Pages

Jumat, 18 Februari 2011

Artikel Dunia Pendidikan

Apa sih Maksud dari PTK - Penelitian Tindakan Kelas ?
Rabu, 16 Februari 2011, 11:19 WIB

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Bu Evi, saya guru SMP. Ingin tanya tentang pembuatan PTK . Pertanyaan saya:
1. Apakah pembuatan PTK boleh dilakukan sendirian?
2. Siapakah pejabat yang bisa mengesahkan PTK tersebut?

Demikian pertanyaan saya. Atas jawaban Bu Evi, saya ucapkan terima kasih.
Machmuds

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Pak Machmuds yang senantiasa dirahmati Allah, senang sekali saya menerima pertanyaan dari Bapak. Pertanyaan tersebut mengindikasikan sebagai guru Anda sudah melangkah lebih maju. Artinya, Pak Mahmud sepertinya tidak hanya sekedar mengajar, tapi senantiasa melakukan proses perubahan melalui penelitian tindakan. Tentunya dengan tujuan agar terjadi peningkatan kualitas pembelajaran bukan?

Ciri khas PTK atau Penelitian Tindakan Kelas dibandingkan dengan penelitian ilmiah pada umumnya, adalah adanya masalah pembelajaran dan tindakan perbaikan untuk memecahkan masalah dalam kelas yang kita ajar. Melalui proses penelitian tersebut, secara dinamis guru senantiasa melakukan perbaikan pembelajaran di kelas dan mengembangkan keahlian mengajar. Jika setiap guru melakukan penelitian tindakan ini seperti Bapak, wah…Anda termasuk guru yang berkontribusi dalam memajukan kualitas pendidikan di negara ini. Luar biasa.

PTK merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru. Apakah PTK dapat dilakukan sendiri? Ya. Guru dapat menjadi pengajar sekaligus peneliti. Namun pada pelaksanaannya, guru sebaiknya perlu melakukan langkah penelitian ini secara bersama-sama dengan teman sejawat (sebagai kolaborator) dari awal hingga akhir secara kolaborasi. Mengapa demikian? Karena ketika kita melakukan sebuah penelitian yang dimulai dengan (1) perencanaan, (2) pelaksanaan tindakan perbaikan, (3) pengamatan dan (4) evaluasi refleksi tindakan; maka kita perlu kolaborator yang membantu kita mengamati pelaksanaan tindakan secara kolaboratif dan partisipatif. Tujuannya memberikan penilaian dari instrumen yang kita buat sebagai alat ukur penelitian, misalnya. Selain itu kolaborator dapat memberikan umpan balik ( feedback ) pada saat evaluasi refleksi yang tujuannya perbaikan tindakan yang kita lakukan. Nah masukan dan data-data yang diberikan kolaborator dapat menjadi bahan perbaikan untuk penelitian tindakan pada siklus berikutnya.

Kemudian, siapakah pejabat yang bisa mengesahkan PTK? Pada lingkup sekolah, PTK bisa disahkan oleh kepala sekolah. Demikian Pak Machmuds, semoga jawaban saya cukup membantu Bapak menyusun PTK. Terus semangat dan terus kreatif, ya Pak, dalam melakukan strategi-strategi pembelajaran melalui penelitian tindakan kelas yang Bapak lakukan. Semoga Allah memudahkan ikhtiar Bapak. Amiin.

Evi Afifah Hurriyati, M.Si
Trainer Pendidikan & Kepala Program Sekolah Guru Ekselensia Indonesia LPI Dompet Dhuafa Republika

pendidikan@rol.republika.co.id

---------------------------------------
Republika OnLine » Pendidikan » Konsultasi Pendidikan
Seni Mengelola Kelas
Kamis, 11 November 2010, 10:18 WIB

Pertanyaan :

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Bu Evi yang baik, saya adalah seorang guru di salah satu SDIT Kota Bogor. Di kelas saya, hanya ada lima orang siswa, dua putra dan tiga putri. Setiap kegiatan belajar mengajar dimulai, saya harus mencari murid satu persatu untuk masuk kelas. Bagaimana cara yang efektif Bu, agar siswa saya disiplin dan mau belajar tanpa harus saya kejar-kejar? Terimakasih Ibu..

Puspita, Bogor.


