang beralamat di Jl. Raya Solo-Purwodadi Km. 8 desa Selokaton Kecamatan Godangrejo Kabupaten Karanganyar - Solo

Selang beberapa tahun setelah pemberlakuan sistem kurikulum a la Mesir, Tentara Jepang menyerbu ke Indonesia dan mengalahkan Belanda tanpa syarat dalam waktu yang sangat singkat. Orang-orang Jepang memang terkenal snagat cekatan, cepat dan taktis. Bahkan belum sempat ada satu tahun bercokol di bumi Nusantara ini, Jepang sudah melakukan penggantian semua sistem administasi peninggalan Belanda, termasuk model dan kurikulum sekolah.

Pada zaman ini, pemerintah Jepang sebenarnya lebih banyak memberikan kesempatan kepada rakyat Indonesia untuk mengenyam pendidikan, seperti pemberlakuan pendidikan dasar 6 tahun, SMP 3 tahun dan SMA 3 tahun. Bahkan Jepang pun menghapus penggunaan bahasa pengantar Belanda yang masih dipakai disekolah-sekolah umum, diganti dengan bahasa Indonesia. Untuk ummat islam, Jepang pun memberikan kesempatan seluas-luasnya untuk siapa saja yang ingin pergi haji, sehingga tidak ada batasan kuota. Jepang juga mendirikan sebuah partai Politik khusus bagi ummat islam bernama MIAI yang kemudian berubah menjadi Masyumi. Namun semua itu adalah taktik dan cara Jepang untuk menarik simpati rakyat Indonesia. Selain itu, dengan banyaknya rakyat Indonesia yang bersedia sekolah, maka makin mudah jepang melakukan penyebarluasan kampanye yang diinginkan Jepang. Melalui sekolah dan madrasah, Jepang mudah melakukan kontrol terhadap rakyat Indoensia. Sebagai contoh, Jepang menerapkan latihan disiplin yang sangat ketat dan olah raga taiso agar jasmani remaja Indoensia sehat, sehingga bisa diarahkan untuk menjadi tentara jepang (Seinendan, Fujinkai, Keibodan atau PETA). Bahkan lama kelamaan, kurikulum pendidikan yang diberlakukan Jepang adalah lebih banyak diarahkan untuk persiaan perang. Selain diajarkan latihan dasar kemiliteran, para siswa sekolah pun wajib untuk melakukan Seikeirei (penghormatan kepada kaisar dengan cara menghadap ke arah matahari terbit setiap pagi) yang kemudian dilanjutkan menyanyikan lagu Kimigayo, yakni lagu kebangsaan Jepang.  Wajib juga bagi sekolah untuk menggunakan bahasa Jepang selain bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar di Sekolah, dan para guru pun wajib mengikuti kursus bahasa Jepang. Tentu saja dengan adanya para pengelola pendidikan baik sekolah maupun madrasah dan para siswa yang enggan melakukan kewajiban-kewajiban itu, maka mudah bagi jepang untuk mengetahui adanya ketidak patuhan kepada Pemerintah Jepang.

Bagi pimpinan Pondok Pesnatren dan Madrasah Wathoniyah Islamiyah Kebarongan saat itu, kewajiban-keajiwan seperti melakukan Seikeirei adalah perbuatan syirik, melanggar ketentuan aqidah yang dimiliki orang islam yang taat. Prinsip yang dipegang oleh pimpinan pondok dan beberapa pengajar di Madrasah tersebut, akhirnya di ketahui oleh tentara jepang dan dituduh melakukan pembangkangan dan hendak memberontak kepada jepang.

Mereka yang ditangkap dan kemudian dibunuh oleh Jepang adalah:
1.    Kyai Sunan Muchdir
2.    Kyai Mufro’il (saudara kandung Kyai Sunan Muchdir)
3.    Kardan (Pembantu pengurus MWI asal dari desa Kedungping)
4.    Abu Amar (Pembantu pengurus MWI asal dari desa Semampir)
5.    Muhammad saing (Pembantu pengurus MWI asal dari desa Semampir)

