Pages

Jumat, 25 Februari 2011

Putri dan sebuah Nasehat ...

Remaja saat ini yg suka Nampank ... Gaya pluz Narziss
 “Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakan perhiasannya (auratnya), kecuali yang biasa terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya .... ” (QS An-Nur : 31)

Sudah sering mendengar ayat ini? atau mungkin telah mengahafalnya? Ya ... ayat ini menjadi bukti betapa Islam melindungi seorang wanita. Kemuliaan seorang wanita dalam Islam terletak pada usahanya untuk menjaga kehormatan dirinya. Islam telah mengatur bagaimana seorang wanita bisa menjadi mulia dengan akhlaq, menutup aurat dan melaksanakan perintah Allah. Perintah menutup aurat bukan mengekang kebebasan seorang wanita, justru memperlihatkan bahwa Islam mengerti dengan apa yang dibutuhkan oleh wanita.

Bila diibaratkan, terdapat dua buah kue yang sama jenisnya, dijual di tempat yang terpisah, yang satu ditaruh di etalase kaca bertulisan jangan disentuh dan yang satu lagi dibiarkan “berdesakan” dengan jajanan lain tanpa penutup apa-apa dan yang pasti telah sering dipegang oleh tangan-tangan yang belum tentu steril.
Nah, kita diminta memilih, mana yang akan kita beli ? secara logika tentu saja kita pilih yang tidak pernah dipegang karena pasti terjaga kualitasnya. Seperti itu pula wanita, begitu sayangnya Allah sehingga Ia ingin menjadian kita sesuatu yang “mewah” dan suci karena terlindungi ....

sebuah kisah akan mengingatkan kita pada wanita mulia ....

Dari Atha bin Abi Rabah, ia berkata, Ibnu Abbas berkata padaku, “Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?” Aku menjawab, “Ya.”

Ia berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah menyembuhkannya.' Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah menyembuhkanmu.' Wanita itu menjawab, ‘Aku pilih bersabar.’ Lalu ia melanjutkan perkataannya, ‘Tatkala penyakit ayan menimpaku, aura tku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’ "

Apa amal yang mengantarkannya menjadi seorang wanita penghuni surga? Apakah karena ia adalah wanita yang cantik jelita dan berparas elok? Ataukah karena ia wanita yang berkulit putih bak batu pualam? Tidak. Bahkan Ibnu Abbas menyebutnya sebagai wanita yang berkulit hitam. Wanita hitam itu, yang mungkin tidak ada harganya dalam pandangan masyarakat. Akan tetapi ia memiliki kedudukan mulia menurut pandangan Allah dan Rasul-nya.

Inilah bukti bahwa kecantikan fisik bukanlah tolak ukur kemuliaan seorang wanita. Kecuali kecantikan fisik yang digunakan dalam koridor yang syar’i. Yaitu yang hanya diperliha tkan kepada suaminya dan orang-orang yang halal baginya. Kecantikan iman yang terpancar dari hatinyalah yang mengantarkan seorang wanita ke kedudukan yang mulia. Dengan ketaqwaannya, keimanannya, keindahan akhlaqnya, dan amalan-amalan salihnya, seorang wanita yang buruk rupa di mata manusia akan menjelma menjadi secantik bidadari surga.

Subhanallah, ternyata untuk menjadi mulia tidak butuh kosmetik mahal, perawatan kulit untuk menjadi putih dan alat-alat kecantikan lainnya, namun yang dibutuhkan hanya kesabaran dalam “memutihkan” hati dan menjaga kesucian diri.

Sekarang, patutlah diri di depan kaca, dan katakanlah bahwa saya akan menjadi seorang wanita mulia mulai sekarang dan nanti. Kenapa nanti? karena tidak ada yang tahu apakah kita masih seperti sekarang besok, beberapa hari lagi bahkan bertahun-tahun berikutnya, karena baiknya iman kita saat ini ... ketulusan yang hadir hari ini belum tentu bertahan hingga nanti jika tidak ada usaha untuk memperbaiki diri.

Kesempatan untuk memompa semangat tidak selalu datang begitu saja, ia butuh diberi sebuah asupan dari saat ini, keinginan untuk terus berubahpun tak datang tiba-tiba karena butuh keteguhan dan kekuatan cinta pada Ilahi. Modal tersebut akan didapat melalui proses pencarian sebuah ilmu yang mampu memantapkan hati kita bahwa muslimah seperti inilah yang diharapkan muncul dari sebuah generasi pembaharu.
Muslimah yang teguh dengan hijabnya, yang terus menambah wawasan keislamannya dan muslimah yang mampu mempengaruhi orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Jilbab yang hadir di tengah masyarakat yang gersang akan ilmu agama bisa menarik orang lain untuk mendalami Islam, apalagi bila ditambah dengan kecerdasan dan talenta yang dimilki oleh muslimah tersebut,maka akan dapat menimbulkan tarikan yang lebih kepada mereka.

