Pages

Jumat, 18 Maret 2011

Kyai Jabir Kebumen




Sosok Kyai Jabir in Action, Kyai Humor from Kebumen






Salah satu warga yang tengah menikmati Dagelan Mendidik dari Kyai Jabir



Tradisi Pesantren di Wilayah Kebumen

Taken From: http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=178426&actmenu=45
PODOK KAMI SIAP BERSAING
22/09/2008 09:16:11

BERDASAR kontribusi dan sejarahnya, pesantren dianggap sebagai salah satu tempat pendidikan agama yang paling baik. Terbukti, berhasil mencetak kader-kader ulama yang berjasa besar terhadap bangsa dan negara.
Meski perkembangan zaman sudah jauh bergulir, pesantren tetap dipandang 'istimewa'. Pesantren yang operasional seperti zaman dulu, masih eksis. Justru di masyarakat, pesantren tradisional --yang dikenal sebagai pesantren salaf-- mendominasi. Dari data Departemen Agama, dari 14 ribu pesantren di Indonesia, 80 persen salaf dan semi modern.
Menurut Hamdan Farchan dan Syarifuddin --dalam bukunya: Titik Tengkar Pesantren-- saat ini masih banyak pesantren tradisional, yang dalam kacamata kekinian dikategorikan terbelakang. Namun dari situ, justru mudah didapati kearifan lokal, segudang nilai kultural yang patut disemaikan dalam kehidupan masyarakat. Seperti solidaritas komunitas, egaliter, musyawarah dan sebagainya.
Tak hanya temuan itu. Ketua MUI DIY, Thoha Abdurahman juga menyoroti pesantren salaf, yang di matanya tidak berkembang. "Yang diubek-ubek hanya (kitab) fekih dan tauhid, sampai kitabnya lusuh", ujar Thoha.
Benarkah pesantren salaf sudah tidak sesuai zaman?
Tergantung. Begitu menurut KH Jabir Huda, pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikmah, Lemahabang Kwarasan Kebumen.
"Salaf kan artinya mengacu ulama terdahulu, yang mempunyai jiwa kearifan. Namun sekarang, ada yang menganggap ortodoks, seiring munculnya istilah ulama modern. Jadi tidak bisa menyebut salaf, ketinggalan zaman", paparnya.
Sebenarnya, bukan soal lembaganya, jika mau menilai kualitas. Apapun lembaganya, asal mengacu Al Qur’an dan Hadits, di mata Kiai Jabir, bagus. Sebaliknya, kalau ajaran menyimpang, meski diajarkan di lembaga agama apapun --termasuk pesantren-- tidak berguna.
Dalam Titik Tengkar Pesantren, Hamdan Farchan dan Syarifuddin menyebut kelemahan pesantren pada manajemen pesantren salaf. Karena segala sesuatu bertumpu pada figur kiai. Otoritas pengelolaan pesantren sepenuhnya di tangan kiai. Karenanya, konflik muncul.
Diakui kiai yang punya rasa humor tinggi itu, dalam tradisi salaf ada istilah 'warisan'. Keluarga kiai menjadi kiai. Turun temurun. Punya jalur khusus. Tak mengherankan bila akhirnya memunculkan kiai yang bermental seperti raja kecil. Fenomena ini yang membuat pengkultusan kiai di pesantren salaf begitu kental.
"Tapi sebagian saja yang terjangkiti mental seperti itu. Tidak semuanya. Jadi tidak bisa fenomena itu untuk menggeneralisasi pesantren salaf", papar Kiai Jabir.
Tentang kitab fikih dan tauhid yang selama ini menjadi andalan pesantren tradisional, Kiai Jabir arif menyikapi. "Mungkin karena pendalamannya selama ini, di bidang itu. Bukan karena bisanya hanya itu", tambahnya.
Kultur pesantren yang seakan memposisikan kiai sebagai raja dan anak-anaknya pun bak pangeran, satu sisi mengundang kritikan tajam. Era demokrasi ikut mempola lahirnya kritikan-kritikan tajam yang menghujat pengkultusan kiai serta pernik-pernik kehidupan pesantren, bahkan pola pendidikannya.
Padahal, tradisi pesantren yang oleh sebagian orang dikatakan kolot dan feodal itu, sebenarnya ada sisi-sisi positif yang perlu dilestarikan. Jika ada kritikan tajam tertuju ke pesantren, sebenarnya inti permasalahannya terletak pada kemampuan dan cara kiai memposisikan diri.
"Sebagai pengasuh, kiai ibarat menjadi orangtua sekaligus guru bagi santri. Peran ini sangat berat. Sebagai orangtua, seharusnya punya kewajiban menanggung kelangsungan kehidupan pesantren. Artinya, secara ekonomi kiai harus menjadi penanggungjawab atas kebutuhan santri dan para ustadz. Sedangkan sebagai seorang guru, seiring percepatan perkembangan ilmu, kiai harus ikut menyesuaikan diri dengan tetap berpegangan pada kitab-kitab", papar KH Muhammad Abdullah Sonhaji.
Pengasuh Ponpes Qolbun Salim ini tidak sependapat bila ada yang mengatakan pesantren salaf selalu ketinggalan zaman. "Jika semua sepakat bahwa Qur’an merupakan gudang ilmu paling lengkap, sangat tak beralasan bila pelajaran kajian kitab itu kuno. Karena semua ilmu yang ada di dunia ini sumbernya ada di Qur’an. Jadi tak ada alasan untuk mengatakan pelajaran yang berkutat pada kajian kitab itu kuno", tambahnya.
Justru yang menjadi persoalan, lanjut Sonhaji, kemampuan kiai dan ustadz mengembangkan metode pembelajaran yang aplikatif sehingga bisa menjadi bekal hidup. Misalnya, tentang cara dagang. "Seperti yang kami lakukan dengan belajar ilmu dagang. Selain belajar kitab, santri kami latih berwiraswasta", jelasnya.
KH Naim Salimi tak sependapat bila yang kuno itu identik dengan hal-hal yang ketinggalan zaman. "Justru dari metode salaf yang berkutat pada pelajaran kitab, banyak melahirkan metode-metode baru yang lebih aplikatif. Misalnya metode menghafal terjemahan Qur’an yang ditemukan santri Tebuireng Jombang. Dia menemukan metode itu setelah belajar di pesantren salaf", komentarnya.
Pengasuh Ponpes Al Falah Kalasan Sleman ini mempertanyakan, mengapa ada tokoh ulama yang menghujat pesantren salaf. "Mungkin karena pemahamannya tentang salaf yang kurang pas", ujarnya sambil menambahkan, kajian kitab, sampai kapan pun tetap relevan.
Kelemahan pesantren salaf, menurut Gus Naim, justru terletak pada legal formal. Pesantren salaf tak punya hak mengeluarkan ijazah bagi santri yang sudah lulus pendidikan. "Padahal jika kami punya kewenangan mengeluarkan ijazah yang diakui pemerintah, belum tentu kualitas lulusan kami kalah dibanding pesantren modern", tandasnya.
(c) n Latief - Dar

0 komentar:

Poskan Komentar