Kelima orang tersebut meninggal sebagai syuhada’ di penjara Purwokerto (dulu di selatan alun-alun Purwokerto) setelah di tembak oleh tim regu eksekutor tentara Jepang pada tanggal 21 Maret 1942.
Selain dari lima orang yang meninggal sebagai syuhada’ tersebut, beberapa orang baik tokoh maupun staf pembantu pengajar di Madrasah Wathoniyah Islamiyah Kebarongan juga ditangkap, namun hanya dikenakan hukuman penjara beberapa bulan. Mereka ini adalah:
1.    K.H Abdullah Zawawi (Penasehat dan pimpinan Pondok)
2.    Dala’il (Pembantu pengurus MWI asal dari desa Kebarongan)
3.    Suwanda (Pembantu pengurus MWI asal dari desa Nusamangir)
4.    A. Bahwa (Murid MWI yang berasal dari Purbalingga)
5.    dan beberapa orang lainnya yang tidak sempat tercatat.

Adapun lembaran sejarah peristiwa mengenai ditangkap dan dibunuhnya tokoh-tokoh MWI Kebarongan ini, tercatat di halaman 55 dalam buku ”Kenang-Kenangan 1942” yang disusun oleh RM Gondosubroto. Beliau adalah Bupati terakhir dalam masa penjajahan belanda di Banyumas. Berikut petikan catatan tersebut:

”Desa Kebarongan adalah terkenal sebagai tempat kediaman rakyat islam di pimpin oleh seorang guru ngaji bernama Muchdir bin Zawawi beserta keluarganya. Setelah tentara Jepang masuk distrik Sumpiuh, Muchdir menganggap dirinya sendiri sebagai pemimpin yang akan dapat menyelesaikan penduduk dari segala mara bahaya. Wedana Sumpiuh pada waktu itu Mas Sumawidjaya dan di bantu Asisten Wedana (Siten) Kemranjen R. Mulyadi, berhasil menangkap Muchdir bserta pengikut-pengikutnya yang tidak mengadakan perlawanan, untuk terus diangkut ke Purwokerto. Akhirnya Muchdir beserta empat orang pengikutnya ditembak mati di Rumah Penjara Purwokerto.”


Setelah peristiwa penculikan dan pembunuhan itu, kondisi Pondok Pesantren, Mesjid dan Madrasah Wathoniyah Islamiyah sepi mencekam. Beberapa sanak famili dan para staf pengajar memilih untuk menghentikan aktivitas belajar mengajar, kecuali hanya jama’ah shalat di mesjid seperti biasanya. Beberapa kali tentara jepang mengunjungi desa Kebarongan untuk memastikan apakah setelah penembakan mati tokoh-tokoh MWI tersebut akan ada penggalangan kekuatan untuk membalas dendam atau tidak.

Periode VI (1942-1950)
Sekembalinya KH Abdullah Zawawi dan rekan-rekan dari rumah Penjara Purwokerto, akhirnya kegiatan pendidikan baik di Pondok, mesjid maupun di Madrasah dihidupkan kembali. Sekalipun tak seperti sediakala, sekalipun hanya dihadiri oleh sejumlah santriwan dan santriwati yang bersedia kembali, namun semangat untuk terus menghidupkan Pondok dan Madrasah tetap membara. Sebagai gantinya dari Kyai Sunan Muchdir, rapat pondok akhirnya memutuskan untuk menunjuk Kyai Abdul Wahab alias Qolun sebagai pemegang tampuk pimpinan Pondok dan Madrasah. Kyai Qolun ini masih tercatat sebagai kemenakan dari KH Abdullah Zawawi.
Kondisi ekonomi di zaman pendudukan tentara jepang memang sangat menyedihkan. Dan inilah salah satu faktor yang membuat para santri dari luar daerah tidak bisa kembali lagi ke Kebarongan untuk meneruskan kegiatan mencari ilmunya. Keadaan ini terus berlangsung hingga peristiwa 17 Agustus 1945, pembacaan naskah Proklamasi kemerdekaan RI terjadi. Pada waktu itu, banyak juga alumni maupun murid MWI yang masuk laskar pejuang Sabilillah dan Hizbullah. Dengan bermodal senjata rampasan pelucutan senjata Jepang, mereka ikut mempertahankan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Beberapa dari mereka harus gugur saat menghadapi tentara sekutu dan Belanda, yang bersikeras melarang sejata-senjata Jepang jatuh ke tangan rakyat Indonesia.