Jawaban :

Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh,

Ibu Puspita, terimakasih atas pertanyaannya. Saya doakan, semoga Ibu selalu sabar, menghadapi siswa-siswi ibu. Meskipun hanya lima orang tapi membutuhkan energi yang cukup besar ya, sehingga Ibu harus kejar-kejaran dengan siswanya.

Ibu, mengajar dan mendidik adalah seni mengubah perilaku siswa menjadi cerdas dan baik. Oleh karena itu mengajar di kelas besar maupun kecil sama saja. Tidak tepat juga bila ada yang mengatakan mengajar di kelas besar lebih sulit dibandingkan mengajar di kelas kecil. Kelas Ibu contoh konkritnya. Saya juga punya teman yang mengajar hanya dua orang siswa bahkan. Saat satu siswa tidak termotivasi, siswa lainnya ikutan tidak termotivasi juga. Tetapi, jika kita tahu seninya, baik mengajar di kelas besar maupun kelas kecil akan terasa sama mudahnya.

Sebenarnya dalam mengelola sebuah kelas, yang terpenting adalah keterampilan manajemen kelas. Sebaiknya Ibu Puspita membuat peraturan dan prosedur dulu ketika hari pertama masuk sekolah. Misalnya peraturan masuk kelas. Nah, prosedurnya (cara) masuk kelas harus Ibu sampaikan pula. Mengenai prosedur kelas, Ibu bisa juga mengajak siswa untuk membuatnya bersama. Namun jika saat ini pembelajaran sudah berlangsung dan Ibu belum membuat kedua hal tersebut, tidak masalah. Sampaikanlah kedua hal tersebut pada hari Senin, sebelum memulai pembelajaran. Dapat juga hal tersebut Ibu sampaikan di akhir pekan, sehingga pada hari Senin berikutnya prosedur dan peraturan tersebut sudah dapat diterapkan. Jangan lupa, tentukan pula reward (hadiah) dan punishment (hukuman). Namun, perlu diingat bahwa reward dan punishment hanya diberikan setelah semua pendekatan tidak efektif.

Lalu bagaimana dengan pengelolaan kelas kecil seperti kelas Ibu? Setelah disosialisasikan peraturan dan prosedurnya, maka langkah kedua adalah membuat organisasi kelas dengan memberi tanggungjawab pada kelima anak tersebut dengan masing-masing tugas yang berbeda.

Cara efektif agar siswa menjadi disiplin adalah dengan menanamkan kesadaran terlebih dahulu. Sebab, jika aturan kelas hanya disampaikan tanpa membangun kesadaran terlebih dahulu maka sulit disiplin kelas terbentuk. Tentu saja perlu diperhatikan pendekatan komunikasi pada anak-anak tersebut. Berikanlah pesan-pesan yang membangun kesadaran dengan 'menyentuh' hati dan pikiran mereka. Sehingga siswa merasa membutuhkan disiplin tersebut. Mereka tahu manfaat disipin dan akibatnya, jika melanggar displin.

Oh ya bu, agar semua peraturan dan prosedur, bisa berjalan efektif dan siswa menjadi disiplin yang terpenting adalah dengan memberi teladan. Tentu saja teladan tersebut datang dari orang dewasa, dalam hal ini dicontohkan oleh guru sebagai role model. Insyaallah pendekatan-pendekatan yang ibu berikan dapat menyelesaikan masalah kelas ibu. Tetap semangat ya bu, sukses selalu. Semoga Ibu Puspita selalu dirahmati Allah swt.

Konsultasi diasuh oleh :
Evi Afifah Hurriyati, M.Si
Trainer Pendidikan & Kepala Program Sekolah Guru Ekselensia Indonesia LPI Dompet Dhuafa Republika

Email : pendidikan@rol.republika.co.id

--------------------------------------------

Republika OnLine » Pendidikan » Konsultasi Pendidikan
Bel Masuk? Santai Dulu Aaah…
Rabu, 19 Januari 2011, 10:52 WIB

Pertanyaan

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Di MTs kami, bel tanda masuk tidak begitu dihiraukan oleh murid dan sebagian guru. Walaupun sudah terdengar bel tanda masuk, murid-murid masih di luar kelas dengan alasan Bapak atau Ibu guru belum masuk ke kelas. Sebagian guru kapok masuk kelas tepat waktu karena murid-murid banyak yang belum masuk kelas. Saya sendiri sebagai kepala merasa rikuh atau sungkan bila menegur guru-guru yang lebih tua untuk masuk kelas tepat waktu. Mohon saran dan masukannya.