Berangkat dari pemahaman inilah terdapat kesimpulan bahwa ancaman muslimah dalam kehidupannya dipengaruhi oleh lingkungan yang homogen dan heterogen. Hanya tinggal muslimah itulah yang berusaha untuk menjaga dirinya sekarang dan hingga nanti ... Wallahu’alam bishowwab
Penulis:
Ryan Muthiara Wasti
Mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Indonesia
ryan_muthiara@yahoo.com

----------
Cantiknya Ibu & Isteriku
Kecantikan dapat direkayasa tidak hanya melalui bentuk fisik yang elok dan menawan. Kepribadian dan prestasi cantik-lah yang justru secara lebih dominan akan memancarkan aura kecantikan di dalam tubuh seorang manusia. Demikian kira-kira “ajaran” spiritual-beauty yang pernah disampaikan al-Ghazali dalam kitab Ihya’-nya.
Ada kenyataan ironis bahwa akhir-akhir ini masalah kecantikan justeru sering tereduksi maknanya hanya dalam pengertian cantik secara fisik dan bentuk. Fenomena yang jauh sekali berbeda dengan apa yang dipesankan al-Ghazali di atas.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Kaum bijak berpendapat, ketika manusia terkungkung dalam kebobohan dan keterbelakangan, maka semakin dalam dan jauh ia terjebak dalam kungkungan itu, akan semakin kuat pula kecenderungan dirinya untuk lebih memperhatikan hal-hal yang berupa bentuk, performa, penampilan dan prosedur, ketimbang isi dan substansinya.
Mestinya, kedua sisi yang berupa bentuk dan isi, performa dan substansi, atau prosedur dan nilai itu bisa berjalan seiring. Dan lebih idealnya lagi, jika bentuk, performa dan prosedur yang timbul adalah karena keberadaan isi, substansi dan nilai yang sebelumnya sudah kuat dan mengakar.
Inilah sebetulnya problem global yang sedang dihadapi umat manusia modern secara umum yang hidup dalam kungkungan budaya materialistik. Meskipun tampaknya sudah sedemikian maju dan makmur, tapi pada hakikatnya sangat terbelakang dan kering nilai!
Wanita Berkarir dan Bekerja
Adalah sebuah realitas bahwa kompetisi hidup dan tekanan ekonomi global dewasa ini seringkali membuat perempuan tidak punya pilihan kecuali harus bekerja demi kelangsungan hidup keluarga, seperti menjadi buruh, PRT, pedagang kecil, dan berbagai pekerjaan lain karena tuntutan hidup. Perempuan yang bekerja karena tidak ada pilihan selain bekerja ini kita sebut perempuan bekerja.
Di sisi lain ada banyak perempuan yang memiliki pengetahuan, pendidikan dan pengalaman memadai. Kebutuhan mereka untuk aktualisasi diri bertemu dengan kebutuhan dunia kerja, dunia usaha, dunia pendidikan dan dunia-dunia lain yang memerlukan hadirnya orang-orang yang profesional dan berkompeten. Perempuan yang bisa memilih pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan dan sekaligus menjadi sarana aktualisasi diri inilah yang biasa kita sebut sebagai “wanita karier”.
Pada prinsipnya, dalam Islam memang tidak ada larangan bagi perempuan untuk bekerja dan berkarir di bidang apa saja ?asal dilakukan dengan cara yang baik, benar dan halal, sesuai ketentuan syari’at. Bahkan, pada tataran aplikatif, Islam telah memberikan apresiasi positif dan penghargaan yang tinggi terhadap perempuan ”pekerja” yang gigih sekaligus berkenan membantu keluarganya.
Muslimah Berprestasi
Sebagai contoh kasus, misalnya, Alquran sempat mengangkat kisah dua perempuan bersaudara suku Madyan yang harus bekerja dan keluar agak jauh dari rumah untuk mendapatkan air setiap harinya, karena bapaknya seorang tua renta yang lemah (QS. al-Qashash, 28: 23). Kedua perempuan ini, menurut beberapa ahli tafsir, adalah puteri Nabi Syu’aib as.
Kemudian, sejarah awal Islam juga mencatat banyak figur perempuan sahabat Nabi yang terjun dalam berbagai bidang usaha. Sebut saja, misalnya, Khadijah istri Nabi yang dikenal sebagai komisaris perusahaan; Ummu Salim binti Milhan yang menekuni bidang tata rias pengantin; Zainab binti Jahsy yang berprofesi sebagai penyamak kulit binatang; Al-Syifa’ yang berprofesi sebagai sekretaris ?dan pernah diangkat Khalifah Umar ibn al-Khattab sebagai kepala pasar kota Madinah; Istri Abdullah ibn Mas’ud yang dikenal sebagai pengusaha wiraswasta dari kalangan perempuan yang sukses.