Selang 7 bulan setelah berkumandangnya Proklamasi kemerdekaan, apa yang dikuatirkan rakyat Indonesia menjadi kenyataan. Belanda kembali melakukan agresi militernya ke Indonesia, khususnya di Pulau Jawa. Setelah ada ultimatum dari Belanda bahwa seluruh daerah Jawa Barat, Jawa Tengah harus dikosongkan dari para gerilyawan dan Tentara RI, maka anggota sabilillah dan Hizbullah pun sebagian ada yang ikut hijrah mengungsi ke Yogyakarta termasuk pimpinan pondok, staf pembantu dan murud-muridnya. Karena pada saat itu hanya daerah Yogyakarta sajalah yang diakui oleh Belanda sebagai Wilayah RI. Sedang sebagian anggota sabilillah dan hizbullah lainnya memilih untuk tetap kembali ke daerah (tidak ikut mengungsi), sebagian bergabung dengan Angkatan Oemat Islam (AOI Kebumen) pimpinan Kyai Soumolangu, dan sebagian lagi memilih bergabung dengan DI/TII pimpinan Kartosuwiryo di Jawa Barat.

Kebarongan pada saat itu memang dikenal sebagai salah satu pusat pemerintahan gerilya. In terbukti dari keikutsertaan Kyai Haji Marghoni yang menjabat sebagai salah satu ustadz di MWI, beliau memangku jabatan sebagai camat Onder Distrik Militer Kecamatan Kemranjen.

Adapun kegiatan Pondok, mesjid dan madrasah tetap diselenggrakan dan berjalan seperti biasanya. Dan inilah uniknya, karena para ustadz lebih banyak terjung ke kancah peperangan dan ikut bergerilya, maka yang menggantikan tugas kegiatan adalah para istri ustadz. Mereka itu antara lain:
1.    Nyonya Mursidah Abdullah bin Nuh
2.    Nyonya Chudewi
3.    Nyonya Chatidjah, dan dibantu dengan ustad lain yang masih tersisa di kebarongan antara lain:
4.    Suhail
5.    Zubad Isma’il
6.    Suwondo
7.    Sudomo
Menyusul kemudian hadir staf pengajar yang baru yang berasal dari Cianjur yakni: Al-ustadz Abdullah bin Nuh, seorang Ulama, Ahli Bahasa yang mampu menguasai bahasa Arab sejak umur 8 tahun, sekaligus seorang penulis dan penyusun Kamus Indonesia Arab-Inggris yang pertama kali di indonesia. Selain mengajar tentang kitab-kitab, Abdullah Nuh juga memberikan kursus bahasa Inggris.

Pendirian Madrasah Wathoniyah Islamiyah (MWI) Karangduwur, Petanahan

Salah satu tokoh MWI Kebarongan dalam rombongan yang mengungsi hijrah ke Yogyakarta adalah Kyai Haji ’Asifuddin Zawawi . Setelah kondisi mereda, dan Belanda pun harus pulang kandang ke Eropa, rombongan Kyai ’Asifuddin ini mengadakan perjalanan pulang untuk kembali ke Kebarongan meneruskan perjuangan di jalur pendidikan. Jalan pulang yang dilewati adalah melalui jalur selatan:  (dari arah timur ke barat) Temon, Purwodadi, Ketawang, Mirit, Ambal, Bocor dan Petanahan. Perlu diketahui, rombongan ini pulang hanya dengan berjalan kaki.

Setelah berhenti di Petanahan, Rombongan Kyai ’Asifuddin ini disambut oleh para murid-murid maupun para staf pengajar yang memang banyak berasal dari kecamatan Petanahan, khususnya dari desa Karangduwur. Pertemuan di Desa karangduwur inilah yang kemudian memunculkan ide dari Kyai ’Asifuddin sendiri untuk merintis sebuah Madrasah Islamiyah, dengan harapan pada era berikutnya akan dapat tumbuh menjadi  Madrasah Wathoniyah Islamiyah di Desa Karangduwur. Inilah cikal bakal lahirnya Madrasah Wathoniyah Islamiyah Karangduwur yang saat ini telah berdiri sendiri dan bukan cabang dari MWI kebarongan.