Terimakasih.

Faiq Aminuddin,
MTs. Irsyaduth Thullab Tedunan, Wedung, Demak

Jawaban

Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,
Bapak Faiq yang dirahmati Allah swt, pertama-tama saya mengucapkan selamat. Sepertinya Anda masih muda, tapi sudah menjabat sebagai Kepala Sekolah. Memang jabatan tidak selalu berkorelasi positif dengan usia, artinya tidak selalu jabatan kepala sekolah diberikan kepada orang yang lebih tua. Tapi jika seseorang mempunyai kompetensi sebagai seorang pemimpin, maka ia mempunyai kesempatan untuk mengemban amanah tersebut.

Membaca pertanyaan Bapak, saya jadi balik nanya, sikap siapa yang harus diperbaiki terlebih dulu, siswa atau guru?

Bapak Kepala Sekolah yang hebat, sebagai pemimpin Anda sudah membaca gejala budaya sekolah yang tidak kondusif yaitu belum terciptanya disiplin di sekolah Anda. Ketika bel tanda masuk berbunyi siswa maupun sebagian guru tidak menghiraukannya. Sepertinya peraturan sekolah belum diterapkan sepenuhnya. Sehingga kondisi ini memunculkan sikap saling menyalahkan. Siswa menyalahkan guru ketika mereka tidak disiplin, demikian juga sebaliknya.

Hal pertama yang harus Bapak lakukan adalah menegakkan peraturan disiplin. Misalnya semua warga sekolah harus datang 15 menit sebelum bel berbunyi. Jika bel tanda masuk berbunyi, maka baik siswa maupun guru harus sudah ada di kelas. Jika hal tersebut dilanggar maka ada sanksi. Sanksi harus selalu disertakan dalam pembuatan peraturan, mulai sanksi pelanggaran ringan sampai berat. Mulai dari memberi peringatan/teguran sampai hukuman. Tentu saja, peraturan tersebut harus disosialisasikan terlebih dahulu ke semua warga sekolah, mulai dari siswa, guru, pegawai administrasi bahkan penjaga sekolah kalau ada. Tak kalah penting adalah alasan kenapa peraturan tersebut dibuat. Sehingga, akan terbentuk kesadaran dari seluruh warga sekolah.

Sikap siapa yang harus dibenahi dulu, apakah siswa atau guru? Tentu saja guru. Karena guru adalah model atau teladan yang dapat dicontoh oleh siswa. Siswa akan belajar perilaku dari orang dewasa dalam hal ini guru. Jika guru tidak disiplin, maka jangan salahkan siswa tidak disiplin juga. Jika hal ini dibiarkan siswa akan memperkuat perilakunya dengan tetap tidak disiplin. Oleh karena itu, sebagai kepala sekolah Bapak mempunyai hak untuk memperbaiki kinerja guru-guru Anda. Tapi, tentu saja sebagai pemimpin Anda juga harus terlebih dahulu memberi teladan yang baik buat guru maupun siswa.

Sebagai kepala sekolah yang secara usia lebih muda dari guru-guru yang senior, tentunya Bapak merasa sungkan untuk menegur mereka. Tapi karena Bapak adalah pimpinan yang mempunyai kewajiban menegakkan kedisiplinan, maka Bapak berhak menegur jika ada guru yang tidak disiplin. Namun Pak, yang perlu diperhatikan adalah cara komunikasi dan pesan yang akan Bapak sampaikan. Dalam hal ini Bapak harus asertif, artinya yaitu menyampaikan pesan secara lugas tanpa membuat orang lain merasa tersinggung. Sehingga, komunikasi menjadi efektif. Demikian yang dapat saya jawab Pak. Semoga jika kedisiplinan dilakukan di sekolah Bapak melalui proses pembiasaan maka akan terbentuk karakter dan budaya positif di sekolah Bapak. Semoga bermanfaat…

Evi Afifah Hurriyati, M.Si
Trainer Pendidikan & Kepala Program Sekolah Guru Ekselensia Indonesia LPI Dompet Dhuafa Republika

pendidikan@rol.republika.co.id
------------------------------------------
Republika OnLine » Pendidikan » Konsultasi Pendidikan
Koq Masih Gaduh Juga Ya?
Senin, 17 Januari 2011, 18:07 WIB
Pertanyaan

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ibu Evi, saya Hendra, Guru Matematika. Begini Bu, saya sudah mencoba membuat RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.ed) untuk rancangan pembelajaran di kelas dengan bermacam-macam strategi mengajar. Tapi Bu, yang terkadang membuat kesal, anak-anak masih sering gaduh ketika saya mengajar. Di awal pembelajaran mereka memperhatikan, beberapa menit kemudian mereka gaduh lagi. Bagaimana cara mengatasinya ya Bu?