Semua itu menandakan betapa Islam, hingga pada tataran tertentu, sangat apresiatif dan welcome terhadap perempuan yang bekerja dan berkarir. Karena itu, tak heran bila Aisyah berkomentar, ”… alat pemintal di tangan perempuan lebih baik daripada tombak di tangan kaum laki-laki, yakni di saat mereka berjihad…”.
Peran dalam Keluarga
Terkait dengan pembagian peran dalam keluarga, menurut ajaran Islam, keharusan memberi nafkah memang merupakan tanggung jawab utama suami, atau dengan kata lain isteri punya hak mendapatkan sebagian harta suami untuk mencukupi semua kebutuhan dasarnya. Namun, fakta di lapangan tentunya tidak sepenuhnya sama dengan apa yang diharapkan. Kenyataannya, tidak semua suami mampu memenuhi semua kebutuhan dasar isteri dan keluarganya.
Dalam situasi di mana isteri sesungguhnya tidak wajib menafkahi keluarga tetapi ia berkenan memberikan sebagian hartanya kepada suami dan anak-anak, maka hal itu tercatat sebagai sedekah yang berpahala ganda, yakni pahala sedekah dan pahala membantu keluarga (HR. Bukhari-Muslim). Itulah ”nilai plus” yang diberikan Islam kepada muslimah yang ”berkekayaan” atau berpenghasilan sendiri serta berkenan membantu meringankan beban ekonomi keluarganya.
Kode Etik
Pada tataran operasional, hal-hal prinsip yang harus diperhatikan dan dilakukan seorang muslimah dalam meniti karir dan bekerja adalah:
1.      Terus membangun kesadaran bahwa bekerja dan berkarir adalah sarana mencarai ridha Allah. Dengan demikian di lingkungan kerja seorang muslimah akan senantiasa menjaga integritas, moralitas, dedikasi, dan profesionalitas sehingga citra positif muslimah terjaga.
2.      Senantiasa menjaga keseimbangan diri, perasaan, pikiran, tenaga dan waktu ?dalam peranannya sebagai ibu bagi anak-anak, sebagai isteri bagi suami, dan sebagai seorang profesional dalam lingkungan kerja.
3.      Bersinergi dengan pasangan/suami dan mitra keluarga lainnya dalam berbagi peran dan tugas rumah tangga sehingga tercapai kesepahaman yang baik dan kondusif.
4.      Senantiasa mengingat bahwa kepentingan dan keutuhan keluarga adalah yang pertama dan terpenting.
Dalam konteks ini, figur teladan yang dapat dijadikan rujukan adalah sayyidah Khadijah ra., yang telah memberikan contoh bagaimana perempuan muslimah dapat sukses menekuni dan mengembangkan bidang usaha, tanpa kehilangan jatidiri, tetap taat pada norma-norma dan etika agama, serta mampu menjaga keseimbangan peran dan pola relasi dalam keluarga.
Caktiknya Ibu Rumah Tangga
Jejak sejarah para muslimah yang sukses berkreasi dan berprestasi di atas memang sangat membanggakan. Dan hal seperti itulah, menurut al-Ghazali, yang akan membentuk aura kecantikan seseorang.
Selain wanita karir dan pekerja yang sukses dan berprestasi juga terdapat sosok perempuan lain yang tak kalah hebat dan bahkan bisa dibilang memiliki aura kecantikan yang lebih kuat. Yaitu, ibu-ibu rumah tangga yang sukses mengantarkan anak-anaknya ke tingkat kesuksesan duniawi dan ukhrawi. Betapa banyaknya kisah-kisah kepahlawanan wanita di dunia ini yang karena kepiawaiannya sebagai ibu dapat membesarkan anak-anak super yang di tangan mereka peradaban-peradaban besar dunia terbentuk.
Kita pasti masih ingat siapa itu bunda Maryam dan Asiah. Dua wanita super yang berhasil mendampingi pertumbuhan dua anak super, yaitu Nabi Isa dan Musa. Di tangan merekalah sejarah dua peradaban besar dunia berbasis agama Nasrani dan Yahudi terukir dalam, hingga bisa kita rasakan dampaknya sampai sekarang. Begitu juga dengan Nabi Muhammad yang melahirkan peradaban Islam. Beliau juga tidak terlepas dari dampingan wanita-wanita super, mulai dari ibu kandung yang hebat: sayyidah Aminah, sang penyusu penuh kasih: Halimah as-Sa’diyah, dan isteri setianya yang super: Khadijah Binti Khuwailid.
Memang sungguhlah cantik ibunda dan isteri kita. Mereka itulah pahlawan-pahlawan tanpa tanda jasa yang patut diagungkan dan disyukuri keberadaannya. Mungkin, inilah kecantikan sejati yang dimaksudkan al-Ghazali dalam pesan-pesan spiritualnya di atas. Sebuah kecantikan universal yang didambakan setiap insan.
Gaya hidup berbasis spiritual seperti ini juga yang sangat perlu kita bangun di tengah ketidakmenentuan nasib dunia sekarang ini.*Umar Fayumi

0 komentar:

Poskan Komentar