Nama yang dikenal oleh masyarakat di sekitar Petanahan, khususnya di desa karangduwur, madrasah yang didrikan ini adalah dikenal dengan nama: Sekolah Arab, atau saat ini setingkat diniyyah. Beberapa orang juga akrab menyebut dengan nama Madrasah islamiyah. Jadi saat didirkan pada tahun 1948, nama MWI belum ada.

Pendirian Madrasah Islamiyah (cikal bakal MWI karangduwur) sebetulnya juga bukan hal yang menghebohkan, sebab sebelumnya, telah banyak para siswa yang berasal dari Kecamatan Petanahan yang menuntut ilmu di Pondok Pesantren MWI Kebarongan. Bahkan beberapa diantaranya alumni MWI Kebarongan yang berasal dari Karangduwur dan petanahan, seperti: KH. Ahmad Syahida (Alm), dan KH Wartoyo (Alm) justru menjadi pengajar tetap di Pondok Pesantren MWI Kebarongan. Selain itu, Desa Karangduwur telah dikenal sebagai desa yang banyak dihuni oleh kalangan terpelajar, khususnya sangat mumpuni dalam bidang ke-Islaman dan karakter orangnya adalah militan. Sehingga tak aneh jika pada tahun 1948, muncul pendirian sebuah Madrasah Islamyah.

Kesaksian Kyai H. Slamet Rusydi (Ustadz MWI Karangduwur). Beliau ini Imam Masjid Jami' Az-Zuhud Kuwangunan-Petanahan-Kebumen

Sebelum Madrasah Diniyah atau biasa disebut juga Madrasah Ngarobiyah (sesuai lesan orang Jawa saat itu) didirikan, Kyai ’Asifuddin mengadakan semacam pelatihan bagi para calon guru yang diberi nama ”Kursus Guru Kilat”. Kursus tersebut diikuti oleh tokoh-tokoh masyarakat yang ada di petanahan dan sekitarnya. Hasil dari kursus guru tersebutlah yang akhirnya mereka menangani berjalannya Madrasah Diniyah atau Madrasah Ngarobiyah. Beberapa tokoh pendiri yang ikut kursus dan kemudian menjadai tenaga pengajar antara lain:
Bpk. Sumali (Petanahan)
Bpk Sujangi (Petanahan)
Bpk Carik Hasyim
Bpk Mukhlasin
Bpk Kastolani
Kyai Abu Sufyan (Jagasima), dan lain-lain

Sifat pendidikan di Madrasah Diniyah atau Madrasah Ngarobiyah saat belum terbagi menjadi Tsanawiyyah dan Aliyah tetapi diniyah. Sehingga hanya lulusan SR/SD sajalah yang mengikuti pembelajaran di Madrasah yang bari didirikan itu.
Tempatnya sementara adalah pinjam pada warga karangduwur yang kebetulan rumahnya kosong. Dan saat pemiliknya pulang, lokal pembelajaran pindah ke rumah Braja. Kemudian setelah mengalami perpindahan—bahkan sempat pula menempati masjid dekat Rumah Braja—terakhir menempati rumah Ahmad Soghir hingga membuat gedung sendiri dengan tanah wakaf. Kemudian setelah ada perkembangan tahun 1967, pertama kali siswa-siswi MWI diperkenankan mengikut sertakan ujian Tsanwiyah Negeri. Kemudian pada tahun 1972, Pak H. As’ad Damanhuri S.H, membagi lokal menjadi Mts dan aliyah dan diikutsertakan dengan ujian Negara. Pada saat itu sekolah masih sangat jarang, sehingga jumlah murid MWI sangatlah banyak. Hingga tahun 1990, pendidikan MWI karangduwur masih 7 tahun. Yakni 4 tahun jenjang Tsanawiyyah, dan 3 tahun untuk ’Aliyah.
Pelajaran keagamaan yang masih bertahan hingga tahun 1990 di jenjang ’Aliyah adalah;
Tawhid
Mantiq
Fiqh
Ushul Fiqh
Hadits
Ushul hadits (Mustolah Hadits)
Nahwu
Shorof
Tarikh
Lughat
Faraidh
Adab al-Lughah
Balaghah
Tafsir
Mahfudzat
Setelah pasca tahun 1990, pelajaran Mantiq (Logika) dihilangkan. Karena terdesak pelajaran umum, waktu pembelajaran mapel agama di persempit. Hal ini disebabkan penyesuaian dengan sekolah negeri.
Adapun dijenjang Tsanawiyah mapel agama yang diajarkan
Tawhid
Fiqh
Muhadatash
Hadits
Tahaji
Imla
Qiraah (Membaca)
Nahwu
Shorof
Tarikh
Lughat
Mahfudzat
Al-Qur’an dan Tafsir