Terimakasih.

Hendra, Salatiga

Jawaban

Wa'alaikumsalam warrahmatullahi wabarakatuh,
Pak Hendra yang insyaallah diberkahi Allah swt, saya bahagia membaca surat Bapak. Bapak adalah guru yang luar biasa, mengajar dengan penuh perencanaan. Apa yang Bapak lakukan sebagai guru sudah benar. Dalam melakukan kegiatan belajar mengajar, tentunya hal pertama yang harus kita lakukan adalah membuat rencana pembelajaran. Bahkan Pak Hendra sudah mencoba berbagai strategi pembelajaran. Hanya, yang menjadi masalah meskipun Bapak sudah membuat rencana pembelajaran di kelas, menjadi tidak begitu kondusif karena siswa hanya bertahan konsentrasi pada awal mengajar saja.

Pak Hendra yang budiman, rencana pembelajaran bisa saja bersifat luwes, artinya dapat menerima perubahan atau penyesuaian dengan keadaan, suasana belajar, kondisi perbedaan siswa, mata pelajaran dan topik tertentu. Sebagai Guru Matematika, tentu Pak Hendra sudah melakukan strategi pembelajaran matematika yang menyenangkan bukan? Kebanyakan siswa masih menganggap matematika adalah pelajaran sulit, oleh karena itu tanpa pembelajaran aktif (active learning) dan menyenangkan, siswa akan sulit menerimanya. Jika Bapak sudah mengatur pembelajaran yang menyenangkan untuk membangkitkan gelombang alfa siswa, insyaallah siswa bertahan untuk konsentrasi. Jika siswa dapat berkonsentrasi dengan baik, tentunya mereka dapat mencapai hasil belajar yang diinginkan. Jika pada saat tertentu terlihat siswa Anda sudah tidak berkonsentrasi, gaduh misalnya, cobalah mengkondisikan kelas dengan membuat energizing misalnya braingym (senam otak) atau kata-kata "Hai-Hello". Panggilah siswa-siswa Anda dengan "Hai", dan siswa Anda harus membalasnya dengan "Hello" atau sebaliknya. Namun tentu saja kata-kata tersebut harus sudah disampaikan sebelum Bapak memulai pelajaran, agar siswa tidak bingung. Pak Hendra juga bisa membuat variasi kata yang lain.

Pak Hendra yang selalu semangat, untuk mempertahankan konsentrasi siswa perbanyaklah aktivitas yang mengarah kepada pembelajaran siswa. Misalnya diskusi kelompok, simulasi dan sebagainya. Siswa akan mudah memahami pelajaran sampai 90 persen dari informasi yang disampaikan melalui apa yang dia lakukan. Tentu Bapak ingat, istilah "I hear I forget, I see I remember, I do I understand".

Selain itu Pak Hendra, faktor modalitas belajar siswa penting juga untuk diperhatikan dalam pengelolaan pembelajaran. Modalitas belajar adalah cara bagaimana siswa memproses informasi yang diterimanya. Menurut DePorter dkk (2000) terdapat tiga macam modalitas belajar yang digunakan oleh seseorang dalam pembelajaran, pemrosesan informasi, dan komunikasi yaitu mendengar (auditori), melihat (visual) dan melakukan (kinestetik). Mungkin ada sebagian siswa Anda yang modalitas belajarnya adalah auditori, maka pak Hendara bisa menyampaikan informasi dengan cara menjelaskan (ceramah) dengan penggunaan intonasi yang bervariasi, menggunakan nyanyian untuk mengingat rumus atau konsep matematika, berdikusi misalnya. Namun, bisa jadi ada siswa yang lebih mudah menangkap informasi dengan cara melihat (visual),atau membayangkan sesuatu (gambaran mental) oleh karena itu perbanyak penggunaan alat peraga pembelajaran, gambar, warna, grafik dan sebagainya. Mungkin tidak sedikit juga siswa Anda yang mudah menangkap informasi dengan cara melakukan langsung, misalnya dengan simulasi, bermain peran dan sebagainya. Untuk mengakomodasi kebutuhan semua siswa, Pak Hendra dapat menggunakan strategi pembelajaran dengan mengkombinasikan ketiga pendekatan modalitas tersebut.
Demikan Pak Hendra, jika Bapak dapat meramu prinsip-prinsip di atas untuk diaplikasikan dalam kelas, insyaallah siswa-siswa Bapak akan belajar matematika dengan konsentrasi penuh dari awal sampai akhir pelajaran. Harapan saya, nilai matematika siswa Anda akan meningkat tentunya, semoga. Semangat selalu Pak Hendra!

