Pages

Rabu, 27 April 2011

Mengasihi Yang di Bumi

Oleh: Sabrur Rohim

Islam adalah agama rahmah. Tidak hanya bagi manusia, tetapi bagi seluruh makhluk Allah di bumi. Dalam QS Al Anbiya: 107, dinyatakan bahwa Muhammad SAW diutus sebagai rahmatan lil-‘alamin. Dalam kamus Arab dijelaskan bahwa al-‘alamin itu meliputi seluruh penghuni semesta, baik manusia, jin, malaikat, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan sebagainya, baik yang bernyawa ataupun tidak. Itulah kenapa, sifat kasih-sayang sangat ditekankah oleh ajaran Islam. Allah sendiri mensifati Diri-Nya sebagai Penyayang. Kita, sebagai makhluk Allah, sangat dianjurkan untuk meniru sifat-Nya itu. Seseorang yang mendaku diri sebagai Muslim, tetapi tidak sayang kepada sesamanya (manusia), bahkan kepada binatang (sesama makhluk-Nya), patut pertanyakan keislamannya.

Dalam sebuah hadis, Nabi SAW diriwayatkan bersabda: Arrahimuna yarhamuhumur-Rahmanu Ta’ala, irhamu man fil-ardli yarhamkum man fis-sama’ (orang-orang yang pengasih akan dikasihi oleh Zat yang Pengasih. Kasihilah penduduk bumi, niscaya yang di langit [Allah, malaikat] akan mengasihimu). Dalam kaidah ilmu nahwu, kata yarham adalah fi’il jawab al-syarth, sehingga jazm (dimatikan huruf terakhir). Artinya, seseorang pasti akan Allah kasihi, asalkan (syaratnya) dia mengasihi sesamanya. Ada juga pendapat, bahwa kita boleh membacanya yarhamu, sebagai fi’il mudlari’ normal (sepi dari ‘amil), sehingga menjadi doa. Doa siapakah? Tentu saja doa dari Nabi SAW, yang nota bene pengucap kalimat (hadis) di atas. Artinya, siapa saja yang mengasihi penduduk bumi, Nabi SAW mendoakan kiranya Allah dan malaikat mengasihinya (yarhamuhum). Doa Nabi tidak mungkin mardud (tertolak), sebaliknya, maqbul (pasti diterima).

Terkait dengan ini, ada sebuah kisah menarik dalam kitab Nasha’ih al-‘Ibad (Nasehat buat Para Hamba), bahwa suatu kali ada seorang santri yang mimpi bertemu dengan Imam Ghazali. Santri tersebut bertanya: bagaimana keadaan Anda? Imam Ghazali menjawab: Aku menghadap Allah, dan Dia bertanya: Apa bekalmu menghadap-Ku? Aku lalu menghitung-hitung amalku sewaktu di dunia. Allah berkata: Semua amalmu Ku-tolak. Satu-satunya amalmu yang Ku-terima adalah kasih sayangnya pada seekor lalat. Suatu kali kau sedang menulis, lalu ada seekor lalat yang menghinggapi tempat tintamu. Tetapi, engkau biarkan saja si lalat itu, hingga ia kenyang mengisap tinta, karena rasa kasih sayangmu. Maka sekarang, masuklah engkau ke surga-Ku bersama hamba-hamba-Ku yang lain.

Akhir-akhir ini kita sangat prihatin dengan aneka kejadian yang menimpa anak-anak bangsa kita. Sifat dan rasa kasih sayang seperti telah hilang dari sebagian kita, menjadi barang yang amat mahal. Orang dengan gampangnya melukai bahkan membunuh saudara sebangsanya, hanya karena alasan-alasan sepele: skor pertandingan bola, tunggakan kartu kredit, sengketa tanah, dll. Bahkan, ada pula yang, konon demi dan atas nama Allah (ideology tertentu), berniat melenyapkan sesamanya dengan cara meledakkan bom ratusan kilogram.

Bagaimana Allah akan mengasihi bangsa ini, kalau sesama anak bangsa saja kita sudah tidak bisa saling menyayangi? Jika sekadar berseloroh, sosok yang sealim dan sezuhud Imam Ghazali saja, tidak bisa masuk dalam curahan rakhmat Allah, kalau saja beliau tidak punya sifat welas-asih. Bagaimana dengan kita, yang kadar spiritualnya mungkin masih di bawah telapak kaki Imam Ghazali? Wallahu a’lam. [*]

*) alumnus PPWI 1994

0 komentar:

Poskan Komentar