Kesaksian Kyai Robani (Ustadz MWI Karangduwur). Beliau ini Imam Masjid Jami' An-Nur Karangduwur-Petanahan-Kebumen

Setelah rampung Sekolah Rakyat di Karangduwur,  Pak Robani melanjutkan sekolah di Madrasah ’Ngarobiyah atau Madrasah yang didirikan ’Asifuddin Zawawi itu. Setelah itu Pak Robani melanjutkan ke Kebarongan selama 4 tahun. Beberapa kyai yang saat itu mengajar di MWI Kebarongan antara lain Marghoni, Kamsi, Qolun, ’Asyifuddin dan lain-lain. Jadi semua siswa diajar oleh para Kyai. Sedangkan pelajaran umumnya saat dikebarongan masih sedikit. Saat di kebarongan, lokalnya masih belum menggunakan semen alias masih dengan tanah.
Saat di tanya kapan kira-kira diperkenalkannya Kitab ”Tauhid haqqullah ’alal ’abid’, Pak Robani menjawab hal itu terjadi sekitar pertengahan tahun saat Pak Robani mondok di MWI Kebarongan, atau sekitar tahun 1959. Jadi pada awal saat Pak Robani mondok di situ, ia masih diberi pelajaran tauhid ”biasa” atau tauhid sifat rong puluh.
Menurut Pak robani, saat itu ada seorang yang memberikan kitab tauhid haqqullah ’alal ’ibad’ kepada Kyai ’Asifuddin zawawi. Karena kedudukan Kyai ’Asifuddin yang bersifat Central, maka semua ustadz di MWI karangduwur pun mengikuti penggunaan Kitab Tauhid haqqullah ’alal ’abid’.

Setelah dari Kebarongan, Pak Robani melanjutkan ke Pondok Maskumambang Jawa Timur untuk melancarkan pembacaan kitab kuning, sekitar 3 tahun. Kemudian pulang pada tahun 1964, setahun kemudian.  Namun Gestapu meletus. Atas kejadian tersebut pak Robani mengurungkan niatnya untuk melanjutkan mondok di  Jawa Timur. Oleh beberapa kawan yang ikut membidani lahirnya Madrasah Ngarobiyah di Karangduwur, Pak Robani diminta untuk mengajar di Madrasah tersebut, yang kebetulan sudah memiliki jenjang Tsanawiyah 7 tahun. Sedangkan namanya bukanlah lagi Madrasah Ngarobiyah, melainkan Madrasah Wathoniyah Islamiyah Karangduwur.
(bersambung ....). nanang r.d

Bagian ke-dua ... Corat Coretan Sejarah 
Di Karangduwur terdapat sebuah bangunan tua sebentuk rumah, dengan tembok begitu tebal. orang zaman dulu bercerita, bahwa rumah itu milik Bradja, yang saat itu belum ada semen, sehingga batu batu yang berukuran besar-besar itu harus dilekatkan supaya tetap menempel dengan putih telur. Saat itulah, saya langsung membayangkan butuh berapa juta telur untuk membangun rumah Bradja itu.
Sejarah Bradja telah diteliti oleh Tim UGM. Sebuah edisi Majalah Kampus itu pernah memuat tentang orang-orang "kalang". Mengenai jenis orang ini, kami tidak perlu mengluasnya di halaman ini. Namun yang jelas, rumah Bradja sudah begitu terkenal dan menyebar luas, termasuk pula bagaimana orang-orang Belanda ini menghancurkan Rumah Bradja ini saat Class ke dua, supaya Rumah ini tidak menjadi tidak menjadi sarang gerilyawan tentara Hisbullah-Sabilillah RI. Namun, pihak tentara gerilyawan pun melakukan hal yang sama sebelum meninggalkan lokasi ini, supaya rumah Bradja jug tidak bisa menjadi tempat peristirahatan Belanda. Cerita ini masih perlu dikaji ulang.
Keluarga Bradja datang dari Kota Gedhe. orang-orang ini sangat ahli dalam perniagaan dan menyukai arsitektur juga kesenian. Jika Anda pergi ke Yogya dan mendatangi Kota Gedhe, maka Anda akan menemukan beragam jenis rumah dengan arsitektur yang hampir sama dengan Rumah Bradja di Karangduwur ini. Keluarga Bradja ini terdiri dari 2 jenis: Kejawen dan Santri. Namun mereka ini sama-sama berasal dari golongan Bangsawan yang silsilah mereka masih di rawat dalam sebuah piguran besar di beberapa rumah. Dalam silsilah yang dipigura itu, mereka masih berkerabat dengan keluarga bagelen dan masih juga memiliki hubungan darah biru dari Brawijaya V. (Tokoh legendaris ini menjadi  sangat spektakuler, dimana disetiap kabupaten, hampir pasti ada kelompok keluarga yang mengaku masih berkerabat dengan Brawijaya V).