------------------------------------

Republika OnLine » Pendidikan » Olimpiade
Wow...Indonesia Raih Tiga Medali Emas Olimpiade Sains
Senin, 13 Desember 2010, 06:11 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,TANGERANG--Indonesia meraih tiga medali emas, lima perak dan empat perunggu dalam kompetisi Olimpiade Sains Junior Internasinal ke-7 yang digelar di Abuja, Nigeria diwakili 12 pelajar tingkat SMP dari seluruh Indonesia. Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Kementrian Pendidikan Nasional, Prof Suyanto di Tangerang, Banten, Senin mengatakan keberhasilan 12 pelajar yang mengikuti Olimpiade Internasional Sains Junior itu merupakan hasil pembinaan secara matang.

"Para pelajar yang dikirim ke Nigeria itu merupakan unggulan dari masing-masing sekolah kemudian dilakukan pelatihan selama empat bulan setelah itu mereka masuk karantina," kata Prof Suyanto ketika menyambut 12 pelajar peserta olimpiade di Terminal II-D Kedatangan Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Kota Tangerang, Senin dini hari.

Olimpiade Sains Junior Internasional itu diikuti 34 negara diantaranya Afganistan, Argentina, Brazil, Ghana, India, Iran, Mexico, Rusia, Taiwan, Thailand Zimbabwe serta Estonia. Namun dalam olimpiade tersebut Taiwan menjadi juara umum merupakan peringkat terbaik dalam teori, dan India urutan kedua serta Indonesia pada urutan ketiga.

Olimpiade Sains Junior itu adalah suatu ajang kompetisi tahunan pada bidang ilmu pengetahuan alam yang mencakup mata pelajaran Fisika, Biologi, Kimia dan matematika diikuti pelajar usia 15 tahun pada tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kompetisi itu untuk mendorong anak-anak muda mencintai ilmu pengatahuan alam dan mengembangkan komunikasi internasional dalam bidang sains.

Indonesia merupakan penggagas kegiatan internasional itu dan sebagai tuan rumah pertama yang digelar di Jakarta tahun 2004. Selain itu, rencananya olimpiade serupa tahun 2011 digelar di Kota Duran, Afrika Selatan dan tahun 2012 di India.

Menurut Suyanto para pelajar yang meraih medali di Nigeria itu akan diberikan kemudahan dalam menempuh pendidikan yang lebih tinggi di kota asal masing-masing serta mendapatkan beasiswa.
Para pelajar yang meraih medali emas yakni Muhamad Iqbal Ibrahim pelajar SMP Pribadi Depok, Jabar, Richard Akira Heru pelajar SMP DL Dominico Savio, Jateng, dan Fransisca Susan dari SMP St Ursula, Jakarta.

Peraih medali perak masing-masing I Made Gita Narendra Kumara dari SMP Negeri I Negara, Bali, Mikael Harseno Subianto dari SMP Susteran Purwokerto, Jateng, Putu Ivan Budi gunawan pelajar SMP Negeri I Tabanan, Bali, Yoga Rafinika dari SMP Sragen Bilingual Boarding School, Jawa Tengah serta Faisal Puji Nugroho pelajar SMP negeri 68 Jakarta.

Untuk pelajar yang meraih medali perunggu masing-masing Mardika Firlina dari SMP Pribadi School Bandung, Jabar, Titis Setiyobudi dari SMP Negeri I Kauman, Jawa Timur, Anang Rizki Muharom dari SMP Negeri II Semarang, Jateng dan Nurul Falahiyyah Bahri dari SMP Negeri I Sumenep, Madura, Jatim.

0 komentar:

Poskan Komentar