Tata Letak Rumah Bradja
Sebagaimana lazimnya tata letak Keraton di Jawa, Anda bisa menyaksikan bahwa Keraton biasa menghadap ke Utara, berada di selatan jalan. di depan keraton ada tanah lapang, ata alun-alun. di sebelah bagian barat keraton ada keputren, tempat bercengkrama para raja. Adapun di bagian barat daya (ngulon agak ngalor), disitu merupakan pemukiman para santri dan juga terdapat masjid. tata letak inilah yang kemudian dipakai oleh Keluarga Bradja. Mereka yang terbilang santri diberi tanah untuk pemukiman dan juga dibuatkan tempat peribadatan (Surau/langgar). Dalam denah lokasi Rumah Bradja di atas yang kami tulis "kauman", letak Surau/langgar yang saat ini menjadi mesjid sungguh nyata adanya. dari sejak dibangun hingga sekarang, lokasi Surau/Langgar tersebut berada di arah barat Daya dari Rumah Bradja. Lalu siapa pewaris tahta langgar/surau yang saat sekarang ini dikenal dengan nama Mesjid Kalang ?

Semua orang di Karangduwur sudah tahu persis, bahwa pemangku langgar/surau tersebut adalah kakek/ simbah dari Pak Joang. Ibu Pak Joang pernah menikah dengan K.H 'Ashifudddin Zawawi. buah perkawinan mereka menghasilkan pak Joang, pak Faiz, Bu Ana dan Bu Aya. Sehingga Ibunda dari Pak Joang masih memiliki garis keturunan ke keluarga Brawijaya V. sedangkan Pak K.H 'Ashifuddin zawawi adalah cucu dari pendiri Pondok Pesantren Madrasah Wathoniyah Islamiyah Kebarongan, Kemranjen, Banyumas.

Lalu bagaimana Surau ini menjadi Masjid?
Dahulu di Karangduwur, satu-satunya Masjid Jami' adalah Masjid Jami' An-Nur atau yang sering disebut pula Masjid Tiban. Mesjid An-Nur ini berada sekitar 300 meter ke arah Barat Daya dari Rumah Bradja. Adapun para Imam di Masjid ini pada tahun 70-an adalah para Tokoh Ulama, termasuk Ustadz Robbani, Ustadz H. Syahida, dan K.HYuswaji. Sebelum menjadi Ustadz, Robbani muda ini dahulu adalah seorang yang guru ngaji Kampung yang mengajarkan mengaji Al-Qur'an di sekitar rumahnya yakni Kampung Wanasingan, desa Karangduwur. Diantara sekian puteranya, hanya Ustadz Robbani saja yang mengikuti jejak ayahnya yang juga seorang santri..
Setelah kepulangan Ustadz Robbani dari Pondok Pesantren Maskumambang tahun 1965, Gresik, Ustad Robbani memiliki gagasan untuk merubah Kebiasaan Adzan Jum'at dua kali menjadi satu kali. Sebab hal tersebut juga dipraktekkan di Masjid Pondok Maskumambang, tempat beliau menimba ilmu. Keinginan Ustadz Robbani ini ternyata didukung penuh oleh salah satu Kyai dari Maskumambang yang datang mencari Ustadz Robbani di Karangduwur. Kedatangan Kyai dari Maskumambang ini bertujuan untuk mengajak Ustadz Robbani kembali ke Pondok Maskumambang untuk menjadi Badal Kyai di sana. Namun Ustadz Robbani menolak dan ingin mengamalkan Ilmunya di Karangduwur, yakni di MWI.
Setelah berembug dengan 4 atau 5 Imam Masjid, dihasilkan bahwa: sebagian besar Imam Masjid tersebut setuju untuk merubah kebiasaan dua adzan menjadi satu adzan, seperti yang dicontohkan nabi Muhammad. adapun salah satu peserta jama'ah Masjid yakni K.H Abu Syukur, menolak dan memisahkan diri. Saat hari jum'at berikutnya, K.H Abu Syukur membagi-bagikan selebaran atau undangan kepada beberapa warga yang sepaham untuk melaksanakan ibadah Sholat Jum'at di Surau/Langgar dikediaman Ibunda P. Joang. Jadilah surau/Langgar ini sekitar tahun 65/66 berubah fungsinya menjadi masjid.

Ustadz Robbani melihat ada sesuatu yang tidak beres dengan adzan dua. Memang ada dua pilihan, ittiba' Sahabat juga bisa menjadi i'yiba' rasul. kemudian pilihan kedua adalah hanya ittiba' rasul. Jika memang memilih opsi pertama yakni ittiba' sahabat ('Sahabat 'Utsman bin 'Affan), maka seharusnya Adzan pertama di lakukan di Pasar, dipusat keramaian, bukan di dalam masjid yang sama. namun praktek yang berlaku adalah bahwa Dua kali adzan dilakukan di dalam tempat/masjid yang sama. Variabel yang lain adalah, bahwa dengan adanya pengeras suara/ corong, suara adzan ini sudah bisa terdengar jauh ke berbagai arah. selain itu, di dekat Pasar Petanahan, juga sudah terdapat masjid jami'.

 Masjid NU
Surau/Langgar warisan nenek moyangnya Pak Joang inilah yang kemudin dijadikan Basis orang-orang NU. Namun demikian, setiap seminggu sekali Pak Joang juga memberikan pengajian di pagi hari (pukul 8-10 pagi) kepada warga masyarakat, terutama Ibu-ibu. dengan demikian, hingga saat ini, fungsi Masjid ini pun tidak mutlak milik warga Nahdiyin. Seandainya pun warga Nahdiyin ingin membangun masjid, maka hal itupun bertolak belakang dengan syari'at Islam. karena masjid di sebuah Desa/kampung ahrus ada satu masjid jami' yang digunakan untuk ibadah sholat jum'at. sekalipun demikian, setia bulan Mulud dan Rajab, masjid ini tetap menggelar kegiatan Muludan dan Rajaban, juga sering digunakan untuk pengajian Keluarga Haji terutama warga nahdiyin. Para tetua yang mengurus masjid ini antara lain: H. Taslim, H. Muslimin dan K.H Abu Syukur. Ada juga seorang muda bernama Pak Amad (dulu alumnus MWI   namun dari kalangan NU), yang saat ini ditanam di masjid tersebut untuk menjadi calon kyai masjid/Imam Masjid.


Mesjid Kalang. yang sekarang menjadi pusat kegiatan orang-orang NU di Karangduwur







8 komentar:

zimam muzhar syahida mengatakan...

serasa mambaca sejarah orang2 dekat...

PONDOK PESANTREN WATHONIYAH ISLAMIYAH ( PPWI) mengatakan...

Sejarah selalu asyik untuk dierdengarkan kembali. namun sayang, sejarah kadang mengenang juga luka lama

Sekilas mengatakan...

lanjutkan untuk menulis lagi pak...saya awam banget dengan sejarah mwi. hehe

Bung Parseno mengatakan...

HEBAT , MEREKA PEJUANG AGAMA ISLAM. ABADI SEPANJANG MASA. PATUT KITA CONTOH SEKARANG.

NANANG BS mengatakan...

Matur nuwun pak, saya mohon ijin share ke FB

abrorzu jrxsider mengatakan...

wong karangduwur ora ngerti sejarah desane

abrorzu jrxsider mengatakan...

apa maning nyong

imam S mengatakan...

saya alumni mwi kebarongan...sangat tertarik membaca sejarah almamater yang saya pernah disana...alhamdulillah...orang pandai..adalah orang yang mau mengetahui sejarahnya..

Poskan Komentar